
Malam itu airin duduk di sofa dengan ibunya sambil menonton tv. Jam menunjuk kan pukul 20.05. Bu sarah cepat pulang karna rumah makan tadi ramai pengunjung. Bu sarah memperhatikan anaknya yang serius menatap layar tv.
"Ada yang mau ibu bicara kan." airin yang sadar di perhatikan ibu nya mencoba untuk bertanya.
"Ibu bingung bagaimana cara mengatakannya."
"Ada apa bu." airin menggenggam tangan ibunya dengan lembut.
"Ibu mau menjodohkan mu." airin melepaskan tangan ibunya. Dia terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Ibu bicara apa." tanya airin berharap tadi dia hanya salah dengar.
"Ibu mau menjodoh kan kamu dengan anak teman ibu."
"Ibu jangan bercanda bu ini tidak lucu."
"Ibu tidak becanda nak."
"Tapi aku masih sekolah ibu."
"Ibu tau nak, tidak ada yang berubah kamu masih bisa sekolah. Lagian sebentar lagi kamu akan ujian UN. Kamu juga bisa melanjutkan kuliah mu dimanapun kamu mau. Mereka yang akan membiayai kuliah kamu nak, hidup kamu akan bahagia."
"Apakah aku segitu membebani ibu. Aku tidak akan kuliah kalau hanya akan menyusahkan ibu. Aku akan membantu ibu saja di rumah makan. Kita tidak perlu karyawan lagi kalau aku sudah lulus sekolah bu." airin menangis terisak.
"Bukan itu maksud ibu nak. Kamu sama sekali tidak membebani ibu. Ibu sangat menyayangi mu. Ibu melakukan ini karna ingin melihat kamu bahagia. Mereka orang baik nak, mereka akan menyayangimu." bu sarah mencoba meyakinkan putrinya.
"Tapi bu aku gak mau menikah di usia yang masih muda ini."
"Ibu ngerti nak. Tapi ibu gak enak menolak perjodohan ini. Bu diana sudah banyak membantu kita. Percaya sama ibu, anaknya bu diana sangat menyukai kamu. Dia sudah lama memperhatikan kamu."
"Ibu aku gak mau menikah dengan orang yang tidak aku cinta." airin meninggikan nadanya bicaranya.
"Apa kamu masih mengharapkan laki-laki itu hah. Apa kamu pikir dia akan datang menemuimu. Ingat airin dia sudah mencampakkan kamu karna keluarga mereka tidak selevel dengan keluarga kita. Kita cuma orang miskin kamu harus sadar itu."
__ADS_1
"Gak bu. Dika bukan laki-laki seperti itu. Pasti dia punya alasan bu, bukan karna aku miskin."
"Tapi apa buktinya, apa dia datang menemuimu? Ibu kecewa sama kamu airin." bu sarah pergi meninggalkan airin yang masih menangis. Bu sarah bukan kecewa karna airin tidak mau di jodohkan, tapi dia kecewa karna sampai saat ini airin masih saja mencintai dika. Laki-laki yang sudah menghilang hampir 2 tahun lamanya. Hilang bagai di telan bumi.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Tapi airin masih belum saja memejamkan matanya. Beban berat yang menimpanya seolah membuatnya tidak sanggup bergerak.
"Mengapa kamu tinggalin aku. Apa karna aku hanya orang miskin dan tidak pantas untukmu." airin masih menangis. Air matanya seolah tidak ada habisnya. Hampir setiap malam dia menangis. Airin kembali mengingat perjodohan yang di bicarakan oleh ibunya.
"Ibu pasti malu sekali kalau sampai menolak perjodohan ini. Bu diana sudah banyak membantu ku dan ibu. Apakah ini jalan yang harus aku tempuh ya allah." airin berpikir keras untuk menerima semua ini. Dia tidak mau mengecewakan ibunya.
Tidak terasa sudah azan subuh. Airin bangun dari tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwuduk.
Setelah solat subuh airin menuju meja belajarnya. mengerjakan tugas yang belum di kerjakannya semalam. Kepalanya tiba-tiba pusing, mungkin karna belum tidur dari semalam. Airin pergi ke dapur mengambil air putih. Ternyata sudah ada bu sarah di sana.
"Ibu sedang apa." tanya airin
"...." bu sarah tidak menjawab pertanyaan airin, seolah-olah dia tidak melihat keberadaan airin disana.
"Bu aku mau di jodohkan dengan anak bu diana." airin berjalan menuju meja makan.
"Iya bu, kalau itu bisa membuat ibu bahagia akan aku lakukan."
"Ibu melakukan semua ini untuk kebahagiaanmu sayang. Tidak ada yang berubah hanya statusmu yang akan menjadi istri orang." bu sarah memeluk putrinya.
"Iya bu aku sangat menyayangi ibu." airin yang sudah merasakan kepalanya pusing, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap.
Airin membuka matanya perlahan. Dia melihat ibunya duduk di tepi ranjang kamarnya.
"Bu" airin memanggil ibunya
"Kamu udah bangun nak. Tadi kamu pinsan, kata dokter kamu kecapeaan dan butuh istirahat. Apa kepala kamu masih pusing?" bu sarah mengusap rambut airin dengan lembut.
"Aku udah baikan bu. Jam berapa ini bu, aku harus ke sekolah." mencoba bangun dari tempat tudurnya. Tapi dengan cepat bu sarah menahannya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan.Ibu sudah menghubungi wali kelas kamu dan sudah minta izin. Kamu harus istirahat."
"Iya bu. Apa ibu tidak ke rumah makan?"
"Ada ana dan dira disana. Sebentar lagi ibu akan kesana. Tapi kamu harus makan dan minum obat dulu." bu sarah mengambil nasi di dapur. Tidak lama bu sarah sudah kembali dengan 1 piring nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya dan 1 gelas air putih.
"Ayo bangun nak, ibu suapin." bu sarah membantu airin bangun.
"Aku bisa sendiri bu." airin mengambil nasi dari tangan ibunya dan mulai memakannya.
Tok , , , tok , ,, ,
"Ada tamu ibu bukakan pintu dulu ya." bu sarah berjalan keluar kamar. Tidak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka.
"Coba lihat sayang, siapa yang datang." bu sarah masuk bersama wanita baruh baya yang masih tampak cantik dengan gaya modisnya. Ada keranjang buah di tangannya.
"Bu diana."
"Panggil bunda sayang, sebentar lagi kamu akan jadi menantu bunda." bu diana mendekat dan duduk di tepi ranjang airin. Airin menatap tajam ke arah ibunya.
"Iya sayang, ibu sudah menceritakan pada bu diana." bu sarah mencoba untuk menjelaskan.
"Apa masih pusing sayang.. ?" tanya bu diana dengan lembut.
"Sedikit bunda."
"Ma'af ya sayang, ilham tidak bisa menjenguk kamu, karna ada pekerjaan yang harus di selesai kan di singapura. Tapi lusa dia udah balik kok." ucap bu diana
"Gak apa kok bunda."
"Ya udah cepat habisin makanan kamu. Setelah itu minum obat dan istirahat ya. Bunda mau bicara dengan ibu."
"Iya bunda. Makasih udah jenguk airin."
__ADS_1
"Iya sayang." Bu diana pergi meninggalkan kamar airin. Entah apa yang mau di bicarakan mereka. paling masalah perjodohan. Bu diana memang baik. Dia sering mampir ke rumah makan bu sarah dan sering membelikan airin baju kalau dia habis belanja. Tapi gak tau gimana anak nya, entah sebaik bu diana atau malah sebaliknya.