Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Dipermainkan


__ADS_3

Suasana hening ketika Dimitri mengakhiri kisah kelam antara Terre dan Kevin, menciptakan perasaan tak menentu pada semua orang yang mendengarnya meskipun, Dimi dan Eve sama-sama menanggapi ekspresi mereka setenang mungkin.


Karena bagi keduanya, mereka hanya...seperti...sedang membongkar lemari berisi sebuah film hitam putih. Yang usang termakan waktu.


“Wah, seperti mendengar sebuah dongeng bergenre horor. Tak kusangka cerita seperti itu..., benar ada di dunia nyata.” Hannalie Jemma atau panggil saja Alie, mengatakan hal tersebut sambil menguap.


“Ayo semua tidur. Kita harus punya tenaga super besar untuk menumpas Zilky” sambung Eve tersenyum ceria pada semua orang. Maka semuanya merebahkan diri sambil memejamkan mata. Eve masih sulit untuk benar-benar tidur tapi ia tetap berusaha memejamkan mata.


Eve merasakan seseorang menggenggam telapak tangan kanannya mengirimkan energi hangat hingga yang Eve rasakan sekarang hanyalah kenyamanan. Perlahan dibuka matanya lalu ia mencari tahu tangan siapakah itu? Eve menatap lembut si pemilik tangan. Ketika Eve merekatkan genggaman tangan itu, Dimitri yang menutup matanya dengan lengan tangan kanan, segera membuka mata menatap intens Eve membalas Gadis itu dengan senyuman hangat.


“Hidup harus terus berjalan Eve. Tidak peduli apakah kedepannya adalah akhir bagi hidup kita. Kita harus menjalani sebaik mungkin atas kesempatan hidup yang diberikan Tuhan” kata Dimi lembut sekaligus penuh ketegasan.


Eve semakin menatap lekat mata Dimitri ia mencari sorot mata seseorang dengan keinginan hidup yang kuat. Tapi kemana perginya sorotan mata yang selama ini dimiliki Dimitri?


“Kau benar-benar mengatakan sepenuh hati untukku, atau untuk kita?” Eve mengerutkan kening menyelidiki.


“Hey...,” Dimitri melepaskan genggaman tangan mereka lalu duduk.


“Selama ini hanya ada kata kau dan aku. Tapi apa ini? Tiba-tiba kau membahas soal...kita?” jawab Dimitri penuh semangat.


“Ya ampun..., apa kau sesenang itu? Tentu saja. Bukankah...aku dan kau, selalu berteman dalam duka? Jadi, aku merasa tidak ada salahnya memikirkan tentang kita” jawab Eve polos. Dimitri membulatkan kedua matanya ingin mengatakan sesuatu yang hampir tak terkatakan.


“Wah..., Gadis ini benar-benar!” Dimitri menaikkan suara sambil melotot kesal.


“Apa sekecil itu sudut pandangmu padaku? Berteman dalam duka?! Oh, ya ampun” lanjut Dimitri menghembuskan nafas dari mulut.


“Apa masalahmu? Aku hanya mengatakan tentang kenyataan kalau, memang kita hanya bertemu dalam duka” Eve mulai ikutan meninggikan suara.


“Bukan itu masalahnya...,” Dimitri mulai menepuk-nepuk dadanya. Entah kenapa tiba-tiba dadanya ngilu.


“Bukannya dari tadi kita sedang membicarakan tentang berteman dalam duka?” Eve mengacak-acak rambutnya frustasi. Tuhan..., apa maunya Laki-laki satu ini?!


“Salah. Kita sedang membicarakan tentang kita. Ki....ta....” jawab Dimitri sampai mengulang dua kali.


“Iya, kita yang berteman dalam du-ka...apa masalahnya sih?”


“Masalah tepat ada di depanmu. Dan kau belum sadar huh?”


“Ayolah. Memang kita punya tenaga untuk bertengkar?” Eve memutar kedua bola matanya lelah.


“Kau tahu apa itu kita?”


“Haaah, antara kau dan aku lalu apa lagi?”


“Dalam konteks antara Laki-laki dan Perempuan...”


“Hey, kenapa masalahnya jadi merembet soal Laki-laki dan Perempuan? Kenapa pikiranmu serumit itu sih?” protes Eve tak mengerti. Dimitri lebih kesal dari sebelumnya dia langsung mengacak-acak rambut Eve gemas.


“Ya karena kau hanya berpikir untuk berteman denganku!! Maksudku, memang itu pertemanan yang sehat huh?! Hubungan macam apa yang terjalin hanya karena berbagi duka?! Lalu dimana kita saat seharusnya bisa berbagi suka?” Hati Dimi yang kesal mulai meledak-ledak.


“Sudahi saja. Silakan bermimpi indah” Dimi menyerah.


“Hey, dengarkan aku dulu, tidak baik tidur dalam keadaan marah. Kau akan cepat tua nanti” keributan Eve semakin menjadi. Dimitri lebih memilih tidur kembali sambil memunggungi Gadis menyebalkan itu. Suara hening sejenak tapi, tak lama kemudian Eve mulai mencolek lengan Dimitri pelan.

__ADS_1


“Dimi, kau sudah tidur?” tanya Eve namun tidak ada balasan dari sebelah.


“Aku kesulitan tidur...,” Eve menambahi.


“Diam dan berusahalah tidur” Dimitri menjawab ketus. Nampaknya Pria ini masih marah.


“Kalau kau mau meminjamiku tanganmu, mungkin aku bisa tidur.” Sambung Eve seolah sedang bergumam sendiri. Dimitri mengubah posisi tidurnya terlentang sambil menggenggam tangan Eve. Gadis itu menoleh sambil tersenyum kecil.


“Kalau aku tidak melakukan ini,” Dimitri mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Eve keatas agar Gadis tersebut memperhatikan tangan mereka yang saling tertaut.


“Kau akan terus mengomel sepanjang malam ini. Itu sangat menggangguku. Jangan berpikir aku sedang memperhatikanmu” kata Dimitri menegaskan sambil menutup kedua matanya. Eve mengeratkan genggaman tangannya, lalu menurunkan kembali ke tempat semula.


“Aku tidak berpikir kau memperhatikanku. Tapi aku yakin satu hal. Dimitri Afanas hanya sedang berusaha menjagaku. Dan akan selalu melindungiku. Karena itu aku mohon, jangan mati. Jangan pernah berpikir untuk mati, meskipun kau sedang sekarat sekalipun” jawab Eve lirih.


Gadis itu mulai memejamkan mata, merasakan kenyamanan dalam genggaman tangan Dimitri. Pria itu membuka mata diam-diam. Dia menoleh menatap lekat wajah Eve.


Manisnya, batin Dimitri tersenyum lebar. Angin semilir berhembus membuat rasa kantuk Dimitri semakin kuat. akhirnya, Dimitri dan Evelina tidur dalam damai.


Zack merasa kesal karena ulah Eve, dia harus keluar dari Teater. Ia mulai merasa membutuhkan sekutu baru. Tentu saja, sekutu yang jauh lebih kuat dan lebih dapat diandalkan dari pada pasangan Suami Istri. Zack tidak ingin mengundang bahkan melibatkan Mr.X-Bond alias Dokter Allan.


Bagaimanapun, Zack tidak pernah menyukai kesepakatan antara si Allan dan dua pasangan Suami Istri, dalam hal menggiring Aprille nya masuk ke dalam Teater terkutuk itu. Bagi Zack, itu adalah cara terlicik sepanjang masa. Karena itulah, ia berpikir untuk memanggil murid kesayangan Lee Than Ming, yaitu Edghar Galliel.


Zack masih ragu keputusannya memanggil Iblis tertinggi setelah raibnya Lee Than Ming tersebut, apakah benar atau salah? Memang Edghar, Allan dan dirinya sendiri, sama-sama ingin membangkitkan Lee Than Ming. Tapi Zack, tidak pernah tahu alasan dibalik mereka ingin membangkitkan Dewa mereka.


Bahkan sebenarnya, dia mulai melupakan alasan utama dirinya membutuhkan Lee Than Ming dan Evelina Dushenka. Karena saat ini Zack hanya mengenal satu rasa. Rasa haus akan darah...itu sebabnya, Zack selalu membuntuti Eve semenjak kecil. Meskipun Zack juga berusaha untuk mengingat apa alasan utamanya tapi selalu gagal.


Ceklek!!


Tapi bukan keluar dari senjata yang dipegang para manekin. Bahkan, seluruh manekin berekspresi terkejut melihat ada yang lain sedang menembaki Zack tanpa ampun. Sang Iblis hanya berdiri diam ditempat sambil memperhatikan ke segala arah. Mencari tahu siapa saja yang menembakinya beruntun dari tempatnya berdiri. Seringai bengis tergambar jelas melalui lengkungan senyuman Zack, saat ini.


“Kalian pikir, bisa memusnahkanku tanpa ku ketahui siapa kalian? Tampaknya kalian menganggapku selemah pencipta kalian ya,” kata pertama terlontar dari bibir sang Iblis. Zack memejamkan matanya, membuat seluruh peluru di hadapannya diam melayang di udara.


Zack menghancurkan seluruh peluru hingga menjadi serpihan tak berarti lagi. Para manekin di sekitar Zack mulai berpikir untuk mundur dan kabur. Tapi, saat semua manekin berbalik akan lari menjauhi Zack, sang Iblis justru menciptakan hawa sangat panas, sepanas api yang sedang menyala merah. Para manekin berlari terseok-seok karena perlahan tapi pasti, mereka mulai meleleh.


“Ck, kenapa kalian mencari lawan yang salah? Lagi pula, kalian tidak dalam daftar untukku lenyapkan. Tapi karena kalian disana menembakiku begini..., tiba-tiba aku sangat bernafsu untuk melenyapkan seluruh manekin!!” Zack mulai mengamuk.


Iblis itu tahu dimana tempat persembunyian para manekin yang sengaja menembakinya dari jarak jauh. Mereka sengaja melumuri tubuh dengan pasir putih dengan harapan, sang Iblis tidak melihat pergerakan mereka saat melakukan posisi tiarap di atas pasir.


Zack mulai beraksi!! Seluruh pasir, dibuat menjadi panas sehingga mengeluarkan asap yang mengepul. Para manekin malang menjerit kesakitan dan jeritan itu, makin lama menghilang karena mereka meleleh.


“Apa kau, yang memerintahkan seluruh manekin ini melawanku Aprille?” geram Zack mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat.


Sementara disudut lainnya, masih di lokasi sama dengan Zack, ada dua Iblis yang asyik melihat tontonan gratis.


“Rencana kita berhasil. Zack sudah termakan oleh umpan kita” bisik Susan pada Edghar riang.


“Wah..., kalau si Allan bisa datang kemari, pasti dia akan sangat menikmati pertunjukan ini” kekeh Edghar.


“Pastikan Zack dengan keinginannya sendiri datang padaku. Dengan begitu kita tidak perlu repot melawan dirinya ketika akan menaklukkan Evelina” Tambah Edghar merasa selangkah lebih maju dari Zack.


“Kaulah yang bisa melakukan hal itu dengan tanganmu sendiri Edghar. Musuh belum tahu kedatangan kita. Meskipun sebenarnya Zack yang memanggilmu kemari....” Desis Susan gerah melihat Edghar masih saja menahan kekuatannya untuk keluar.


“Baiklah, mari kita pemanasan” balas Edghar sambil berkonsentrasi. Ia tertawa penuh penghinaan begitu mengetahui Zack sama lemahnya dengan para manekin jika berhadapan suara yang keras.

__ADS_1


“Kau mengetahui sesuatu?” Susan penasaran kenapa sekutunya terpingkal-pingkal begitu?


“Zack Iblis yang malang. Bahkan dia kesulitan menghadapi calon budaknya sendiri. Apa perlu kubantu sedikit Susan?” tanya Edghar menunjukkan seringai jahil. Tanpa perlu mendengar jawaban dari Susan, Edghar mengeluarkan kemampuannya.


Di waktu yang sama, Eve terbangun dengan nafas menderu. Ia melepaskan diri dari tautan tangan Dimitri kasar. Spontan Pria itu terbangun kaget mendapati ekspresi tak biasa di wajah Eve. Apa lagi tanpa diduga, Eve berjongkok di pojokkan seperti ketakutan. Dimitri mendekati lalu ikut berjongkok di depan Eve.


“Kenapa kau disini? Bisa kau ceritakan padaku apa yang mengganggumu?” tanya Dimi prihatin. Eve menatap Dimi seolah memohon perlindungan bahkan sekarang dia mendadak menangis.


“Paman...., aku...., Daniel. Kau masih ingat padaku?” tanya Eve.


“Ya. Jadi Daniel, kau sedang ketakutan karena apa?” tanya Dimi sambil memberi isyarat pada semua orang yang ikut terbangun karena Eve, untuk diam dan memperhatikan.


“Ada Paman jahat diluar sana. Aku bisa merasakannya. Dua. Ada dua Paman jahat di sana” celetuk Daniel. Tiba-tiba Daniel diam saja tanpa suara.


“Daniel, kau baik-baik saja? Apa kau mendengarkan suaraku?” Dimi mulai cemas pada keadaan mental Eve yang semakin lama semakin memburuk. Bahkan Hisashi pun sudah memastikan bahwa Eve tidak sedang kerasukan melainkan, kepribadian lainnya muncul tak diundang. Eve mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang sedang mengajaknya bicara.


“Daniel? Jadi dia kemari tadi? Sudah lama aku tak muncul semenjak ingatan Eve dihapuskan” jawab kepribadian Eve lainnya.


“Pasti kau dan Daniel tahu alasan kenapa Eve kembali menghadirkan kalian dalam hidupnya. Jadi tolong bantu aku, agar dia kembali seperti sedia kala” Pertanyaan Dimi tidak digubris sama sekali. Sang kepribadian yang lain malah sibuk memperhatikan sekeliling.


“Zilky masih terus bersamanya?”


“Ya, sesekali dia datang pada Eve. Tunggu kau mengenal Zilky? Apa kau benar-benar bukan Eve?” mendengar Dimitri sedang meragukannya, Eve berjalan mendekati Dimitri hingga keduanya, dapat merasakan hembusan nafas masing-masing.


“Tenang saja. Aku dan Daniel tidak pernah berpikir berbuat jahat pada Wanita, di hadapanmu ini. Kau hanya perlu mewaspadai Zilky dan rekannya. Aku merasakan kekuatan besar menyelimuti rekan Zack.”


“Kau tidak ingin mengatakan siapa namamu?”


“Margareth. Setiap Aprille merasa tidak berdaya akan perlakuan keluarga angkatnya, di saat itulah Aprille menciptakanku dan Daniel. Melihat hari ini aku kembali dalam diri Aprille, artinya dia tidak sedang bermasalah dengan manusia-manusia baru yang ada dalam hidupnya sekarang. Tapi dia sedang kembali pada permasalahan di masa lalunya,” Margareth membuat kesimpulan. Para manusia yang merasa menekan Eve ketika mengetahui soal penyakit psikologis yang diidap Eve, langsung menelan ludah.


“Bagaimana kalau kalian menyerahkan Aprille padaku saja? Karena aku telah menemaninya selama bertahun-tahun, tentu saja jauh lebih berkompeten dalam menjaganya dari pada kau, Dimitri” Zack tiba-tiba muncul menambahkan.


“Omong kosong. Kau lebih berkompeten dalam hal melukai Eve baik secara fisik maupun mental!!” teriak Dimitri meradang.


“Apa seluruh radio itu sudah tidak berfungsi lagi? Kenapa Zack dapat memasuki tempat ini lagi?” Bianca mulai bertanya-tanya.


“Kenapa? Tentu saja karena disini sudah tidak ada Eve ataupun Aprille. Karena sekarang, hanya ada Daniel dan Margareth” kekeh Zilky. Entah kenapa, setelah Zack mengucapkan kalimat terakhir, Margareth seolah mengalami sakit kepala amat sangat luar biasa.


“Aaaaaah!! Kau!!” tuding Margareth pada sosok Iblis bernama Zack dengan mata penuh dendam mendalam. Margareth merasakan jiwa Aprille sedang dipermainkan. Buktinya, rasa sakit kepala yang ia rasakan hampir membuatnya gila. Bila sampai Margareth menggila, artinya mental Aprille benar-benar rusak parah.


Kini teriakan Margareth tak terdengar lagi. Para manusia menatap waspada pada tubuh Eve yang hanya diam mematung. Mata Eve terbuka lebar, tapi tatapannya kosong. Entah mendapat kekuatan dari mana, padahal jarak mereka jauh tapi Eve dapat menyeret Darius Crawford yang kini telah menjadi manusia, hingga tercekik ditangannya.


“Margareth!! Lepaskan!!” teriak Dante Benvenuto mengacungkan senjatanya pada Eve. Dimitri langsung melumpuhkan Dante dan menyita senjata Pria tersebut.


“Eve sadarlah!! Kalau begini kau, bisa membunuhku juga. Hentikan semua kegilaanmu ini!!” bentak Dimitri tapi Eve hanya diam masih menatap Darius yang bibirnya kini mulai mengeluarkan darah segar. Bahkan tak lama kemudian, bibir Darius berwarna kebiruan. Armian tidak tinggal diam!! Dia mengambil sesuatu dari saku celananya, lalu melemparkan benda tersebut hingga mengenai tubuh Eve.


Dwaaaar!!


Asap putih mengepul membuat sosok Eve dan Darius tak terlihat mata siapa pun.


“Armian apa yang kau lakukan terhadap Eve?!” protes Dimitri seraya melepaskan cengkeramannya pada Dante. Begitu asap menghilang, Dimitri hanya melihat Darius terkapar di atas permadani merah tapi dimana Eve?!


“Seharusnya dia terkapar bersama Darius. Hey, dimana Iblis sialan itu?!” jawab Armian mencari keberadaan sang Iblis. Sayangnya, Zack telah menghilang bersama Evelina.

__ADS_1


__ADS_2