
Airin tapak berjalan santai menuju kelasnya, gadis yang duduk di kelas XII itu dengan tingginya 160cm tampak cantik dengan rambut panjangnya yang di biarkan terurai. Gadis yang di juluki ratu es di sekolah itu mengatupkan rahangnya rapat-rapat, tidak ada senyuman di bibir tipisnya itu. Sikapnya yang dingin dan pendiam membuatnya di jauhi teman-temannya.
"Airin" panggil seseorang yang menepuk bahu nya.
"Apaan sih lo sis." airin tampak kesal.
"Habis nya lo kalau gak di pukul dulu gak kan nengok gue panggil." siska tampak santai dengan kekesalan sahabatnya. Ya siska adalah satu-satunya orang yang mau berteman dengannya, karna siska berasal dari SMP yang sama dengannya.
"Rin gue pinjem PR matematika lo ya banyak soalnya yang gue gak ngerti."
"Ah alasan aja lo, bilang aja lo malas belajar."
"Serius rin gue gak ngerti, itu terlalu rumit."
"Ya udah nih, tapi besok-besok lo harus belajar jangan nyontek mulu lo." airin mengeluarkan bukunya dari dalam tas.
"Thanks ya." siska berlari ke dalam kelas untuk menyalin PR airin. Meskipun dingin dan super cuek airin selalu unggul di setiap mata pelajarannya, dia adalah murid paling pintar si sekolahnya.
__ADS_1
***
Bel istirahat telah berbunyi, anak-anak telah berhamburan keluar kelas untuk pergi ke kantin. Tapi kecuali airin, dia lebih memilih berada dalam kelas dengan buku pelajarannya, karna setiap hari dia selalu membawa bekal ke sekolah.
"Rin kantin yuk." ajak siska
"Gue bawa bekal."
"Gue yang traktir deh.."
"Kalau gitu gue mau, tapi bukan gue yang minta ya, lo yang nawarin."
Sesampainya di kantin siska memesan bakso makanan kesukaan mereka, setelah pesanan datang siska tampak antusias melahap makanannya, lain halnya dengan airin yang hanya mengaduk-aduk makanannya. Dia sama sekali tampak tidak berselera, pandangannya kosong menatap semangkuk bakso yang ada di hadapannya.
"Rin lo kenapa?"
"...." airin hanya diam seperti tidak mendengar siska bicara.
__ADS_1
"Rin lo masih mikirin dia." siska tau betul apa yang sedang di pikirkan sahabatnya itu. Airin dulunya adalah anak yang periang tapi semenjak di tinggal kekasih yang sangat ia cintai, sikapnya berubah menjadi dingin, sama sekali tidak ada senyuman di wajah cantiknya itu.
"Rin lo harus move on, udah hampir 2 tahun dia ninggalin lo tampa alasan, kalau dia masih mencintai lo dia pasti datang nemuin lo." siska melanjutkan kata-katanya saat melihat airin masih menundukkan kepalanya.
"Dia gak pantas buat lo pikirin rin, gue gk mau ...."
"Udah sis stop, gue gk mau dengar lagi." airin memotong perkataan siska, dia sudah menahan keras agar air matanya agar tidak jatuh, dia tidak mau semua murid di sekolah melihat kelemahannya. Airin berdiri berlari menuju toilet. siska membiarkan sahabatnya itu pergi.
"Mungkin dia butuh waktu." gumam siska.
Setelah sampai di toilet airin menangis sejadi-jadinya, air mata yang dari tadi di tahannya keluar begitu deras. Rasa sakit di hatinya benar-benar membuatnya sesak. Bayangan laki-laki yang sangat di cintainya selalu setia menemani di pelupuk matanya. Rasa rindu yang amat dalam begitu menyakitkan baginya.
"Aku merindukan mu." gumam airin di sela-sela tangisnya. Hanya menangis yang dapat dia lakukan saat ini. Apakah cinta memang sesakit ini?.
Hai , , ,.
Salam kenal Semua. Ini cerita pertama saya. Maaf kalau tulisannya agak berantakan.
__ADS_1
Terima kasih telah membaca.
Jangan lupa like and coment ya!.