Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
Episode 8


__ADS_3

Suara adzan membuat airin membuka matanya. Karna sudah terbiasa bangun saat adzan subuh. Airin kaget melihat wajah ilham sangat dekat dengan nya. Bahkan saking dekatnya airin dapat merasakan nafas ilham mengenai wajahnya. Tangan kokoh milik ilham memeluk erat pinggang airin. Di perhatikannya wajah ilham dengan seksama.


"Lumayan." gumam airin pelan


"Lumayan apa?" tanya ilham tampa membuka matanya.


"Lumayan ganteng" jawab airin santai. Ilham membuka matanya membuat airin terperanjat karna terkejut." Dia udah bangun, berarti dia dengar donk.!" Gumam airin dalam hati.


"Kenapa?" tanya ilham.


"Gak ada apa apa. Aku mau mandi dulu"ucap airin berlari menuju kamar mandi. Cuma hitungan detik pintu kamar mandi terbuka lagi dan airin berlari mengambil handuk dan baju ganti. Kemudian masuk lagi ke dalam kamar mandi. Ilham sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.


Saat keluar kamar mandi, airin kaget melihat ilham sudah duduk di atas sajadah. Lengkap dengan peci dan sarung yang di lilitkan di pinggangnya. Juga ada sajadah di belakangnya.


"Ayo kita solat, nanti ke buru habis waktu subuhnya." ajak ilham melihat airin yang hanya berdiri menatapnya. Airin mengiyakan dan mengambil bungkenanya.


"Kamu mandi dimana mas.?"


"Aku mandi di kamar mandi dekat dapur."


"Oh."


"Ayo kita solat!" ajak ilham dan airin menganggukkan kepalanya.


setelah solat mereka berdo'a sesuai dengan permintaan masing-masing. setelah selesai berdo'a airin melihat ilham yang masih khusuk dengan do'anya. cukup lama akhirnya dia membalikan badannya. Airin mencium tangan suaminya dan ilham mencium kening istrinya.


"Kamu minta apa?" tanya airin.


"Aku minta kamu."


"Aku" jawab airin heran.


"Iya aku minta supaya kamu gak pernah ninggalin aku dalam keadaan apapun. Aku berharap kita bisa solat berjama'ah sampai rambut kita memutih dan keluarga kita menjadi keluarga yang SAMAWA". Airin hanya diam saja mendengarnya tampa respon sedikitpun.


"Aku bikin sarapan dulu ya." ucap airin tampa menunggu ilham menjawabnya dia lansung berdiri dan melipat bungkenanya kemudian pergi meninggalkan ilham.


***


Di dapur sudah ada bu sarah yang sudah sibuk dengan alat dapurnya.


"Kamu udah bangun nak?."


"Udah bu."


"Suami mu mana?."


"Mungkin tidur lagi bu , habis sholat tadi.! Aku bantu ya bu?" ucap airin mengambil bawang dan mengirisnya.


Satu jam kemudian...


"Nak cepat bangun kan suami mu untuk sarapan, ini sudah siap."

__ADS_1


"Iya bu." airin berjalan menuju kamarnya. Benar saja suaminya tidur lagi.


"Mas bangun mas." ucap airin masih berdiri. Tapi tidak ada jawaban. Dia mencoba menyentuh bahu ilham.


"Mas bangun mas. ayo kita sarapan." ucapnya lagi sambil menggoyang bahu suami nya. Ilham yang memang tidak tidur menarik tangan airin hingga terjatuh ke pangkuan ilham, dengan cepat ilham membalikkan tubuhnya dan minindih airin.


"Mas apa apaan sih! Ayo bangun ibu udah nunggu kita." ucap airin, tapi ilham hanya diam saja membenamkan wajahnya di leher airin seperti orang tidur. Airin merasa geli saat nafas ilham menyapu bagian kulitnya. Airin membesarkan matanya saat merasakan ada yang keras mengenai pahanya. Lansung dia mendorong ilham hingga terjatuh ke lantai karna tempat tidurnya yang sempit.


"Awww." ilham meringis kesakitan. Airin mendekatinya dan membantunya untuk bangun.


"maaf mas aku gak sengaja." airin membantu ilham untuk bangun. "Apa yang sakit mas?" setelah duduk kembali di tepi ranjang.


"Badan ku sakit semua rin." bohong ilham.


" Kamu baring dulu biar aku pijitin." ilham menurut, di dalam hati dia tersenyum. Airin memijit tubuh suaminya mulai dari tangan, bahu.


"Paha aku sakit banget rin.." ucap ilham sambil mengusap pahanya. airin beralih memijit pahanya dengan pelan.


"Enak sekali pijitannya." ucap ilham dalam hati." Kamu turunin aja celana ku rin biar lebih mudah mijitnya."


"Ahk , i iya mas." airin gugup. Tapi dengan polosnya dia menuruti perintah ilham. Saat berhasil menurun kan celananya, airin melotot melihat sesuatu di balik celana dalam ilham, seperti mau meledak. "Besar sekali." gumamnya ngeri dan di dengar oleh ilham.


"Kamu bilang apa?" ucap ilham pura-pura kaget. Airin terkejut saat ilham bertanya. wajahnya merah karna malu.


Tok,,, tok ,,,,


"Airin ayo cepat kita sarapan, keburu dingin nanti makanannya." ucap bu sarah di depan pintu.


"Suami mu mana nak?" tanya bu sarah saat melihat hanya airin yang duduk di meja makan.


"Aduh." ucap airin memukul kepalanya. Dia lupa menyuruh suaminya sarapan. Tapi dia tidak mau kembali lagi ke kamarnya.


"Aku di disini bu." ucap ilham berjalan dan duduk di samping airin. Ilham tersenyum kepada airin tapi airin malah memalingkan wajahnya agar tak melihat wajah ilham.


"Ambilin makan untuk suamimu nak" ucap bu sarah yang melihat airin setengah membelakangi suaminya.


"Hah i iya bu." airin berdiri dan mengambil makanan untuk suaminya. "Ini mas."


"makasih airin." ucap ilham sambil menyentuh tangan airin. Airin kaget dan bergegas menarik tangannya.


Tidak ada yang bersuara selama sarapan. Tiba-tiba suara ponsel ilham berdering di dalam kamar. Ilham berlari mengambil ponselnya, takutnya penting.


"Siapa nak?" tanya bu sarah setelah ilham kembali duduk di meja makan.


"Bunda bu."


"Apa katanya?"


"Katanya mau jemput aku sama airin, aku bilang gak usah biar kami aja berangkat sendiri." jawab ilham. Bu sarah terdiam menatap airin.


"Kenapa bu. Kalau ibu belum siap aku pergi aku bisa tetap tinggal disini bu. Biar aja mas ilham yang pulang ke rumah bunda." ucap airin dengan semangat. "Iya kan mas?" airin bertanya penuh penekanan kepada suaminya.

__ADS_1


" Hah, i iya." jawab ilham gagap karna airin terus melototinya.


"Eh kamu ngomong apa sih nak!. Kamu udah punya suami, kamu harus tinggal di rumah suami mu. Ibu tidak menyangka aja anak ibu sekarang udah besar, sudah menikah. Kamu harus bisa menjalankan kewajiban mu sebagai seorang istri nak."


"Ya ini kan karna aku di jodohin bu. Kalau gak aku belum mau menikah di usia semuda ini." jawab airin ketus.


"Hus kamu gak boleh ngomong seperti itu. Ingat kamu bukan anak kecil lagi. Kamu sudah menjadi seorang istri. Kamu harus bisa menjaga sikap mu." ucap bu sarah karna tidak enak dengan ilham.


"Gak apa apa bu. Mungkin ini masih terlalu cepat bagi airin. Dia butuh penyesuaian bu. Lama-lama nanti juga pasti terbiasa." ilham mencoba membela airin. Airin hanya diam tidak mau bicara lagi takut ibunya marah.


"Oh ya mas. Bukannya kaki kamu sakit ya. Kok bisa lari secepat itu ke dalam kamar." tanya airin heran.


"Hah itu, udah mendingan kok."


"Kamu ngerjain aku ya tadi." tanya airin kesal. Ilham hanya senyum-senyum melihat airin yang melotot ke arahnya.


"Ya udah cepat habiskan makan kalian. Airin kamu harus siap-siap pergi ke rumah suami mu." Airin hanya mengangguk kan kepalanya.


***


Mobil ilham memasuki gerbang rumah mewahnya. Airin benar-benar takjub melihat rumah yang ada di hadapannya.


"Ini 3 kali lebih besar dari rumah ku waktu ayah masih hidup dulu." gumamnya dalam hati."


"Ayo airin turun." ucap ilham membukakan pintu untuk airin. Entah kapan ilham turun dari mobil dan membukakan pintu untuk airin.


"Iya mas." Airin keluar dari mobil dan memasuki rumah mewah itu.


"Eh anak bunda sudah datang." ucap bu diana memeluk airin. "Ayah , , ayah anak kita sudah sampai." bu diana berteriak memanggil suaminya.


"Oh anak ayah, sudah sampai ayo masuk." ucap ayahnya menarik tangan kiri airin dengan lembut dan bu diana di tangan kanan airin.


"Ayah , bunda aku juga anaknya kali. Kok aku di kacangin." ucap ilham kesal.


"Oh iya bunda kita lupa kalau kita punya anak satu lagi ha ha." ucap ayahnya menarik tangan ilham berjalan di samping airin. Mau tidak mau mau ilham terpaksa melingkarkan tangannya di pinggang airin karna posisinya sangat berdempetan. Entah itu di sengaja oleh orang tua yang jail itu, padahal rumah nya begitu luas tapi di buat seolah berjalan di jalan setapak.


Kalian pasti capek. Kalian istirahat aja dulu nanti bunda bangunkan pas makan malam."


"Iya bunda. Oh ya bunda suruh pak dadang bawa barang-barang airin ke kamar ya bunda, ini kunci mobilnya." ucap ilham


"Iya nanti bunda suruh pak dadang. Cepat istiraharat sana.!" ucap bunda sambil mendorong punggung pengantin baru itu.


Sampai di kamar airin terpesona melihat isi kamarnya. Ala-ala pengantin baru. Serba putih dan di atas ranjang yang besar itu sudah di taburi bunga mawar merah. " romantis sekali andai saja aku melakukannya dengan pria yang aku cinta." gumam airin dalam hati.


"Ayo kita istirahat." ajak ilham.


"Kamar mu besar sekali mas!." ucap airin menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya disana. Ilham sebenarnya tidak tahan melihatnya, ingin segera dia melahap gadis cantik yang ada di ranjangnya itu, tapi dia mencoba untuk menahan hasratnya. Dia akan tunggu sampai airin siap.


"Kamu tidur aja dulu. Aku mau mandi dulu." ucap ilham masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin setelah mandi dengan air dingin mr.P nya akan bisa di jinakkan.


Sekitar 20 menit ilham mandi, dia melihat airin sudah menikmati dunia mimpi. Setelah mengenakan pakaiannya ilham membaringkan tubuhnya di atas ranjang menghadap airin. Di pandangnya wajah cantik airin dan menempelkan bibirnya di bibir tipis airin. Dia mengulang lagi untuk kedua kalinya mencium bibir airin. Kali ini agak lama sampai dia tidak tahan untuk tidak melumat bibir tipis itu, seperti memberi lampu ijo airin membuka mulutnya dan membalas lumatan ilham. Ilham memperdalam ciuman, mengisi setiap rongga mulut airin, menghisap lidah airin sampai dia hampir kehabisan napas. Di lepaskannya ciuman panas itu, dilihatnya nafas airin memburu dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


"Apa dia sedang bermimpi." gumam ilham dalam hati. Dia membalikan tubuhnya membelakangi airin dan mulai memejamkan matanya.


__ADS_2