Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
KENYATAAN


__ADS_3

Part 48:


Diendra membaringkan Nadia di ranjang nya lalu memanggil salah satu pembantu nya untuk membawakan nya air serta minyak angin.


Sedangkan Cetrin semakin pilu melihat Nadia seakan tak terima dengan kepergian Daniel.


Diendra dan Cetrin sudah berusaha untuk menyadarkan Nadia dari pingsan nya, namun sepertinya tubuh Nadia enggan untuk kembali sadar, seperti perasaan nya yang hancur saat ini.


Diendra dan Cetrin di buat panik, hingga tak lama telpon dari Andre kembali berdering. Ia segera mengangkat nya.


" Ya sudah kalau memang begitu. Tolong kamu urus aja dulu ya!, Papa benar-benar lagi pusing, dan sekarang Nadia pingsan gak sadar-sadar." Keluh Diendra. Andre nampak terkejut dan merasa bersalah tentang itu. Dia jadi ikut panik mendengar bahwa Nadia pingsan.


" Iya kamu tenang aja, papa akan urus Nadia di sini. Kamu urus aja jenazah Daniel. Kalau memang kamu maunya begitu, papa tunggu di rumah buat menyiapkan semua nya." Ucap Diendra. Dia lantas memutuskan sambungan telepon nya dan segera menelpon dokter pribadi nya ke rumah nya.


Selesai menelpon dokter pribadi nya, Cetrin yang penasaran sejak tadi pun bertanya kepada suaminya itu.


" Emang Andre tadi ngomong apa sama papa?." Tanya Cetrin dengan suara yang masih serak


" Dia bilang akan bawa langsung jenazah Daniel ke rumah, dan kita gak perlu ke rumah sakit buat jemput." Jelas Diendra seraya memijit pelipisnya, terlihat sekali bahwa ia sangat kacau saat ini.


Tak lama dokter yang di hubungi Diendra pun datang. Diendra dan Cetrin langsung mempersilahkan dokter tersebut untuk langsung memeriksa keadaan Nadia yang saat ini masih belum ada tanda-tanda bahwa dia akan sadar.


Setelah dokter selesai memeriksa, ia segera menghampiri Diendra dan Cetrin yang menunggu dengan cemas.


" Bagaimana Dok?." Tanya Diendra.


" Nadia mengalami syok berat, nampaknya batinnya benar-benar terguncang." Jelas sang dokter. Diendra memperhatikan ada gurat kekhawatiran pada dokter pribadi nya tersebut.

__ADS_1


" Apa itu bahaya Dok?." Tanya Diendra memastikan.


" Jika keadaan atau pikiran nya terus begini, maka fatal bagi nya. Dia bisa stres berat atau mungkin bisa kehilangan sebagian ingatan nya." Jelas dokter seperti tidak mengatakan secara gamblang.


" Ma_ maksud dokter, Nadia bisa gila?." Tanya Diendra seakan mengerti maksud sang dokter. Dokter Gunawan pun mengangguk lesu, membuat Diendra dan Cetrin menggelengkan kepalanya tak percaya. Diendra kembali memijat kepalanya merasa frustasi. Tungkai nya terasa lemas, ia pun terduduk tepat di samping Nadia. Ia memandangi gadis malang itu dengan iba.


Hati nya memang sangat hancur saat mendengar kabar bahwa anak bungsu nya itu telah pergi untuk selamanya, tapi tak sebanding dengan apa yang Nadia rasakan saat ini.


Gadis itu memang banyak menerima cobaan akhir-akhir ini, bahkan sejak ia mulai mengenal dunia pun, ia sudah di beri cobaan hidup yang sangat berat.


Nadia kecil harus menyaksikan setiap hari kekerasan yang di berikan ayahnya kepada sang ibu, setelah remaja pun ia harus mengetahui kenyataan bahwa sang ayah selingkuh dan meninggalkan ibunya demi perempuan lain, hingga ibunya harus menjadi singel parent dan bekerja keras untuk menghidupi mereka berdua dengan keadaan yang sangat jauh dari kata layak. Tak sampai di situ Tuhan menguji nya, saat ia sudah mengenal cinta dan saling mencintai, banyak cobaan yang Nadia dan Daniel hadapi. Hingga sekarang, dia harus di tinggal pergi oleh kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya, yaitu ibu dan suami nya dengan waktu hampir bersamaan.


Diendra menatap prihatin pada Nadia yang masih tak sadarkan diri itu. Dalam hati nya sudah bertekad akan membahagiakan gadis malang ini bagaimana pun caranya. Ia akan menganggap Nadia sebagai anak nya sendiri setelah Daniel pergi. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan Nadia, walaupun nyawanya sendiri sebagai taruhannya.


Diendra terkesiap saat tangan seseorang menyentuh pundaknya dengan lembut. Ia lantas menatap orang itu, dan ternyata istri nya sendiri.


Diendra baru tersadar, karena


kejadian- kejadian yang baru saja menimpanya, membuatnya bingung dan seakan kehilangan arah. Ia lantas beristighfar berulang kali atas kesalahan dan kelalaian nya. Ia pun bergegas pergi untuk mengurus semuanya, sedangkan Cetrin menemani Nadia jika sewaktu-waktu ia tersadar.


Tak lama mobil ambulance yang membawa jenazah Daniel pun berhenti tepat di depan rumah Diendra.


Semua keluarga nampak antusias menunggu kedatangan jenazah Daniel. Mereka sangat bersedih atas perginya salah satu keturunan Diendra Gautama itu.


Sahabat dan teman-teman kampus Daniel juga datang untuk mengantarkan teman mereka ke tempat peristirahatan terakhir, terutama Ronal dan Avi yang masih tak menyangka atas kabar duka ini.


Avi dengan setia menunggu Nadia dadar. Air mata nya tak henti-hentinya mengalir. Ia sedih sekaligus prihatin dengan keadaan Nadia saat ini. Ia tahu, betapa hancurnya perasaan sahabat nya saat ini.

__ADS_1


" Enghhh!!!." Nadia terdengar melenguh, mungkin sebentar lagi ia akan sadar.


Avi yang menyadari itu, dengan cepat menghampiri sahabat nya itu untuk mengecek keadaan nya.


" Nad, Lo udah sadar?!." Tanya Avi dengan semangat. Nadia lalu mengangguk dan memberi senyuman kepada sahabatnya itu.


" Syukurlah. Lo bikin gue dan semua orang khawatir aja tau gak!!. Lo pingsan nya lama banget!." Ucap Avi senang.


" Lebay!, Sok drama queen banget sih Lo." Ejek Nadia.


" Lagian Lo kok ada di sini?, Terus di luar kok kayak rame banget, kenapa?." Tanya Nadia. Avi merasa heran mengapa sahabat nya itu seolah tak mengetahui apa-apa. Apa Nadia belum di beri tahu, atau memang dia sedang lupa dengan apa yang terjadi.


" Itu,.....!!" Avi nampak ragu untuk mengatakan nya.


" Eh Lo tau gak, gue barusan mimpi, sereeeeem banget!. Masak gue mimpi Daniel ninggalin gue untuk selamanya. Kan gak mungkin!." Ucap nya, bercerita dengan antusias. Seperti nya Nadia mengangap ini hanya lah sebuah mimpi , dan ia merasa tak percaya dengan semua ini. Avi tidak tahan melihat sahabatnya seperti ini, ia tak kuasa lagi menahan air mata nya, ia pun menangis dan langsung memeluk Nadia. Hal itu membuat Nadia merasa heran.


" Ini bukan mimpi Nadia!, Ini nyata. Daniel udah ninggalin kita semua untuk selamanya." Isak Avi di sela pelukannya.


Lagi dan lagi Nadia kembali di buat syok dengan berita yang sama. Dia terdiam untuk sesaat, lalu tak lama Nadia pun berlari keluar dari kamar nya tanpa meninggalkan sepatah kata pun.


" NADIA!!!." Avi pun panik, ia lantas menyusul Nadia dan mengejarnya.


Nadia nampak berlarian di tengah kerumunan. Ia seakan tak perduli, walaupun dia dengan sengaja menabrak banyak nya orang-orang.


Sampai di depan peti jenazah Daniel, Nadia pun di buat mati rasa. Ia lantas terjatuh dan berlutut di depan peti jenazah suaminya dengan linangan air mata tentunya.


Semua orang yang sudah mengetahui status Nadia pun merasa iba dan ikut merasakan kesedihan yang mendalam pada Nadia.

__ADS_1


__ADS_2