Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Mencari Potongan Teka-Teki


__ADS_3

Putri dan Angga mulai saling memandang satu sama lain mengingat kejadian apa yang memang telah mereka lihat secara langsung.


"Kurasa apa kata Dimi ada benarnya. Begitu kami turun dari Heli, setelah sampai di atas pulau, Heli yang sempat kami naiki itu meledak begitu saja" kata Angga sangat jelas.


"Kurasa itu bukan ledakan yang disebabkan sebuah tembakan jarak jauh. Terlihat semacam...bom, yang memang siap untuk diledakkan bersama dengan para Pilotnya" kata Putri ngeri.


"Kita bisa membicarakan itu, setelah tendanya selesai di pasang oke, hari mulai sore..." kata Berte mulai khawatir.


Maka semua orang saling membantu membangun sebuah tenda yang tidak terlalu besar. Agaknya malam ini...para Pria harus rela tidur diluar tenda mengingat para Gadis harus di dahulukan. Malam kian larut...Eve merasakan suhu yang teramat sangat panas, di sekitar tempat ia tidur. Perlahan Eve membuka matanya dan ia melihat sebuah bayangan hitam berjalan menuju ke arah tendanya.


Tap....


Tap....


Tap....


Eve tidak tahu harus berteriak dan membangunkan semua orang, atau membiarkan orang itu membuka tenda tempat para Gadis tidur untuk mengetahui siapa orangnya. Jantung Eve berdetak sangatlah cepat!! Bahkan ia tak sempat untuk menggerakkan tubuh sedikitpun. Matanya mulai berkaca-kaca ketika orang itu membuka penutup tenda.


Sreeeeeeet!!


Bayangan? Ia hanya melihat bayangan hitam melongok dari luar tenda menatap tajam ke arah mata Eve. Bayangan tersebut mulai menyeringai lebar seolah ingin melahapnya hidup-hidup. Tangan hitam legam khas bayangan membelai pipi Eve. Kenapa ia merasa sentuhan itu sangatlah ia kenali? Kenapa?


Dang!!


Suara nyaring tanda benda berat terjatuh dari ketinggian membuat Eve membuka matanya lebar-lebar keluar dari mimpi di dalam mimpi.


"Hah hah-hah!! Mimpi... Syukurlah...hanya mimpi..." bisik Eve pada diri sendiri. Diusapnya peluh yang mengalir tepat di pelipisnya. Tapi...seperti ada benda yang berat jatuh dari ketinggian. Kira-kira apa itu? Rasa penasaran membuat Eve memutuskan untuk duduk dari tidurnya.


"Aaaargh !!" rintih Eve merasakan kembali sekujur tubuhnya terasa berat. Bahkan lingkar tengkuknya sangat sulit untuk ia angkat. Terpaksa ia duduk dengan tubuh yang di miringkan terlebih dahulu.


Eve menoleh ke arah teman-teman setendanya lalu ia merasakan hal yang janggal. Kemana Emiel Huibert? Reporter dari Belanda itu?! Apa dia sekedar ingin buang air kecil, atau sesuatu sedang terjadi padanya sekarang? Eve merasa benar-benar harus keluar sekarang.


Dengan kaki telanjang Eve berlarian keluar dan menghentikan kakinya tak jauh dari para Pria tertidur lelap. Emi bahkan tidak membangunkan salah satu dari mereka. Kemana sebenarnya Gadis itu? Eve memutuskan untuk pergi ke arah suara gaduh, yang bahkan tak sanggup membangunkan semua orang di sana. Sesuatu sebesar bola bergerak-gerak tak beraturan terlihat sangat jauh dari mata Eve.


Ragu? Ya, tapi...salah satu rekan seperjuangannya telah menghilang dari dalam tenda. Meski was-was ia tetap melangkah perlahan berusaha beradaptasi dengan penerangan redup dari rembulan. Suara sesuatu bergerak-gerak di atas pasir semakin dekat...dan sangat jelas...hingga kedua bola mata Eve melebar ingin memastikan benda apa itu?


Eh umm, seperti...ke-pa-la...what? Kepala?! Eve hendak memutar balik tubuhnya untuk melarikan diri menghindar dari hantu kepala itu tapi langkah kakinya tertahan ketika ia menemukan sebuah buku foto copyan tak sengaja ia injak begitu saja. Ia menatap ke bawah, lalu memperhatikan dengan seksama untuk memastikan, ia harus menyentuh buku tersebut.


Eve mengambil buku itu, dan mulai mengenali buku apa itu. Ya, buku harian sang Putri, yang menghilang!! Seperti buku foto copyan miliknya, di dapat dari tumpukan baju yang dikirim langsung menggunakan Helikopter.


"Ini pasti milik...Emi" bisik Eve pada diri sendiri. Ia pun berbalik badan lagi menatap apa sebenarnya yang bergerak di sana? Eve berjalan lagi, memberanikan diri untuk mencari tahu. Ia memekik kaget begitu ia melihat kepala Emi di atas pasir!!


Hmmmmmph!!


Hmmmmph!!


Kepala Gadis itu memberi isyarat agar Eve mendekat. Eve langsung teringat kejadian dalam tes psikologi tak menyenangkan. Haruskah Eve mencurigai ada hal lain menunggu di suatu tempat? Tidak...ini adalah bagian dari hidup Eve yang nyata. Tanpa ragu ia pun menghampiri Emi yang mulutnya di bungkam dengan buah pisang. Eve segera mencabut pisang sekulit-kulitnya dari mulut Gadis malang itu dan membuangnya jauh-jauh.


"Kenapa kau bisa seperti ini?!" pekik Eve panik.


"Bisakah kau menggali pasir ini huh? Aku tak bisa keluar dari sini sendirian. Harus ada yang membantuku" bisik Emi takut-takut.


"Akanku bawa bala bantuan. Tunggu disini" kata Eve.


"Jangan!! Kumohon...jangan tinggalkan aku disini sendirian. Dia...bisa...menemukanku kembali dan mengubur tubuhku di tempat lain" kata Emi menggigil ketakutan. Eve mulai menggali dan menggali.


"Eve? Apa yang kau lakukan malam-malam begini sendirian di sini?" tanya Eldert Diederick sang Kameramen dari Belanda.


"El!! Emi terkubur hidup-hidup di sini!! Tolong aku menggali untuknya!!" teriak Eve membuat mulut El hanya menganga tak berkutik.


Tak lama kemudian El berjalan mendekati Eve dan mulai tersadar Eve tidak sedang tidur sambil berjalan dan mengigau. Emi benar-benar terkubur di sana dengan kepala yang menyembul keluar. El segera berlari menuju tenda, mencari-cari sesuatu yang bisa ia gunakan.


Tidak ada apa pun!! El mulai membangunkan semua Pria di sana untuk membantu menyelamatkan Emi secara manual. Beberapa tenaga Pria mempermudah proses penyelamatan Emi. Gadis itu tak dapat berjalan untuk sementara terpaksa El harus menggendongnya masuk ke dalam tenda. Suara ribut di luar tenda membuat para penghuninya terbangun.


"Emi, ada apa ini?" tanya Hannalie Jemma dari Australia biasa dipanggil Alie. Ia tertegun melihat seluruh tubuh Emi dibalut oleh banyak pasir kecuali wajahnya.


"Eve menemukannya terkubur di dalam pasir jauh dari tempat ini" balas El prihatin terhadap rekannya itu.


"Bagaimana bisa? Kau ingin mempercantik kulitmu atau apa?" kelakar Alie yang langsung dihadiahi sikutan tangan Eve.


"Hello..., ini bukan saatnya bercanda Alie..., dia benar-benar di kubur di dalam pasir. Dia ketakutan sekarang" marah Eve.


"Apa kau bisa menjelaskan, siapa pelakunya?" tanya Eithan Wilfred tak habis pikir.


"Aku...bermimpi sebuah bayangan hitam menyeramkan masuk ke dalam tenda. Ia menyeretku, menjambak rambutku hingga menjauh dari kalian semua. A-aku...berusaha berteriak, tapi tak ada sedikitpun suara yang keluar dari kerongkonganku"


"Bahkan waktu dia melepasku untuk menggali pasir, tubuhku rasanya sangat lemas, tak mampu berkutik. Setelah ia selesai menguburku, dengan kejam ia menyumpalkan buah pisang ke mulutku. Katanya, ada pesan untuk kita semua di dalam kulit pisang tersebut" kata Emi masih menggigil ketakutan.


"Oh ya ampun...pisangnya!!" pekik Eve lalu berlari keluar di ikuti oleh Dimi. Mereka mencari keseluruh tempat yang terdekat dengan tempat Emi di kuburkan.


"Ketemu!!" teriak Dimi membuat Gadis itu langsung menolehkan kepala ke asal suara. Eve dan Dimi langsung kembali ke tenda.

__ADS_1


"Ini tipuan" desis Wil kesal.


"Pelaku tidak bilang ada di kulit luar pisang itu bukan? Dia hanya berkata, ada di dalam kulit pisang. Buka saja kulit pisang itu dengan hati-hati. Siapa tahu ada sesuatu di dalamnya" kata Angga disetujui oleh semua orang disana. Perlahan, sangat hati-hati Dimi membuka. Benar saja...ada pesan dalam kulit pisang itu.


"Jangan percaya pada apa pun di pulau" kata Dimi membuat semua orang di sana mulai bertanya-tanya.


"Pasti ini pesan dari orang stres. Apa yang perlu kita tidak percayai dari pulau ini? Di sini hanya ada kita semua bukan?" kata Aditi Aishwarya sang Reporter dari India kesal.


"Tentu saja ini pesan singkat untuk memecah belah kita semua. Dia bilang jangan percaya pada apa pun di pulau ini bukan?" lanjut Aditi menghela nafas panjang.


"Tulisannya bilang pada apa pun bukan siapa pun. Itu tidak hanya ditujukan pada manusia tapi seluruh benda, atau...apa pun yang ada di sini" kata Daksa Mahesvara dari India.


"Pasti cuma orang iseng saja. Yang perlu kita ketahui adalah, keberadaan sang Putri sekarang bukan? Bukannya malah main teka teki begini" sahut Park Mayleen dari China malas meladeni orang iseng.


"Iseng? Apa mengubur orang hidup-hidup merupakan bentuk dari keisengan menurutmu? Wow, luar biasa..." cibir Wang Xiaohui jengkel. Pertengkaran kecil demi pertengkaran kecil terjadi di tempat terisolasi itu hingga tak terasa fajar pun tiba.


"Apa kalian tersesat disini?" tanya seseorang di luar tenda membuat suasana menjadi hening seketika. Mereka saling pandang satu sama lain.


"Anda siapa? Um maaf, bukankah tempat ini tak berpenghuni?" tanya Haruko Izanami penasaran dari Jepang.


"Ya, ku dengar juga begitu. Coba kutebak, apa kalian dikirim kemari oleh Mr.X-Bone?" tanya Pria itu penuh selidik.


“Ya, jadi...Anda mengenal Mr.X-Bone?" tanya Mamoru Nobuo dari Jepang sambil mengernyitkan dahi curiga.


"Hahaha jelas aku sangat mengenalnya karena Pria pengecut itu juga mengirim kami kemari hingga sampai saat ini kami tak mampu keluar dari tempat ini" katanya dengan mimik yang mudah berubah.


"Kami? Maksudnya...Anda tidak sendirian di sini?" tanya Bianca Concetta dari Italia.


"Tadinya..." ekspresi sedih mulai terlihat lebih alami.


" tapi mereka semua mati. Hanya aku sendiri disini sekarang" kata Pria berumur 56 tahun itu.


"Berarti Anda tahu dimana sang Putri Mr.X-Bone berada" kata Dante Benvenuto mendesak.


"Kau kira kami dikirim kemari untuk mencari siapa? Tentu saja untuk mencari sang Putri yang menghilang ditelan pulau tak bernama" kata Pria itu sangat santai. Sebuah seringai mengerikan tertangkap mata Eve.


WusssssssSSSsssss


Angin berhembus kencang disela-sela keheningan yang tercipta secara mendadak.


"Anda tidak menjawab pertanyaan kami Pak Tua" tandas Valdemar Conrad dari Jerman sinis.


"Karena, menurutku itu pertanyaan bodoh. Kalian menanyakan padaku, apa aku tahu keberadaan sang Putri. Ayolah..., jika sang Putri telah kami temukan, maka aku tak akan kehilangan temanku, dan keluar dari pulau ini" kata Pria itu mendesah kecil. Ia menatap prihatin pada semua orang di pulau itu.


"Maaf. Kami lebih merasa aman berada di sini" tolak Helga Winifred dari Jerman tegas. Pria itu menghentikan langkah lalu berbalik menatap tak percaya.


"Kalian masih ingin mencari sang Putri? Suatu hal, yang sia-sia saja? Itu hanya tipuan Mr.X-Bone. Menurut kalian, sampai kapan bantuan makanan dan pakaian bersih akan dikirim kemari?"


"Akan kuberi tahu kalian...satu fakta disini. Kita semua dikirim, bukan untuk mencari sang Putri, tapi untuk menemui sesuatu yang lain. Ketika kalian hanya mencapai jumlah 5 orang, maka semua bantuan makanan dan lain-lain akan segera di hentikan"


"Parahnya adalah, kau..., harus membunuh seseorang untuk dapat bertahan hidup. Jika kau tak melakukan itu, tunggulah sampai seseorang yang mencabut nyawamu" kalimat yang keluar dari Pria itu justru membuat semua orang dengan kompak menelan ludah. Suara Helikopter mulai terdengar lagi hingga perhatian semua orang teralihkan ke heli. Lagi-lagi sebuah peti entah apa kali ini yang mereka bawakan untuk semua orang.


Brugh!!


Suara peti beradu dengan pasir. Posisi mereka lumayan dekat hingga pasir yang bertebaran diudara membuat beberapa terbatuk-batuk bahkan ada yang matanya kemasukan pasir. Saat Heli menjauh, pasir yang berhamburan kini tak bertebaran diudara lagi.


"Hey..., kemana Pria tua itu pergi?" kata Kimmy Pier dari Kanada keheranan.


"Sepertinya Pak Tua bersembunyi ketika menyadari Heli datang kemari" balas Harry Normand mencari sosok tua di seluruh penjuru pulau.


"Kita urus hal yang lebih penting saja oke, kita periksa apa isi kotak itu" El mulai penasaran. Begitu peti dibuka, mereka terkejut melihat bingkisan kardus besar berjejer rapi di dalamnya.


El mengambil bingkisan yang dilabeli namanya. Semua orang memperhatikan, lalu menatap isi kardus dengan seksama. Benda yang dikemas seaman mungkin itu adalah...ENG (Electronic News Gathering) reaksi yang normal dikondisi sepelik mereka. Yeah, menghela nafas lelah dan muak. Benda itu bisa menjadi penopang kehidupan mereka sekaligus keluarga masing-masing.


Tapi karena benda itu jugalah, sekarang nasib mereka terombang-ambing. Eve menatap bingkisan kardus berlabelkan namanya lalu mendesah malas untuk membuka. Dimi menatap protes kelakuan Eve kali ini seolah ia ingin berkata, kehidupan kita bergantung pada benda yang kau pegang itu. Eve membuka tanpa rasa penasaran sedikitpun. Laptop dan sebuah Microphone?


"Laptop? Memang disini ada sinyal GPRS?" gumam Eve keheranan.


"Dari pada kau, mengira-ngira, lebih baik aktifkan saja benda milikmu itu, dan kita bisa mengetahui ada atau tidak" kata Dimi sambil menggelengkan kepala.


"Tidak ada jaringan. Memang kau pikir ini di kota bung?" balas Alie ketus merasa harapannya pupus untuk meminta pertolongan karena memang di pulau tanpa nama, tak memiliki satu pun jaringan internet.


"Laptop ini tidak digunakan untuk berselancar di dunia maya. Tapi untuk keperluan kita menulis berita apa pun mengenai sang Putri" tambah Haruko lalu matanya melebar seolah sedang melihat sesuatu. Sebuah file Video dan beberapa file penting.


"Mr.X-Bone nampaknya meninggalkan pesan Video untuk kita. Tapi...kenapa harus menggunakan password?" Haruko masih berusaha untuk membuka namun sia-sia.


"Tempatku juga di pasang password" kata Aditi setengah berbisik.


"Pesan rahasia ya? Well, sepertinya kita harus berpencar untuk mendapatkan akses melihat tayangan Video itu" jawab Angga merasa tertantang. Kini mereka benar-benar berpencar, bergabung dengan rekannya masing-masing.


"Menurutmu bagaimana? Apa memang Video ini...merupakan pesan rahasia dari si Mr.X-Bone? Atau dia hanya mengerjai kita saja agar semua orang terpecah satu sama lain?" kini firasat buruk itulah yang dipikirkan oleh Eve seketika.

__ADS_1


"Pikirkan dulu passwordnya" balas Dimi menyentil kening Eve hingga terdengar suara ctaaak!! Nyaring. Eve memelototi Dimi sambil mengelus-ngelus keningnya yang mulai memerah.


"Jika isi file ini tidak penting, ku banting saja laptop ini" gumam Eve gemas.


"Tunggu. Password yang ini bukanlah angka maupun huruf" kata Dimi menyadari keganjilan pada permintaan password.


"Maksudmu?"


"Eve..., nyalakan kameranya" kata Dimi tanpa menghiraukan pertanyaan Eve. Gadis itu menurut dan mulai menyalakan kamera pada laptop miliknya.


"Oke, arahkan bidikan kamera tepat di kedua mataku. Ingat. Hanya fokus pada kedua mataku" pesan Dimi di sambut anggukan penuh tanda tanya.


Klik!!


Thing!!


Tettooot!!


Eve mengernyit sejenak menatap layar laptop dengan tatapan keheranan.


"Apa masalahnya sekarang?" tanya Dimi menyadari ekspresi kebingungan di wajah Eve. Ia langsung berjalan ke arah Eve dan ikut memperhatikan layar laptop.


"Satu password sudah terpecahkan. Tapi masih kurang satu lagi" bisik Eve hati-hati.


"Sekarang aku yang akan memotret matamu. Cepatlah ambil posisi di sana" kata Dimi menunjuk ke tempat Dimitri berdiri tadi. Gadis itu memberikan laptopnya ke tangan Dimi lalu membiarkan Pria itu memotret matanya.


Thing!!


Thing!!


Yes!! Akhirnya Video itu dapat dibuka sekarang. Eve mengarahkan jari untuk menekan enter tapi tidak ia lakukan. Dimi hanya memicingkan mata ke arah Eve dengan tatapan apa kau takut?!


"Ini seperti...akses kita untuk berkomunikasi dengan Mr.X-Bone bukan? Bagaimana jika salah satu dari kita mati? Maka..." Eve enggan untuk melanjutkan.


"Maka yang hidup tidak akan dapat lagi berkomunikasi dengan Mr.X-Bone. Dan itu artinya mati perlahan" lanjut Dimi memandang ngeri ke mata Eve.


"Apa hal itu terjadi pada Pak Tua tadi juga? Karena timnya mati, ia tak dapat berbuat apa pun lagi hingga sekarang?" kata Eve mulai panik.


"Gunakan logika Eve...mana mungkin seseorang dapat bertahan hidup hingga mencapai kepala 5? jika akses komunikasi dengan Mr.X-Bone terputus? Bukankah itu sama dengan tidak akan makan lagi seumur hidupmu" Dimi menekankan kalimat terakhir.


"Jadi ada yang menyokong hidupnya di pulau ini? Selain...Mr.X Bone?!"


"Ada banyak kemungkinan. Simpan saja pertanyaan itu untuk sementara oke, kita lihat apa pesan dari si gila X.-Bone" jawab Dimi mulai pening mendengar pekikan-pekikan rekannya. Dimi langsung menekan enter.


Bagaimana? Kalian harus berterima kasih padaku, memberi pekerjaan kalian di tempat indah itu bukan? Bekerja sekaligus liburan hmm, sangat menyenangkan.


"Hentikan bualanmu dan katakan saja apa yang kau inginkan" geram Dimi kesal.


Kau tahu, aku suka gayamu yang tak sabaran itu. Tapi kok terdengar sangat keterlaluan mengingat hanya akulah yang sanggup mengeluarkan kalian dari sana ya, Dimi dan Eve saling memandang lalu kembali menoleh pada layar laptop. Dimi menyenggol tumit Eve dengan kakinya. Eve memahami kode Dimi. Dengan cepat ia memeriksa jaringan internet tapi tidak ia temukan koneksi kemanapun.


Apa aku mengejutkan kalian? Bagaimana jika kalian diam saja, dan mendengarkan apa kataku selanjutnya?


"Si-silakan saja" kata Eve mulai ketakutan. Bagaimana bisa seorang manusia mampu mengirim sebuah video call tanpa jaringan internet, dan laporan panggilan video call?! mereka harus kagum, atau ketakutan kali ini?


Disana, adalah tempat indah yang berbahaya. Datanglah ke tempat yang telah kutunjukkan itu, dan temukan penyelamat jiwa kalian di sana. Setelah itu, gunakan buku harian Putriku, untuk datang ke tempat yang telah kutandai. Selamat mencari dan sampai jumpa. Video mati lalu file Video tersebut menghilang tanpa jejak!! Mereka sedang berurusan dengan apa sebenarnya?


"Pergi ke tempat indah yang berbahaya" gumam Dimi sambil menatap seluruh penjuru pulau.


"Kita tidak akan mendapatkan apa pun tanpa pergerakan Dimi. Ayo kita selidiki seluruh pulau ini" kata Eve menutup laptop, mengapit di antara ketiak, dan berjalan mendahului Dimi.


Harry menatap lekat sebuah benda yang mirip dengan sarang lebah tepat di bawah pohon kelapa. Kim berusaha menahan Herry berjalan mendekati benda asing.


"Harry...kau ingat pesan pertama yang diterima semua orang? Jangan percaya pada apa pun. Itu memang mirip dengan sarang lebah, tapi coba kau pikir...adakah lebah sebesar itu hingga, dapat menciptakan sarang sebesar itu juga?" Kim memperingatkan. Harry menyeringai lebar melihat ada batuan berwarna putih cukup besar tapi ringan.


"Jangan bilang...."


Buk!!


Belum selesai Kim berujar, Harry sudah melakukan tindakan sendiri sontak Kim mulai panik. Bagaimana jika sesuatu yang berbahaya dapat mengancam nyawa mereka?


"Lihat? Tidak ada pergerakan dari dalam sana. Ayo kita periksa. Sekarang" kata Harry merasa aman. Akhirnya mereka mendekati benda besar mirip sarang lebah. Tanpa sepengetahuan Harry, Kim mengambil batuan putih yang di sembunyikan di belakang punggungnya. Harry menendang benda itu dengan keras tapi tetap tak ada pergerakan. Harry mengambil batuan putih besar lagi, untuk dipukulkan ke benda mirip sarang lebah.


Bak!!


Bak!!


Kraaaaaak!!


Benda itu mulai terbelah...menjadi dua...dan mereka menemukan sesuatu berkilauan di dalam. Kim dan Harry saling melirik mengamati benda apa itu? Pengamatan benda asing di mata mereka, membuat Kim melepaskan batuan putih.


"Pistol, dan...granat?" gumam Harry menyeringai tak percaya.

__ADS_1


"Apa yang bisa kita lakukan dengan benda ini huh?"


"Jangan berisik. Tidak akan ada senjata, tanpa adanya bahaya. Kau tahu kita di mana sekarang bukan? Ini yang dikatakan Mr.X-Bone pada kita, menemukan penyelamat jiwa kita. Simpan saja pistol ini baik-baik. Aku takut tiba-tiba kau meledakkan dirimu tanpa sengaja jika kau yang memegang benda ini" kata Harry menyodorkan granat di depan wajah Kim dengan seringai mengolok.


__ADS_2