
"Ayolah...pertempuran memang harus dengan strategi bukan?" kata Adel kesal mendapatkan bermacam-macam pertanyaan dalam keadaan genting. Pertengkaran mereka terpaksa harus di akhiri karena Lee Than Ming tiba-tiba berdiri tegak tanpa harus menekuk kedua lututnya terlebih dahulu.
"Sang pemilik kekuatan inti bumi lebih memilih memihak manusia huh?” kata Lee dengan ekspresi kecewa.
"Hentikan kejahatanmu Lee Than Ming, kau membunuh puluhan orang tak berdosa!!" teriak Adel.
"Aku membunuh yang satu, sekaligus memberi kehidupan baru bagi yang lainnya. Aku melakukan kebaikan"
"Dengan membunuh dan mengambil organ tubuh mereka?!"
"Tugasku adalah, mengacaukan dunia dan menghancurkannya. Kau akan sangat menikmati itu jika kau mau, kuajari bagaimana cara bersenang-senang di duniaku"
"Kali ini kau tidak akan lolos dari kami" kata Adel melemparkan kipas ke arah Lee. Pria itu terkekeh geli saat kipas milik Adel hanya mampu menggores kulitnya seperti goresan saat manusia biasa menggaruk kulitnya.
"Terima kasih, kau baik sekali mau menggarukkan kulitku yang gatal ini" itu tidak terdengar sebagai pujian tapi ejekan.
Mendengar kata-kata Lee, Hisashi langsung menerbangkan tubuh Adel dan Armian mendekat ke arahnya. Melihat Adel akan di ambil alih Hisashi, tentu Lee merasa tidak terima. Mereka terlibat tarik menarik saling memperebutkan Adel. Ferghus merasa mendapatkan kesempatan untuk membuat sebuah Golem!! Perlahan ia membuat Golem seukuran dengannya lalu diperintahkan untuk menyerang Lee. Sang Iblis ternyata menangkap suara derapan langkah kaki Golem yang terbuat dari besi.
Cukup dengan memperlihatkan telapak tangan kiri, Lee telah mampu membuat besi itu meleleh tak bersisa.
"Apa kalian lupa? Akulah pemimpin para penyihir tentu saja aku dapat menaklukkan golem mu dengan mudah, Tuan bodoh," kata Lee mengolok Ferghus. Laki-laki bernama Ferghus Cloy mengingat-ingat apa saja bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan Golem? Sesuatu yang belum pernah ada di dunia buatan sang Lee Than Ming.
"Tidak biasanya seorang Marthen Mathias mengulur waktu sepanjang ini. Ada apa denganmu?" ledek Pria bercadar hitam tiba-tiba muncul di atas batu karang dengan seorang sandera bersamanya.
"Mom!!" teriak Rulby panik ketika melihat siapa sandera sang Pria bercadar.
"Jadi itu Mommu?" tanya Adel di sambut anggukan mantap Rulby.
"Mereka tamu istimewa bagiku sudah sepantasnya aku ingin bermain-main terlebih dahulu dengan calon korbanku" balas Lee menatap tajam ke arah sang Pria bercadar.
"Tapi ini saatnya untuk menjual organ mereka dengan harga yang mahal bukan? Kau ingin menyia-nyiakan kesempatan itu? Jangan kira aku tidak tahu kau, membutuhkan jiwa-jiwa mereka" protes sang Pria bercadar.
"Dari pada mengomel hal yang tidak penting, bertarunglah bersamaku melawan mereka" geram Lee.
"Ayolah...kau ini Iblis untuk apa kau membutuhkan bantuanku?" desis Pria bercadar hitam memicingkan mata.
"Di antara semua manusia di sana, ada dua orang manusia dengan kekuatan inti bumi sepertimu. Tapi aku kesulitan mengenali salah satunya" desis Lee membuat sang Pria bertopeng membelalakkan mata. Sang Iblis dengan pengikutnya memiliki bahasa tersendiri hingga sulit dicerna para manusia pada umumnya.
Muncul cahaya pelangi berpendar pada tubuh Ibu Rulby seketika sang Ibu berubah menjadi sebuah manekin.
"Mom!!" teriak Rulby penuh amarah tapi ia tak mampu berbuat apa pun mengingat lawannya adalah Iblis dan pengikutnya.
"Jadi kau mengakui kemampuanku sekarang? Marthen Mathias?" terdapat seringai kepuasan luar biasa pada sorot mata sang Pria bercadar.
"Lakukan, atau kita berdua tidak mendapatkan keuntungan apa pun kali ini" geram Lee kesal. Sang Pria bercadar berdecih emosi ketika Tuannya gengsi mengakui kenyataan.
Breeeeet!!
Sang Pria bercadar membuang cadarnya dengan raut wajah penuh kepuasan ketika ia dapat menikmati raut wajah para calon korban yang terkejut melihat wajahnya.
"Rudolf Ponix?!" pekik Adel tak percaya. Jadi Pria itu sengaja membawa mereka pada sang Iblis? Suara angin ribut sekaligus hempasan angin kencang menerpa semua manusia yang hanya diam terpaku menatap wajah sang Pria bercadar.
Pria bercadar yang ternyata, Rudolf Ponix keningnya bercahaya benderang entah kenapa, itu justru membuat Adel merasakan kepalanya berdenyut seolah seluruh syaraf otaknya menegang seketika bahkan, ia sempat terhuyung ke belakang. Keanehan terlihat pada Adel juga pada Amarru...kening mereka sama berpendarnya seperti musuh mereka, Rudolf Ponix.
Tato arah penjuru mata angin mulai terlihat muncul, seiring pendaran di kening mereka perlahan meredup.
"Kau!!" pekik Adel menatap Amarru lalu berganti menatap Rudolf. Keterkejutan Adel belum hilang ketika seiring pendaran di dahi Rudolf, wajah dan tubuh Pria tua itu kini mulai berubah menjadi sosok Laki-laki seumuran nya.
"Dalam kurun waktu 5 tahun, aku telah berhasil merahasiakan identitasku agar tak di ketahui Lee Than Ming. Tapi kini usahaku jadi sia-sia karena kau, mengacaukannya Adel" geram Amarru.
"M-maafkan-a-ku..." jawab Adel merasa kini Hisashi dan Amarru pun patut dicurigai.
"Gadis bodoh!! Lawanmu bukan kami!! Tapi dia!!" maki Amarru mengetahui isi otak Adel. Gadis itu terkesiap antara takjub dan bersiaga.
"Woooow, sungguh keberuntungan bagi Iblis sepertiku...tiga manusia pemilik kekuatan inti bumi saling bertemu. Aku tidak sabar lagi akan kehancuran bumi ini Hahahaha!!" tawa Lee Than Ming merasa keberuntungan kali ini telah berpihak padanya.
"Pastikan mereka masuk dalam sekte sesatmu agar mereka mudah untuk ku jadikan pengikutku sepertimu" kata Lee dalam bahasa Iblis.
"Berkah darimu untuk kami Yang Mulia" jawab Rudolf menghormat pada sang Lee Than Ming.
"Mereka bicara apa? Kau dapat menerjemahkannya?" tanya Adel sambil berbisik.
"Itu bahasa Iblis kau harus menjadi pengikutnya untuk dapat mengerti bahasa mereka. Apa kau berminat? Katakan padaku sekarang juga, agar dengan mudah ku tebas kepalamu sekarang juga" sambut Amarru membuat Adel terkesiap panik. Aneh, kenapa Ferghus tidak bereaksi sama sekali ketika ada seseorang berkata kasar padanya? Laki-laki itu hanya memandang Adel dan Amarru dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Jangan harap dia dapat memahami pembicaraan kita ini. Jika kita dalam pengaruh kekuatan inti bumi, maka kita sedang menggunakan bahasa Malaikat. Tidak ada manusia biasa yang mampu memahami bahasa kita kecuali Iblis..." bisik Amarru bersiaga dengan segala kemungkinan serangan dadakan.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" masih ada guratan penuh tanda tanya di wajah Gadis cantik itu.
"Karena Iblis, dahulunya adalah Malaikat yang di depak dari surga, dan direnggut haknya sebagai Malaikat" balas Amarru yang menyadari serangan Rudolf ditujukan pada Adel yang lengah. Amarru menggunakan kekuatannya untuk melindungi Gadis itu.
Kroooooooohhhhhh!!
Sinar terang kebiruan menjadi perisai tepat di depan Adel sementara sinar gelap mencekam berusaha menerobos, tapi hanya sanggup membentur perisai beberapa kali lalu menghilang. Adel meloncat ke belakang karena kaget melihat serangan Rudolf hampir saja mengenainya jika Amarru tidak melindunginya dengan perisai.
"Jika kau ingin mendengarkan dongeng, pulanglah ke pangkuan Mommu. Atau kau membantuku untuk memerangi para Iblis, sekarang!!" bentak Amarru.
"Bagaimana cara menggunakan kekuatanku? Aku baru saja memiliki kekuatan ini"
__ADS_1
"Cukup ijinkan otakmu memerintah seluruh tubuhmu untuk, membangkitkan kekuatan inti bumi di dalam tubuhmu. Seperti saat kau, menyetrumku tadi" tampaknya ada dendam terpendam di hati Amarru.
"Ung, maafkan aku soal itu" kata Adel terkekeh kecil di balas dengan lirikan membunuh dari Amarru.
"Hello...apa aku mengganggu?" sapa Lee yang tiba-tiba mengunci leher Adel dengan lengan tangan kirinya. Karena Adel merasa terancam, tanpa sadar ia mengeluarkan partikel-partikel listrik kembali kali ini dalam skala besar membuat sang Iblis terlontar ke angkasa, dan meledak seketika!!
Hampir saja senyuman kemenangan terbit dari bibirnya yang mungil, tapi, melihat bagian-bagian tubuh Lee yang berceceran di udara kembali menyatu, dan membentuk kembali sosok Lee Than Ming yang tampan.
Blink!!!!!!!!!!!!!!!
Cahaya di dahi ketiga orang berkekuatan inti bumi kembali berpendar sangat terang. Ferghus Cloy tercengang ketika ketiga sosok menyilaukan kini telah berganti kostum menggunakan baju zirah?! Berulang kali Laki-laki itu beranggapan hanya salah lihat ia mengusap berulang kali juga, kedua matanya tapi tetap ia dapat melihat baju zirah yang melekat di tubuh Adel dan Amarru.
"Apa kekuatan inti bumi akan berefek buruk pada pemiliknya?" tanya Ferghus kebat kebit pada Hisashi.
"Kesampingkan dulu pemikiranmu, mari kita bantu Adel dan Amarru dari belakang"
"Tapi mereka jauh lebih hebat berperang dariku. Aku bisa apa?" tanya Ferghus merasa tidak berguna.
"Jangan lupa kekuatan Amarru, separuhnya ada di dalam dirimu nak, jika dia melawan duo Iblis tanpa kekuatan penuh, maka mereka akan mudah terkalahkan. Jadi mari kita bantu mereka sekarang" kata Hisashi menegaskan.
"Bagaimana caranya?"
"Bantu mereka dengan kekuatan pikiranmu dan aku, akan membantu mereka dengan sokongan tenaga dalam" jawab Hisashi yang sibuk mengajari Ferghus tanpa menyadari Kenatt menghilang.
Tidak ada yang tahu di mana Kenatt sekarang berada.
Kenatt diam-diam mengendap-endap menjauhi arena peperangan. Ia melihat ada sebuah cahaya redup berpendar dari sebuah guci yang terbuat dari tanah liat, bertengger di bawah batu karang. Kenatt awalnya ragu...bagaimana jika pergerakannya di ketahui duo Iblis itu? Bisa tamat riwayatnya. Ia tak mengira akan semudah itu menjangkau pedang bersinar yang menancap di atas guci tersebut.
Zraaaaaattttt!!
Berhasil!! Kenatt dengan mudah mencabut benda itu yang bahkan sejak ribuan tahun tidak ada yang sanggup mencabut pedang tersebut.
FlassssssHhhhhhh!!!!!!!!!!!!
Seluruh mata tertuju pada Kenatt yang menggenggam pedang keramat yang mampu membuat langit sekarang menggelegar dan berdentum kencang.
"Tidak mungkin!!" geram Lee saat melihat pedang itu dapat di cabut oleh Kenatt dengan mudah.
"Sang Ksatria penjaga pedang kematian...." desis Hisashi membuat bulu kuduk Rulby meremang.
"Maksudmu Kenatt? saudaraku?" pekik Ferghus tak percaya, justru membuat Hisashi tersenyum lebar. Tanpa aba-aba, Hisashi, Adel dan Amarru bergerak merentangkan kedua tangannya, koprol ke belakang, membuat seluruh udara di sekitar kaki mereka terbelah membentuk sebuah gelombang gas yang teramat besar!! Ketiganya duduk bersila seakan sedang melakukan meditasi.
Mereka memejamkan mata dan membaca mantra...
"Rudolf!! Jauhkan pedang itu dari manusia di sana!!" teriak Lee Than Ming teramat sangat panik menyadari kebangkitannya selama beratus-ratus tahun, membangun kekuatan besar, sedang terancam tersegel. Lee dan Rudolf mengayun-ayunkan tangan mereka berkali-kali lalu muncul gelombang udara berwarna hijau kehitaman, memperbesar gelembung itu, lalu melontarkan ke arah Kenatt yang setara dengan ledakan senjata nuklir.
Bledar!! Bledar!!
Misi mereka memisahkan tubuh Kenatt dengan pedang mampu di gagalkan oleh gelembung gas milik Adel, Hisashi, Ferghus, Dan Amarru. Justru para Iblislah yang terkena dampak ledakan!!
Lagi-lagi tubuh mereka meledak, dan serpihan tubuh mereka kembali menyatu. Sebelum kekuatan duo iblis itu menyatu kembali, dengan raga mereka, sesuatu terjadi pada Kenatt!! Pedang itu berpendar merah darah...mata Kenatt pun kini berbinar kemerahan dengan sorotan mata murka. Ia berlari sangat kencang melebihi kecepatan manusia biasa. Ia lemparkan pedang itu ke udara, dan ketika pedang itu terbagi menjadi dua bagian, dengan sigap Kenatt menangkap kedua pedang lalu menusukkan tepat di rusuk para Iblis!!
Jlebbbb. Jleeeebbbb!!
Tusukan tepat sasaran yang begitu dalam. Sosok duo Iblis itu semakin menipis, berkedap kedip seolah hanya sebuah gambar dari hologram. Ketika duo sosok itu benar-benar raib, pedang segel yang semula berwarna tembaga, kini menjadi hitam kelam...dari ujung pedang, menjalar hingga ke pangkal pedangnya. Tanpa diduga, Kenatt menyayat telapak tangannya hingga membentuk sebuah bintang bercahaya merah darah. Ia tusukkan pedang itu tepat ke tanda bintang tersebut dalam....semakin dalam menghunus. Ketika Ferghus hendak berlari mencegah aksi Kenatt, Hisashi mencengkeram kuat lengan Ferghus.
Saat Pria itu akan menjerit, Hisashi membekap mulut Laki-laki itu seraya berbisik.
"Kau hanya akan menggagalkan ritual penyegelan Iblis-iblis itu. Jika gagal, nyawa Kenatt justru dalam bahaya...diam, dan saksikanlah" bisik Hisashi mengintimidasi.
Ferghus, Rulby dan Adel hanya mampu meringis melihat Kenatt yang semakin dalam menusuk telapak tangannya sendiri hingga hampir ke pangkal pedang. Aneh, tanpa darah, dan tanpa ada tanda-tanda pedang itu menembus punggung tangan Kenatt. Mereka diam melongo, saat pedang itu menghilang tenggelam di dalam telapak tangan Kenatt.
Pendaran cahaya pada pedang yang ditelan habis oleh telapak tangan Kenatt kini meredup seketika. Mata Kenatt yang berpendar kemerahan kembali bercahaya selayaknya manusia normal. Ia hanya terdiam sejenak tanpa kata, tanpa pergerakan. Ferghus, Amarru, Hisashi, Adel dan Rulby berjalan menghampiri Kenatt. Laki-laki itu tak merespons apa pun kata-kata mereka semua.
Tap
Tap
Tap
Mata Kenatt yang menunduk ke bawah, segera bereaksi setelah ia mendengar suara langkah kaki seseorang. Ia menatap ruh seorang Wanita cantik, sedang berdiri di depan Rulby dengan tatapan sendu. Kenatt menyorot ruh Wanita tersebut hingga matanya kini berpendar putih tulang. Menyadari manik mata seputih tulang menyorot penuh tanda tanya, sang Ruh Wanita itu berbalik, dan menatapnya.
Wanita itu menghampiri Kenatt, lalu menggenggam telapak tangan Kenatt yang berlambangkan bintang. Sekelebat kejadian mengerikan terekam jelas di kepala Kenatt. Entah kenapa, Kenatt menunjuk ponsel milik Armian yang telah dititipkan pada Adel di dalam saku celana Adel. Ponsel itu bergerak sendiri menyembul keluar dari saku Adel dan melayang di depan batang hidung Adel.
"Kau ingin aku mengabadikan gambarmu? Menggunakan video?" tebak Adel menuai anggukan Kenatt. Adel mengambil ponsel tersebut tanpa ragu lalu menyalakan video."Mereka Kakak, Dad dan Bibi Rulby...di bunuh bukan karena kecelakaan.
Para utusan Iblis, mengutak-atik mobil mereka sehingga terjadilah musibah kecelakaan itu. Mereka menciptakan banyak asap di sekitar mobil, membawa mereka ke mari, mengambil jiwa yang seharusnya masih dapat ditolong, mengambil seluruh organ dalam tubuh mereka, kemudian mengembalikan jazad mereka ke dalam mobil naas itu, dan membuat mobilnya meledak sehingga tidak akan ada yang sadar, organ dalam mereka raib bahkan sebelum mobil itu meledak.
Gadis bernama Rulby jatuh terduduk di atas tanah matanya memerah berkaca-kaca. Air mata Gadis malang tersebut kini mulai menitik jatuh dari pelupuk matanya. Ruh Wanita, berjalan di ikuti oleh Kenatt menuju boneka manekin yang seharusnya adalah Ibu Rulby.
"Mom Rulby...telah jatuh dari atas balkon rumah ini dan kini ia terbaring koma. Sementara Wanita yang disekap Rudolf Ponix adalah tiruannya, boneka manekin akan kembali pada wujud aslinya ketika misi telah berakhir" mendengar kata-kata Kenatt mengenai sang Ibu, Rulby jadi bingung dia harus senang, atau harus sedih? Apakah dia harus senang karena Ibunya koma? Atau dia harus sedih karena Ibunya koma tanpa adanya rasa syukur setidaknya sang Ibu masih setengah hidup?
"Kakak Rulby ingin menunjukkan kuburan massal di tempat ini..." desis Kenatt membuat mereka yang mendengarkan mendadak tegang bukan main.
"Ayo ikuti kami" kata Kenatt sambil melangkah di ikuti semua orang.
Brak!!
__ADS_1
Brak!!
Mereka bersiap untuk melawan semua makhluk jadi-jadian yang kemungkinan terburuk akan menjadikan mereka mangsa.
Broolllll!!
Sebuah kaca besar yang melapisi tembok tepat di belakang mereka, rubuh dan suara kaca pecah berkeping-keping. Muncul Armian, Anastasya, dan Riche yang memandang seluruh orang di sana penuh kewaspadaan.
"Ini kami oke, jangan memandang kami seolah kami ini monster" protes Anastasya yang sedang membawa skop, dan ada Riche yang juga membawa kapak.
"Well, di mana kalian mendapatkan barang-barang itu?" tanya Adel mulai penasaran.
"Tentu saja karena ini senjata yang digunakan seluruh monster untuk menyerang kami bertiga. Untung saja mereka tiba-tiba wusssssssh menghilang meninggalkan benda berharga ini" jawab Armian menjawab Adel penuh kelegaan.
"So, apa yang akan kalian lakukan kali ini?" tanya Anastasya was-was.
"Mencari kuburan massal, tentu kalian akan sangat membantu kami dengan alat-alat seperti itu" jawab Ferghus lega karena mereka tak perlu lagi kebingungan mencari alat berat maupun benda tajam untuk membongkar apa pun benda, yang memungkinkan di dalamnya terdapat mayat korban-korban Lee Than Ming. Ferghus memberi kode pada ketiganya untuk segera mengikuti kemana langkah Kenatt tertuju. Kenatt berhenti di sebuah jalan buntu.
Hanya terdapat tembok-tembok mengepung jalan mereka.
"Bongkarlah seluruh dinding-dinding ini" perintah Kenatt pada Riche dan Armian yang merasa aneh melihat mata bos mereka.
Bum dag!!
Bum dag dag!!
Prollllllll!!
Brug brug !!
Armian dan Riche melompat mundur ketika dinding yang mereka hancurkan meluruh lantahkan segala hal yang ada di dalamnya. Pemandangan kerangka-kerangka tubuh manusia berjatuhan tertimpa ataupun menimpa dinding yang roboh. Bau busuk menguar dari semua kerangka tersebut. Adel langsung menyorot penemuan tersebut.
"Ayo kita kelain tempat" kata Kenatt membawa semuanya ke arah ruangan lebih luas lagi. Kenatt berhenti di rerimbunan pepohonan.
"Apa dia sudah tidak waras? Mana ada mayat di bawah rerimbunan pohon ini? Pasti akan sangat sulit menguburkan mayat lebih dari satu di situ bukan? Tempatnya sangatlah sempit" bisik Riche pada Anastasya dan Armian.
"Siapa yang mau memanjat naik ke atas pohon-pohon ini?" tanya Kenatt menatap ke arah Armian dan Ferghus.
"Kami" kata Amarru dan Hisashi kompak. Keduanya memasang kuda-kuda untuk melompat ke pepohonan itu.
Hup!!
Mereka melompat dan menaiki pohon dengan merayap, melompat, merayap kembali dan melompat hingga sampailah mereka ke puncak pohon. Ini pohon yang aneh...pikir Amarru dan Hisashi mereka saling melirik. Pohon itu cukup besar...dan tinggi. Dedaunannya pun jarang-jarang. Hidung mereka...mencium bau busuk.
"Puncak pohon ini punya lubang yang cukup besar!! Kami butuh senter untuk dapat melihat ada apa di dalamnya!!" teriak Amarru pada rekan-rekannya di bawah.
Ferghus segera mengambil tas ransel milik Rulby. Yeah, berdoa saja semoga senternya tidak rusak mengingat mereka telah lama menyelam ke dalam danau ciptaan Lee Than Ming. Ia mendorong ke atas tombol on dan...syukurlah, senter itu masih berfungsi dengan baik. Ia melemparkan dua senter ke arah Amarru dan Hisashi.
Saat mereka melongok ke dalam, mereka justru melompat langsung ke bawah tak tahan dengan aroma mayat.
"Kau melihat sesuatu?" tanya Adel sambil mengarahkan kamera ponsel ke wajah Hisashi yang mulai memucat.
"Baunya menyengat sekali. Benar-benar ada mayat di dalam pepohonan ini" jawab Hisashi setelah muntah dan minum air mineral.
"Ada banyak mayat di sini. Jutaan. Bahkan mayat Putra Hisashi termasuk" kata Kenatt menyorot mata Hisashi yang melotot seketika.
"Kau tahu, di mana Putraku berada?!" pekik Hisashi antara suka dan duka berbaur menjadi satu.
"Mayat Putramu, ada di suatu tempat. Ia tertidur abadi di ruangan gelam itu" kata Kenatt sambil berjalan menuju sebuah gudang, mungkin dahulu, gudang tersebut adalah sebuah kamar. Karena saat pintu itu terbuka sekaligus berdecit, terlihatlah ruang gelap yang sangat luas, menjorok ke dalam. Mereka melangkah perlahan mengikuti kemana Kenatt melangkah.
Sebuah peti kayu? Ada ukiran bentuk manusia di atas papan peti tersebut.
"Bukalah...Putramu sudah menunggu untuk di lepaskan secara layak" kata Kenatt mempersilahkan Hisashi. Pria itu melangkah tertatih...menuju peti dan membukanya. Ferghus ikut melongok ke dalam peti. Mayat anak Hisashi dimumikan? Tanda tanya besar bergejolak dalam diri Ferghus.
"Bagaimana, melihat mayatmu sendiri?" tanya Kenatt dengan sorot mata prihatin.
"Apa? Kenapa kau mengatakan itu?" tanya Hisashi bingung. Sebelum jazad Putranya di kuburkan dengan layak, maka ruh Putranya tidak akan pernah bisa bereinkarnasi pikir Hisashi.
"Kau lupa, ada jantung Putramu masih berdetak di dalam diri Ferghus Cloy" kata Kenatt tersenyum hambar. Hisashi mendekat dan memeluk pemilik jantung Putranya itu.
Sehari setelah penemuan mayat-mayat korban Lee Than Ming alias Marthen Mathias, semua media massa membicarakannya. Dan majalah pertama yang meliput kisah misteri pembunuhan jutaan manusia dalam kurun tahun yang berbeda adalah, Wonders Of The World kisah heroik Ferghus Cloy dan Rulby Minna dalam menyelamatkan nyawa Gadis Sekolah Menengah Ke atas, dan menemukan kerangka mayat manusia tentu saja, dengan bantuan Komisaris Jendral Polisi Kenatt Anderson Cloy dan anak buahnya.
Kabar gembiranya, Adalah Adel dan Ferghus mendapatkan kucuran jutaan Dollar setiap bulannya karena berita yang mereka suguhkan berhasil mengguncang dunia, hingga tujuh bulan lamanya.
Kini, Adel dan Ferghus sedang merayakan kesuksesannya dengan minum secangkir coklat hangat, dan makan malam romantis di ruangan kerja mereka.
Kring!!
Kring!!
Bunyi telepon kantor berdering membuat tawa renyah mereka terhenti seketika. Ferghus yang berjarak dekat dengan telepon segera menjawab panggilan masuk.
"Hello, Wonders Of The World... Ferghus Cloy di sini, ada yang bisa saya bantu?" jawab Ferghus. Laki-laki itu mendengarkan dengan seksama, raut wajahnya menegang seketika sambil menatap Adel tanpa kata.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih atas semua dukungan yang telah kalian berikan, para pembaca kesayanganku, jangan lupa intip juga, Red Water Park genre horor juga yang episode ke 11 nya akan segera dipublikasikan.... Ada juga Aitai, The Magic Of Snow, dan Rain Bow Of Destiny genre Romance. Selamat berkarya untuk para penulis senior, dan yang akan datang!!