Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
AKHIRNYA BAHAGIA


__ADS_3

Part 66:


Mereka semua terkejut dan ketakutan, saat sekelompok polisi sudah mengepung kediaman Andre tersebut.


" Jangan ada yang bergerak. Angkat tangan kalian!" Titah seorang komandan.


Mereka semua terpaksa menuruti perintah polisi dan mengangkat kedua tangan mereka ke atas.


Para polisi dengan sigap memborgol tangan Andre, Mira serta anak buahnya.


" Pak salah saya apa, kenapa saya diborgol begini. Saya ini bukan tahanan loh pak," kata Mira.


" DIAM KAMU!" Bentak polisi tersebut. Sedangkan para polisi lainnya sibuk membukakan ikatan tali pada Bagas, Daniel dan Nadia. Setelah semua terlepas, Andre, Mira serta anak buah mereka pun di giring menuju mobil polisi untuk segera dibawa ke kantor polisi.


" MASUK!" Titah polisi tersebut seraya membentak.


" Tunggu pak!" Daniel menghentikan polisi yang menuntun Andre.


" Saya mau bicara dengan kakak saya pak. Beri saya waktu sepuluh menit," mohon Daniel. Polisi itu pun melihat jam di pergelangan tangannya, lantas mengangguk setuju.


Daniel pun mulai mendekat pada Andre dengan tatapan sendu. Sedangkan Andre tak mampu bertatap mata dengan adiknya tersebut. Ia memilih menundukkan kepalanya.


" Ndre, gue tahu Lo sebenarnya sayang kan sama gue. Cuma, karena keegoisan Lo, Lo ngorbanin perasaan gue, bahkan perasaan Nadia." Daniel tak kuasa, air matanya seketika luruh. Bagaimana pun, Andre tetap kakak kandungnya. Ikatan darah itu sulit di bohongi. Begitupun Andre, meskipun dia membenci adiknya itu, namun bagaimana pun ia tetap tak tega membiarkan Daniel mengalami sakit parah kala itu.


Tanpa semua orang ketahui. Saat mereka berada di Singapura untuk pengobatan Daniel tempo dulu, Andre lah yang berusaha mencarikan dokter spesialis yang handal untuk Daniel. Saat itu uang yang diberikan ayahnya kurang, karena pengobatan Daniel yang tak sedikit harganya. Andre pun terpaksa memberikan sebagian uangnya, bahkan tabungannya. Semua itu hanya untuk kesembuhan Daniel.


" Sebenarnya apa yang membuat Lo benci sama gue. Bukannya dari dulu, elo yang selalu dapat perhatian Mama Papa. Terus apa alasan Lo benci sama gue?" Ucap Daniel dengan penuh penekanan. Andre mengangkat kepalanya dan menatap Daniel nanar.


" Gue benci sama Lo karena Mama Papa pernah bilang, kalau Lo akan menjadi pewaris karena Lo pintar. Makanya gue selalu berusaha buat nyingkirin Lo. Dan asal Lo tau, Mama Papa itu sebenarnya sayangnya sama elo, tapi karena Lo pembangkang, mereka jadiin gue sebagai umpan supaya Lo cemburu," ucap Andre dengan nafas tersengal karena emosi yang meluap.


" Gue cuma pelarian buat mereka, LO NGERTI," teriak Andre histeris, seraya memegang pundak Daniel dan mengguncangnya. Satu fakta yang membuat Daniel terkejut. Entah dia harus senang atau malah sedih mendengarnya. Di satu sisi, ia senang karena sebenarnya orang tuanya sangat menyayanginya. Padahal dia pikir, dulu orang tuanya tidak pernah menginginkan dirinya.


Namun di sisi lain, Daniel sedih. Karena ternyata yang membuat Andre jahat adalah dirinya sendiri.


" Tapi gue gak minta mereka buat sayang sama gue, apa lagi sampai ngasih semua hartanya ke gue. Gue gak minat sama sekali harta itu. Jika karena harta membuat keluarga kita hancur, buat apa. Harta sebanyak apapun gak ada gunanya." Andre mulai melemah mendengar ucapan Daniel. Bahunya merosot, serta menatap Daniel dengan tatapan sendu. Ternyata selama ini ia telah salah menilai Daniel, dia pikir Daniel adalah orang yang serakah. Namun ternyata selama ini dirinya lah yang salah.


" Gue sayang sama Lo Ndre. Kita ini saudara. Gue sakit jika harus melihat kita seperti ini terus. Gue juga pengen kita akur kayak adik kakak yang lain," ucap Daniel. Andre terharu mendengar penuturan Daniel tersebut. Sekarang ia baru sadar, bahwa harta bukan jaminan seseorang akan bahagia. Justru jika salah menempatkannya, maka akan menjadi prahara.


Kini kedua saudara itu saling berpelukan. Saling meminta maaf dan menyesali kesalahan mereka masing-masing.


Semua orang terharu melihat pemandangan didepan mata mereka. Pemandangan langka dan pertama kali mereka lihat.


Namun ada satu orang yang tidak senang dengan keakuran Kakak beradik itu. Dia sangat marah karena Andre tidak memihak padanya lagi. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat karena menahan emosinya.


Mira lantas melirik kearah saku celana milik seorang polisi, yang di sana terdapat sebuah senjata api.


Lalu ide gilanya muncul, ia lantas melepaskan diri dari pegangan seorang polisi dan mengambil senjata api tersebut, lalu menodongkannya ke semua orang.


" Jangan ada yang mendekat, jika tidak ingin nyawa kalian melayang!"


Sontak semua orang menjerit histeris.


" Mira Mira. Turunin pistolnya, bahaya," ucap Bagas seraya berusaha mendekati Mira.


" Jangan mendekat gue bilang!" Dan terpaksa Bagas pun mengurungkan niatnya.


" NADIA, Lo harus mati di tangan gue. Lo gak boleh bahagia di atas penderitaan gue," ucapnya seraya menodongkan pistol tersebut ke arah Nadia.


Dengan cepat pula Mira menekan pelatuk pistol tersebut.


Doorrr,,,,,,. Doorrr

__ADS_1


" NADIA!!" Teriak semua orang. Daniel berlari dengan kencang menuju Nadia, namun sayang, ia terlambat.


Nadia tak sempat lagi mengelak. Laju peluru tak sama dengan laju langkah kakinya. Ia hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya kuat-kuat.


Namun ia merasa ada yang aneh, peluru tersebut tak kunjung menembus tubuhnya, namun ia mendengar teriakkan histeris yang memanggil nama Andre.


Nadia memberanikan diri untuk membuka matanya. Dan seketika tungkai nya lemas. Nadia luruh ke bawah dengan rasa syoknya.


Dia melihat Daniel sedang memangku kepala Andre seraya menangis histeris. Daniel juga membuka Hoodie nya dan membalutkannya pada tubuh Andre yang sudah berlumuran darah.


Ternyata dua tembakan tadi mengenai tepat pada dada sebelah kiri Andre.


Darah segar mengalir cukup banyak bak air keran. Sangking banyaknya, hingga membasahi baju Daniel yang berwarna putih.


Anehnya Andre sama sekali tak mengerang kesakitan. Dia malah tersenyum pada Daniel.


" Pak tolong masukan korban kedalam mobil ambulance itu," titah seorang komandan polisi pada Daniel.


Tadi setelah kejadian, seorang polisi dengan cepat menelpon pihak rumah sakit dan meminta untuk segera mengirimkan ambulance.


Daniel pun mengangkat tubuh kakak nya ke atas bunker, di bantu oleh Bagas yang juga ikut mengangkat.


Sedangkan Mira telah ditangani oleh polisi untuk dibawa ke kantor polisi.


Bagas, Nadia dan Daniel ikut masuk ke dalam mobil ambulance untuk mendampingi Andre. Dan di kawal oleh seorang polisi juga di sana.


" Lo harus kuat Ndre. Lo harus sembuh!" Ucap Daniel saat Andre akan di bawa ke ruang UGD. Tangannya tak lepas dari memegang tangan Andre. Baju dan tubuh yang di penuhi oleh darah, sudah tidak ia perdulikan.


" G_gue mi_minta maaf sa_ma el_o. Se_selama ini, gu_gue be_lum pernah jadi a_bang yang ba_baik buat Lo. Gu_e sa_sayang sama Lo," ucap Andre dengan suara yang terbata-bata.


" Udah, Lo gak usah pikirin hal itu sekarang ya. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Lo."


" Udah sekarang Lo diem. Simpan tenaga Lo buat nanti aja!" Ucap Daniel. Dia tak mau mendengar ucapan sang kakak yang terdengar aneh.


Sungguh, siapa saja yang mendengar pasti akan tersayat hatinya.


" Maaf, mohon keluarga pasien tunggu di luar saja!" Ucap seorang perawat. Daniel, Nadia dan Bagas terpaksa menuruti. Mereka pun hanya bisa mengantar Andre sampai di pintu ruang UGD saja.


Saat ini Daniel benar-benar kacau. Tubuhnya penuh dengan darah dan bau anyir yang menyeruak yang disebabkan oleh darah tersebut. Namun nampaknya Daniel tak memperdulikannya sama sekali. Pikirannya hanya fokus pada Andre saja saat ini. Sampai-sampai ia sendiri lupa bahwa ia belum menghubungi orang tuanya dan memberi tahu bahwa Andre di rumah sakit. Untung saja Nadia ingat dan langsung meminjam ponsel Bagas untuk memberitahu mereka.


" DANIEL!" Seru seorang wanita dan pria yang berlarian kearahnya sambil menangis. Mereka adalah Cetrin dan Diendra yang baru saja tiba di rumah sakit.


Mereka langsung memeluk putra bungsunya.


" Apa yang terjadi pada kakak mu Nak?" Tanya Cetrin dengan berurai air mata.


Daniel pun menceritakan semuanya tanpa ada yang dilebih-lebihkan. Cetrin langsung menangis histeris setelah mendengar cerita Daniel.


Namun tak lama dokter pun keluar dari ruangan UGD, akan tetapi dengan wajah yang terlihat putus asa.


Bagaimana keadaan putra saya dokter?" Tanya Cetrin.


" Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun nyawa pasien tetap tidak bisa kami selamatkan. Pasien meninggal karena kehabisan banyak darah." Semua orang langsung menangis. Terlebih Cetrin yang histeris mendengar kabar tentang kematian sang putra sulungnya itu.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Enam bulan berlalu. Setelah kepergian Andre, keluarga Diendra mulai bisa menerima kenyataan yang terjadi enam bulan silam. Terlebih Cetrin yang mulai belajar mengikhlaskan sang buah hati dan memulai kehidupan baru bersama anak menantu serta calon cucu yang tak lama lagi akan hadir di tengah-tengah mereka.


" Sayang, aku bahagia deh, akhirnya kita bisa hidup normal lagi tanpa ada gangguan dari pihak mana pun," ucap Daniel.


" Iya, aku juga bahagia banget, sekaligus lega," jawab Nadia seraya menyandarkan kepalanya pada dada bidang Daniel.

__ADS_1


Saat ini mereka sedang bersantai ria di dalam kamar mereka. Daniel sedang bersandar sambil memeluk Nadia dari belakang, dengan posisi sama-sama bersandar.


Daniel mengusap perut Nadia yang sudah nampak membesar.


" Nanti kalau anak kita sudah lahir, mau dikasih nama apa?" Tanya Daniel lagi. Nadia mendongak untuk menatap wajah Daniel, lalu tersenyum.


" Terserah kamu aja. Aku ngikut aja, mana yang menurut kami baik, aku juga akan menganggap itu baik," jawab Nadia simpel.


" Kamu punya ide nama-nama bayi yang bagus gak?" Tanya Daniel lagi. Ia tak bosan-bosannya mengelus perut buncit Nadia hingga membuat sang empu kegelian dibuatnya. Terkadang perut Nadia juga ada pergerakan dari janinnya. Hal itu membuat mereka tertawa bersama karena bahagia.


" Ada," jawab Nadia.


" Apa?"


" Emmmm misalnya, Udin." Sontak saja Daniel melotot tak percaya dengan ide nama dari Nadia.


" Kok Udin sih sayang?" Protes Daniel.


" Ya biar anak kita terkenal," jawab Nadia dengan muka polosnya.


" Kok bisa?"


" Kamu pernah dengar lagu gak?" Sontak saja Daniel menggeleng.


" Sebuah lagu yang menceritakan tentang macam-macam nama Udin. Nama Udin itu terkenal di seluruh dunia loh sayang."


" Ohhh itu. Kalau gak salah judulnya, Udin sedunia bukan?" Dengan cepat pula Nadia mengangguk.


" Yah, kok harus Udin sih sayang, emang gak ada nama lain apa


Contoh nama-nama luar gitu."


" Banyak. Bisa Alex, Alvin, Ariel, Alan, Arthur, Jonathan, banyak lagi deh." Ucap Nadia.


" Apa tadi. Kayaknya ada nama yang gak asing deh di telinga aku," ucap Daniel seraya memperjelas pendengarannya, dan mendekatkan telinganya pada Nadia.


" Yang mana, Jonathan?" Tebak Nadia tepat sasaran.


" kenapa, cemburu?" Tanya Nadia lagi, dan kali ini membuat Daniel salah tingkah.


" Enggak. Siapa juga yang cemburu?" Elaknya.


" Helleh. Sok, gak mau ngaku, padahal mah iya," ledek Nadia.


" Iya iya, aku cemburu. Emang kenapa kalau aku cemburu, gak boleh?"


" Hehehe. Ya boleh dong," jawab Nadia. Daniel merasa gemes pada Nadia, ia pun mengacak rambut Nadia dengan gemes, setelah itu mereka saling berpelukan.


Saat ini Daniel sudah jarang manggung. Dia sedang sibuk dengan bisnis ayahnya. Padahal tak sedikit yang menawarkan job manggung kepada Daniel, namun hanya beberapa saja yang ia ambil. Terkadang jika ada waktu luang, dia bisa menerima job manggung lagi seperti biasa.


Hidup mereka sekarang sudah lebih dari kata sempurna, bahkan sangat sangat sempurna.


Memiliki bisnis dan pekerjaan sampingan yang gajinya lumayan, serta mempunyai istri cantik, dan bahkan tak lama lagi akan menjadi seorang ayah. Bagi Daniel, itu sudah lebih dari cukup.


Biarlah masa lalu ia jadikan sebagai pelajaran atau kisah hidup yang bisa ia ceritakan pada anak cucunya nanti. Yang penting sekarang, hidupnya sudah sangat bahagia dengan apa yang Tuhan beri padanya. Mungkin itu adalah sebuah hadiah atas kerja kerasnya selama ini yang sudah sabar menjalani kehidupan yang pahit.


SELESAI,.......


Maaf ya banyak taypo dan terkesan di paksakan. Semoga puas dengan cerita akhir dari mereka.


Salam sayang dari author 🥰💖💖

__ADS_1


__ADS_2