Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
RENCANA KEBERANGKATAN NADIA


__ADS_3

Part 46:


" Nadia Lo di sini?." Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Dia pun menoleh ke asal suara.


" Ronal!. Lo ngapain di sini?." Bukan nya menjawab pertanyaan Ronal, Nadia malah balik bertanya.


" Iya gue kebetulan lewat aja, terus gue lihat Lo di taman ini lagi termenung, jadi gue samperin deh." Jawab Ronal apa adanya. Nadia lalu mengangguk datar, lalu mengalihkan pandangan nya lagi menatap rerumputan.


" Lo kenapa lagi sih? Lagi kangen?." Terka Ronal. Nadia lantas mengangguk lesu.


" Gue yakin kok, gak lama lagi Daniel pasti pulang, dan masalah kalian akan segera selesai!." Ucap Ronal optimis.


" Tapi sampai kapan Nal?. Mereka bilang cuma dua bulan, tapi apa?!, Sampai sekarang mereka belum pulang, bahkan ngasih kabar aja enggak, walaupun cuma lewat mimpi. Dan saat gue mau nyusulin mereka ke sana, orang tua Daniel pasti selalu sibuk, sibuk dan sibuk terus. Lama-lama gue merasa mereka mempermainkan perasaan gue tau gak!. Orang tua Daniel seolah gak perduli sama anak mereka sendiri, gue yang liat tiap hari, sakit hati rasanya, suami gue seolah gak punya tempat di hati mereka. Padahal mereka udah minta maaf sama dia, tapi tetep aja jiwa materialistis mereka gak pernah hilang dari diri mereka, mereka lebih mentingin uang dari pada jengukin Daniel. Mereka selalu nyuruh orang kalau mau tau keadaan Daniel." Keluh kesah Nadia panjang lebar. Ia seolah mengeluarkan semua uneg-uneg yang sudah lama ia simpan sendiri. Nadia juga bercerita dengan penuh emosional kepada Ronal.


Sedangkan Ronal dengan setia mendengarkan semua keluh kesah Nadia.


Ronal lantas tersenyum sambil mengusap kepala Nadia dengan gemas.


" Jadi mau Lo apa sekarang?." Tanya nya.


" Gue mau besok elo temenin gue ke Singapura buat jengukin Daniel!." Ucap Nadia seolah perintah yang harus di laksanakan.


" Siap komandan, laksanakan!!." Ucap Ronal dengan gaya seperti orang yang sedang hormat. Nadia pun terkekeh geli melihat tingkah absurd Ronal.


" Nah kan, kalau senyum gini kan tambah cantik." Ucap Ronal lagi dengan mencubit pipi Nadia dengan gemas.


" Pokoknya, kalau Lo mau cerita atau cari tempat bersandar, gue selalu siap kasih pundak gue buat Lo bersandar." Ucap nya sambil menepuk-nepuk pundak nya sendiri. Nadia kembali terkekeh dan langsung menyandarkan kepalanya di pundak Ronal.


" Makasih ya, selalu ada buat gue!." Ucap Nadia.


" Udah santai aja. Gak usah pake makasih makasih segala. Kayak sama siapa aja." Ucap nya dengan santai. Padahal saat ini dia sedang berusaha mengontrol perasaan nya. Entah mengapa, hati nya sangat berbunga bunga bercampur gugup saat di dekat Nadia.


" Iya deh!. Lo emang teman terrrrrbaik gue." Ucap nya menekankan kata 'terbaik'. Ronal pun tersenyum senang mendengar ucapan Nadia yang memuji dirinya.


' Nadia,.... Nadia!. Andai gue yang di posisi Daniel sekarang, pasti gue bakal seneng banget bisa di khawatin sama Lo. Ya Tuhan, kenapa Engkau berikan perasaan cinta yang salah ini kepada ku?. Aku tidak sanggup Tuhan, di satu sisi, aku menyayangi Daniel sebagai sahabat ku sejak kecil, tapi di sisi lain, aku sangat mencintai Nadia yang notabene nya sebagai istri dari sahabat ku sendiri. Apa Engkau ingin menguji ku dengan cara seperti ini nya illahi?, Jika memang iya, tolong di ganti saja dengan yang lain, aku tidak ingin mengkhianati sahabat ku sendiri ya Tuhan!!!.' Ronal bertengkar dengan perasaan nya sendiri.


Cukup lama mereka saling diam. Ronal dengan perasaan nya, sedangkan Nadia terlihat sedang memejamkan mata nya sambil bersandar pada bahu Ronal. Bukan tertidur, hanya saja ia sedang merenungkan tentang kehidupan nya.

__ADS_1


" Oh iya. Apa perlu gue ajak Avi juga biar rame?." Usul Ronal.


" Emmmm!!." Nadia nampak sedang berpikir, dengan jari telunjuk ia letakkan di dagunya, seraya mengetuk-ngetuk kan nya.


" Boleh juga tuh." Ucap Nadia semangat.


" Tapi kalau Tante ayu dan om Hendra ngizinin ya!." lanjut nya.


" Itu pasti!!." Jawab Ronal.


Cukup lama mereka berbincang bincang, hingga akhirnya Nadia dan Ronal memilih pulang ke rumah masing-masing, karena hari pun sudah mulai gelap.


Sebenarnya Ronal sudah menawarkan diri untuk mengantarkan Nadia pulang sampai ke rumah nya, namun Nadia menolak nya.


...****************...


Saat sebelum menjelang pagi, Nadia sudah lebih dulu bersiap-siap untuk keberangkatan nya hari ini ke Singapura. Dia juga sudah menyiapkan baju baju yang akan di bawa nya, sejak malam tadi.


Kini ia hanya perlu bersiap diri, lalu meminta izin kepada mertuanya.


Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tapi Nadia sudah bersiap siap untuk berangkat dan berencana untuk menemui kedua mertua nya untuk meminta izin. Walaupun ia ragu, mertua nya itu mengizinkan nya atau tidak. Yang penting ia harus mencobanya terlebih dahulu.


" Ma pa!. Aku minta izin buat jengukin Daniel hari ini, boleh gak?!." Ucap Nadia dengan hati-hati.


" Tapi sama Ronal kok ke sana nya." Nadia dengan cepat meralat nya agar mertua nya tidak salah faham.


" Tapi Nadia!! papa tetep gak bisa ngizinin kamu, papa tetep khawatir meskipun kamu di jaga sama Ronal. Singapore itu kota besar nak, dan lagi pun kamu dan Ronal belum pernah ke sana, kalian belum punya pengalaman tentang negara orang." Ucap Diendra menjelaskan.


" Nadia mohon pa. Nadia janji akan hati-hati dan gak gampang percaya sama orang yang tidak di kenal." Mohon Nadia sekali lagi.


" Ya ya please!!." Kekeh Nadia.


Diendra nampak menghela nafas berat, dia


merasa kalah dengan bujuk rayu Nadia dan membuat nya tidak tega.


Meskipun Diendra dan Cetrin terlihat sangat sibuk dan terlihat seperti tidak perduli pada anak nya, tapi entah mengapa jika dengan Nadia, mereka seakan luluh dan terlihat lebih menyayangi Nadia dari pada kedua putranya, mungkin karena mereka tidak memiliki anak perempuan dan mereka juga sudah lama menginginkan anak perempuan.

__ADS_1


" Baiklah, papa izinkan. Tapi dengan syarat!." Ucap Diendra mengajukan syarat kepada Nadia.


" Yeyy akhirnya!!. Makasih ya pa ma." Ucap nya senang.


" Apa syarat yang harus Nadia kasih?. Nadia siap, syarat apapun itu!." Ucap nya penuh semangat dan percaya diri.


" Oke, kamu harus kabarin papa atau mama setiap dua jam sekali. Gimana, kami sanggup?." Tanya Diendra meminta kepastian.


" Itu aja? gak ada syarat lain?." Tanya Nadia terdengar menantang.


" Enggak!." Jawab Diendra singkat.


" Makasih ya papa mertua. Papa emang yang paling the best deh!." Puji Nadia dengan mengacungkan kedua jempol tangan nya.


Cetrin yang melihat keakraban mereka pun iku tersenyum


...****************...


" Gimana nak, udah siap semua?." Tanya Cetrin pada Nadia saat mereka sedang berada di kamar Nadia. Cetrin juga membantu Nadia untuk Peking, kebetulan dia dan suaminya hari ini sedang libur kerja.


" Udah kok ma!. Cuma tinggal nungguin Ronal datang aja." Jawab nya.


" Oh ya udah, kalau gitu kita tungguin di ruang tamu aja." Ucap Cetrin seraya mengusap kepala Nadia dengan sayang. Nadia lantas tersenyum dan mengangguk.


Namun saat mereka akan keluar dari kamar Nadia, tiba-tiba ponsel Nadia berdering. Nadia segera melihat siapa yang menelpon, dan seketika senyum nya merekah. Cetrin yang melihat itu pun merasa penasaran, apa kiranya yang membuat menantu nya itu terlihat sangat senang?.


Ia ingin menanyakan nya, tapi urung karena Nadia lebih dulu mengangkat telpon nya.


" Hallo kak Andre!. Akhirnya, setelah berabad-abad lamanya, kakak ngabarin juga. Pasti kakak mau bilang kalau kalian akan pulang sekarang kan?. Baru aja aku mau nyusulin kalian ke sana hari ini, eh taunya kakak nelpon, dan gagal lah liburan ku hari ini ke Singapura!." Ucap Nadia panjang lebar, dan di selingi tawanya. Sedangkan di sebrang sana masih setia mendengarkan ocehan Nadia.


" Gak papa deh aku gak jadi liburan, yang penting kalian akan pulang sekarang. Aku hari ini akan menyambut kalian di rumah, dan aku akan masakin makanan kesukaan Daniel. Kalau kakak mau di masakin apa?, soalnya aku gak tau makanan kesukaan kakak apa, yang aku tahu cuma makanan kesukaan Daniel doang


Hehehe, maaf ya kak!." Ucap Nadia dengan rentetan pertanyaan dan cerita nya, namun masih tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.


" Kak Andre!. Kok gak ngomong? kakak marah ya?, maaf ya kak!. Oh iya kak, Daniel mana? kasih heanpone nya ke Daniel dong, aku kangen banget nih sama dia." Pinta Nadia dengan sedikit malu-malu.


Kali ini terdengar helaan nafas dari seberang sana.

__ADS_1


" Nadia!!!." Panggil orang yang ada di seberang sana.


__ADS_2