Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
Episode 3


__ADS_3

"Pagi bu." airin melihat ibu nya sedang memasak sarapan di dapur.


"Nak kamu udah rapi, ibu masih belum siap ini."


"Gak apa bu, baru juga jam 6. Aku nya aja yang terlalu bersemangat." airin senyum-senyum seperti orang gila.


"Emangnya ada apa nak, kenapa kamu keliatannya bahagia sekali hari ini." masih melanjutkan memasaknya.


"Ibu gimana sih, dika kan udah kasih tau sama ibu, ibu lupa ya?" siska merungut seperti anak kecil.


"Kasih tau apa nak, ibu gak tau."


"Ibuu,, dika sendiri kok yang nelvon airin semalam, katanya udah dapat izin dari ibu." airin menghentakkan kakinya ke lantai seperti anak kecil yang tidak di belikan mainan oleh ayahnya. Sementara sang ibu hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ibu hanya becanda kok." ucap ibu sambil membawa sarapannya ke atas meja.


"Ihhh ibu" airin masih saja dengan wajah anak kecil nya.


"Ya udah kamu sarapan dulu, ibu mau mandi."


"Iya bu." airin mengambi hpnya di dalam tasnya dan menghubungi dika, tapi nomor dika malah tidak aktif.


"Kok gak aktif ya, pasti dia lupa lagi ngecas hpnya, kebiasaan." omel airin sendiri.


Hari ini sekolah tampak ramai, karna orang tua murid ikut serta untuk pengambilan rapor. Airin melihat sekeliling seolah sedang mencari seseorang.


"Kamu cari siapa nak?"


"Aku cari dika bu."


"Ya ampun nak, ini masih pagi, penerbangan kamu kan jam 12 siang, mungkin setelah kamu nrima rapor baru dika datang." bu sarah mencoba menenangkan putrinya.


"Tapi perasaan airin gak enak bu, dari tadi airin telvon nomor dika gak aktif." airin terus memegang benda pipih itu.


"Ya udah kamu sabar."


"AIRIN..." seseorang memanggil airin dari kejauhan, dengan semangat airin membalikan badannya melihat siapa yang memanggilnya, tapi senyumnya kembali hilang karna bukan dika yang memanggilnya.


"Siska" ucapnya melihat siska mendekatinya.

__ADS_1


"Kenapa sih lo muka lo di tekuk kayak anak kucing yang belum mandi."


"Maklum lah nak, ada yang lagi kangen sama pacarnya." ledek bu sarah.


"Ha ha kirain lo gak naik kelas." siska menyenggol bahu airin.


Bel masuk telah berbunyi, tapi bukan masuk kelas melainkan berkumpul di lapangan. Para siswa telah berbaris berdampingan dengan orang tuanya. Hanya yang mendapat juara kelas yang maju kedepan, selebihnya rapor akan di bagikan di dalam kelas. Airin adalah salah satu murid yang di panggil kedepan, dia mendapat kan peringkat pertama di kelasnya. Ibu nya sangat bangga melihat putrinya yang tidak pernah mengecewakannya di dalam pelajaran.


"Bu dika kok belum datang juga ya bu, di telvon juga aktif nomornya." airin bertanya kepada ibunya dengan nada khawatir setelah penerimaan rapor selesai.


"Mungkin sebentar lagi nak kita tunggu aja dulu."


"Tapi ini udah jam 10 bu"


"Rin lo kenapa belum pulang." tiba-tiba siska datang menghampiri airin dan ibunya.


"Gue lagi nungguin dika." airin menjawab dengan nada lesu.


"Emangnya lo jadi pergi liburan ke bali?"


"Jadi, tapi masalahnya sampai sekarang dika belum datang juga." airin tampak menahan air matanya, karna dari semalam perasaannya benar-benar tidak enak.


"Sabar ya gue temanin deh, lo nungguin dika."


"Udah pulang tadi, katanya ada urusan."


"Owh ya udah. Bu kalau ibu mau pulang duluan gak apa aku mau nungguin dika disini."


"Tapi kamu gak apa nak, ibu khawatir sama kamu."


"Gak apa bu, lagian kan ada siska yang nemanin aku bu." airin mencoba meyakinkan ibu nya.


"Ya udah, tapi kalau ada apa-apa kamu cepat kabari ibu ya."


"Iya bu." airin mencium tangan ibunya.


"siska ibu titip airin ya."


"Iya bu, ibu jangan khawatir, ada siska disini." siska ikut mencium tangan bu sarah.

__ADS_1


Sudah jam setengah 12 tapi dika belum juga datang. Airin semakin gelisah mondar-mandir di depan sekolah. Sudah puluhan kali dia menghubungi dika tapi jawabannya masih sama, gak aktif.


"Rin lo jangan kayak setrikaan dong, gue yang pusing ngliat lo."


"Sis perasaan gue gak enak banget. Harusnya sekarang gue udah di bandara, tapi kenapa dika belum datang juga."


"Gimana kalau kita ke rumah lo, siapa tau dika udah nunggu lo disana."


"Benar juga ya bentar gue ngambil motor dulu di parkiran, lo tunggu disini." airin berlari menuju parkiran. Dia beharap dika sudah menunggunya di rumah.


Sampai di rumah airin melihat pintunya tertutup rapat seperti dia tinggalkan pagi tadi. Sunyi tidak ada sosok dika disana. Hatinya semakin gelisah, tidak biasanya dika membatalkan janjinya seperti ini.


"Gimana ini sis, dika gak ada disini."


"Gimana kalau kita ke rumahnya."


"Gue takut sis, orang tuanya gak suka sama gue, gue pernah di usir disana."


"Dari pada lo gak tenang kayak gini, mendingan di maki, tapi lo dapat kabar tentang dika." Airin mencoba mencerna ucapan siska. Tapi dia takut membayangkan wajah sangar papanya dika kalau melihatnya datang ke rumah itu. Karna menurutnya airin tidak pantas untuk dika karna airin miskin, anak yatim yang tidak selevel dengan keluarga mereka yang kaya.


"Gimana rin, gak usah takut kan ada dika disana, dia pasti belain lo kok." siska mencoba meyakinkan sahabatnya itu yang tengah berpikir.


"Tapi sis, kalau papanya tau gue mau ke bali sama dika, bukan cuma gue yang kena tapi dika juga akan kena imbasnya."


"Rin dika itu bukan anak kecil lagi yang takut dengan ancaman orang tuanya. gue yakin dia bakalan perjuangin cintanya sama lo."


"...." airin hanya diam.


"Lo mau terus berdiam diri disini dengan perasaan gak tenang kayak gini?."


"Ya udah, tapi lo temanin gue ya."


"Iya gue temenin." Mereka kembali menaiki motor matic warna hitam itu menuju rumah dika.


Rumah mewah dengan halaman yang sangat luas itu tampak sepi, tidak ada mobil di halaman rumah, bahkan pintunya tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.


"Rin kayaknya rumah ini kosong deh, pagarnya aja di gembok."


"Kok aneh ya sis, satpam yang biasa disini juga gak ada." airin sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Siska langsung memeluk sahabatnya itu dan mecoba untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Sabar rin, lo harus tenang.Lo tunggu aja kabar dari dika, gue yakin dia pasti punya alasan untuk semua ini."


"Ada apa ini sebenarnya sis.?" airin tidak mampu lagi berkata. Hanya air matanya yang mewakili bagaimana perasaannya saat ini. Bahkan duniapun tampak mengerti apa yang di rasakannya, tiba-tiba hujan turun membasahi kota jakarta. Airin tidak mau beranjak dari depan pagar rumah mewah itu, dia membiar kan tubuhnya di guyur air hujan. Siska dengan setia masih menemaninya di tengah guyuran hujan.


__ADS_2