
Angin berhembus kencang, mencegah mereka masuk ke zona malam...setiap Ferghus, Adel, Kenatt, Amarru dan Hisashi ingin menerobos, mereka akan terlontar seketika. Tak hanya angin yang menyelimuti raga mereka kali ini, ketika mereka telah tersungkur di atas pasir. Ada gelombang hitam berpijar kemerahan melingkupi langit tepat di atas kepala.
Drrrrt....
Drrrrt...
Kenatt merasakan getaran di saku celananya. Ia segera merogoh saku lalu melihat Vektor tak beraturan di layar ponselnya.
"Vektor ini terus bekerja tak beraturan. Tapi Armian belum mengatakan apa pun tentang ini" kata Kenatt menatap bingung pada ponsel. Percuma memiliki ponsel pintar, jika pemiliknya tak sepintar ponsel itu sendiri.
"Lupakan soal itu. Kau lihat ada bahaya mengintai kita bukan?! Pikirkan saja apa yang harus kita lakukan?!" teriak Ferghus mulai panik ketika pijar kemerahan mulai menyerang kakinya!! Tapi ia dapat berkelit dengan sangat lincah.
"Mundur!!" teriak Hisashi pada semua orang di sana. Ketika semua orang mulai mundur, Vektor itu tak seberisik tadi. Amarru mengucapkan mantra hingga ketika ia menyepakkan kaki ke pasir, sebuah sinar putih bersih berpendar melingkari Amarru dan kawan-kawan.
"Vektor ini berhenti berisik begitu saja. Apa ponsel ini mulai rusak? Tidak mungkin. Aku sedang membicarakan maha karya Armian..." keluh Kenatt sambil menggoyang-goyangkan ponselnya berharap ponsel itu tidak benar-benar rusak.
Hisashi menutup kedua matanya lalu membuat suhu di tempat mereka berdiri terasa berbeda...ia segera menuliskan sesuatu...di pasir dengan kedua tangannya, tanpa membuka kedua mata. Lalu ia bangkit dari berjongkok, lalu berdiri sambil membaca mantra...telapak tangan kiri dibuka selebar mungkin, hingga berada tepat di atas huruf kanji yang ia buat.
Drrrrt!!
Bip!!
Drrrrt!!
Bip Bip!!
"Bukankah Hisashi memerintahmu untuk mengatur ponselmu ke mode getar? Kau bisa mengganggu konsentrasinya" marah Adel kesal.
"Ponsel ini berbunyi dengan sendirinya. Kau lihat? Ini tanda mode getar bukan?" kata Kenatt menunjukkan layar ponsel ke hadapan Adel. Sesuatu yang kecil...berjumlah puluhan, bersayap...sedang merangkak keluar dari dalam huruf kanji yang dibuat Hisashi.
"Dia menciptakan apa? Dan...untuk apa?" bisik Ferghus menatap awas pada apa pun yang keluar dari dalam sana. Seluruh mata memandang sambil mengerutkan kening tidak yakin pada penglihatan mereka.
Puluhan kunang-kunang muncul beterbangan, bergerombol menuju pijaran kemerahan itu. Gelombang hitam mulai memudar seketika, hanya menyisakan pijaran merah yang siap menyambar apa pun di hadapannya.
Blaaaar!!
Kunang-kunang mulai kehilangan cahaya. Semua kunang-kunang berjatuhan, dan berubah kembali menjadi pasir. Semua mata tertuju kearah langit yang mulai terlihat kembali.
"Semoga masih ada yang bisa kita selamatkan. Amin" gumam Hisashi menatap ragu pada Amarru sambil meneruskan perjalanan menuju zona malam. Baru melangkah beberapa jengkal saja, ponsel Kenatt berbunyi kembali.
"Berikan ponsel itu padaku. Sekarang" kata Hisashi serius menatap tajam pada Kenatt.
"Mau kau apakan ponselku?"
"Aku hanya ingin mencari tahu sumber masalahnya" kata Hisashi sambil mengulurkan telapak tangan ke arah Kenatt. Pria itu melirik ke arah Ferghus sementara, setelah melihat satu kedipan mata dari Ferghus, Kenatt langsung memberikan ponselnya pada Hisashi. Pria bernama Hisashi membaca sebuah mantra lalu disapukan pada ponsel Kenatt.
Bib Bib...
Bib Bib...
Semua mata menatap ke arah Hisashi. Pria itu mengangkat kedua alisnya menyadari semua mata tertuju padanya. Ia berdehem kecil, mengabaikan tatapan itu, sambil mengibaskan tangannya ke udara dan kembali berkonsentrasi penuh. Ia kembali menyapukan tangan ke ponsel Kenatt, tapi kali ini,
NgiiiiIiiIIiiIIiIING....
Suara itu memekakkan telinga siapa pun yang mendengar. Begitu telapak tangan Hisashi dilepaskan, suara itu menghilang.
"Apa yang kau lakukan?! Memberi tahu musuh di mana keberadaan kita?!" bentak Kenatt menuding kearah Hisashi. Melihat Kenatt menuding Hisashi, Ferghus langsung menurunkan tangan Kenatt.
"Apa pun, yang dilakukannya, pasti ada alasannya. Tapi kau tidak pantas menuding orang tua seperti itu Kenatt" kata Ferghus mengingatkan. Hisashi kembali berkonsentrasi membuka selebar mungkin telapak tangannya, lalu mengarahkannya tepat di atas ponsel Kenatt. Kali ini hanya keheningan melingkupi mereka.
"Kupikir Pria modern sepertinya tidak akan mempercayai metode itu. Tapi ternyata, dia menggunakan metode yang sama sebagai pelengkap teknologinya" kekeh Hisashi.
"Chichi siapa maksudmu?" tanya Ferghus memicingkan matanya.
"Rekan kebanggaan Tuan Kenatt tentunya, siapa lagi kalau bukan Armian?"
"Tapi metode, teknologi, apa maksudnya?" tanya Adel mencari jawaban.
"Kenapa kau tidak mencoba terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk memakainya?" tanya Hisashi menyerahkan kembali ponsel Kenatt.
"Kau tahu Vektor itu sedang mendeteksi apa?" tanya Kenatt mulai mencoba menelisik. Hisashi mengangguk lalu menepuk bahu Kenatt.
" Itu adalah alat yang paling kita butuhkan saat ini. Kau sangat cerdas, memilih orang yang sangat tepat"
"Jadi, apa gunanya Vektor itu?" Kenatt mulai tak sabar.
"Sebagai alat pendeteksi Yin dan Yang. Dengan itu, kita dapat mendatangi tempat yang di penuhi aura Yin untuk menemukan para korban dengan cepat.”Semua orang mengangguk sambil berjalan mengikuti kemana Hisashi melangkah dipandu dengan ponsel milik Kenatt yang senantiasa berdenging ketika aura Yang lebih dominan. Dan bunyi Bib ketika terdeteksi aura Yin.
Bip Bip Bip
Bip Bip Bip
__ADS_1
Bip Bip Bip
"Arahnya menuju gedung Teater tua di sana" kata Hisashi menunjuk sebuah atap bangunan yang hanya terlihat bagai titik kecil dari tempat mereka berpijak.
"Kau yakin mereka di sana?" pertanyaan Kenatt hanya dijawab dengan anggukan kilat.
"Tapi bagaimana kau tahu, sebuah titik kecil itu merupakan atap sebuah gedung Teater kuno?" tanyanya lagi mulai meragu.
"Kau, meragukan kemampuanku Bung?" tanya Hisashi menatap tajam ke manik mata Kenatt.
"Kau bisa mengetahui apa aku hanya berimajinasi atau tidak setelah sampai di titik kecil itu bukan?" tantang Hisashi.
"Jangan berdebat lagi. Ada banyak nyawa yang harus kita selamatkan. Ayo segera bergerak" kata Amarru akhirnya berinisiatif untuk melerai.
Perselisihan juga terjadi di dalam gedung Teater. Tiga iblis terkuat sedang memperebutkan siapa yang berhak atas diri Eve.
"Apa mau kalian? Kenapa kalian saling memperebutkanku?!" teriak Eve tepat di belakang punggung pria hantu.
"Karena kau, darah daging kami!!" pekik sang bayangan hitam Suami dengan suara menggelegar kuat.
"Jangan bermimpi. Dia adalah milikku. Tidak ada yang boleh mengambilnya dariku!!" teriak Pria hantu menyalakan seluruh obor di tempat itu hingga kedua bayangan hitam memekik kesakitan lalu menghilang berubah menjadi gumpalan awan kelabu meninggalkan ruangan itu.
"Bukankah kau salah satu dari mereka? Lalu kenapa kau, tahan dengan cahaya?"
"Karena kita adalah satu. Selama aku dan kau bersama, tidak ada yang dapat melenyapkanku" katanya dengan ganjil. Tiba-tiba Pria hantu itu kembali ke dalam sosok bayangan hitam lalu menghilang melalui celah-celah lubang fentilasi udara.
"Eve!! Kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" teriak Haruko sambil menghambur berlari ke arahnya. Memeriksa setiap jengkal kulit Eve.
"Aku hanya...memar saja. Tidak ada luka. Percayalah" balas Eve mencoba menenangkan Haruko dan kawan-kawan.
"Itu jauh lebih berbahaya. Dimana memarnya?" kata Dimi maju mendekat kearah Eve.
"Hanya memar biasa. Fokus saja dengan bagaimana cara kita bisa menemukan Clamentine agar kita dapat segera keluar dari tempat ini" jawab Eve bersungguh-sungguh.
"Kurasa dia benar. Kita harus segera keluar dari tempat ini sebelum serangan berikutnya menyusul" kata Helga menepuk bahu Dimi. Mereka pun berlari keluar dari ruang ganti menuju ke tempat yang mereka rasa aman untuk saat ini.
"Hey!! Kalian!! Berhentilah!!" pekik seseorang membuat mereka menghentikan langkah lalu berbalik mencari asal suara.
"Oh, wow..., kurasa aku tak perlu merasakan mati untuk kedua kalinya bung," protes manekin Aditi mengangkat kedua tangannya ketika Angga mengacungkan pistol ke arah lehernya.
"Bisakah kau...masukkan itu kembali ke dalam saku celanamu? Aku kesini untuk membantu kalian. Kumohon...," kata Aditi memelas. Angga melirik ke arah Putri lalu kembali memasukkan ke dalam saku celananya ketika ia mendapatkan kode anggukan dari Putri.
"Ingat bahwa salah satu dari kalian ada yang sedang mengandung. Lihatlah Kim. Kakinya bengkak" protes Aditi prihatin.
"Tanpa memikirkan keselamatan janin yang kau kandung? Apa kau ingin anak kita segera menemuiku dan menjadi manekin sepertiku? Begitu?" protes Harry penuh rasa kecewa ketika menatap mata Kim.
"Maafkan aku" balas Kim sambil menghela nafas sejenak.
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada kau dan anak kita" kata Harry tegas.
"Kalian bisa mencari Clamentine tanpa Kim bukan? Biarkan dia dalam perlindunganku. Setelah kalian mendapatkan Clamentine, bawalah dia bersama kalian" kata Harry berusaha mendapatkan persetujuan dari yang lainnya.
Jangan percaya pada apa pun...Eve menegang seketika, ketika suara Pria hantu itu kembali berbisik di telinganya. Heran, memang sebegitu menariknyakah telinga Eve? Hingga si Pria hantu selalu ingin dekat-dekat bahkan terkesan menyukai telinganya? Lupakan. Fokus Eve... Fokus, pada peringatan sang Pria hantu!!
Eve tertegun sejenak mendengar peringatan tersebut. Ini hanya godaan, atau ia memang ingin membantu? Untuk apa dia membantu? Toh tujuannya hanyalah Eve...bahkan Pria hantu itu sendiri yang memerintahkan Eve mengorbankan seluruh rekannya bukan ?!
“Kau pikir aku akan mempercayai kamu?”
Sayang, Anda bosan ... hidup? Jawab sang hantu Pria itu penuh penekanan.
“Kamu mengerti apa yang aku katakan...?”
Iblis menguasai semua bahasa...Kamu terkesan? Kekeh sang Pria hantu.
"Apa yang kau katakan? Dengan siapa kau bicara?" tanya Aditi menatap curiga pada Eve.
"Ah, aku sedang mengasah kemampuanku berbahasa asing. Apa karena menjadi manekin kau lupa, Reporter membutuhkan itu agar terus eksis" kata Eve terkesan angkuh.
"Kau bisa menggunakannya nanti saat kau keluar dari sini hidup-hidup. Kemampuanmu itu hanya bisa berguna di dunia manusia" cibir Aditi.
"Berhenti berdebat tentang hal tidak penting. Bantu saja kami, untuk mempertahankan nyawa kalian" gertak Harry tak mau semua rencana yang telah ia rancang gagal karena, perdebatan tak ada artinya itu. Aditi hanya berdecak kesal begitu semua orang akhirnya mengikuti perintah Harry dan bersiap untuk mencari Clamentine tanpa Kimmy Pier. Langkah kaki Eve terasa sangat berat ia mengkahwatirkan kondisi Kim.
"Kim, kau yakin tidak ingin salah satu dari kami menemanimu?" tanya Val tiba-tiba membuat semua mata menyorot ke arahnya.
"Aku lebih khawatir jika kau, justru yang menemaninya di sini. Apa kau pikir Suaminya tidak bisa melindunginya? Hanya karena aku ini manekin? Valdemar...Conrad?" kata Harry menegaskan.
"Bukan itu maksudnya Harry. Ada apa denganmu? Mereka hanya mencemaskanku" kata Kim menggenggam kedua bahu Harry.
"Tidak masalah. Aku, sudah aman bersama Suamiku. Tolong temukan Clamentine secepatnya. Keadaanku, dapat menghambat kalian jika aku ikut bersama kalian semua" tambah Kim tersenyum riang. Maka semua orang pun bergegas mencari keberadaan Clamentine setelahnya.
Diruang bawah tanah, tepat di bawah Stasiun R-Nav TV...terlihat beberapa ahli tenaga medis dan para Profesor sedang menatap layar CCTV dengan raut wajah penuh ketegangan.
"Mr.Edghar!! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau melibatkan tim Wonders Of The World dalam misi kita ini? Mereka dapat menggagalkan semuanya?!" marah Profesor berplakat nama Sergio Welz.
__ADS_1
"Kenapa kau baru mengatakan keberatanmu setelah mereka kita berangkatkan ke Pulau tak bernama?" balas Mr.Edghar Galliel sangat santai.
"Karena ini adalah keputusan sepihak, yang terlalu cepat direalisasikan, tanpa sepengetahuan kami. Bagaimana jika mereka mampu membawa para Reporter pulang hidup-hidup?!" marah sang Profesor tak habis pikir.
"Jadi Anda meragukan kemampuan kami? Mr. Sergio? Jangan terlalu tegang...santai saja" jawab Dokter Allan terkekeh kecil.
"Bagaimana tugasmu? Allan?" tanya Mr.Edghar menatap kedua bola mata sang Dokter kepercayaannya.
"Tinggal 95% lagi.."
"Kau dengar itu Sergio? Tidak akan ada yang dapat menghalangi misi kita. Bersantailah sedikit...jangan terlalu kaku" kata Mr.Edghar sambil berdehem kecil.
"Ya, tidak akan ada keluarga mereka yang dapat menuntut Stasiun Televisi kebanggaan kita. Mereka semua akan bungkam, dalam ketidak tahuan mereka" kekeh Mr.Edghar disambut kekehan Dokter Allan.
Mereka tertawa, sambil saling menatap penuh makna... Semua tenaga ahli medis dan para Profesor menghentikan kegiatan mereka, lalu tertawa bersama, menertawakan diri mereka sendiri, yang pura-pura tidak tahu tentang suatu hal.
Sementara itu, di sebuah layar CCTV...terekam gambar beberapa tabung berisikan ke-10 Reporter dan 10-kameramen yang sedang diperjuangkan oleh Tim Adeline Minna dalam keadaan mata terpejam.
"Ini sangat menarik...kau sungguh luar biasa Mr.Edghar" puji Sergio memberi penghormatan.
"Aku harus mendapatkan kembali...Marthen...Mathias..." kata Mr.Edghar penuh dendam membara. Kekehan mereka kini terhenti, ketika sebuah alarm berbunyi dengan nyaring.
Para Reporter dan Kameramen yang masih bertahan hidup memutuskan untuk tidak memisahkan diri kembali. Karena berkelompok jauh lebih aman untuk sementara waktu ini. Mereka melangkah mencari keberadaan Clamentine di tempat yang berbeda. Ruangan ini, adalah ruang Teater yang terletak di bawah tanah.
Mereka baru menyadari ada ruangan itu, ketika Park Mayleen tersandung sesuatu yang keras, berada di balik karpet merah.
"Hey, kemana Berte? Kenapa dia tidak ada diantara kita?!" pekik Wang menyadari Alberteen Bernia menghilang begitu saja.
"Kurasa...dia tak ingin meninggalkan Darius lebih lama lagi. Biarkan mereka, dan fokus saja mencari Clamentine" jawab Aditi yang secara tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
"Kau melihat sendiri Berte bersama Darius? Atau kau, hanya sok tahu?" balas Wang mulai merasa ada keanehan dari cara Aditi mengucapkannya.
"Kurasa dia benar Wang, jangan membuat keributan. Ku mohon" kata Daksa sesabar mungkin. Suara siulan itu datang kembali anehnya, siulan tersebut mampu membuat Aditi sakit kepala. Ia mengerang kesakitan sambil memegang kepala dengan kedua telapak tangannya.
"Aditi!! Kau baik-baik saja?!" panik Daksa. Apa hantu itu ingin memisahkan Daksa dengan Aditi kembali ? Setelah ia mengembalikan Aditi dalam wujud manekin?! Tidak!! Daksa tidak akan membiarkan Wanita yang ia cintai, meninggalkan dirinya kembali.
"Ayo...pergi. Jangan biarkan dia menguasai kita semua" rintih Aditi. Semua orang berlari sesuai arah yang di tuju Aditi.
"Dimi!!" pekik Eve ketika ia merasa tubuhnya tak dapat bergerak sama sekali. Semua mata melihat bayangan hitam sedang mendekapnya dari belakang.
"Aku mendapatkanmu...." kata suara bayangan hitam Perempuan menguasai tubuh Eve sepenuhnya. Dimitri tanpa berpikir panjang berlari ke arah di mana Eve disekap, tapi muncul hembusan angin yang sangat kencang, membuat tubuh Dimitri terdorong ke belakang!!
Aaaargh!!
Pekik kesakitan muncul dari belakang Dimitri. Pria itu menoleh ke belakang, mendapati Putri terdorong ke belakang, membentur dinding, dan sesuatu tak nampak sedang menggores bagian perutnya, hingga darah merah kental merembes keluar dari dalamnya.
"Putri!!" teriak Riwangga Angger Pati panik. Ia berlari menuju Putri, tapi tiba-tiba ia diterbangkan ke udara, salto diudara, lalu jatuh terlentang di atas karpet merah.
Semua orang dapat melihat apa yang terjadi pada Angga!! Ketika ia mulai terkapar telentang di atas karpet merah, sesuatu yang tak nampak terasa berat, menimpa keras ke arah perut Angga. Pekikan tertahan Pria malang itu membuat siapa pun yang melihatnya menjadi sangat ngilu...terlebih lagi, apa pun yang menimpa Angga, sukses membuat Angga muntah darah.
"Hentikan!! Kumohon!! Jangan!!" teriak Eve antara takut, marah dan tak berdaya. Suara siulan kembali terdengar...
Apa kalian tak mendengar permohonannya? Suara Pria hantu kembali terdengar sangat lantang.
Jangan pernah, ikut campur urusan kami dengan Putri kami!! Bentak bayangan hitam Istri. Muncul bayangan hitam ketiga, yang datang secara tiba-tiba, berada di belakang bayangan hitam Suami. Bayangan hitam ketiga itu mengeluarkan bayangan hitam berbentuk pisau di kedua tangannya, menghujamkan tepat di leher bayangan hitam Suami di bagian kanan dan kirinya.
Sang bayangan hitam Suami memekik kesakitan, lalu menghilang menjadi asap abu-abu menyebar ke seluruh penjuru Teater. Merasa terselamatkan, Angga merangkak lalu berlari ke arah Putri yang saat itu tak kuat lagi berdiri. Ia jatuh terduduk sambil menahan rasa sakit lantaran perutnya yang disobek. Asap abu-abu itu kemudian menuju ke arah bayangan hitam Istri dan Eve.
Serahkan dia padaku. Sekarang!! Amuk bayangan hitam ketiga. Tapi, bayangan hitam Istri, merubah dirinya juga menjadi asap putih...kini mereka menciptakan kabut asap yang sangat luas!! Bagi Dimitri dan kawan-kawan, asap itu sangat mengganggu penglihatan mereka semua hingga mustahil untuk dapat menjangkau Eve.
Bayangan hitam ketiga menggeram penuh kemarahan melihat kekacauan yang diciptakan kedua musuh bebuyutannya. Rongga mata bayangan hitam ketiga tiba-tiba terlihat merah menyala...ia terbang melesat menghalau seluruh kabut pengganggu, dan berhasil menemukan keberadaan Eve.
Grep!!
Kau tahu sekarang? Apa akibatnya bagi seorang pembangkang? Hmm? Atau perlu sekali lagi temanmu dikorbankan? Kata bayangan itu mendesis ditelinga Eve.
"Aku mohon...selamatkan mereka" rengek Eve penuh harapan.
Keputusan sudah dibuat...ada harga yang harus kau bayar...jawab bayangan hitam, mengubah dirinya menjadi sosok Pria tampan di hadapan Eve.
"Ikutlah bersamaku" kata Pria itu tersenyum manis sambil memeluk Eve yang saat itu tak dapat berkutik sama sekali. Pria hantu tersebut, menghilang begitu saja, membawa Eve dalam pelukannya, entah ke mana.
Kini kabut mulai menipis sedikit demi sedikit hingga menghilang sepenuhnya. Semua mata menatap penuh ketegangan, ke arah dimana Eve disekap.
Tapi Eve sudah tidak terlihat lagi di tempat terakhir mereka semua melihatnya.
"Eve!!" teriak Dimi frustasi. Kenapa dia seceroboh ini? Dia tahu, Eve selalu menjadi sasaran empuk para iblis itu!! Tapi kenapa ia tak menggenggam erat tangan Eve tadi?! Kenapa ia tak berada di dekatnya tadi? Marah Dimitri pada diri sendiri.
"Putri!! Katakan sesuatu!! Tidak tidak...jangan tutup matamu" teriak Angga kalut saat berusaha menghentikan pendarahan di perut Putri.
"Buka matamu kubilang!! Putri!! Kalau kau mati sekarang, aku akan berkencan dengan Cintya, bahkan aku akan melamarnya saat itu juga!! Kau dengar itu bodoh!!" racau Angga berusaha membuat Putri tetap dalam kesadaran penuh.
"Akan kupastikan kau akan botak seumur hidupmu kalau berani menggodanya. Lihat saja nanti..." kekehan lemah Putri terdengar meski ia berusaha menahan sakit. Angga tersenyum lega mendapati dirinya berhasil membuat Putri tetap terjaga. Tapi sampai kapan Putri bisa bertahan tanpa pertolongan medis yang tepat?!
__ADS_1