Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
NOMOR TAK DI KENAL


__ADS_3

Part 45:


Semenjak pulang kuliah tadi, Nadia hanya berada di kamar nya saja selama seharian, sedangkan Avi sudah pulang ke rumah nya.


Ia hanya bersama pembantu dan pekerja lainnya di rumah besar milik keluarga Gautama tersebut. Sungguh ia merasa sangat sepi. Balum lagi beberapa masalah yang selalu menimpa dirinya beberapa hari ini, membuat perasaan nya sangat kacau.


Lagi-lagi ia mengusap wajah nya secara kasar untuk menghilangkan emosi yang semakin menumpuk saja.


" Ya Allah, astaghfirullah!!." Lirih nya. Dia beristighfar, mencoba meredam segala emosi di dalam diri nya.


Tak lama sebuah notifikasi aplikasi hijau di ponsel nya berbunyi, ia pun melihat nya, ternyata nomor tak di kenal yang mengirim sebuah pesan.


( Gue minta Lo ceraikan dia sekarang juga. Kalau Lo gak mau sesuatu terjadi sama dia, Lo harus nurutin perintah gue!.) Isi pesan tersebut.


Sontak mata Nadia membulat sempurna membaca isi dari pesan yang tidak ia ketahui siapa pemilik nomor tersebut.


Hati nya gusar, berkali kali ia memastikan isi dari pesan tersebut, namun ia benar tak salah lihat. Ancaman pesan itu nyata adanya.


Ia kembali harus menguatkan hatinya yang sudah mulai retak ini. Sungguh, tuhan seperti nya sedang menguji seberapa besar kesabaran nya. Cobaan demi cobaan datang seakan mengantri untuk sekedar menyapa nya, atau akan singgah untuk selamanya.


Ia pun tahu maksud dari pesan tersebut, bahwa dia harus meninggalkan suaminya yang sekarang tak tahu bagaimana kabarnya. Ia memang sempat berpikir jika orang tersebut bisa saja salah mengirim pesan padanya. Tapi nama dirinya tercatat jelas di dalam isi pesan tersebut, itu menandakan bahwa pesan itu di tujukan untuk dirinya.


" Aku udah gak tahan lagi dengan semua ini. Aku harus minta penjelasan mama dan papa soal ini." Monolog Nadia dengan mata berkaca-kaca.


Dan kebetulan pula saat itu, Diendra dan Cetrin datang bersamaan, meski tidak satu mobil.


Nadia segera menghampiri mereka, berniat untuk memberi tahu kan semua nya, juga akan bertanya tentang keadaan suaminya saat ini.

__ADS_1


" Assalamualaikum Nadia!." Ucap Cetrin.


" Waalaikumsalam ma." Nadia lalu menyalami tangan kedua mertuanya dengan takzim.


" Ma, pa. Ada yang ingin Nadia bicarakan." Tutur Nadia to the poin.


" Ada apa nak?. Memang nya ada hal penting apa?. Lebih baik kita duduk dulu yuk di sana." Ajak Cetrin, Diendra pun hanya mengangguk setuju, dan mereka pun mengikuti perintah Cetrin.


" Coba ngomong, ada apa?." Tanya Cetrin ingin tau. Ia menggenggam tangan Nadia, seolah menyalurkan kekuatan agar Nadia tidak merasa sendiri.


" Ma!,,... "


" Ya!....." Dengan sabar Cetrin menunggu apa yang akan di sampaikan oleh menantu nya itu. Nadia lalu memberikan ponsel miliknya kepada Cetrin.


" Apa ini?." Tanya Cetrin yang tidak paham apa maksud Nadia memberikan benda itu kepada nya.


Sedetik kemudian, ia di buat terkejut dengan apa yang ia lihat. Dia membekap mulutnya karena tak percaya dengan isi pesan yang ia baca tersebut.


" A_apa ini? Siapa yang ngirim?." Tanya Cetrin bertubi-tubi. Diendra yang melihat perubahan pada istri nya, pun merampas ponsel Nadia dari tangan istrinya itu. Diendra pun tak kalah terkejutnya dari istrinya.


" Kenapa kamu baru bilang sekarang Nadia? Apa ini sudah lama?." Sama halnya dengan Cetrin, Diendra pun mencerca Nadia dengan deretan pertanyaan.


" Itu baru di kirim tadi pa, dan tidak lama setelah itu, papa dan mama pun pulang. Nadia juga gak tau siapa yang ngirim." Ucap nya jujur.


" Kamu sudah telpon Andre atau Daniel?." Tanya Cetrin.


" Sudah ma. Dan seperti biasa, nomor mereka berdua susah di hubungi." Tutur Nadia dengan suara yang mulai serak akibat menahan sesak di dada nya. Air mata nya tak dapat lagi ia tahan. Kini ia menangis sejadi jadinya, tak perduli ia sekarang ini sedang berada di depan kedua mertuanya. Biar saja mereka tahu, betapa hancur nya ia saat ini, bertapa rapuh nya ia saat ini. Bahkan ia ingin seluruh dunia tahu, kalau dia saat ini sedang tidak baik baik saja.

__ADS_1


Cetrin mendekat pada Nadia, ia mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Menyalurkan kekuatan agar Nadia bisa lebih tenang. Namun, tangis nya semakin menjadi jadi.


" Ma! Nadia gak mau,,,,, gak mau ma!. Anterin Nadia ke sana,.... Nadia pengen ketemu Daniel ma!." Ucap Nadia di sela sela tangisnya.


" Iya iya! Mama ngerti. Tapi gak sekarang sayang! Papa sama Mama masih banyak pekerjaan yang gak bisa di tinggal." Ucap Cetrin.


Ia berusaha meraih tubuh Nadia untuk ia peluk, namun Nadia menolak. Ia seakan kecewa dengan jawaban mertua nya itu, yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada anak nya sendiri. Namun bagaimana pun, ia tidak bisa marah pada mereka. Mereka hanya lah seorang mertua untuk nya, bukan sebagai orang tua nya yang mengerti dengan perasaan anak nya saat ini.


" Maaf ma!." Tolak Nadia saat dirinya akan di peluk.


Seakan mengerti dengan kekecewaan menantu nya, Cetrin pun tak lagi memaksa.


" Mama minta maaf Nadia, mama benar benar gak bisa untuk sekarang ini." Jelas Cetrin.


" Kalau papa bagaimana? Apa jawaban papa sama Mama, sama?." Tanya Nadia dengan nada datar nya.


Diendra nampak menghela nafas panjang.


" Dengan berat hati, papa katakan, iya!." Ucap Diendra telak.


Tiba-tiba Nadia langsung berdiri dengan tatapan kosongnya, di sertai air mata yang terus mengalir.


" Baik!, Aku akan pergi sendiri. Kalau papa atau mama tidak mau ikut, tidak apa-apa. Nanti aku akan pinjam uang sama Avi dulu." Ucap Nadia. Ia lantas berlalu meninggalkan kedua mertua nya yang masih saling diam.


Sedangkan Nadia, pergi ke luar untuk mencari ketenangan.


Sudah sepuluh menit lamanya Nadia menyusuri jalan komplek perumahan nya, hingga akhirnya ia sampai di sebuah taman. Nadia pun duduk di bangku taman tersebut sambil memperhatikan orang-orang yang sedang duduk-duduk santai di sana. Nadia memperhatikan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari kedua orang tua muda, dan seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, mereka nampak asyik bermain-main di sana, begitu terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Nadia jadi merasa iri terhadap mereka, ingin rasanya ia mempunyai keluarga kecil yang lengkap seperti mereka. Namun kenyataannya tak sesuai keinginan nya. Bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana keadaan suaminya saat ini, entah operasi nya berjalan lancar, atau malah gagal, yang mengakibatkan diri nya harus menerima kenyataan bahwa dia harus hidup sendiri lagi di dunia ini.


__ADS_2