
Part 52:
" Sayang! Nadia kamu kenapa? hey!." Daniel menepuk-nepuk pipi chubby Nadia berharap Nadia akan sadar.
Daniel merebahkan tubuh Nadia kelantai, dan meletakkan kepalanya pada paha Daniel, agar ia leluasa untuk memeriksa keadaan Nadia.
" Nadia kamu kenapa? Bangun Nad!." Sisil ikut duduk untuk memastikan keadaan Nadia.
" Kak Daniel, lakukan sesuatu!." Perintah Sisil pada Daniel. Sebenarnya umur Sisil dan Daniel tak terlalu jauh, hanya saja itu adalah panggilan fans pada idola nya.
Tiba-tiba Daniel teringat akan sesuatu.
" Bagus!." Satu nama yang keluar dari mulut nya.
Dia lantas mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku switer nya dan mencari kontak Bagas, namun karena terlalu khawatir dan gugup, tangan nya gemetar hebat, dan ponsel yang ia genggam sampai jatuh ke lantai.
Daniel takut, khawatir, cemas dan sedih. Suami mana yang tidak cemas melihat istrinya terbaring tak berdaya dengan wajah yang begitu pucat.
" Sial.!!" Umpat Daniel. Ia pun kembali mengambil ponselnya dan segera menghubungi Bagas kembali.
" Bagus, Bagas,Bagas!!!." Racau nya sambil mencari kontak Bagas, setelah ketemu Daniel segera menelpon nya.
" Hallo Gas!, Cepat tolongin gue sekarang, gue lagi ada di toilet umum. Cepetan jangan lama, gue tunggu sekarang!!." Ucap Daniel terdengar tergesa-gesa.
" Lagian Lo ngap,,,,,,!!!." Tut,,,,, Tut,,,,,,, Tut. Sambungan terputus, Daniel sama sekali tidak memberi kesempatan untuk Bagas bertanya.
__ADS_1
" Ni anak sultan kenapa sih?, Kok kayak tergesa-gesa gitu. Kayak di kejar setan aja." Gerutu Bagas. Tiba-tiba Bagas terkejut, seperti orang yang baru memikirkan sesuatu hal yang buruk.
" Atau jangan-jangan,,,, dia abis nabrak orang lagi, dan orang itu mati di tempat." Pikirnya.
" Mati gue!." Ia menepuk jidatnya sendiri.
" Bisa di penjara gue karena udah nolongin pembunuh, mana gue belum kawin lagi!, Kalau begitu ceritanya, makin susah dong gue cari cewek. Gue baik aja cewek pada gak mau sama gue, apa lagi kalau gue jadi pembunuh, bisa-bisa jadi bujang lapuk kalau begini!." Bagas menggerutu tak jelas. Ia bermonolog sendiri.
" Eh bentar-bentar!, Apa katanya tadi? Toilet!. Ahh, gak mungkin juga kan dia nabrak orang di dalam toilet, mana muat juga mobil di dalam toilet!." Ucap nya menyadari sesuatu.
" Emmmm bener nih kata Daniel, kayak nya otak gue cetek deh!." Ia mengejek dirinya sendiri.
" Lagian ngapain sih dia di toilet umum segala sih?, Kan bisa pakai toilet artis, kenapa harus ke sana segala coba?!. Apa mungkin dia boker di sana dan lagi sembelit, makanya dia minta tolong sama gue minta di beliin obat sembelit?, Bisa jadi sih!." Tebak Bagas, dia tak sadar bahwa dia telah mengulur waktu hanya karena ocehan nya yang belum tentu benar.
" Lagian nyusahin banget sih nih orang. Untung duit, kalau enggak udah gue tinggalin tuh anak satu!." Bagas kembali menggerutu, namun kali ini ia segera pergi. Bukannya langsung menemui Daniel yang kesusahan, Bagas malah pergi ke minimarket terdekat untuk membeli obat sembelit untuk Daniel yang ia kira terkena sembelit.
" Ya ampun!, Nih orang jalan atau ngesot sih?, Lama banget datang nya." Gerutu Daniel. Tangan Nadia ia genggam tanpa mau ia lepas, ia juga membuka switer Hoodie nya dan menyelimutkan nya pada Nadia, hingga tersisa baju kaos putih nya yang agak ketat, Hingga tercetak jelas lekuk tubuh nya yang berotot dan perut suspek nya.
' Ya Tuhan,,,,,!!! Bisa nggak, gak usah terpesona di saat genting begini!.' Sisil merutuki dirinya sendiri. Dia tidak bisa mengendalikan diri nya untuk tidak melihat keindahan di depan mata nya saat ini.
Tak lama, Bagas pun datang dengan membawa sebuah kantong plastik.
" Nih!! Ini kan yang Lo mau?." Ucap Bagas memberikan kantong plastik tersebut kepada Daniel tanpa melihatnya.
" Ini apaan maksud Lo?." Tanya Daniel. Bagas lantas hendak berbalik, rencananya ia akan memarahi Daniel karena sudah berani menyuruhnya yang tidak-tidak.
__ADS_1
Namun ia di buat terkejut lebih dulu oleh apa yang ia lihat.
" Ya ampun, Lo apa in anak orang bisa sampai begini?." Cerocos Bagas.
" Udah, gak usah nanyak-nanyak sekarang. Lo cepat siapin gue mobil sekarang, kita ke rumah sakit?." Perintah Daniel.
" Lah, kalau Lo ke rumah sakit, gimana sama konsernya yang sebentar lagi akan di mulai?." Tanya Bagas dengan kesal.
" Batalin aja dulu. Masih banyak artis lain!!." Bantah Daniel.
" Wah,,, Lo gak bisa gitu dong!!." Bagus mulai tersulut emosi karena sikap Daniel yang semena-mena dan tanpa beban.
" Cepat siapin mobil nya sekarang Bagas!!." Daniel dengan susah payah menahan emosi nya agar tidak meledak.
" Lo jangan,,,,,,!!!." Ucapan nya terhenti karena bentakan dari Daniel.
" CEPAT SIAPIN MOBIL NYA SEKARANG!! ATAU ENGGAK, GUE PECAT LO SEKARANG JUGA!!!." Akhirnya emosi yang sedari tadi ia tahan, keluar juga. Bagas terkejut karena bentakan dari Daniel. Dia tak habis pikir dengan Daniel yang berani membentak nya seperti itu, setahu nya Daniel tidak pernah se marah itu sebelumnya, dan Daniel adalah tipe orang yang pendiam, dingin dan santai. Tapi yang ia lihat saat ini, bukanlah Daniel yang biasa bersama nya.
Karena tak ingin membuat Daniel kembali emosi, Bagas segera menjalankan tugas nya tanpa banyak bertanya lagi.
Daniel segera membopong tubuh istri nya menuju mobil lewat pintu belakang.
Ia segera merebahkan tubuh Nadia di kursi belakang dengan kepala Nadia yang berbantalkan kaki nya.
Tak henti-hentinya ia mengecup tangan Nadia dan menggenggam nya dengan sangat erat. Sesekali ia juga memanggil nama nya, berharap Nadia mendengar nya. Tetapi hasilnya tetap sama, Nadia masih enggan untuk membuka mata nya.
__ADS_1
Sisil dan Bagas hanya bisa saling menatap bingung satu sama lain dengan apa yang ia lihat. Beribu pertanyaan muncul di benak mereka masing-masing. Namun mereka tak berani sedikit pun membuka suara.
Setelah sampai di rumah sakit, tanpa aba-aba lagi, Daniel segera membopong tubuh Nadia ke dalam, agar istrinya itu cepat di tangani.