
Sudah 2 hari airin di rawat di rumah sakit. Ilham selalu menemani tampa meninggalkannya sedetik pun. Ilham mengerjakan pekerjaannya di rumah sakit kadang sekretarisnya juga sering datang kalau ada berkas yang harus di tanda tangani . Masalah meeting ataupun rapat ilham serahkan kepada asistennya.
Ilham duduk di kursi samping ranjang, dia menyandarkan kepalanya di atas ranjang. Airin tidak tega melihat nya. Dia mengelus kepala suaminya yang tertidur.
"Mas. " ucap airin membangunkan ilham.
"Ya sayang, kamu butuh sesuatu? Apa kamu haus? "
"Gak mas, aku gak apa. Sini tidur di samping ku. " ucap airin menggeser tubuh nya.
"Tapi sayang. "
"Gak papa kok mas, ayo naik!. "
"Iya sayang. " ilham menurut dan naik ke atas ranjang. Dia tidur di samping airin sambil memeluknya.
"Mas besok kita pulang ya! Aku udah sembuh kok. "
"Tapi kata dokter kamu belum boleh pulang sayang. "
"Tapi mas gimana sama ujian ku. Aku gak mau gak lulus mas. "
"Kamu tenang saja sayang, kamu bisa ujian susulan. Aku sudah ngomong sama kepala sekolah kamu. Setelah kamu sembuh kamu akan ujian susulan. "
__ADS_1
"Mas aku bosan disini. Lagian semenjak aku disini kamu gak pernah pulang. Istirahat kamu juga gak teratur. Aku gk mau kamu sakit mas. "
"Kamu khawatir sama aku? "
"Jelas lah aku khawatir, apalagi kamu sakit gara-gara ngurusin aku. "
"Hmm aku senang kamu khawatir sama aku. Itu artinya kamu peduli sama aku. "
"Mas jangan mulai deh. Aku mau besok kita pulang ya. aku bisa istirahat di rumah mas.!"
"Ya udah besok kita pulang ya, tapi kalau dokter ngizinin. " ucap ilham dan airin menganggukkan kepada nya.
Keesokan hari nya ilham menemui dokter dan meminta izin untuk membawa istrinya pulang. Dokter mengizinkan tapi ilham harus memperhatikan keadaan istrinya.
"Gimana mas, apa dokter mengizinkan aku pulang. " tanya airin saat ilham sudah kembali ke ruangan nya.
"Iya mas. " ucap airin dan ilham mengemas barang-barang nya untuk di bawa pulang.
Sampai di rumah airin di kagetkan dengan suara bunda yang berteriak kepada nya. Tapi bukan berarti marah. Bunda khawatir kenapa airin sudah pulang padahal dia masih sakit.
"Airin kamu udah pulang, bukan nya kamu belum sembuh? " ucap bunda mendekati airin.
"Iya bunda, aku sudah di bolehin pulang sama dokter. " ucap airin santai.
__ADS_1
"Padahal bunda baru saja mau ke rumah sakit. Ya udah kamu istirahat sana. Pasti kamu capek. "
"Ya udah bunda kita ke kamar dulu ya. " ucap ilham yang di balas anggukan oleh bunda. Ilham membawa airin ke kamar dengan menggendong nya, airin kaget dan memukuli dada suami nya. Bunda hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan menantunya.
"mas turunin aku. Malu mas sama bunda! "
"Bunda juga pernah muda sayang. " saut ilham yang terus berjalan menuju kamar.
"Tapi aku berat mas, tangan kamu pegal nanti. "
"Sayang kamu itu belum sembuh, kamu gk boleh capek naik tangga. " ucap ilham. "Buka pintu nya! " ucapnya lagi saat sudah berada di depan pintu kamar. Airin membuka pintu kamar yang masih di gendongan ilham.
Ilham membaringkan tubuh airin di ranjang dan di ikuti oleh ilham yang ikut berbaring di samping airin. Ilham mengatur nafas nya dan membuat airin tidak bisa menahan tawa nya.
"Tu kan ngos-ngosan, kamu sih sok kuat. " ucap airin. airin mengambil air putih yang ada di atas meja dan memberikannya kepada ilham. "Minum dulu. "
"Makasih sayang. " ilham mengambil minum dari tangan airin dan meminum nya. Ilham meletakkan kembali gelas itu di atas meja dan kembali berbaring di samping airin. "Sayang istirahat lah. aku akan menemani mu. "
"Iya mas. Makasih udah merawat aku selama aku sakit. "
"Kamu ini ngomong apa? aku ini suami mu, jadi udah kewajiban aku sebagai suami. "
"Tapi bagaimana dengan kewajiban aku sebagai seorang istri mas?. " ilham tau maksud airin.
__ADS_1
"Sayang aku tau kamu belum siap. Dan aku akan menunggu mu. "
"Tapi mas, , , Hmm." ucap airin terhenti karena ilham telah melumat bibirnya dan airin membalas lumatan itu. Airin memang tidak pernah menolak kalau ilham mencium nya, karena ilham berhak atas tubuh nya, bahkan meskipun ilham meminta haknya airinpun tidak akan menolak, tapi untung nya suaminya sangat mengerti bahwa airin belum siap untuk itu.