Jangan Lupa Tidur

Jangan Lupa Tidur
Episode 17


__ADS_3

"Tidak ada kata mundur dari kamusku Hisashi. Kadang kala, seseorang akan kehilangan kepercayaan diri ketika menghadapi segala hal yang tidak mungkin untuk dijadikan mungkin" jawab Adel dengan senyuman yang sulit untuk diartikan.


"Dia tidak akan pergi tanpaku Chichi. Dia terlalu mencintaiku" sambung Ferghus tiba-tiba merangkul Adel.


"Hey Boy, katakan. Mau kupatahkan semua jari tangan kirimu? Akan dengan senang hati kulakukan" lirik Adel pada jemari tangan kiri Ferghus yang bertengger bebas di bahunya.


"Jangan terlalu garang pada seorang Pria sayang, nanti semua Pria akan lari terbirit-birit. Tidak terlalu mudah menjadi perawan tua di zaman ini bukan?"


"Atau kau memang sengaja melakukannya agar... tidak ada Pria lain yang mengejarmu...selain aku? Hmm?" kali ini Ferghus makin berani menggodanya bahkan ia terus berulang kali menaik turunkan kedua alisnya hingga Adel makin tajam menatap kedua bola matanya.


"Nyawa semua orang dalam bahaya Mr. Ferghus Cloy yang terhormat... kurasa kau menggoda seorang Wanita tidak pada tempatnya. Sayang sekali kau adalah rekanku" umpat Adel dengan wajah semerah tomat.


"Lihat?? Semua orang di sini telah mendengar dengan sangat jelas kau, memanggilku sayang juga..." sebuah cengiran mengembang di wajah Ferghus diiringi dengan, kedua mata Adel yang memutar kesal.


"Dasar anak muda. Pastikan dulu kalian selamat dari tempat ini" kata Hisashi sambil menjewer telinga Ferghus.


"Apa kalian berencana akan menua disini berdua? Ku tekankan satu hal ya, jangan seret aku ke dalam zona apa pun itu yang kalian ciptakan berdua oke, tujuan kita menyelamatkan para Reporter dan Kameramen. Segeralah memulai penghancuran dimensi kosong" kata Kenatt tegas.


Di tempat lain, Anastasya tiba\-tiba menutup pintu rapat\-rapat. Terdengar beberapa suara langkah kaki berdecit sekaligus berdebuman di lantai. Ini membuat Armian dan Riche meningkatkan kewaspadaan. Anastasya berlari ke arah mereka berdua.


 


"Siapa di sana?!" suara seorang penjaga keamanan terdengar di balik pintu. Ketiganya menegang seketika mengetahui sebentar lagi...aksi mereka akan segera di ketahui.


Krieeeeek....


Suara pintu berderit perlahan dua sosok penjaga keamanan berada di ambang pintu dengan senjata yang mereka genggam erat. Mereka masuk ke dalam, memeriksa setiap ruangan.


"Nihil. Mungkin ini hanya halusinasiku saja. Ayo kita kembali berpatroli" kata seorang penjaga keamanan berbadan tegap sambil memasukkan kembali senjatanya ke dalam tempatnya yang terpasang rekat di pinggangnya.


Tap Tap ....


Tap Tap....


Tap Tap....


Langkah kaki mereka, menggema di seantero ruangan.


"Tunggu...kau lihat itu?" kata rekannya sambil menunjukkan sinar rembulan yang masuk ke dalam ruangan tersebut tepat...di depan kaki mereka. Keduanya saling pandang mengarahkan pandangannya ke atas langit-langit.


"Sial. Penyusup!!" pekik penjaga keamanan yang paling muda. Mereka berlari ke arah pintu!!


Bruk!!


Cekrek kreeek!!


Langkah kaki mereka terhenti mendadak mendapati diri mereka kini di kurung di dalam ruangan sempit. Seseorang telah mengunci mereka dari luar.


"1324... 1324..."


"Bagaimana keadaan di sana 1143?"


"Penyusup blok 12 beraksi. Tolong bebaskan kami" lapor salah satu dari mereka. Ini baru awal permainan...mampukah Armian, Riche dan Anastasya menyelamatkan data yang berhasil mereka curi?


Anastasya berlari bersama kedua rekannya setelah berhasil mengunci dua penjaga keamanan. Mereka sadar sepenuhnya apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah titik merah tertuju tepat di kepala Anastasya. Dengan sigap Armian menarik Anastasya ke arahnya.


Dorr!!


Letusan senjata api mengumandang. Armian dan Riche melemparkan bola, sebesar bola bekel, berwarna merah dan biru ke arah musuh.


BoOOOoooom!!


PSSSSsst.....


Para anggota keamanan mulai kesulitan dalam melacak keberadaan mereka karena bola merah menguarkan asap putih lebat yang memenuhi seluruh ruangan. Sialnya, bola berwarna biru adalah...gas air mata sekaligus gas yang berfungsi sebagai obat bius. Kekacauan pun terjadi...bunyi alarm keamanan berdering nyaring!! Armian memimpin menuju ke ruang bawah tanah.


Ia membuka salah satu pintu asal dan memasuki ruangan asing tersebut.

__ADS_1


"Armian...-ru-ruangan mayat..."kata Anastasya menunjuk ke arah belasan benda yang tertutup oleh kain berwarna putih. Riche segera membuka salah satunya, benar saja...ini ruang penyimpanan mayat para Reporter dan Kameramen yang gagal tes psikologi.


"Mereka berbohong terlalu dalam rupanya. Mr. Kenatt dalam bahaya" kata Riche sambil menggenggam erat kedua telapak tangannya. Tidak ada yang boleh melenyapkan bos kesayangan mereka.


Kenatt melebihi seorang bos bagi mereka. Di saat Dunia membuang mereka karena di anggap mantan narapidana, Kenatt bagai seorang malaikat yang dengan suka rela memberikan mereka tempat berlindung, bahkan tanpa menaruh prasangka buruk, Kenatt memberikan pekerjaan yang menantang dengan gaji di atas upah minimum. Bukankah Kenatt termasuk bos impian setiap orang di dunia?


Bipppp


Tik!


Tik!


Biiip!!


 


Dengan sigap Riche mengambil sebuah alat berwarna hitam kelam, berbentuk mirip dengan ponsel tapi percayalah...alat itu jauh lebih hebat dari ponsel jenis mana pun.


"Armian mereka semakin dekat. Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Riche masih sibuk menatap layar alat pelacak sekaligus alat penghancur di tangan kanannya.


"Masih ada banyak data yang harus kita retas tapi kita terlanjur ketahuan. Ayo ikuti aku" jawab Armian sedikit kecewa. Ia dan kelompok kecilnya bergegas menuju dinding terbuat dari besi.


Armian melirik pada Riche sementara Riche mengangguk lalu menempelkan benda mirip ponsel tersebut di dinding besi. Riche menekan tombol yang berada di sisi kanan dan kiri benda canggih tersebut. Cukup sekali tekan, hanya dengan satu telapak tangan... maka, layar benda yang diberi nama Cracker ring segera berkedip-kedip dan menampakkan sebuah ruangan di balik dinding besi.


"Kau lihat yang ada di balik pojokkan meja itu? Tampak seperti...kotak besi. Apa kita harus memeriksanya sekarang?" tanya Riche sambil menunjuk ke arah layar.


Biiip!!


Tiik!!


Tik!!


"tidak ada pilihan lain bukan?" jawab Armian begitu mengetahui musuh semakin mendekat saja. Riche mengambil kembali Cracker ring, dan dimasukkannya lagi ke dalam saku rompi bajunya.


Armian mengambil sarung tangan berwarna putih susu yang disodorkan Anastasya padanya, lalu mengenakannya secepat mungkin. Armian mengambil sebuah kotak kecil lalu membukanya. Sebuah kapur sebesar ibu jari, ada di dalamnya. Riche mengambil alih kotak setelah kapurnya berada dalam genggaman Armian.


Pria genius bernama Armian segera membentuk lingkaran super duper besar di dinding besi. Begitu pekerjaannya selesai, Anastasya melepaskan tas ransel kecilnya lalu mengambil botol air mineral dari dalamnya. Riche dan Armian menjauh dari dinding besi setelah Anastasya bersiap untuk menyiram dinding besi pada bagian yang tercoreng oleh kapur.


Craaaaats!!


PpsssSSSsssss.....


Buuugh!!


Lengkung senyum puas tercetak jelas di wajah Armian ketika ia dan kawanannya melihat tembok besi yang telah dilingkarinya mulai jatuh ke lantai!! Tanpa ba-bi-bu lagi mereka memasuki lingkaran dinding besi bolong. Armian segera memberi kode agar Riche memeriksa isi dari kotak besi kecil sementara dirinya dan Anastasya berjuang untuk membobol jendela kaca dengan kapur ajaib dan air mineral.


"Aku menemukan mikro chip robot Android cukup banyak di dalamnya" kata Riche setengah berteriak.


"Ambil sebanyak yang kita bisa" jawab Armian setelah sukses melubangi jendela. Maka Riche mengambil sebanyak mungkin yang bisa di tampung ke dalam tas ranselnya.


BraAAAaagh!!


JeduuUUm!!


Suara gebrakan para penjaga keamanan dan protokol polisi mengejutkan mereka!! Untung saja mereka masih bisa meloloskan diri berkat membobol dinding besi. Mereka segera melarikan diri lewat lubang kaca berlari sekencang mungkin.


"Apa kau sudah memberi tahu apa saja yang kita dapatkan hari ini pada Mr. Kenatt?" tanya Anastasya tersengal-sengal.


"Tidak sekarang. Tempat itu menetralisir sinyal benda elektronik mana pun" jawab Armian singkat.


"Kita akan menyusul mereka semua. Setelah barang bukti cukup" tambah Riche mengundang rona kecewa di wajah Anastasya.


Eve tiba-tiba menghentikan larinya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dimi. Pria itu ikut berhenti dan menatap penuh tanda tanya.


"Kenapa berhenti? Kita harus segera menemukan yang lain" protes Dimitri yang kembali berusaha menggapai tangan Gadis itu tapi...lagi-lagi Eve mengelak darinya.


"Eithan...bawa Dimitri bersamamu mencari yang lainnya" kata Eve tegas.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Kau ingin kami meninggalkanmu sendiri? Jangan bodoh Eve!!" bentak Eithan setengah melotot.


"Semua hal yang terjadi dari awal hingga sekarang, yang aku tahu, kaulah incaran utama para Iblis itu. Ketika kau, menghilang dari jangkauan kami, maka salah satu dari kami akan mati. Apa kau ingin itu terjadi lagi?" tambah Dimitri menatap tajam ke arah Eve.


"Mereka sedang ingin mengorbankan kalian semua. Sampai pada akhirnya hanya akulah yang tersisa. Untuk apa kalian mempertahankanku? Jika akulah penyebab kalian mati satu persatu" kata Eve mundur tiga langkah...menjauh dari Eithan Wilfred maupun dari Dimitri Afanas.


"Apa yang sedang kau bicarakan huh? Apa ini ada hubungannya dengan kau ketakutan saat terbangun dari mimpi burukmu tadi?" jawab Dimi memicingkan mata mulai tak suka dengan arah pembicaraan mereka kali ini.


"Kau sama saja dengan yang lainnya. Tidak ada yang mau melihat dari sudut pandangku" keluh Eve datar.


"Sudut pandang yang mana?! Jelaskan. Waktu kita terbatas" gertak Dimitri ingin segera mengakhiri aksi Eve.


"Apa yangku katakan itu benar Dimi. Kalian semua akan dibinasakan. Pergilah dan tinggalkan tempat ini" Eve masih berusaha untuk memberi pengertian pada kedua Pria keras kepala itu.


Dimitri dan Eithan saling memberi kode, lalu berlari secepat mungkin menggamit kedua tangan Eve. Gadis itu tetap berontak!! pada akhirnya, Eithan terpaksa memukul tengkuk Eve hingga Gadis itu jatuh pingsan. Dimitri menatap nanar ketika hal itu terjadi pada Eve.


"Sorry...hanya ini satu-satunya cara membawa Eve pergi dari sini tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga" Eithan menyeringai tak enak hati.


"Kau ulangi sekali lagi, akan kupatahkan tanganmu" ancam Dimitri, sambil memanggul Eve di bahunya. Mereka berjalan cepat menuju ke arah yang menurut mereka benar.


"Eithan!! Dimi!!" panggil seseorang jauh di depan mereka. Kedua Pria itu menatap waspada pada apa pun, yang akan muncul di hadapan mereka. Suara hentakan kaki beberapa orang terdengar berlarian menuju ke arah mereka bertiga.


"Hey, apa yang terjadi pada Eve?" tanya Moru mengerutkan keningnya keheranan.


"Ceritanya panjang. Tapi waktu kita sangat terbatas" jawab Eithan malas untuk membahas kata-kata Eve yang terdengar melantur itu.


"Jadi hanya kalian yang kemari? Kami sudah berusaha mencari yang lainnya ke seluruh penjuru kecuali masuk ke dalam ruang Teater" Tanya Valdemar Conrad dengan nafas terengah-engah.


"Ya, hanya kami bertiga di sini. Kau yakin, tidak ada tempat lain yang terlewatkan? Jangan sampai lagi-lagi kita terpencar" tanya Eithan balik sambil mencari-cari sosok yang lainnya tapi nihil.


"Ada tempat yang hanya bisa di lewati orang satu persatu. Tapi...kupikir, untuk apa mereka mempersulit ruang gerak mereka sendiri? Demi menghindari para Iblis, yang justru akan dengan mudah menangkap mereka di sana" jawab Hannalie Jemma meragu.


"Tunggu sebentar. Kalian ingat, dimana salah satu dari kita semua pernah terjatuh di atas Karpet merah? Sesuatu yang janggal berada di bawah karpet merah itu" tambah Alie sangat yakin.


"Kau ingin kembali ke daerah dekat ruang Teater terkutuk itu?! Apa kau sama gilanya dengan Eve huh?! Apa yang ada di dalam otak kalian berdua sebenarnya?!" pekik Eithan merasa itu bukanlah ide yang bagus karena sama saja mereka sedang mengantarkan nyawa.


"Siapa tahu, kita bisa mendapatkan jalan keluar untuk pergi dari gedung Teater terkutuk itu. Ayolah...apa kalian tidak ingin kembali pada keluarga masing-masing?" Hannalie Jemma mencoba merayu semua orang di sana. Val, Moru, Eithan dan Dimi saling berpandangan satu sama lain.


Ini adalah keputusan yang sangat sulit karena menyangkut hidup dan mati semua orang.


"Alie...kita semua tahu bahwa saat kita jatuh bertubrukan, tidak ada hal...seperti yang kau katakan barusan" jawab Haruko Izanami merasakan adanya sesuatu yang mengganjal...tapi ia sulit untuk menjabarkannya.


"Bisa saja ia melihat apa yang terjadi padaku sebelum ajal menjemputku. Benar begitu? Hannalie Jemma?" tiba-tiba terdengar suara khas Aditi Aishwarya yang terlihat berada tak jauh dari tempat para manusia berkumpul. Mata manekin cantik itu menatapnya menantang sambil berkecak pinggang.


"Kenapa kau diam? Semua orang butuh jawabanmu sekarang juga. Kenapa kau, hanya diam tak berkutik ketika melihat nyawaku sedang terancam? Kenapa kau tidak menolongku?!" teriak Aditi kini matanya berkilau kemerahan.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu mati kalaupun aku benar melihatmu dalam bahaya?! Asal kau tahu!! Jam tangan ini menyengatku!! Aku mendapatkan gambaran dimana salah satu dari kita semua pernah jatuh di atas karpet merah mencurigakan itu. Tapi aku tidak melihat wajahnya. Aku benar-benar tidak mengira orang itu kamu" sanggah Hannalie Jemma tidak terima.


Deg!!


Bianca Concetta terdiam mendengarkan pertengkaran tersebut. Seharusnya orang yang pantas untuk Aditi tuding adalah dirinya. Ya, ketika bayangan hitam...tengah menyamar menjadi seorang Daksa Mahesvara, ia tak berkutik sedikitpun. Padahal, bisa saja ia berteriak memperingatkan Aditi Aishwarya tapi yang dilakukannya apa?


Ya..., hanya diam...menutup mulutnya rapat-rapat, karena tahu nyawanya pun bisa sama terancamnya, jika ia memutuskan untuk menolong Aditi. Bianca Concetta dalam kekalutan memilih diam...ia belum tahu kebenaran yang mana Daksa asli? Bahkan ia sendiri pun berpikiran untuk meminta pertolongan Aditi.


Tapi...tubuhnya tidak mau bekerja sama bagaimana tidak? Berkata “a” saja, sulit bagi Bian tubuhnya benar-benar susah diajak bekerja sama. Menyaksikan keributan itu, Dimitri menurunkan Eve dan meminta Mamoru Nobuo menjaganya. Dimitri berjalan penuh percaya diri dihadapan sang Manekin cantik.


"Apa kau sengaja ingin memecah belah kami? Bukankah itu yang kalian semua inginkan?" tatapan mata Dimitri sangat tajam saat mengatakannya.


"Aku korbannya. Tidak ada yang berhak, menahan seorang korban untuk meminta pertanggung jawaban" gertak Manekin Aditi membalas sorotan mata tajam Dimitri dengan kilauan matanya yang semakin menyakitkan mata manusia mana pun.


"Dan tidak ada yang boleh menuduh seseorang tanpa bukti otentik. Kurasa kau seharusnya tahu betul soal ini" sanggah Daksa Mahesvara sambil menepuk bahu Bianca Concetta. Ia tahu betul perasaan Gadis itu saat ini. Sorot mata kemerahan manekin Aditi pada Dimitri kini memudar seiring dengan menolehnya sang Manekin ke arah Daksa Mahesvara.


"Kau membela orang yang dengan sengaja membiarkanku terbunuh?! Kau melepaskan Hannalie Jemma??" geram Manekin Aditi yang berjalan cepat ke arah Daksa.


"Karena aku sangat yakin Hannalie Jemma tidaklah bersalah"


"Dari mana kau yakin soal itu?"

__ADS_1


"Karena memang bukan dia"


"Jadi kau tahu siapa yang sengaja melakukannya bukan? Katakan padaku!!" sang Manekin tampak sangat murka.


__ADS_2