
Airin merasakan pusing di kepala nya. Hidungnya berdarah. Airin mengambil obat di dalam laci dan meminumnya. Setelah 20 menit kepala nya semakin sakit, tidak seperti biasa yang setelah minum obat sakit di kepala nya akan hilang.
Airin mengambil obat yang baru di berikan oleh dokter, saat akan meminumnya airin teringat pesan dokter kalau obat itu akan mempengaruhi janin dalam kandungan nya.
Airin menjatuhkan obat itu ke lantai, pandangannya tiba-tiba gelap.
Brukk,,,
Ilham yang baru saja sampai di rumah lansung berlari menaiki tangga.
"Ilham ngapain kamu lari-lari, tumben kamu pulang siang-siang gini. " tanya bunda yang membuat langkah ilham terhenti.
"Bunda, airin mana? "
"Biasa di kamar, dia kerjaannya kan cuma tidur aja." jawab bunda dengan nada mengejek. Ilham tak menghiraukan perkataan bunda, dia melanjutkan langkah nya menuju kamar.
"Airin kamu kenapa. " tanya ilham saat melihat airin tergeletak tak sadar kan diri di lantai. Wajahnya pucat, hidungnya masih mengeluarkan darah. Ilham menangis melihat kondisi airin. Obat berserakan dimana-dimana.
"BUNDA" teriak ilham dari dalam kamar.
"Apaan sih ilham teriak-teriak. " saut bunda saat berada di pintu kamar.
"Bunda panggilkan ambulance bunda, kita harus bawa airin ke rumah sakit. "
"Ya ampun dia kenapa. " tanya bunda tak kalah panik.
"Cepatan bunda. "
__ADS_1
"Aduh kalau panggil ambulans kayaknya lama deh, kamu gendong dia ya ke bawah, biar bunda suruh mang dadang untuk siapin mobil. "
"Iya cepat bunda. " ilham mengangkat tubuh airin. "Bertahanlah sayang demi anak kita. " air mata ilham semakin deras saat dia mengatakan anak kita. Kenapa selama ini saat airin bilang anak kita ilham selalu emosi mendengar nya. Ilham benar-benar merutuki kebodohan nya.
**
Ilham terus menatap pintu ruangan yang tertutup dimana airin di tangani. Sudah hampir setengah jam ilham menunggu, tapi pintu itu belum juga terbuka. Disana juga ada siska, ayah dan bunda. Entah dari mana siska dan ayah tau kalau airin di bawa ke rumah sakit, tapi ilham tidak memperdulikan itu, yang dia pikirkan saat ini hanyalah airin dan airin.
"Keluarga airin? " tanya dokter saat keluar dari ruangan itu.
"Saya suaminya dok, bagaimana keadaan istri saya, apa dia baik-baik aja?." tanya ilham panik.
"Pasien masih belum sadarkan diri, kita harus segera mengambil tindakan. "
"Apa kankernya semakin menyebar dok?" tanya ayah. Semua orang menatap ayah penuh tanda tanya termasuk ilham.
"Iya selama istrimu menderita kanker." ucap ayah. Ilham mengusap air matanya dengan kasar, dia menarik rambutnya ke belakang dan mendongakkan wajahnya. Suami macam apa dia tidak tahu selama ini istrinya menderita penyakit separah itu.
"Apa yang harus kita lakukan dok? " tanya ayah.
"Kita harus segera melakukan operasi, tapi sebelum itu kita harus melakukan operasi cesar terlebih dahulu untuk mengeluarkan bayinya. "
"Tapi dok apa tidak bahaya, karna kandungannya belum genap 8 bulan. " bukan ilham yang bertanya tapi ayah, karna ilham sendiri tidak tau berapa usia kandungan istrinya.
"Tenang saja pak, tidak perlu khawatir, alat medis sudah semakin canggih. "
"Lakukan yang terbaik dok, saya mau anak dan istri saya selamat. "
__ADS_1
"Baiklah karna sudah mendapat persetujuan kami akan segera mempersiapkan ruang operasi. "
"Mari pak ikut saya, ada yang harus bapak tanda tangani. " ucap suster, ilham mengangguk dan mengikuti langkah suster itu.
**
Ilham kembali mondar-mandir di depan ruang operasi, mulut nya terus melafazkan do'a untuk istrinya tapi tidak mengeluarkan suara.
"ilham duduk lah, kami ikutan pusing melihat mu seperti setrikaan. " ucap bunda.
"Ayah sejak kapan airin sakit?" tanya ilham duduk di samping ayahnya.
"Ayah juga tidak tau, airin bilang dia mengetahui nya 2 bulan yang lalu. "
"Kenapa ayah tidak bilang? "
"Untuk apa? Kamu saja tidak memperdulikannya. Ayah kecewa dengan mu ilham, kamu tidak bisa menjadi suami yang baik. " ilham hanya menunduk kan kepalanya sambil menangis. Bunda yang tidak tega melihat nya mendekati ilham dan memeluk nya.
Pintu ruangan terbuka, dokter keluar dengan wajah panik. Semua orang berdiri dan mendekatinya untuk meminta keterangan dan berharap dokter itu membawa kabar baik.
"Bagaimana dok, apa operasi nya berjalan lancar? " tanya ilham.
"Maafkan saya, pasien kritis. Kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka. " ucap dokter. Semua terkejut dan tampak berpikir. Begitu sulit untuk memilih antara istri dan anak. Ilham menjambak rambutnya sendiri , kenapa dia harus berada dalam kondisi seperti ini.
"Cepat lah kita tidak punya banyak waktu. " ucap dokter lagi.
"Selamatkan ibunya dok. " ucap bunda. Semuanya terkejut mendengar jawaban bunda mengingat selama ini dia sangat membenci airin. Ayah tersenyum melihat ke arah nya.
__ADS_1
"Baiklah saya akan kembali dan berusaha semampu kami. Mohon do'anya. " dokter itu kembali masuk dan menutup pintu. Ilham menangis sejadi-jadi nya, apa ini hukuman karena selama ini dia selalu bilang kalau anak itu bukan anaknya Mangkanya tuhan tidak mengizinkan nya untuk melihat nya.