Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Siapa Mereka?


__ADS_3

“Daksa benar…” suara seseorang terdengar dari belakang mereka semua. Suara dari sang manekin Aditi.


“Kau lihat aku? Semua orang di sini, tahu bukan? Aku telah mati...tapi karena kebaikan salah satu dari kalian semua, aku dapat hidup kembali dalam wujud ini"


"Jadi jangan berlarut-larut untuk menangisi sesuatu yang sepele. Hidup kan saja Putri kembali, kecup dahi manekin mana saja yang kau sukai” kata Aditi menawarkan solusi pada Angga. Pria itu tadinya hanya diam tak berkutik tapi mulai menoleh ke arah Aditi, saat mendengar solusi bodoh tersebut.


“Angga. Jangan dengarkan dia. Kau tahu, Kim dan Berte? Mereka berdua terjerat dengan dua manekin yang mengaku sebagai Harry dan Darius” timpal Haruko memperingatkan.


“Kau pikir kami berpura-pura? Bukankah kami telah mengatakan banyak fakta yang memang kami alami bersama orang terdekat kami? Kau masih meragukan kami, bahwa kami palsu?” cibir Aditi dengan raut wajah penuh permusuhan.


“Kau benar Haruko. Aditi yang aku kenal, tidak pernah melontarkan api permusuhan pada siapa pun potong Dante Benvenuto menatap tajam pada manekin Aditi.


“Itu karena kalian selalu bersikap memusuhinya Dante. Tidakkah kalian menyadari? Semenjak Aditi berubah menjadi manekin tak ada Satu pun, dari kalian semua mau mempercayai sedikitpun penjelasan darinya” bela Daksa merasa Aditi mulai dipojokkan. Mendengar pembelaan dari Daksa, manekin Aditi mulai berjalan perlahan tapi pasti ke arah semua orang.


“Ada suatu hal, tidak adil terjadi di sini. Kenapa kalian diam saja ketika Berte ingin terus bersama dengan Darius? Sementara aku berjuang antara hidup dan mati"


"Kenapa kalian membiarkan Harry yang jelas-jelas manekin sepertiku membawa Kim bersamanya? Terakhir, Daksa pun mengecup manekin dan membuatku hidup kembali. Lalu kenapa kalian menolak Angga untuk mengembalikan Putri dalam hidupnya?!” kata manekin Aditi lantang.


“Itu hal yang berbeda Aditi. Tidakkah kau mengetahui perbedaannya? Darius, memang tercipta karena Berte tak sengaja mengecup manekin begitu pun dengan Harry, karena Haruko tak sengaja mengecup manekin"


"Lalu, bagaimana dengan kau Aditi? Siapa yang mengecupmu jelas itu bukan kau? Lalu siapa yang mengecup dua manekin yang lainnya lagi? Bahkan, semenjak para manekin muncul, korban meninggal semakin bertambah” kata Moru membuat mata Aditi menatapnya tajam.


Mr. Edghar Galliel dan Dokter Allan terdiam sejenak setelah mendengar suara alarm tanda bahaya terdengar nyaring. Dokter dan para Profesor berlarian menuju ruang lab, memperhatikan setiap CCTV yang ada di setiap jengkal Stasiun Televisi.


“Mesin penghancur kita telah tercipta dengan begitu….sempurna Mr.Edghar” kekeh Dokter Allan sambil mengulurkan tangan menawarkan sebuah jabatan tangan. Layar monitor menunjukkan kejadian sebelum alarm berbunyi.


Ketika detik terakhir proses penelitian dilakukan, seluruh Reporter dan Kameramen dalam tabung membuka mata mereka secara serempak. Proses pengaktifan sel tubuh buatan mereka telah terjadi kini. Karena itulah alarm tanda bahaya pertama berbunyi.


“Apa mereka mengenali siapa Tuan mereka? Allan?” tanya sang Presiden Direktur seolah melupakan satu tahapan. Dokter Allan berdehem kecil lalu mengaktifkan pengeras suara yang hanya dapat di dengar oleh orang yang ada di dalam lab.


Selamat datang kembali, para Reporter dan Kameramen, senang bisa mengetahui kalian masih hidup. Silakan pecahkan tabung yang membelenggu kalian. Perintah Dokter Allan mengumumkan, membuat ciptaan mereka mulai bereaksi atas perintah yang diberikan. Dengan kekuatan besar mereka mampu memecahkan tabung hanya dengan satu tonjokkan.


Priaaaaaaaang!!


Melihat kekuatan dahsyat tersebut, Mr.Edghar berdecak kagum lalu menatap penuh kebanggaan atas keberhasilan Dokter kebanggaannya itu.


Carilah di mana keberadaan Tuan kalian tambah Dokter Allan terkekeh senang. Maka semuanya keluar dari lab yang terlihat bagai kapal pecah itu dan mulai menyisir tiap jengkal Stasiun Televisi tersebut. Dokter Allan mematikan pengeras suara setelah tugasnya selesai.


“Kau yakin semua akan baik-baik saja? Maksudku, dengan kekuatan sebesar itu bisakah kau yakin mereka dapat menemukan Tuan mereka? Tanpa terjadi kekacauan di luar Stasiun TV ini?” tanya Mr.Edghar mulai menyangsikan ciptaan mereka.


“Mereka robot Android paling sempurna Mr.Edghar. Mereka diciptakan memiliki kemampuan seperti manusia normal lainnya. Tidak akan ada yang tahu bahwa mereka mesin penghancur kita. Bahkan memikirkan bahwa mereka adalah robot pun tak akan pernah terjadi” kekeh Profesor Doktor Allan terdengar menyombongkan diri.


“Kau menyiapkan kejutan untukku rupanya. Jadi kemampuan apa yang mereka bisa lakukan untuk menyamar menjadi manusia?”


“Tentu saja mereka punya Profesi, punya keluarga, mereka mampu makan makanan manusia, mandi, berolahraga, ya…, apa pun yang pernah manusia normal lakukan tentunya”


“Kau yakin itu tidak akan membuat programnya mengalami eror? Kurasa terlalu banyak hal yang harus mereka lakukan bukan?” tanya Mr.Edghar kembali duduk menghadap ke arah Dokter Allan.

__ADS_1


“Program utama mereka adalah penghancuran. Hanya akan diaktifkan bila mereka dalam bahaya, atau dalam keadaan menjalankan tugas penghancuran. Itu saja. Selama tugas utama belum diperintahkan, mereka akan menjalankan rutinitas sebagai manusia biasa” jawab Dokter Allan panjang lebar.


BLAAAMMM!!


Sesuatu yang sangat kuat menghancurkan pintu dan memperlihatkan siapa pelakunya. Para robot yang dibuat semirip mungkin dengan para Reporter dan Kameramen oleh sang Dokter. Mereka bergerombol masuk, satu persatu ke dalam ruangan lalu memberi penghormatan dengan membungkuk pada Dokter Allan.


“Hormat Kami Mr.X-Bone” kata para robot ciptaan Dokter Allan kepada sang Dokter.


“Kau lihat? Semua ciptaanku akan selalu mengingat pencipta mereka” kata Mr.X-Bone alias Dokter Allan pada Mr. Edghar.


“Dengarkan baik-baik. Mulai sekarang, kalian harus hidup berbaur dengan manusia. Pulanglah ke rumah keluarga kalian dan tunggu perintahku selanjutnya. Mengerti?!” kata Mr.X- Bone berapi-api.


Anjing jadi-jadian itu mulai menggeram, ketika telah tiba di area tak jauh dari bangunan Teater tua. Adel dan Ferghus mulai menyeringai jahil pada Kenatt. Polisi itu selalu meragukan kemampuan Hisashi bukan? Lalu kira-kira apa yang akan ia katakan pada Hisashi, ketika Hisashi mampu membuktikan kebenaran bahwa titik kecil yang mereka lihat beberapa jam yang lalu itu adalah benar gedung Teater kuno. Ada hal yang terjadi pada Hisashi dan Ferghus...mereka tiba-tiba saja menitikkan air mata. Bahkan keduanya saling memandang satu sama lain.


“Apa ada hal buruk terjadi? Kenapa kalian tiba-tiba menangis?” tanya Adel menyelidiki tapi Ferghus, hanya mengangkat kedua bahunya sementara Hisashi menghapus air mata dengan jemari tangannya.


“Telah ada yang mati sebelum kita sempat menyelamatkan mereka…” desis Hisashi mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia sangat murka lalu bergegas mendekati Teater kuno dan masuk bersama kawanannya.


“Sesuatu menghalangiku masuk jauh lebih dalam lagi. Ini bukan pintu masuk gedung Teater kuno itu. Ini hanya sebuah dimensi kosong, untuk mengecoh manusia yang tak diinginkan agar tidak memasuki tempat itu” tegas Hisashi setelah langkah kakinya terhenti tiba-tiba.


Eve memilih diam, duduk dipojokkan dinding berada jauh dari jangkauan sang hantu Pria. Ini tidak benar...kenapa dia tetap berada di sini, sementara semua rekannya berada di antara hidup dan mati. Eve langsung berdiri diikuti oleh sang Pria hantu tanpa kata namun matanya, mengintimidasi Eve agar tidak berusaha melarikan diri.


"Kau bersikap seolah aku ini seorang tahanan Tuan. Biarkan aku mencari rekan-rekanku sekarang"


"Mereka akan mati satu persatu...bersikaplah seperti kau tidak pernah mengenal mereka. Seharusnya kau bisa!" kata Pria hantu datar tanpa mengubah sedikitpun sikap waspada.


"Kau sejak dahulu memilikiku!! Tapi kau, melupakanku!! Bisakah kau diam dan mempercayaiku saja?!" marah sang Pria hantu.


"Jangan lakukan hal ini padaku. Kau, ingin melenyapkanku atau ingin menyelamatkanku?! Kumohon biarkan aku mencari rekan-rekanku!!" teriak Eve makin histeris.


"Ini yang terbaik untukmu..." siul sang Pria hantu tak menghiraukan Eve yang kian meradang.


"Tidak. Ini bukan terbaik untukku. Tapi untukmu. Katakan. Siapa kau? Kenapa kau berusaha menyelamatkanku dari Suami Istri gila itu?!" Eve menuntut jawaban, berusaha menguatkan diri untuk menatap kedua manik mata Pria hantu tersebut. Aneh...kenapa saat Eve bertanya namanya, sang Pria hantu lebih memilih menghindar sejauh mungkin dari jangkauan Gadis itu.


BANG !!


Bang Bang!!


Eve terlonjak kaget bukan main dan memilih mundur...menjauh dari pintu. Sesuatu sedang berusaha mendobrak secara paksa dari seberang pintu.


"Eve!! Kau kah itu?! Ini aku Harry!!" panggil seseorang dari seberang pintu. Sang Pria hantu mengarahkan telapak tangannya ke arah Eve lalu mengibaskan tangan kearahnya. Eve tercekat terkejut mengetahui tubuhnya melayang menuju ke dekapan sang Pria hantu.


"Harry!! Tolong!!" teriak Eve, membuat dobrakkan di pintu semakin kuat hingga pintu tak berdosa itu terhempas jatuh ke lantai.


"Kau baik-baik saja? Eve?!" tanya Darius panik melihat siapa yang telah menyandra Eve.


"Mereka berbahaya...jangan percaya mereka" bisik Pria hantu ditelinga Eve. Tanpa disangka, Harry melontarkan rongsokan pintu ke arah sang Pria hantu.

__ADS_1


Wuzzzzzh...


Sang Pria hantu menghilang bersama tawanannya lalu kembali muncul tepat di belakang dua manekin tampan. Sebelum sempat mereka menyadari keberadaan Eve dan dirinya, sang Pria hantu segera melontarkan kedua manekin tampan ke dinding. Darius tidak tinggal diam!! Ia membalas serangan Pria hantu dengan melemparkan sebuah kursi kayu lapuk yang telah dipenuhi sarang laba-laba ke arah Pria hantu dan Eve.


Auch!! Ah!!


Kayu itu sukses membentur Eve karena tubuh Pria hantu bisa menembus benda apa pun. Untungnya sang Pria hantu berhasil membuat Eve hanya terbentur tidak tertimpa kursi kayu lapuk tersebut. Pria hantu menghempaskan Eve ke atas lantai berusaha menahan beban kursi kayu dalam keadaan memunggungi musuhnya.


Melihat Eve telah terlepas dari Pria hantu, Harry melontarkan tumpukkan kayu lapuk ke arah Pria hantu sementara Darius berlari ke arah Eve untuk mengambil alih kendali Gadis malang itu. Dalam keadaan melindungi manusia dari benda mati, Pria hantu harus berada dalam wujud manusianya oleh karena itu, Harry memanfaatkan keadaan itu untuk mengalihkan perhatian.


Sang Pria hantu mampu menghancurkan semua kayu yang ada di depan dan belakang tubuhnya menjadi serpihan-serpihan kayu halus. Pria hantu menggeram murka melihat Eve telah diambil alih Darius.


Pria hantu membuka kedua tangan, lalu mengarahkannya ke punggung Darius. Sang manekin tampan tiba-tiba merasakan kakinya tak mampu bergerak hingga ia jatuh terjerembap di atas lantai. Eve berusaha membantu, tapi terlambat!! Darius terseret ke arah Pria hantu!! Harry berlari akan menendang punggung Pria hantu tapi usahanya sia-sia karena kaki buatannya hanya dapat menembus punggung Pria hantu.


Darius dan Harry menyatukan kekuatannya menciptakan masalah baru. Melihat kesempatan bagus, Eve memilih untuk lari dari sana sendirian. Harry dan Darius merasakan tidak ada lagi sosok Eve. Pria hantu berusaha menerobos karena ia juga merasakan hal serupa. Sayangnya Darius dan Harry berusaha untuk menghalangi pergerakan Pria hantu.


Darius menciptakan api hitam, dan Harry menciptakan api putih. Iblis mana pun akan melepuh bila merasakan dua unsur api hitam dan putih sekaligus. Ketika mereka melontarkan kedua unsur api sang hantu Pria tak kalah cerdik ia menciptakan unsur angin dari dalam tubuhnya sehingga dua unsur api, tidak mengenai dirinya akan tetapi, justru menyembur tuannya sendiri.


Eve terus berlari dan berlari mencari keberadaan rekan-rekannya sambil menyentuh dahinya yang berdarah karena benturan. Saat ini Eve merasakan pusing begitu hebat. Tengkuknya terasa sangat berat...syaraf leher bagian kiri dan kanan terasa begitu nyeri.


Kepalanya berdenyut terus menerus, pandangannya sama seperti pandangan seseorang ketika baru bangun tidur. Syaraf kepalanya terasa sangat tegang, hingga syaraf matanya terpengaruh juga. Ia berlari terhuyung-huyung sambil terus berdoa semoga ketiga iblis itu tidak akan menangkapnya lagi.


Kau tidak akan bisa berlari lebih jauh lagi dariku. Berhenti!! Terdengar suara Pria hantu. Entah kenapa Eve terus terngiang-ngiang suara Pria hantu bahkan ia pun terbayang-bayang wajah si Pria hantu di sepanjang pelariannya.


Kepalamu terluka istirahatlah sejenak. Biar ku obati lukamu. Lagi-lagi terbayang sang Pria hantu tapi Eve merasa ini hanya halusinasi belaka maka ia tetap berlari meski berulang kali hampir terjatuh.


Brugh!!


Kali ini, Eve tak tahan lagi ia langsung jatuh pingsan seketika di atas lantai.


Suara hembusan angin kencang membuat Eve mulai membuka matanya. Ah, ia kembali ke halaman rumah tempat di mana Suami Istri yang memintanya terus berjuang bertahan hidup.


Tapi kali ini, ia bisa masuk ke dalam rumah tersebut. Eve melihat dirinya yang masih kanak-kanak tersenyum bahagia dalam asuhan kedua Suami Istri itu. Eve kecil diminta untuk menuliskan sesuatu. Ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu kali ini karena dulu, ia pernah gagal membaca tulisan tersebut.


 


Keluarga Brodie Penuh Cinta


Eve membelalakkan mata membaca tulisan itu. Jantungnya berdegup kencang merasakan desiran rasa hati yang perih. Seolah, luka lama terbuka kembali.


Amanda Brodie, Mom ku. Samuel Brodie, Dad ku. Aprillie Brodie, sekarang itu namaku... Apa maksud ini semua? Jika ini keluarga angkatnya, kenapa ia dibesarkan bersama keluarga lain? Memang di mana Mr dan Mrs. Brodie selama ini?


KYAA!!


Pekik Eve ketika ia merasakan pusaran angin menyeretnya ke suatu tempat. Angin itu berhenti menyeret Eve ketika ia telah tiba di depan pintu sebuah ruangan. Tangan Gadis itu terulur membuka pintu. Mata Eve membulat seketika mengetahui pemandangan tak biasa di depannya.


Ruangan itu adalah...kamar Eve kecil. Ah, bukan bukan...itu kamar...Aprillie Brodie. Ya ampun...sulit untuk menerima kenyataan bahwa ia memiliki banyak identitas. Jadi, benarkah ia di masa kanak-kanaknya adalah Aprillie Brodie? Yang kini telah menjelma menjadi Gadis cantik bernama Evelina Dushenka?! Kenyataan itu sulit untuk diterima apa lagi ia harus melihat dirinya sendiri terbang melayang ke udara karena dicekik oleh bayangan hitam!!

__ADS_1


__ADS_2