
Ferghus Cloy bagaikan terhipnotis melihat semua mumi itu bermunculan keluar dari dinding!!
Dum!!
Dum!!
Dum!!
Suara berat terdengar membentur tanah ketika para mumi meloncat keluar dari dinding!! Mata merah mereka menatap lapar pada Pria itu. Ferghus langsung berlari meskipun ada kabut yang menghalangi jarak mata memandang.
Bruk!!
Bruk!!
Bruk!!
Debuuuuum!!
Sial!! Atap lorong tak jelas itu sangat menyusahkan Ferghus sekarang!! Atap yang mulai retak jatuh berdebuman, hingga menghalangi Ferghus yang berusaha melarikan diri!! Sementara para mumi mengejarnya dengan sangat gesit!! Kaki para mumi itu, seakan berputar-putar layaknya angin ****** beliung mini!! Ferghus masih berusaha berlari ketika ia melihat para mumi semakin mendekatinya saja.
Tapi kaki Ferghus terhenti melangkah seketika, saat ia menyadari dihadapannya kini ada hamparan pohon kaktus mini mengepung!! Tamat riwayatnya!!
"Adel...maafkan aku...sepertinya aku akan mati duluan sebelum sempat menyelamatkanmu" gumam Ferghus mulai pasrah.
Ayolah...lebih menarik yang mana? Mati dibunuh oleh Mumi kemungkinan besar kau akan dimakan bulat-bulat, atau mati karena tertusuk ratusan bahkan ribuan pohon kaktus mini, saat melakukan aksi penyelamatan diri? Para mumi semakin mendekat!! Ia segera melompat ke arah hamparan pohon kaktus mini.
Tapi...sebelum ia sempat benar-benar mendarat ke hamparan kaktus, Ferghus merasakan suatu kekuatan dahsyat...menariknya sangat kuat hingga ia terlontar ke arah para mumi berada!!
Bruk!!
Kratak!!
Ugh!! Pasti itu sangat sakit sekali. Ferghus meringis merasakan tulang pinggulnya retak seketika.
Deg!!
Deg deg!!
Dredeg deg!!
Ferghus menahan nafas, ketika matanya menangkap puluhan lidah panjang berlendir kuning telur, berbau sangat busuk terjulur kearah tubuhnya.
Kratak!!
Kratak!!
Ferghus memasang telinga lebar-lebar ketika ia mendengar bunyi retakan kembali!! Mata Ferghus menatap keatas. Tidak...langit-langit lorong tersebut tidak terlihat retak sedikitpun.
Kratak!!
Euuuuh...ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh mata kakinya!! Hangat, penuh lendir. Tangannya!! Merasakan sesuatu di bawah tangannya mulai berongga. Ferghus melirik sekaligus meraba rongga tersebut. Retakan?! Apa yang...
Aaaaaaaaaa!!!!! Teriak Ferghus merasakan tubuhnya terperosok ke dalam lubang yang besar!! Karena kini retakan di atas tubuh Ferghus longsor seketika!!
Brugh!!
Ferghus merasakan guncangan maha dahsyat di atas sebuah kayu mengapung!! Apa barusan yang Ferghus pikirkan?! Kayu...mengapung?! Pria itu menatap lekat pada kayu mengapung yang berjalan kencang di atas air berwarna hijau!! Tidak...ini bukan hanya kayu. Ini perahu sampan? Dimana dia sebenarnya?
"Well, selamat datang di hutan broo..." kata seseorang yang sangat ia kenali suaranya. Ferghus menoleh ke arah Gadis yang berada tepat dibelakangnya.
"Adel?! Kau kah itu?!" pekik Ferghus sambil memicingkan kedua matanya. Kabut tebal sangat menghalangi pandangan mereka berdua.
"Ferghus?? Kenapa kau disini? Apa kau juga terperangkap dalam cermin sepertiku?"
"Hisashi menancapkan pisau lipatnya di atas pahaku. Jadilah aku disini terperangkap bersamamu"
"Apa kau lihat daratan di sekitar danau ini?" tanya Adel memicingkan mata.
"Kabut ini membuatku susah melihat apa pun" kata Ferghus yang langsung berusaha menggapai Adel di belakangnya.
"Hey!! Kau!! Jangan bergerak apa yang!!" pekikan protes Adel belum selesai tapi Ferghus sudah menciptakan masalah baru untuknya kali ini.
Byur!!
__ADS_1
Ya ya ya...Pria bodoh itu membuat perahu sampan oleng dan berakhir dengan posisi terbalik.
Blup
Blup
Blup
Adel dan Ferghus terjun bebas masuk kedalam danau yang super dingin bahkan suhunya sanggup membuat siapa pun yang lama berada di dalam sana membeku seketika. Ferghus segera berenang ke permukaan danau, berusaha membalikkan perahu sampan ke posisi semula. Saat usaha Ferghus membuahkan hasil, ia tersadar telah meninggalkan Adel di bawah sana!!
"Adel!!" pekik Ferghus kembali menyelam. Ia berenang, berusaha fokus pada obyek di dalam warna hijau pekat danau membuat mata Ferghus susah menemukan keberadaan Adel. Bayangan hitam menarik perhatian Pria tersebut. Ia segera berenang menuju bayangan tersebut. Tangannya perlahan ia julurkan, untuk menggapai bahu bayangan hitam di hadapannya.
Grep!!
Ferghus menegang seketika merasakan genggaman erat di pergelangan kakinya!!
Ferghus tercekat ia panik bukan kepalang!! Ia berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan sosok bayangan lain di bawah. Bayangan itu mendekat!! Wajah mereka saling terpaut satu sama lain. Rasa panik Ferghus kini mulai menghilang menyadari Adellah yang mencengkeram erat pergelangan kakinya. Ferghus menggapai tangan Adel menuntun Gadis itu keatas permukaan danau.
Deg!!
Pergerakan Adel dan Ferghus kini terhalang. Sosok seorang Wanita matanya terpejam, terapung tak wajar di hadapan mereka. Jika itu mayat, seharusnya tubuh Wanita itu mengapung dengan posisi telentang atau telungkup seluruhnya di permukaan air bukan? Tapi Wanita itu terapung tegak!! Kepala di atas, kaki di bawah air seolah dapat berjalan mengapung di atas air!! Kini Adel yang menggeret tangan Ferghus ke arah lain.
Hmph!!
Pekik Adel kaget, melihat...ada tiga sosok lain terapung dalam keadaan sama dengan Wanita yang baru saja mereka lihat. Mereka langsung menghambur ke atas permukaan danau, karena perasaan mereka mengatakan ada lebih banyak lagi mayat di danau ini. Ferghus meraih perahu sampan dan membantu Adel mendekati perahu itu.
"Ferghus!!" pekik Adel panik saat ia merasakan kakinya di tarik ke dalam danau kembali!! Pria itu berjuang menyelamatkan Adel dari cengkeraman para mayat yang tiba-tiba saja, membuka mata mereka, dan sangat bernafsu menyerang mereka berdua. Ferghus kembali menyelam berusaha meraih kembali Adel.
Ferghus menendang perut Wanita penyerang berbaju merah, berambut panjang tergerai. Namun Adel membelalakkan mata ketika ia melihat sosok mayat Pria berkaus hitam legam, mencekik leher Ferghus. Sebelum terlambat, Adel berusaha berenang secepat mungkin untuk menjambak rambut mayat Pria tersebut hingga cekikan di leher Ferghus mengendur.
Di waktu yang sama, tetapi di lain dimensi, Amarru menyalakan api di kedua telapak tangan lalu melangkah mendekati lemari pakaian milik Rulby. Amarru memegang kaca tersebut, lalu menekannya kedalam!! Tangan Amarru masuk ke dalam kaca. Hisashi membaca mantra untuk mempertahankan waktu yang terhenti sejenak. Terlihat Amarru berjuang menarik sesuatu dari dalam kaca!!
Priang!!
Begitu Amarru menarik tangan kanan dari dalam kaca, maka kaca tersebut pecah seketika. Amarru rupanya tidak hanya menarik tangan Ferghus sendiri, tapi juga menarik lengan Adel dengan tangannya yang lain. Gadis itu hanya diam mematung dalam posisi bertahan dari serangan entah dari apa pun itu.
"Gunakan kekuatanmu, hanya pada saat nyawa mereka dalam bahaya. Amarru!! Kau dengar peringatanku?!" kata Hisashi melirik kearah Amarru. Sang asisten mengangguk, perlahan. Guru Besar Hisashi kembali merapalkan mantra maka waktu yang sempat terhenti kembali berjalan. Suara Adel dan Ferghus tersengal-sengal meraup udara.
"Kau terluka, tugasmu masih banyak menunggumu di dalam sana" kata Hisashi mengangkat kedua alis lalu menatap lemari besar Rulby. Masih segar dalam ingatan kita semua bukan? Kaca lemari Rulby pecah sebelah tapi...ternyata, kedua kaca pada kedua pintu lemari Rulby masih utuh, tanpa cacat sedikitpun. Karena ketika Amarru selesai menyelamatkan kedua anak manusia itu, kacanya memulihkan diri.
"Kau tidak akan menyayat pahaku lagi, ataupun bagian tubuhku yang lainkan?" tanya Ferghus was-was.
"Well, sebenarnya..., aku akan mengobatimu. Tapi kau bisa memilih sendiri bagian tubuhmu yang mana lagi, yang bisa kusayat sekali lagi kali ini kalau kau mau? Aku yang pilih atau kau?" tawar Hisashi sambil meraba-raba jubah kuningnya seolah mencari-cari sesuatu. Spontan Ferghus berdiri dan menghindar karena panik. Perlahan Ferghus menggoyangkan kaki yang terluka, tapi ia tidak merasakan perih sedikitpun.
"Kau, melakukannya?" tanya Ferghus sambil menunjuk ke arah kakinya.
"Anggap saja itu permintaan maafku padamu" kata Hisashi tersenyum ramah.
"Kenapa kau tidak berbicara saja sejak awal dengan bahasa kami?" tanya Ferghus tak mengerti.
"Kau lah yang memahami bahasaku sekarang" kata Hisashi.
"Apa??" Ferghus mengernyitkan kening bingung. Menguasai bahasa asing harus melalui proses belajar bukan? Seumur hidup Ferghus, tak pernah sedikitpun mempelajari bahasa Jepang bahkan melirik pun, tidak.
"Kau tidak pernah memberi tahu aku, sebelumnya kalau kau menguasai bahasa lain" kata Adel penasaran.
"Kau dengar kata Adel? Kau yang memahami bahasaku" Hisashi santai menimpali.
"Bagaimana tiba-tiba saja bisa terjadi?” Ferghus semakin bingung saja menyadari keanehannya.
"Kau bisa menyelamatkan Adel, itu karena aku mengirimmu ke tempat Adel berada, dengan darahku. Kita bisa berkomunikasi, juga karena hal yang sama" Hisashi menjelaskan sesabar mungkin.
Grudug!
Grudug!!
Grudug!!!
Seisi kamar Rulby berguncang hebat seketika!!
Klap!!
Klap klap!!
__ADS_1
Lagi-lagi ada lampu blitz yang menyilaukan mata Adel. Hisashi memperhatikan reaksi Gadis itu, setelah gempa lokal berakhir.
"Kau lihat apa, Adel?" tanya Hisashi. Gadis itu hanya diam menatap wajah sang Guru Besar dengan tatapan apa maksudmu?
"Dia bertanya, kau melihat apa?" kata Riche menerjemahkan.
"Oh, sebenarnya sejak awal aku memasuki rumah ini, aku selalu melihat kerlipan blitz kamera yang terpantul di dalam cermin" jawab Adel merasa konyol. Riche membisikkan jawaban Adel ke telinga sang Guru Besar. Pria itu hanya mengangguk lalu menatap kearah Ferghus Cloy.
"Buka gerbangnya" kata Hisashi menatap tajam pada Ferghus. Pria yang di perintah hanya membalas dengan tatapan bingung.
"Gerbang?" ulang Ferghus mencoba mencerna.
"Maksud Guru, kau tahu cara membuka pintu rahasia dalam lemari itu kan?" Riche menengahi di sambut anggukan sang Guru Besar. Ferghus langsung memutar ke kiri kepala naga dan ada bunyi sebuah pintu telah bergeser.
"Maaf. Sebelum kita semua tahu tempat itu aman atau tidak, kita harus memastikannya terlebih dahulu dengan UAV" kata Kenatt mengingatkan pada rencana awal.
Semua orang mengangguk setuju. Armian segera mengeluarkan UAV dari dalam ransel dan mulai mengaktifkan benda itu. Saat UAV telah terbang, Ferghus segera membuka pintu lemari hingga pesawat mini tersebut masuk kedalam lemari. Armian menggunakan Glassmate dalam menjalankan UAV.
Pemandangan pertama disuguhkan pesawat kecil itu adalah, banyaknya anak tangga di berbagai sudut ruangan. Ruang rahasia itu...mirip seperti lorong yang dihubungkan oleh puluhan tangga disana. Sesuai dengan apa yang diceritakan Ferghus melalui penglihatannya.
"Ruang macam apa yang mereka bangun ini? Menakjubkan" kata Armian berdecak kagum.
"Apa yang kau lihat?" tanya Kenatt penasaran.
"Banyak anak tangga di dalam sana. Yang aneh adalah, tidak semua tangga terhubung. Hanya beberapa yang kulihat saling terhubung" kata Armian masih asyik mengendalikan UAV nya.
Sssssssh....
PpppppssSsst....
Bluph!!
Suara-suara aneh terdengar di telinga Armian bahkan, kamera yang ia pasang di dalam UAV tersebut tiba-tiba mati begitu saja!!
"Sial!!" umpat Armian kesal meninju udara.
"Ada masalah?" Kenatt mulai tak sabar.
"Tuan. UAV gagal menembus sampai keseluruh tempat itu. Dia hanya berhasil terbang di tengah-tengah ruangan lalu semuanya kacau, dan tak terkendali" kata Armian panjang lebar.
"Itu artinya UAV kita rusak?"
"Bisa di katakan demikian" jawab Armian tak terima hasil kerja kerasnya rusak begitu saja.
"Tunggu!! Bukankah itu suara UAV kalian?" tanya Adel menajamkan pendengarannya. Maka semua orang mendadak tanpa kata, mencari arah suara yang di dengar Adel baru saja.
Kenatt, dan Armian saling memandang satu sama lain. Jika pesawat mini itu kembali, pasti ada yang mengendalikannya bukan? Tapi Armian kehilangan kendali atas UAV!! Lalu apa yang terjadi? Mata semua orang tertuju pada UAV yang muncul dari balik pintu lemari, terbang melayang, mengitari semua orang di sana, tapi begitu Armian menggapai pesawat rakitannya itu, UAV malah membumbung lebih tinggi lagi.
BLAARRRRR!!
Suara ledakan UAV mengagetkan semua orang setelah berputar-putar di langit-langit kamar Rulby tanpa arah.
"Mereka sedang menggertak kita rupanya" gumam Kenatt berdecih kesal.
"Apa kau baik-baik saja? Kau bisa tetap disini jika tidak kuat berjalan" tanya Anastasya kepada Rulby. Gadis itu menggeleng baginya, ikut dan tidak, selama ia masih di dalam rumah ini, tetap saja nyawanya akan terancam!! Tidak, pokoknya, Rulby harus ikut lagi pula, luka di sekujur tubuhnya, telah di sembuhkan oleh Amarru jadi tidak ada lagi penghalang.
"Ayo. Kita selesaikan sekarang juga. Aku ingin merebut rumah ini kembali" kata Rulby mantap. Semua orang memasuki pintu rahasia tersebut tapi Ferghus memperingatkan untuk hanya sebagian yang menaiki tangga, dan bagian lainnya menyusul.
"Hey, bagaimana kau tahu ada tuas pengendali untuk tiap tangganya?" tanya Rulby keheranan.
"Dejavu..." kata Ferghus santai. Saat mereka melangkah ke tangga berikutnya, Ferghus memperingatkan tidak ada yang boleh bergerak tanpa pengawasannya. Mereka harus menunggu sampai yang lainnya pun tiba. Adel, Rulby, Anastasya, Kenatt dan Armian mematuhi peringatan itu untuk tetap menanti kehadiran Ferghus, Hisashi, Amarru dan Riche.
setelah semua anggota telah masuk ke dalam ruang rahasia sang Lee Than Ming, mereka terdiam sejenak mengawasi setiap jengkal ruang yang tertangkap oleh mata mereka semua.
"Mari kita bagi kelompok supaya waktu kita tak banyak terbuang" Kenatt masih menatap ke segala penjuru arah.
"Jangan. Tempat ini sangat berbahaya. Nyawa kita sewaktu-waktu dapat melayang sia-sia. Akan lebih aman bila kita tetap berkelompok begini" cegah Ferghus menolak keras.
"Kenapa? Kau pernah kemari sebelumnya?" tuntut Kenatt menatap tajam Ferghus. Pria itu butuh penjelasan pada setiap larangan yang Ferghus berlakukan untuk semua orang.
"Aku melihat kematian di dalam sini. Jangan pernah mencoba berdebat denganku Kenatt...kau tahu betul siapa aku" kata Ferghus menekankan kalimat terakhir.
"Dia benar. Ruangan ini sarang Iblis jangan sembarang memasuki tiap ruangannya" kata Hisashi menatap awas ke depan.
__ADS_1