
Part 43:
Saat di dalam kamar, Nadia mencoba memejamkan mata untuk masuk ke alam mimpi, namun sia sia saja. Duka yang baru saja ia rasakan, di tambah kecemburuan yang tak pasti itu, membuat nya gelisah.
Ia melirik ke samping, dan ternyata di sana Avi sudah berlabuh ke pulau mimpi, terdengar jelas dengkuran dengkuran halus yang berasal dari Avi.
Ya, malam ini Avi di perintahkan oleh Diendra menginap di rumah nya untuk menemani Nadia, sedangkan Ronal dan sang ibu memilih untuk pulang saja dengan alasan pak Tejo ayah nya Ronal itu, sedang sendirian di rumah.
Padahal Diendra dan Cetrin sangat berharap mereka menginap dan berkumpul bersama di rumah nya.
Yah, semenjak kepergian Daniel dan Andre berapa bulan yang lalu, membuat suasana rumah nya yang besar itu menjadi agak sepi, untungnya mereka masih memiliki Nadia yang mengingatkan mereka pada sang putra.
Terkadang mereka lebih sering di luar untuk menghilangkan kejenuhan masing-masing.
Hingga pukul tiga subuh, Nadia baru bisa tertidur karena rasa ngantuk yang teramat.
Hingga jam lima subuh, mereka harus bangun untuk menunaikan ibadah shalat.
Avi yang terlebih dahulu bangun pun mencoba membangun Nadia yang nampak masih setia dengan mimpinya. Mungkin juga karena efek terlambat tidur, hingga membuat nya sulit untuk di bangun kan.
" Nad, bangun. Kita sholat dulu yuk." Ajak Avi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nadia.
" Enghhh....." Nadia pun melenguh.
" Apa sih Vi?, Gue masih ngantuk." Jawab nya tanpa rasa bersalah.
" Lo gak sholat apa gimana?. Di bangunin kok susah amat." Kesal Avi.
" Emang ini jam berapa?." Tanya nya masih dengan mata terpejam.
" Udah jam lima subuh."
" Astaghfirullah." Sontak Nadia terkejut dan langsung beranjak dari tempat tidur nya.
__ADS_1
" Kenapa Lo gak bangunin gue dari awal?." Protes Nadia.
" Eh pe'a. Yang tidur nya kaya kebo siapa?. Udah di bangunin dari tadi tapi tetep aja molor." Ucap Avi yang malah kesal pada Nadia.
" Ya ampun, gue harus cepat cepat mandi nih." Nadia pun bergegas ke kamar mandi tanpa menghiraukan Omelan Avi.
Setelah selesai mandi , mereka pun sholat lalu setelah itu mereka turun untuk sarapan.
Karena hari ini Nadia ada jam pagi, dan begitu pun dengan Avi.
" Bi, papa sama Mama mana? Kok belum kelihatan?." Tanya Nadia pada ni Lila karena tumben sekali ia tidak melihat kedua mertua nya itu di meja makan. Biasanya mereka lah yang lebih dulu bangun dari Nadia.
" Oh nyonya sama tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada kerjaan ke luar kota, mangkanya mereka pergi pagi-pagi sekali, karena pesawat nya berangkat pagi." Jelas bi Lila. Nadia dan Avi hanya ber oh ria, namun sejurus kemudian Nadia menggeleng-geleng kan kepala nya. Ia tak habis pikir dengan kedua mertua nya itu yang selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Namun ia juga tak ambil pusing, karena ia pun tak ada hak untuk melarang, selagi itu tidak merugikan siapapun.
Tak banyak perbincangan antara Avi dan Nadia di meja makan, mereka hanya bergurau sesekali dan setelah itu mereka melanjutkan makan nya.
Setelah selesai mereka pun segera pergi ke kampus dengan di antar oleh supir.
" Boleh. Emang Lo mau tanya apa?."
" Kemaren Lo sedih itu karena apa?, Apa iya itu cuma karena Lo merasa bersalah sama gue, atau ada hal lain?." Tanya Nadia dengan rentetan pertanyaan.
" Sebenarnya ada hal lain yang bikin gue sedih, bahkan gue belain pindah karena itu." Ucap Avi, dan tentunya membuat Nadia kembali penasaran.
" Apa emang?, Lo bisa cerita ke gue sekarang. Gue janji, kalau itu menyangkut gue lagi, gue gak bakal marah kok sama Lo." Ucap nya meyakinkan sahabat nya itu.
" Gue,.... Gue sama Alex udah putus." Tutur Avi yang mata nya kini sudah berkaca-kaca.
" Hah yang benar?." Tanya Nadia terkejut.
" Apa itu karena gue?." Tanya Nadia lagi. Ia merasa tak enak hati pada sahabat nya itu, pasalnya dulu Avi dan Alex bertengkar juga karena dia.
__ADS_1
" Ini gak ada sangkut pautnya kok sama Lo. Justru gue yang harus minta maaf sama Lo karena sempat salah faham sama Lo waktu itu." Sesal Avi sungguh sungguh.
" Udah, gak usah di inget lagi, gue udah maafin Lo kok." Ucap nya tulus.
" Makasih banyak ya Nad, elo udah gak marah sama gue. Gue beruntung banget punya sahabat sebaik Lo." Ucap Avi terharu dengan ketulusan Nadia. Mereka pun berpelukan bak Teletubbies.
" Eh tunggu, elo hutang penjelasan sama gue, kenapa Lo sama Alex bisa putus?." Ucap Nadia mengingatkan.
" Dia selingkuh." Jawab Avi singkat. Terlihat jelas di mata nya, bahwa dia sangat merasa kecewa pada mantan kekasih nya.
Namun Nadia, dia terlihat tak terkejut sama sekali mendengarnya, seakan telah mengetahui sifat asli mantan kekasih sahabat nya tersebut.
" Dia itu baji*gan Nad, dia itu gak punya hati." Ucap Avi histeris. Nadia pun berusaha menenangkan sahabat nya itu, dia merengkuh tubuh Avi dan berusaha menenangkan nya.
" Udah yang sabar ya. Sekarang Lo jelasin satu satu dulu, sebelum itu Lo harus tarik nafas, lalu hembuskan." Perintah Nadia. Avi pun segera menuruti nya. Setelah di rasa sedikit tenang, Avi mencoba menjelaskan masalah nya pada Nadia.
" Waktu itu hiks hiks hiks, gue,.... Gue." Avi nampak nya masih belum bisa mengontrol emosi nya, dia menangis sesenggukan. Supir yang melihat nya pun mendadak panik karena tidak tahu apa penyebab Avi menangis sesenggukan seperti itu.
" Kenapa non, teman nya tidak apa-apa?." Tanya sang supir cemas.
" Gak apa-apa kok mang. Cuma masalah pribadi aja." Jelas Nadia.
" Oh, saya kira ada apa." Nadia hanya tersenyum ke pada supir nya, dan setelah itu dia kembali fokus pada Avi.
" Udah Lo tenang dulu ya, kalau Lo gak sanggup cerita juga gak papa, yang penting Lo harus lupain orang yang udah bikin Lo sakit hati." Nasehat Nadia dengan bijak.
" Ta_pi gue pengen tetep cerita sama Lo." Kata Avi, dan kini ia mulai lebih tenang. Nadia pun tersenyum, lalu mempersilahkan Avi untuk bercerita dengan isyarat mengangguk.
" Jadi, gue waktu itu pengen datang ke apartemen dia tanpa ngasih tau dia lebih dulu, karena gue juga mau surprisein dia, terus setelah gue sampai ke apartemen nya dia, gue liat apartemen nya sepi, tapi gue pikir dia lagi tidur. Jadi gue masuk aja dan pengen mastiin kalau dia benar tidur. Tapi saat gue udah sampai di dalam dan tepat di depan kamar nya. Gue denger samar-samar kayak ada suara orang melenguh gitu, gue penasaran kan!, Jadi gue dorong pintu kamar yang gak ke kunci itu. Dan Lo tau?, Ternyata bukan dia yang terkejut dengan surprise dari gue, tapi gue sendiri yang mendapat surprise dari dia." Avi menjeda ucapan nya dan ia tersenyum miris.
" Gue melihat dengan jelas, kalau dia sedang,...... Hiks hiks hiks." Avi benar-benar tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya kali ini, dia benar benar terpukul jika harus mengingat kembali adegan menjijikkan itu.
Jelas Nadia faham dengan kelanjutan ucapan Avi, ia tak lagi bertanya, karena menurut nya hal semacam itu tak seharusnya di terus kan.
__ADS_1
Nadia meraih tubuh sahabat nya itu untuk dia peluk. Ia ingin membuat sahabat nya itu meluapkan kesedihan nya di dalam dekapan nya, agar Avi tak merasa sendiri menghadapi masalah yang ia lewati.