Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Merancang Badai Terakhir


__ADS_3

Dokter Allan masih sibuk berkutat di dalam labnya. Tidak ada Iblis satu pun, yang benar-benar bisa menjadi tempatnya berpijak. Edghar dan Susan pun membiarkan keinginan Zack untuk mengeluarkannya dari misi pembangkitan Lee Than Ming dengan media si manusia spesial.


Padahal jika ia mengikuti proses awal pembangkitan, maka kekuatan Allan akan bertambah besar belum lagi jika Lee Than Ming memberikannya anugerah menjadi Iblis seutuhnya.


“Kalian memanjakan Iblis yang salah. Kalian pikir aku bisa semudah kalian, terperangkap ke dalam muslihat manusia, seperti kalian?” desis Dokter Allan merasakan energi Edghar dan Susan menghilang tanpa bekas. Hanya ada satu hal, yang terjadi jika itu sampai mampu disadari oleh Dokter Allan. Yaitu, musnahnya Edghar dan Susan.


Dokter Allan tersenyum sinis sambil memperhatikan setiap perkembangan subjek penelitiannya.


“Aku tahu kalian akan..., berakhir seperti ini tanpa bayanganku Edghar. Tapi aku sengaja membiarkan kalian masuk dalam perangkap para manusia itu sehingga tidak akan ada lagi yang dapat menghalangi tujuanku” Desis Dokter Allan, kini beralih menuju ke arah beberapa rak tertutup kaca bening transparan, yang berisikan banyak sekali gelas ukur.


Sebuah alat mengukur volume larutan, mulai dari volume 10ML hingga 2L. Gelas ini terbuat dari polipropilen dilengkapi bagian bawah yang lebar seperti kaki untuk menambah kestabilan gelas ukur. Dokter Allan mengambil salah satu gelas ukur bervolume 10 ML.


Dan bergerak menuju sebuah meja, yang diatasnya terdapat sebuah Erlenmeyer kita bisa juga menyebutnya dengan labu laboratorium berbentuk kerucut dengan ujung silinder dan dasar yang rata. Dokter Allan mengambil sebuah tetes pipet untuk memindahkan volume cairan yang telah terukur di dalam gelas ukur, ke dalam Erlenmeyer.


Sang Dokter menggunakan alat ini, untuk membantu proses pembiakan mikroba.


“Senang sekali bergerak tanpa harus terapit oleh ketiak kalian....” tawa Dokter Allan menggelegar di seantero lab mikrobiologi yang berada di bawah tanah Stasiun R-Nav TV. Dokter Allan ingin menggunakan Android yang di dalam setiap jaringan komponennya, dilapisi oleh mikroba mematikan yang telah ia kembangkan sejak 10 tahun terakhir.


Sekaligus mengembangkan robot Android sebagai mesin pintar yang mampu berpikir setara dengan otak manusia. Ia telah berhasil meleburkan Ilmu Komputer dengan Neurosains.


Di tempat lain, markas tim dari Kenatt Anderson Cloy, sang Komisaris Jendral Polisi, berpindah ke rumah Hisashi yang damai. Ia datang bersama dengan timnya tanpa melibatkan pekerjaannya sebagai seorang Polisi. Tapi sebagai seorang detektif bayaran, yang bekerja secara rahasia. Disana, berkumpullah Riche, si Jenius Armian, Anastasya dan Charlie.


Mereka tidak akan lepas dari pengawasan Ferghus, Hisashi, Amarru, Adeline dan tentunya Kenatt. Tidak lupa juga melibatkan para korban kejahatan para Iblis, Evelina Dushenka, Dimitri Afanas, Haruko Izanami, Eldert Diederick dan Dante Benvenuto.


Bersama menyatukan tujuan, merancang taktik melumpuhkan lawan, merancang dan memproduksi perlengkapan perang tanpa biaya, menentukan peta wilayah tempat musuh berdomisili, mencari tempat aman dari jangkauan warga sipil untuk dijadikan arena peperangan, mengumpulkan data baik legal maupun ilegal Stasiun R-Nav TV, mencari informasi titik akurat Perusahaan tempat pembuatan robot Android ciptaan Dokter Allan, terakhir, mencari titik lemah dari Teknologi kecerdasan buatan Dokter Allan.


“Riche dan Armian sesuai dengan keahlian kalian berdua, tugas kalian adalah mencari data transaksi baik legal maupun ilegal R-Nav TV sekaligus cari kelemahan dari teknologi kecerdasan buatan Dokter Allan” komando Kenatt tegas.


“Laksanakan” mereka langsung bergegas untuk mencari data tambahan yang dahulu sempat gagal karena ketahuan.


“Anastasya dan Charlie bertugas mencari lokasi perusahaan pembuatan Android ciptaan Dokter Allan”


“Siap laksanakan” jawab keduanya serempak lalu bergegas menjalankan misi.


“Evelina..., bisakah kau kami andalkan kali ini? Ciptakan semua benda yang kami butuhkan, sesuai rancangan yang dibuat Armian?”


“Oh wow, sebuah kehormatan Mr. Komisaris,” sambut Eve bangga.


“Sisanya bisa kita kerjakan berdua Ferghus. Apa kau keberatan?”


“Yah, selama ini kami jadi terlihat keren karena bantuanmu Kenatt. Tidak ada kata tidak, untukmu” balas Ferghus puas dengan apa pun rencana Kenatt hari ini.


“Apa maksud dengan sisanya? Lalu apa fungsinya kami disini?” omel Dante Benvenuto kesal. Pria ini adalah tipikal pekerja keras yang akan kesal, ketika di dalam kelompok, tidak mendapatkan bagian tugas apa pun.


“Kalian membantu kami merancang tugas yang baru saja akan kami laksanakan. Kalian sangat berjasa besar bagi Negara. Kalian pahlawan,” tandas Ferghus sambil menepuk punggung Pria yang sedang kesal tersebut.


“Justru kalian adalah penentu hasil akhir dari perjuangan kami bung. Setelah semuanya terkumpul, kebusukan R-Nav TV terbongkar, kalianlah yang akan mengumumkan untuk pertama kalinya ke Dunia"


"bukankah itu pekerjaan sehari-hari kalian? Mari kita bekerja sama sesuai keahlian masing-masing anggota” tambah Kenatt sambil meninju kecil lengan berotot Ferghus.


Kenatt menoleh pada Hisashi dan Amarru lalu mendekat kearah keduanya.


“Maaf. Bisakah kalian membantu kami?”

__ADS_1


“Kami? Bagaimana orang seperti kami bisa membantu?” jawab Amarru yang balik bertanya.


“Kalian bisa membuat orang-orang yang bekerja untukku tidak mudah tertangkap basah oleh musuh bukan?” balas Kenatt menaikkan kedua alisnya sambil berdoa semoga mereka bisa melakukan untuknya.


Tampak Hisashi dan Amarru saling memandang sekilas, lalu terdiam sejenak seolah mereka sedang berpikir keras.


“Jika kau bisa memenuhi persyaratan yang kami ajukan, mungkin kami akan bisa mengabulkan keinginanmu Kenatt” jawab Hisashi setelah berdehem dan menimbang baik-baik risiko yang akan dihadapinya dengan Amarru.


“Persyaratan? Apa itu sulit?” tanya Ferghus mulai tertarik.


“Pertama. Siapkan satu ruangan khusus kedap suara untuk kami bermeditasi. Pastikan tidak akan ada yang masuk ke dalamnya kecuali kami berdua.”


“Kedua. Kami membutuhkan Iblis yang sangat kuat untuk mengontrol seluruh timmu”


“Bukankah disini ada Zilky?” sahut Eve yang membuat semua manusia melirik pada Zack yang duduk disebelah Eve. Semenjak keluar dari pulau, Zack selalu menempel pada Eve seperti ikan sapu-sapu.


“Apa kalian tidak melihat asap yang terus mengepul dari dalam tubuhnya itu? Kami tidak mau mengambil risiko nak, karena Iblis yang demikian, mulai melemah"


"Sewaktu-waktu kekuatannya akan menghilang. Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi pada timmu dan seluruh anggota kita, jika tiba-tiba kekuatan Zack menghilang di saat paling dibutuhkan?” tolak Hisashi memperingatkan. Zack terdiam mendengar ucapan Hisashi.


“Bukan maksudku meremehkanmu Zack. Aku hanya bicara berdasarkan kenyataan. Gambaran nyata di medan pertempuran kita. Setiap orang yang pergi berperang pasti ingin pulang dengan kemenangan ditangan mereka bukan? Maaf jika ucapanku menyakitimu” tambah Hisashi menyadari ucapannya yang sedikit keterlaluan kali ini.


“Kau, tidak sepenuhnya salah Hisashi” desis Zack kini memberanikan diri menatap kedua mata sang biksu.


“Butuh waktu lama untuk mendapatkan Iblis seperti yang kau harapkan bukan? Itu juga kenyataan.” Kata Zack sambil menghapus jarak diantara dirinya dan Hisashi.


“Apa ada cara agar aku dapat berguna untuk kalian? Pasti kau tahu betul bagaimana cara melenyapkan asap di dalam tubuhku ini dan menjadikanku kuat seperti sedia kala” tutur Zack menuntut jawaban.


Hisashi mengerutkan keningnya lalu meraih bahu Amarru, membawanya ke arah yang berlawanan dengan Zack untuk berunding.


“Aku sedang berusaha mencari rekan untuk mencari jati diriku. Tapi calon rekanku itu...,malah sibuk mengurus urusan yang lain. Padahal dia sudah berjanji akan membantuku untuk mendapatkan identitasku sebagai seorang manusia"


"Yah, bagaimana lagi. Terpaksa ah, ralat. Dengan sangat terpaksa aku harus ikut terlibat urusan orang itu, agar dia dapat secepat mungkin fokus pada masalahku” sahut Zack masih sibuk memperhatikan Amarru dan Hisashi berdiskusi tentangnya. Ragu...itu hal pertama tertangkap mata Zack ketika Hisashi dan Amarru mendekatinya.


“Kau yakin dengan keputusanmu ini? Ada konsekuensi yang harus kamu rasakan untuk dapat bergabung dengan kami. Kau tidak bisa menghindari hal itu sedikitpun Zack” Amarru memperingatkan sang Pria Iblis.


“Apa itu?”


“Kau adalah Iblis. Kami tidak bisa menghapuskan asap itu jika masa lalumu belum bisa kau ketahui dengan jelas. Padahal kami membutuhkanmu tanpa asap tersebut. Dan untuk melenyapkan asap, kau harus mencari tahu identitas aslimu sebagai seorang manusia. Kau tahu betapa rumitnya itu kan?” tambah Hisashi mengusap kepalanya frustasi.


“Lalu?”


“Ada cara lain untuk membuatmu kembali seperti dulu, tanpa perangai seperti masa lalumu sebagai Iblis yang keji. Tapi itu akan sangat menyakitkan bagimu. Jika kau keberatan mundurlah sebelum terlambat” tambah Hisashi mulai bercucuran keringat dingin.


“Apa kau takut aku tak mampu menjalani segala prosesnya dan musnah saat itu juga?” Zack kini menebak dengan sangat tepat.


“Bukankah kau menjadi Iblis seperti ini karena gagal mendapatkan ingatanmu, sekaligus karena ada urusan di dunia yang belum selesai?"


"Jika kau musnah karena kami, segala upayamu selama ini akan sia-sia. Kau yakin tidak memiliki penyesalan apa pun jika ini benar terjadi padamu?” Hisashi mencoba membuat Pria Iblis dihadapannya berpikir dua kali, dan memutuskan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Zack menatap Eve lekat dan tersenyum pada Gadis tersebut.


“Bahkan aku tidak tahu kapan aku mati, sehingga kemungkinan besar, apa pun yang kucari itu, mungkin sudah lenyap ataupun sengaja di lenyapkan dari muka bumi ini. Paling tidak meskipun aku harus musnah"


"Aku musnah karena tujuan mulia bukan karena dimusnahkan atas kejahatanku pada manusia seperti yang dialami Jacob dan Marsha” jawaban lantang Zack mampu menggetarkan setiap jiwa yang hidup di tempat itu.

__ADS_1


“Ya Tuhan..., apa benar aku mendengar kata-kata itu dari Iblis? Apa dia benar Iblis yang selama ini meneror kita semua?” pekik Haruko mulai berkaca-kaca.


“Wah, kau benar-benar Iblis yang luar biasa bung, bahkan sekarang kau bisa membuat Gadis manusia sepertinya tersentuh” kekeh Dante disambut sikutan kuat Haruko.


“Mari kita mulai prosesnya. Tapi kami sangat berharap kau mampu melalui setiap tahapannya dan menjadikan dirimu jauh lebih berharga dari Iblis mana pun” sambut Hisashi sambil menepuk punggung sang Pria Iblis.


Tentu saja dia tak pernah sanggup untuk menyentuh sang Iblis karena tembus. Maka Hisashi, Amarru dibantu Kenatt dan Ferghus mempersiapkan semua kebutuhan untuk memulai sebuah ritual. Ritual dimana memurnikan Iblis dari sifat jahatnya sekaligus mempertahankan kekuatannya sebagai Iblis.


“Tinggalkan kami bertiga” tegas Hisashi pada semua orang di dalam ruang khusus, ketika semua perlengkapan telah siap.


“Eve” panggil Hisashi membuat Gadis spesial itu menoleh dan berbalik ke arahnya.


“Kau dibutuhkan disini untuk mengantisipasi kemungkinan besar jika sisi jahat Zack mengamuk. Tetaplah bersama kami” perintah Hisashi mutlak.


Maka semua orang kecuali Eve keluar ruangan dan menutup pintunya. Zack duduk di dalam ember berisi air suci. Eve bisa melihat bagaimana, reaksi tubuh sang Iblis ketika mencelupkan ujung jari kakinya ke dalam air. Seolah ada jarum yang menancap di setiap pori-pori kulitnya. Tapi Zack tidak melawan!! Ia semakin berani memasukkan kedua kakinya bahkan duduk bersila di dalam ember berisikan air suci.


Aaaaaaargh!!


Terdengar pekik sakit tak tertahankan dari bibir Zack. Ia merasa seluruh tubuhnya mendidih dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Sekuat tenaga...Zack menahan semua rasa sakit. Jika saja Iblis bisa menangis, pasti sekarang air mata menetes dari kedua kelopak matanya. Amarru membawa sebuah mangkuk terbuat dari kayu berisikan air suci yang dimantrai menuju ke arah Zack.


“Eve. Bersiaplah. Ini adalah kesanggupan terakhir dari Iblis tertinggi sekalipun untuk mentoleransi rasa sakitnya. Bisa saja Zack mengamuk saat meminum air suci ini. Tugasmu membantu Zack, meminum air suci ini, tanpa sisa. Kau siap?” tanya Amarru menatap tajam Eve.


“Demi umat manusia” jawab Eve sambil mengangguk meskipun ia tidak tahu harus bagaimana jika itu sungguh terjadi. Eve menatap lekat Zack yang masih dengan tenang memejamkan mata meskipun tiap guratan wajah Pria Iblis tersebut menceritakan betapa sakitnya dirinya saat ini.


Ya, jika Iblis seperti Zack rela berkorban kenapa sebagai manusia Eve tak mampu melakukan pengorbanan yang sama?


“minumlah Zack...semoga kau bisa melewatinya” kata Amarru sambil menyodorkan mangkuk tersebut ke arah Zack. Sang Pria Iblis mengambil mangkuk dan mendekatkan mangkuk itu kearah bibirnya tapi tertahan.


Ia menoleh kearah Eve manusia pertama yang ia percayai selama menjadi Iblis. Gadis itu tersenyum kecut menyadari tatapan sang Iblis. Eve menganggukkan kepala meminta sang Iblis segera meminum cairan suci tersebut.


Gleg....


 


Gleg...


Gleg...


 


Tiap tegukan, membuat sensasi sang Iblis susah untuk menelan air suci. Seperti meminum air panas-panas, yang di dalamnya ada banyak sekali duri. Duri-duri itu masuk ke kerongkongan, menciptakan rasa perih tak tertahankan.


Zack berhenti meneguk, ia seolah tercekik!! Bagaimana tidak? Rasanya..., duri-duri tersebut tersangkut ke dalam kerongkongan bahkan saat ia berusaha menenggak air suci lagi, bukannya menghilang tapi justru bertambah banyak!!


AaaaAAAAaaa!!


Teriakan Iblis bernama Zack mengumandang untungnya, di dalam ruangan kedap suara. Armian mencengkeram lengan kiri Zack sementara Eve berusaha meminumkan kembali air suci tapi Zack memberontak. Manik mata Zack berubah semerah darah ia berjuang untuk terbebas dari cengkeraman dua manusia disampingnya.


“Begini cara membalas budi baikku padamu? Aku menyingkirkan manusia yang selalu menyakitimu tapi kau Sekarang malah berbalik ingin menyiksaku?!” teriak Zack membabi buta.


“Jangan terpengaruh!! Lakukan saja apa tugasmu!! Kita tidak punya banyak waktu!!” Amarru memperingatkan Eve yang mulai sedikit terpengaruh Zack. Cengkeraman tangan Eve mengendur hingga Zack mampu menarik Eve, melontarkan Amarru menjauh dari Eve. mangkuk yang digenggam Eve pun terjatuh.


Deg!!

__ADS_1


Air sucinya!! Batin Eve di sela Zack sibuk menyekapnya. Eve merasa heran kenapa air suci itu tidak tumpah? Diam-diam ia mengambil kembali mangkuk tersebut, lalu memelintir tangan Zack ke belakang. Eve yang kini posisinya berada di belakang Zack leluasa memeluk erat Zack, sementara tangan yang lainnya memaksa Zack meminum air suci.


Kau terlalu lemah untuk melawanku Zack...batin Eve. Benar saja, Zack akhirnya melemah dengan secepat kilat Eve melepaskan cengkeraman tangannya pada tangan Zack, beralih ke rahang Zack agar Pria Iblis tersebut membuka mulutnya lebar-lebar. Amarru berlari menyambut mangkuk dari tangan Eve, lalu minumkan air sucinya sampai habis.


__ADS_2