
Bzzzzzz...
Bzzzzzz.....
Bzzzzzz....
Lagi lagi suara dari layar datar kali ini, adalah layar datar super luar biasa besar. Kemudian muncul seseorang dengan setelan jas hitam, wajahnya di blur sehingga tidak akan ada yang dapat mengenali orang di dalam layar tersebut.
Hello...
***Saya adalah Mr.X-Bone..., seorang Sponsor terbesar dari Stasiun R-Nav TV. Seperti yang kalian ketahui, Putriku menghilang di sebuah tempat yang bisa kita sebut pulau tak bernama. Putriku terperangkap di dalam sana, bersama teman-temannya.
Kalian pasti bertanya, bagaimana cara saya dapat mengetahui keberadaan Putri saya, padahal Putri saya berada di pulau yang tak dikenal.Well, percaya atau tidak, sehari sebelum Putriku menghilang, ia sempat ada kontak seluler denganku. Ia berkata sedang berada di dalam kapal Feri Rulcewise.
Kapal Feri tersebut mengalami kerusakan dan terdampar di sebuah pulau. Dua minggu kemudian, dibantu pihak kepolisian dan angkatan laut, pada akhirnya kami mendapatkan lokasi tempat kapal Feri Rulcewise hampir karam. Kami menjelajahi pulau tak bernama namun hasilnya nihil kami tak dapat menemukan apa pun kecuali...buku harian Putriku***.
Eve dan Dimi mencoba merekam semua kalimat yang dilontarkan oleh Mr.X-Bone dalam otak mereka. Kini beliau terdiam sedih menatap kamera, menopang dagunya dengan kedua tangan yang di kepalkan ke depan.
Meski Mr.X-Bone tidak memperlihatkan wajahnya, cukup menatap kedua matanya yang memerah dan mulai berkaca-kaca mereka sudah mengerti dia tidak sedang bersandiwara. Dia benar-benar merasa kehilangan.
Lalu usahaku untuk menemukan Putriku dikacaukan oleh sesuatu yang lain. 25 polisi menghilang tanpa jejak, 65 angkatan laut ditemukan mati secara mendadak dalam waktu bersamaan. ***Sisanya, mereka terus berusaha mengusut misteri layaknya mengurai benang kusut.
Di hari ketujuh, pencarian telah dihentikan. Karena itulah, aku bekerja sama dengan pihak R-Nav TV untuk mencari kembali keberadaan Putriku dan teman-temannya. Mohon kerja samanya, dan selamat mencari***.
Gambar layar kini kembali ke saluran statis. Saat lampu mulai menyala, layar itu meredup dan terbuka lebar layaknya dua pintu yang digeser secara bersamaan. Semua orang di dalam ruangan itu hanya terpaku melihat apa yang ada di balik layar!! Sebuah lapangan sangat luas di penuhi oleh 10 helikopter.
Seorang Wanita berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah map tebal.
"Kami tidak ingin mengambil risiko! Bagaimana jika di antara kami ada yang kehilangan nyawa atau lebih parahnya lagi tak dapat pulang kembali?!" teriak seorang Pria berasal dari Filipina.
"Mr. Van Kenneth!! mohon tenang sebentar!!" bentak Wanita pembawa map merah tebal. Pria berdarah Filipina itu hanya menatap nanar Wanita tersebut.
"Anda di sini untuk mewakili negara Anda Tuan, jika Anda menolak, akan ada kerugian besar bagi Stasiun TV yang menaungi Anda bukan? Apa Anda siap untuk dipecat dengan tidak hormat? Begitu?" kata Wanita itu tanpa memikirkan perasaan Ken sama sekali.
"Lebih baik begitu, dari pada harus mati di tempat yang tidak jelas" kata Van Kenneth melangkah menuju pintu keluar. Semua mata memandang keberanian dari seorang Van Kenneth tapi pandangan mata takjub kini berubah menjadi tatapan ketakutan.
Tiba-tiba sinar kecil berbentuk bulat menari-nari di antara pinggang dan punggungnya lalu suara letusan tembakan mengumandang ke seantero ruangan.
Dooooorrrrr!!
Maka jeritan antara ketakutan dan panik berbaur menjadi satu. Van Kenneth jatuh ke atas permadani merah bersimbah darah.
"Apa yang kalian lakukan?! Kenapa membunuhnya?!" marah rekannya dengan tubuh gemetaran.
"Maafkan atas tindakan kami Miss Alessandra Janell, apa ada yang ingin mengikuti jejak mereka?!" teriak seorang Pria yang membawa senjata api mengacungkan senjatanya ke udara.
"Misi kemanusiaan ini haruslah tetap dilaksanakan. Pilihan kalian hanyalah tinggal dua. Mati karena di tembak, atau mati dengan terhormat di sana" kata Pria itu masih menggunakan topeng hitam untuk menutupi wajahnya.
"Kalian berhadapan dengan Jurnalis dunia Tuan Bertopeng, apa Anda dapat memastikan kami semua akan mati tanpa bisa kembali pada keluarga kami dan menuntut Anda, Stasiun TV ini, bahkan sang Sponsor tercinta kalian itu huh?!" ancam Sandra murka.
"Maka tidak akan ada yang percaya dengan kalian Miss Alessandra Janell. Kami dapat memastikan itu karena ada banyak faktor pendukung di pihak kami. Jadi, apa Anda ingin bergabung dengan Mr. Van? atau mengikuti peraturan kami? Berikan jawaban sekarang!!" bentak sang Pria bertopeng dengan sigap mengarahkan senjata padanya.
Sandra tak berdaya dia hanya diam lalu bergabung dengan yang lainnya. Wanita bernama Rebecca memastikan para Reporter dan Kameramennya mengantre dengan tertib menunggu diterbangkan helikopter menuju ke pulau tak bernama.
Dimi dan Eve hanya diam tak bersuara ketika telah masuk dan diterbangkan helikopter. Apa maksud dari perekrutan ini sebenarnya? Jika ini atas nama kemanusiaan, kenapa mereka di paksa untuk mengikuti aksi ini?
Lalu, kenapa mereka menyandera para Reporter atas nama aksi kemanusiaan? Terlebih lagi aksi penembakan terhadap Kameramen Van Kenneth dari Filipina termasuk aksi nekat. Apa keuntungan dari aksi pembunuhan tadi? Apa penyebab mereka semua tak boleh mengundurkan diri dari aksi kemanusiaan hingga harus dibunuh bila memberontak?
Otak Eve dan Dimi dipenuhi pertanyaan demi pertanyaan hingga mereka melihat salah satu helikopter meliak liuk tak beraturan dan berakhir meledak!! Mereka tegang menyaksikan hal itu dan hanya terdiam tak bersuara.
"Jangan pernah melawan mereka, apa pun yang terjadi" kata sang Pilot membuat Dimi dan Eve saling memandang satu sama lain.
"Heli yang meledak itu adalah heli yang dinaiki oleh rekan Mr. Van Kenneth" tambahnya.
"Miss Alessandra Janell?!" pekik Eve tak percaya.
"Heli itu di ledakkan dari jarak jauh. Ketika ada salah satu Reporter ataupun Kameramen yang memberontak mencoba menyabotase perjalanan, mereka akan segera mengetahui itu, lalu langsung meledakkannya.” Jawab sang Pilot prihatin.
"Apa mereka akan mengawasi kami disana juga?" akhirnya Eve berbicara sambil menatap serius ke arah Pilot.
"Tentu saja tidak. Kalian di sana untuk mencari tahu dimana keberadaan Putri Mr.X-Bone. Lagi pula, jika mereka bergabung dengan kalian, sama dengan cari mati. Berhati-hatilah ada sesuatu yang lain di sana. Lebih kejam dan lebih sadis dari orang suruhan Mr.X-Bone."
"Dimi...sepertinya kita benar-benar tak bisa berkutik lagi" kata Eve bersandar pada sandaran tempat duduknya.
"Setidaknya kita masih punya kesempatan untuk melarikan diri setelah tiba di sana" bisik Dimi di telinga Eve. Gadis itu melirik ke arah Dimi lalu tersenyum masam.
"Petunjuk kita sangat sedikit, bagaimana bisa kita melakukan pencarian dengan sedikit petunjuk? Lalu bagaimana kita tahu isi buku harian sang Putri tanpa melihat isinya?" kata Eve frustasi. Kini Dimi yang menatap Eve seolah ia memiliki solusi dari masalah mereka.
__ADS_1
Tapi Dimi sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun. Eve makin cemas dengan keadaan berulang kali ia menyibakkan rambutnya yang panjang dengan kedua tangannya. Ekspresi terkejut kembali muncul di wajah Dimi.
"Apa lagi kali ini?" tanya Eve was-was terhadap ekspresi dadakan Dimi.
"Jam tangan kita hilang" kata Dimi melihat pergelangan tangannya juga pergelangan tangan Eve.
"Ah, soal jam tangan!! Aku yakin, aku tidak pernah punya jam itu. Tapi begitu tes psikologi diadakan, sejak itu, jamnya ada di pergelangan tanganku. Lalu kemana rimbanya benda itu sekarang?" kata Eve mencari-cari di bawah kakinya.
"Apa kau sudah lama bekerja dengan stasiun R-Nav TV?" tanya Dimi pada sang Pilot. Pilot itu hanya menggeleng.
"Kami para Pilot tidak bekerja atas naungan R-Nav TV. Kami dinaungi oleh Mr.X-Bone" kata sang Pilot santai.
"Apa Pria itu sudah gila karena kehilangan Putrinya? Apa yang ada dipikirannya sih?" geram Eve membuat sang Pilot melirik ke arah Evi.
"kau akan selamat dari Pulau tak bernama jika kau, mampu membawa Putrinya kembali padanya. Itulah mottonya"
"Jadi, apa Anda tahu, sesuatu yang lain itu apa?" tanya Eve mencoba menggali informasi.
"Aku tidak pernah tahu. Aku mengatakan, sesuai dengan apa yang di katakan Mr.X-Bone itu sendiri" kata Pilot menaikkan kedua bahu.
"Ini pasti rekayasa dari Mr.X-Bone agar semua orang memiliki keyakinan benar adanya sesuatu yang lain" kata Dimi penuh kecurigaan.
"Apa kau tidak takut, akan mengalami hal serupa, mati dalam keadaan diledakkan secara mendadak?" tanya Dimi dengan wajah datarnya. Pilot itu hanya terkekeh lalu tersenyum bahagia.
"Kami memang disiapkan menjadi pasukan berani mati. Walaupun kami ini Pilot, selama kami digaji lebih besar dari gaji kami seharusnya, siapa yang akan menolak?"
"Bagaimana dengan keluargamu? Mereka akan mati kelaparan!" bentak Eve menatap tak percaya dengan pemikiran sang Pilot.
"Kami tak perlu mengkahwatirkan nasib mereka. Dengan pekerjaan ini, kami bisa menghidupi keluarga kami berpuluh-puluh tahun lamanya. Karena itu mati pun tak masalah" katanya tersenyum lebar.
"Tidak dapat dipercaya...CB...." desis Dimi perlahan hingga Eve mendengar kalimat terakhir dan melotot seketika. CB (Case brain washing) jelas itu yang sedang Dimi coba katakan pada Eve detik ini juga. Ini bukan hal yang bagus. Bila itu bisa terjadi oleh para Pilot, maka itu pun bisa terjadi pada para Reporter dan Kameramen.
"Apa kau yakin?" bisik Eve was-was jangan sampai sang Pilot mendengarkan apa yang mereka katakan. Dimitri hanya mengangguk sambil memberi kode bahwa sang Pilot sedang mengawasi mereka.
"Oh, maafkan kelancangan saya. Miss Evelina...tapi telinga saya belum pernah mendengar istilah itu sebelumnya" kata Pilot dengan mimik penuh tanda tanya.
"Itu hanya singkatan dimana...kami harus memikirkan strategi khusus, untuk mengungkap keberadaan sang Putri, lebih dahulu dari yang lainnya. Kau tahukan, kami benar-benar ingin nyawa kami masih ada pada tempat semestinya?" jawab Eve membuat alibi tak terbantahkan. Sang Pilot tertawa terbahak-bahak mendengar itu.
"Kau hanya akan pergi ke surga setelah mati. Karena kau, akan mati dalam kebaikan. Itu bukan hal yang buruk. Kurasa..." katanya masih terkekeh. Eve dan Dimi hanya saling pandang satu sama lain. Dia mengatakan surga, dan tidak berpikir kemungkinan dia akan pergi ke neraka terlebih dahulu mengingat...dia ikut terlibat dalam aksi penculikan berkedok aksi kemanusiaan Mr.X-Bone.
"Senang berkenalan dengan kalian berdua, selamat tinggal dan sampai jumpa" kata sang Pilot dengan riang. Dimi dan Eve mulai memucat...apa katanya? Ini...masih di tengah-tengah pulau apa maksud kata dari...selamat tinggal? Kedua pintu Helikopter secara otomatis terbuka dengan sendirinya. Dua jok di belakang tempat Eve dan Dimi duduk mulai bergeser keluar dari heli.
WaAaAaaAAAAA!!!!!
Mereka terjun bebas menuju pulau tak bernama dengan jok tempat mereka duduk. Sibelt mengamankan mereka agar tak terlepas dari jok.
Byuuuuuurrrrrrr!!
Bunyi kedua orang malang itu mendarat di permukaan air. Baru saja Dimi ingin mengumpat pada sang Pilot,
BOOMMM BlAaaaaAAAr !!
Mereka menahan nafas cukup lama ketika helikopter yang baru saja mereka tumpangi meledak tak bersisa.
"Dimitri!! Dimi!!" teriak Eve panik.
"Aku belum mati bodoh!!" umpat Dimi kesal mendengar Eve berteriak tak jauh darinya. Hanya saja, posisi mereka saling membelakangi.
"Mereka benar-benar ingin kita mati disini...apa salahku, ditelantarkan begini huh!!" teriak Eve diakhir kalimat seolah sedang memaki seseorang tak nampak.
"Kumohon jaga kewarasanmu oke, aku tidak ingin mengurusi orang gila dadakan" kata Dimi mencari-cari di mana daratan berada karena hanya itu yang terpenting saat ini. Tak mungkin mereka seharian terapung tak jelas di sini bukan?
"Kau melihat di mana daratan berada Eve?" tanya Dimi memicingkan mata ke seluruh penjuru perairan tempatnya mengambang.
"Kurasa...aku lihat. Tapi..."
"Tapi?!"
"Kita butuh waktu yang lama untuk sampai di sana. Bahkan sebelum kita sempat ke daratan, kita sudah mati kehabisan tenaga" kata Eve mengira-ngira. Dimi langsung melepaskan sibelt lalu berenang kearah Eve. Pria itu meraih sibelt Eve.
"Tunggu!! Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Eve menyorot mata Dimi horor...
"Kau pikir apa? Kita ada di tempat asing, terperangkap dalam pulau tak bernama, sialnya, aku terjebak di dalam air bersama Wanita. Itu sungguh merepotkan"
"Jadi..., jawabannya Dimi...," Eve melotot menahan amarah. Dia tahu ini bukan saatnya membuang tenaga dengan bertengkar sepanjang hari.
"Apa lagi? Tentu saja berenang sampai ke daratan" Dimi berdecak kesal mendengar kicauan dari Gadis di hadapannya, seraya melepaskan sibelt yang mengekang Eve.
__ADS_1
"Tapi...itu jauh sekali kau yakin?" tanya Eve panik.
"Hey Nona manja, seharusnya kau tak bergabung dari awal oke, apa lagi yang bisa kita lakukan sekarang selain berjuang berenang sampai ke daratan?"
"Atau..., kalau kau ingin menjadi penghuni pulau ini selamanya, dengan senang hati ku tinggal kau sekarang juga. Media akan segera membuatmu terkenal sebagai tengkorak Reporter Ornext TV yang mati konyol."
"A aku...be...lum...siap" kata Eve tergagap. Pria itu tak peduli, ia langsung berenang meninggalkan Eve begitu saja.
"Tunggu!! Hei!! Pria sialan!! Diam kau disitu!!" amuk Eve berenang mengikuti kemana arah Dimi berenang. Mereka terus melaju...semakin lama mengayuh kaki mereka di perairan...mata hari terik menyengat wajah mereka, kelelahan kini mendominasi.
"Di... mi...boleh kita beristirahat?" tanya Eve tergagap karena air yang tak sengaja terminum. Wajah Gadis itu terlihat kian memucat. Dimi melihat ke sekeliling tak ada satu pun benda yang bisa digunakan Gadis itu sebagai pengganti pelampung. Tapi...jika tenaga Eve terus di paksakan sama saja membunuhnya perlahan.
"Mendekat ke punggungku. Yang perlu kau lakukan, jangan pernah melonggarkan pegangan tanganmu oke," kata Dimi serius. Eve hanya mengangguk memang satu-satunya cara supaya mereka bertahan adalah kerja tim.
"Uhuk uhuk!! Apa kau ingin mencekikku hingga mati?!" protes Dimi ketika merasa lehernya tercekik dari belakang.
"Ups...Sorry..." kata Eve mengubah pegangannya ke kedua bahu kekar Dimi. Pria itu terus berenang, sambil terus mengajak Eve bicara jangan sampai Gadis itu tertidur dan mati di atas punggungnya. Itu bukan impian Pria mana pun. Terik matahari kian menyengat hingga Dimi mulai kelelahan.
"Apa kau sudah baikkan?"
"Sedikit...apa kau lelah?"
"Ya...sangat..." katanya sesat sebelum ia jatuh pingsan. Eve dengan sigap mencoba menarik Dimi ke permukaan air kembali. Hanya beberapa kilo ia berenang membawa Dimi di sampingnya.
Kesehatan yang belum sepenuhnya membuat Eve kembali dalam masalah. Matanya mulai buram...pegangan tangannya di tangan Dimi yang tersemat melingkari leher Eve mulai mengendur...mereka sama-sama tak berdaya kini.
Mereka tenggelam bagai sebuah kapal yang karam...tapi sesuatu yang licin menahan beban tubuh mereka berdua secara bersamaan. Tubuh mereka kembali terangkat ke permukaan, terlihat dua ekor lumba-lumba memanggul Eve dan Dimi.
Rasa mual ingin muntah mereka rasakan seketika. Kesadaran Eve dan Dimi mulai sepenuhnya terbangkitkan.
"Huuuuh, syukurlah kalian masih dapat kami selamatkan" kata seseorang di samping Dimi di sambut tepukan tangan yang riuh.
"Bagaimana...kami bisa sampai ke daratan?" tanya Dimi linglung sambil melirik ke arah Eve. Gadis itu menggeleng langsung.
"Kau pikir aku sekuat itu, membawamu sampai kemari?" tanya Eve menaikkan kedua alisnya.
"Kalian beruntung. Ada dua lumba-lumba yang membawa kalian kemari. Kami langsung menghampiri kalian setelah lumba-lumbanya pergi" kata orang itu menjelaskan.
"Um, ngomong-ngomong, aku belum mengenalkan diri bukan? Kenalkan, aku Alberteen Bernia, biasa di panggil Berte, perwakilan dari Amerika" kata Wanita itu mengulurkan tangan pada Eve dan Dimi.
"Hey, aku Evelina Dushenka perwakilan dari Rusia" Eve membalas jabatan tangan Berte.
"Dan Dimitri Afanas" tambah Dimi mengulurkan tangan pada Berte.
"Apa kita berada di pulau yang tepat?" kata seseorang sambil melihat ke seluruh penjuru pulau.
"Kita bisa menyelidikinya nanti, setelah mereka membaik oke," kata Berte.
"Keterlaluan, mereka bahkan tidak memberi kita tempat untuk tinggal. Jangankan itu, makanan kita pun tiada ada yang menjamin" umpat orang itu mengusap perutnya. Tiba-tiba telinga mereka mulai mendengar suara helikopter terbang menuju ke tempat mereka.
Saat Helikopter itu berada di atas bagian pasir yang kering, sang Pilot langsung menjatuhkan sebuah peti coklat besar.
"Semoga beruntung!!" teriak sang Pilot terkekeh penuh misteri lalu pergi begitu saja.
"Ayo kita buka bersama" kata seseorang dipenuhi rasa penasaran. Syukurlah mereka, orang yang menculik para Reporter dan Kameramen malang masih berbaik hati memberikan beberapa palu dan obeng untuk membuka peti. Semoga tidak dimaksudkan untuk yang lain.
Krieeeeek
Bunyi berisik ketika peti dibuka. Wow...seperti sudah disiapkan sebaik mungkin. Sementara Heli lain muncul, mereka lebih memilih fokus pada apa yang mereka dapatkan. Seperti sebuah paket baju, yang dilabeli nama masing-masing. Lalu dalam peti berikutnya, beberapa makanan tinggal dilahap.
"Paling tidak mereka masih punya sedikit rasa kemanusiaan" kata Pria itu lagi.
"Dia rekanku. Darius Crawford. Memang dia tipikal penggerutu abaikan saja" kata Berte yang sedari tadi mulai panas telinganya mendengar Darius terus mengoceh. Beberapa orang memilih memisahkan diri dan membuat kelompok kecil untuk berganti pakaian termasuk Dimi dan Eve.
Setelah mereka semua beristirahat dan mulai kekenyangan, seorang dari mereka membuka pembicaraan.
"Jadi, apa diantara kita semua ada yang mengetahui maksud dari kata sesuatu yang lain itu apa?" tanya Reswani Putri Syailendra dari Indonesia. Semua orang terdiam seketika saling memandang satu sama lain mengisyaratkan tidak ada yang tahu soal itu.
"Apa kalian menyadari adanya CB? Kurasa itu terjadi pada para Pilot. Entah bagaimana dengan para pekerja di Stasiun R-Nav TV itu sendiri" kata Dimi membuat keadaan makin menegangkan.
"Itu hal yang sangat serius. Apa kau punya bukti otentik?" tanya Riwangga Angger Pati dari Indonesia.
"Bukti? Sayangnya tidak" kata Dimi lesu.
"Tapi dugaan kami sangatlah kuat. Seorang Pilot yang membawa kami, mengatakan mereka, para Pilot disiapkan menjadi pasukan berani mati"
__ADS_1
"Bahkan mereka rela, meninggalkan keluarganya dengan berpikir keluarga mereka akan tercukupi selama puluhan tahun yang akan datang. Bahkan, mereka berpikir bahwa...mereka akan mati dan pergi ke surga karena kebaikan mereka dalam membantu Mr.X-Bone" kata Eve menguatkan pernyataan sang Kameramennya.