
"Mom!!" teriak Eve dengan nafas terengah-engah membangunkan Dimitri dan Haruko.
"Kau mimpi buruk?" tanya Haruko sambil memijat pelipis lembut.
"Ini bukan mimpi. Ini sebuah petunjuk" jawab Eve mencoba mengingat mantra yang diajarkan oleh Mr. Brodie. Eve mulai melafalkan mantra selancar mungkin dan mengajarkan mantra itu pada Dimi dan Haruko.
"Tidak ada yang terjadi. Kenapa kau yakin jika mimpimu adalah petunjuk? Padahal kau masih menggunakan jam tangan sialan itu" protes Dimitri sambil mendengus kesal karena ia yakin sekali, Eve masih terpengaruh oleh efek dari jam tangan.
"Aku benar-benar melihat seseorang dan teman-temannya waktu itu. Tapi kau, membuatku percaya bahwa itu hanya efek dari jam tangan ini" keluh Eve sambil menyodorkan tangannya yang mengenakan jam tangan.
"Tapi aku tidak melihat siapa pun setelah insiden kita tertarik pusaran angin. Jika peristiwa itu yang kamu maksudkan"
"Ya, mereka menghilang karena para iblis yang melempar mereka keluar dari sini"
"Omong kosong apa lagi ini? Jangan mulai lagi" kekeh Dimitri menatap nanar Eve.
"Omong kosong? Kau juga melihat mereka didepan kita jatuh begitu saja dari langit-langit Teater ini!! Bahkan kita jelas-jelas, melihat salah satu dari mereka mencengkeram tanganku!!"
"Kalau orang-orang itu nyata, pasti mereka akan mencari cara untuk masuk lagi. Kenapa kalian meributkan hal itu? Eve..., jika kau yakin mereka semua nyata, kita harus mencari mereka" Haruko menengahi. Dimitri menatap tidak setuju pada usulan Haruko.
"Sekarang pasti akan lebih mudah bagi mereka untuk menemukan kita disini. Mantra sudah diucapkan" lirih Eve mengangguk.
TIDAK SEHARUSNYA PENYUSUP MASUK KEMARI
Eve menegang ketika mulai mendengar suara Pria hantu. Jantungnya berpacu cepat. Eve menoleh ke kanan dan ke kiri tapi ia tidak melihat apa pun.
"Kita...harus segera pergi dari sini" kata Eve menarik tangan Dimitri dan Haruko mencoba melarikan diri.
Blup!!
Blup!!
Tiba-tiba semua obor mati membuat langkah ketiganya tertahan.
"Kau mendengar sesuatu tadi kan?" tanya Dimitri menggenggam erat tangan Eve. Dalam benak Dimi, ia tidak ingin Eve menghilang lagi karena lepas dari pengawasannya.
"Ya. Dia marah mengetahui aku, telah membuka jalan untuk orang yang akan menyelamatkan kita" jawab Eve mulai gemetar.
"Aku mengingatmu. Kau membunuh Orang Tua angkatku Zilky!!" teriak Eve was-was.
APA KAU INGIN TERUS MELIHAT KORBAN JIWA LEBIH BANYAK LAGI?!
"Bukankah dari awal kau memang sudah mengatakan ingin menyapu bersih teman-temanku? Seperti kau, menyapu bersih seluruh keluargaku!! Tidak perlu berpura-pura berada dipihakku Zilky..." jawab Eve lantang.
LAGI?! KAU MEMUSUHIKU LAGI KARENA MANUSIA-MANUSIA LEMAH INI?!
Nafas tertahan jelas terdengar samar dari bibir Dimitri dan Haruko, ketika genggaman tangan Eve mulai terlepas dari tangan mereka sedikit demi sedikit. Eve membelalakkan mata ketika kedua rekannya terbang melayang tercekik diudara!!
"Zilky!! Lepaskan mereka!!"
APA UNTUNGNYA BAGIKU? MEREKA MENJAUHKANKU DARIMU. SUDAH SEHARUANYA MEREKA LENYAP.
"Kau tidak lagi menyenangkan untukku ajak bermain. Karena itu kau kubuang. Tapi orang-orang yang selama ini kau lenyapkan dari hidupku, mampu menciptakan permainan yang menyenangkan untukku. Seharusnya kau tahu itu dari awal" kata-kata Eve membuat Dimi dan Haruko justru terpental jauh darinya. Suara bergedebukan menunjukkan tubuh mereka menghantam lantai.
PERMAINAN?
"........." Eve terdiam sejenak mendengar suara Zilky sangat dekat dengan telinganya. Apa makhluk ini sungguh tertarik dengan ucapannya barusan?
"Kau terlalu mudah untuk kutebak. Apa yang menarik darimu? Lihat mereka baik-baik. Apa yang mereka pikirkan? Apa yang mereka akan lakukan? Kau...bisa menebak?"
"Manusia...tidak selalu melakukan banyak hal yang mereka pikirkan, karena situasi dan kondisi juga dapat mempengaruhi perilaku mereka. Ah, kurasa percuma aku menjelaskan ini padamu, karena tidak mungkin iblis mampu memahami hal sesederhana ini" tambah Eve berbalik melangkah mendekati Dimitri dan Haruko.
__ADS_1
SELANGKAH LAGI KAU MENDEKATI MEREKA, AKAN KUPASTIKAN MEREKA MATI DENGAN TULANG TENGKUK MEREKA YANG PATAH...
"Huh, sekali lagi kau membuat permainannya menjadi membosankan. Kau terlalu sering mengancamku!!" teriak Eve.
"Eve!!" pekik Dimi dan Haruko ketika tubuh Gadis itu terbanting ke dinding dalam keadaan tubuhnya terangkat keatas.
BAGAIMANA? JELAS KAU TIDAK AKAN MENDUGA AKU AKAN MELAKUKAN INI PADAMU...
Eve tersenyum meski lehernya tercekik. Mata Eve mencari keberadaan Dimitri dan Haruko. Gadis itu berpikir seharusnya Dimitri mengutamakan keselamatan Haruko ia berharap Dimi membawa pergi Haruko sekarang juga.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dimitri menahan Haruko ketika Gadis bernama Haruko berdiri.
"Jika dibiarkan Eve akan mati"
"Dia sedang berusaha mengulur waktu agar kita punya kesempatan untuk melarikan diri. Jangan, kacaukan, pengorbanan Eve" kali ini Dimitri mencengkeram kuat lengan Haruko.
Dimitri berdiri sambil berlari membawa Haruko bersamanya. Senyuman Eve semakin lebar karena Dimi benar-benar melakukan sesuai apa yang diinginkannya.
JANGAN SENTUH PUTRIKU!!
Bulu kuduk Eve berdiri begitu mendengar lengkingan dari bayangan hitam Istri. Eve dapat bernafas kembali ketika cekikan dilehernya sudah tak terasa lagi bahkan kini Eve mendarat kembali ke lantai.
BERHENTI BERUSAHA MEREBUT MILIKKU!!
Amuk Zilky kini Zilky memperlihatkan diri ke wujud manusia, sambil menghantam kuat sesuatu tak nampak.
Aaaargh!!
Erangan Zilky menjelaskan bayangan hitam Suami, mulai menunjukkan eksistensinya. Eve menatap horor pada arah suara-suara tak berwujud itu. Ia memilih kabur kearah Dimitri dan Haruko melarikan diri.
"Ketika kau bangun maka kau akan terhubung dengannya" berulang kali Eve mendengar suara Ayah angkatnya dalam usaha pelariannya.
"Namanya Hisashi" terdengar sekali lagi...kalimat sang Ayah angkat membuat Eve semakin mempercepat derap langkah kaki. Sesuatu tiba-tiba menahan Gadis itu!! ia tertarik berputar ke kiri dan melihat wajah Dimitri dihadapannya.
"Mereka bertarung lagi memperebutkanku. Dimi...apa yang mereka inginkan dariku?" kali ini Eve mulai tidak dapat menahan ketakutannya tubuh Gadis malang itu bergetar hebat. Dimi hanya menyunggingkan sebuah senyuman hangat lalu memeluk Eve.
"Tidak apa-apa...semua akan baik-baik saja. Kami bersamamu" lirih Dimi sambil menepuk-nepuk punggung Eve. Berangsur-angsur Eve mulai mampu menguasai diri. Sesuatu menarik Dimi dari pelukan Eve bahkan Pria itu terpental, jauh dari jangkauan Eve dan Haruko.
Keheningan sangat terasa ketika seluruh anggota tim Valdemar Conrad terlelap kecuali para manekin. Darius menatap kaku pada Harry Normand tanpa basa basi ia memberi isyarat pada Harry dan Aditi untuk mencari tempat agar mereka leluasa berbicara.
"Harry...sadarkah kamu akan adanya perubahan pada dirimu?" Darius takjub melihat hasil kerja keras Tuan yang menciptakan mereka mulai berbuah.
"Kau...bukan lagi salah satu dari kami. Harry...sekarang kau manusia seperti mereka" tambah Aditi tersenyum lebar.
"Bukan saatnya untuk bersenang-senang apa kalian sudah memikirkan jawaban apa yang akan kita sampaikan pada manusia-manusia disana?" jawab Harry bimbang. Berulang kali ia meletakkan jari telunjuk di bawah kedua lubang hidung. Sempurna...sekarang dia memang bernafas. Ia letakkan telapak tangan ke arah dada betapa menakjubkan, dia merasakan denyut jantungnya berdetak.
"Tuan kita pasti akan senang melihatmu menjadi manusia Harry...kita harus, memberi tahu mereka segera" Aditi akan beranjak dari tempatnya berpijak tapi manekin lain menghalangi. Harry menatap tak bersahabat pada dua manekin yang menghalangi jalan Aditi.
"Kalian pikir ini, akan membuat Tuan kita gembira? Sementara hanya ada satu manekin saja yang berhasil menjadi manusia? Apa kau akan meyakinkan mereka bahwa kita adalah ciptaan mereka yang gagal?! Berpikirkah kau apa akibatnya, bagi kami para manekin?" Phinnote menatap tegas pada Aditi.
"Tuan kita akan mempertahankan Harry tapi bagaimana dengan kita? Mereka ingin membangkitkan Marioneth!! Keberadaan kita tidak akan berguna lagi bagi mereka nantinya. Bahkan, kurasa Harry saja tidaklah cukup! Untuk dapat membangkitkan Putrinya" Charles manekin menekankan kalimat terakhir.
"Lalu apa yang kau inginkan?" Harry tidak ingin mendengar lagi pembicaraan bertele-tele. Tanpa basa basi lagi Phinnote mencengkeram kemeja Harry.
"Sudah seharusnya manekin yang telah berubah menjadi manusia kita lenyapkan" kata Phinnote sambil mencekik Harry. Aditi dan Darius melawan mereka menghalau Phinnote dan Charles menjauh dari Harry.
"Tuan akan mengetahui kebenaran tentang Harry menjadi manusia tak lama lagi jika keributan yang kalian ciptakan ini, masih berlanjut. Bukankah itu juga bisa membahayakan bagi manekin tak berguna seperti kita? Phinnote?" cegah Darius dengan mata merah menyala terang.
"Sedang apa kalian disini?! manusia sudah dapat menerobos kemari. Banyak manekin yang musnah karenanya!! Cepatlah cari bala bantuan lainnya!!" teriak manekin senior memberi perintah. Phinnote dan Charles segera bergabung dengan yang lainnya. Saat Darius akan bergerak untuk bergabung, Aditi langsung menggapai lengannya.
"Kita harus terus mengawasi tawanan kita. Lagi pula, kita juga harus menyembunyikan Harry dari Tuan kita. Aku tidak ingin apa yang kita takutkan terjadi" bisik Aditi. Darius melirik kearah Harry.
__ADS_1
"Kau yakin dia tidak akan berkhianat? Lihat wujudnya sekarang. Dengan wujudnya itu, bahkan ia tidak akan diterima oleh manekin maupun manusia. Jika Tuan tahu kita sengaja menyembunyikan Harry, suatu saat nanti kita akan dimusnahkan sebagai pengkhianat" Darius mengingatkan.
"Apa kalian lupa? Tuan kita tidak pernah menganggap kita bagian dari mereka. Jika kita bagian dari mereka, sanggupkah mereka membakar kita tanpa pikir panjang? Bahkan mereka sibuk menyiksa kita saat para manusia lolos dari cengkeraman kita" kata Harry membuat Darius dan Aditi menoleh kearahnya.
Kedua manekin itu saling menatap bagaimana Harry mampu mendengar pembicaraan mereka? Padahal jarak mereka terlalu jauh saat itu.
"Tidak ada waktu untuk berdebat kita harus mengawasi mereka” jawab Aditi segera berbalik lalu berlari kearah kelompok Valdemar Conrad berada. Setibanya disana, ternyata para manusia tersebut sudah terbangun sambil menatap ketiganya dengan waspada.
SriiiIIIIIing!!
Sebuah pedang menggores leher Aditi membuat Darius dan Harry mulai menegang.
"Apakah kamu juga manusia? Harry...?" seseorang yang menyandera Aditi bertanya.
Apa? Bagaimana manusia itu bisa mengetahui namanya? seluruh anggota tim Valdemar Conrad kebingungan melihat wujud Harry saat ini.
"Hisashi...berhati-hatilah. Kemarin Harry sebuah manekin lilin hidup. Tapi kami tidak mengerti kenapa...dia kembali menjadi manusia" kata Alberteen Bernia memperingatkan. Sesaat, Hisashi lengah hingga memudahkan Darius mengunci kedua lengannya. Pria itu menatap tajam ke mata Harry.
Aditi tidak tinggal diam ia akan meninju Hisashi tepat di bagian jantung Pria itu berada.
"Apa?! Bagaimana bisa ini terjadi?!" pekik Aditi yang terguncang ketika tiba-tiba sasaran tinjunya menghilang begitu saja hingga justru Dariuslah yang terpukul mundur.
Mata Eve terbelalak ketika serangan berikutnya ditujukan pada Haruko. Gadis itu tiba-tiba berguling dilantai meski Eve tak melihat wujud Iblis yang menyerang Haruko, tapi matanya mampu melihat jejak sepatu di bagian perut Haruko. Gadis malang tersebut, hanya mampu mengerang kesakitan bahkan darah segar menyelinap keluar dari kedua sudut bibir Haruko.
Pandangan Eve kini mengarah pada Dimitri yang kakinya mulai tergantung diudara. Eve mulai menangis ketika Pria ini, mulai diputar ke udara berulang kali. Eve mulai paham Iblis itu sengaja memutar Dimi sekencang mungkin agar Dimitri langsung mati ditempat jika kepalanya yang terbanting terlebih dahulu ke lantai.
"Hisashi!!" teriak Eve putus asa. Tiba-tiba tubuh Dimi tertahan bergelantungan diudara.
"Kenapa baru sekarang kau memanggilku?" tanya seseorang tepat di belakang Eve. Mantra dilafalkan teriakan kesakitan terus mengumandang memekakkan telinga siapa pun yang mendengar. Asap hitam mulai menjauhi baik tubuh Dimitri maupun Haruko. Hisashi mengentakkan kaki kirinya, membuat tubuh lemah Dimitri dan Haruko terseret kearahnya dan Eve.
"Bagaimana caranya kau datang secepat itu?"
"Kau memanggilku"
"Apa kau menemukan rekanku yang lainnya?" Eve mulai mencari informasi Hisashi hanya mengangguk. Sesuatu sedang mengusik pikiran Pria itu.
"Apa yang terjadi dengan orang bernama Harry Normand?" tiba-tiba Hisashi menyebutkan nama Harry spontan Eve pun menceritakan awal kematian Harry dan kemunculan manekin lilin bernama Herry.
"Kau membangkitkan makhluk yang tidak seharusnya ada didunia Eve..." decak Hisashi.
"Aku? Membangkitkan apa? Apa yang kulakukan?"
"Kau pernah mendengar dongeng tentang Pinokio dan Gepeto?"
"Apa? Kenapa dongeng itu harus kudengar disaat segenting ini?" protes Eve tak percaya.
"Karena kau yang membuat kisahnya menjadi nyata" tatapan mereka bertemu saling mengunci satu sama lain.
"Katakan dengan bahasa yang mudah kami mengerti" sambung Dimitri tenaganya berangsur-angsur telah pulih.
"Dua Iblis yang sedang mengejar dirimu, dahulu pernah hidup sebagai sepasang manusia. Mereka memiliki seorang Putri namanya Marioneth" wajah Eve mulai memucat mendengar kalimat ini meluncur dari bibir Hisashi.
"Marsha Staley dan Jacob Staley depresi dan berakhir gila karena kehilangan Putri tunggal mereka Marioneth. Banyak korban jiwa berjatuhan karena Jacob, berusaha menghidupkan kembali Marioneth dengan memahat sebuah boneka manekin" penjelasan Hisashi menimbulkan reaksi luar biasa kedalam diri Eve dan Dimi.
Keduanya sibuk memegang dada merasakan betapa gelisahnya jiwa mereka saat ini apa lagi jantung mereka berdetak sangat cepat. Nyeri...terasa begitu menyakitkan bagi keduanya. Haruko akan segera mengucapkan sesuatu tapi Hisashi menahannya, dengan mengangkat telapak tangan kanannya kearah Haruko.
"Jika Jacob adalah Gepeto, Harry sang Pinokio, kira-kira kau tahu siapa sang Peri?" tambah Hisashi dengan rahang mulai kaku.
Eve terdiam sejenak berpikir dan terus berpikir. Jauh di lubuk hati Eve tidak mungkin si Peri adalah dia. Tapi mata Hisashi mengatakan fakta, bahwa memang Dirinyalah sang Peri.
"Aku tidak berbuat apa pun jadi...aku tidak mengerti kenapa aku si Peri yang mewujudkan mimpi Gepeto untuk mengubah Pinokio menjadi manusia?" protes Eve menepuk pahanya keras-keras.
__ADS_1
"tunggu sebentar. Apakah kisah ini... tidak melenceng dari apa yang terjadi pada kami semua?" Haruko memotong.