Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
KEHIDUPAN BARU


__ADS_3

Part 49:


Nadia membenamkan kepalanya pada peti jenazah itu. Tangan nya ia lingkarkan pada peti jenazah seraya mengusap-ngusap nya.


Semua orang hanya bisa diam menyaksikan pandangan memilukan itu. Bahkan tak sedikit pula yang ikut menangis.


" Kamu janji kan sayang gak bakal ninggalin aku?. Kita udah janji untuk membina keluarga kecil yang bahagia!. Bahkan kamu sendiri yang bilang, kalau kamu akan berusaha kuat demi aku dan cinta kita." Ucap nya pilu. Ia lantas mengangkat kepalanya dan memandang tajam pada pada peti jenazah itu.


" Tapi sekarang apa yang kamu lakukan?, Tugas kamu buat bahagiain aku itu belum selesai Daniel!. Kenapa berani-berani nya kamu pergi kayak gini!. Kamu tuh gak punya hati!!." Hardik nya pada peti jenazah. Ia tahu sekarang Daniel tidak bisa lagi merespon, namun ia hanya ingin melampiaskan kekesalan dan kesedihan nya saja.


Seseorang dari belakang nya menyentuh lembut pundak nya. Nadia pun menoleh pada orang itu yang ternyata adalah Cetrin. Cetrin merasa tak tahan melihat kerapuhan menantunya itu. Ia lantas berjongkok agar tinggi mereka sejajar. Ia lantas menarik Nadia kedalam pelukannya. Nadia pun menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Cetrin, menumpahkan segala beban yang saat ini ia rasakan.


***********


Sore itu, jenazah Daniel sudah selesai di makamkan. Rintik-rintik hujan pun mengiringi peristirahatan terakhir nya, seakan mereka juga ikut merasakan duka yang mendalam bagi seluruh keluarga Diendra Gautama.


Kini Nadia berada di kamar nya. Sejak pemakaman berlangsung hingga detik ini, Nadia sama sekali tidak mau berbicara kepada siapapun. Ia seakan mengurung diri nya di kamar.


Saat itu, Andre masuk dengan membawakan sepiring nasi beserta lauknya dan air putih ke dalam kamar Nadia. Ia berencana untuk membujuk Nadia untuk makan, karena memang sejak pagi tadi hingga menjelang malam, Nadia sama sekali tidak makan apa-apa.


Andre lantas meletakkan nasi dan air putih yang ia bawa ke atas nakas. Dia pun duduk di sisi ranjang Nadia.


" Nad, makan dulu ya!. Dari pagi tadi kan kamu belum makan apapun, nanti kamu sakit loh kalau gak makan." Bujuk Andre. Namun yang ia dapatkan hanyalah kebungkaman dari mulut Nadia. Matanya menatap lurus ke depan. Pandangan nya kosong dan hampa.

__ADS_1


Andre hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat. Namun ia tak berhenti sampai di situ, dia tetap berusaha untuk membujuk Nadia agar mau makan.


" Nadia. ayo, makan ya!. Kalau kamu mau makan, kakak janji deh bakalan nurutin semua kemauan kamu." Dan kali ini seperti nya berhasil, akhirnya Nadia mau merespon. Dia menatap ke arah Andre dengan memicingkan mata nya.


" Janji?." Ucap Nadia memastikan. Andre pun lantas mengangguk semangat.


" Iya, buat kamu apa sih yang enggak." Jawab Andre.


" Kamu memangnya minta apa?." Tanya Andre. Nadia mengalihkan pandangan ke depan kembali, dengan tatapan tajam.


" Balikin Daniel ku!." Satu kalimat yang membuat Andre tertegun dan nampak gugup entah karena apa. Padahal Nadia mengatakan seperti itu dalam kesadaran yang tak sepenuhnya.


" Ka_kamu ngomong apa Nadia?. Mana mungkin Daniel bisa balik lagi, dia kan sudah meninggal." Jelas Andre terlihat gugup. Mendengar kata 'meninggal', ia seolah tersadar dan tiba-tiba ia pun terisak.


" Ya sudah tidak apa-apa, kakak maklum kok. Kakak tahu kalau kamu masih syok dengan apa yang baru saja terjadi akhir-akhir ini." Andre mengulas senyum nya, lalu mengusap pucuk kepala Nadia dengan sayang.


" Sekarang kamu makan ya!. Kalau kamu gak mau makan dan akhirnya sakit, maka Daniel akan sedih ngeliat kamu dari alam sana." Nadia mengangkat kepalanya, dan akhirnya mengangguk lemah.


**********


Satu tahun berlalu, setelah kepergian Daniel dari hidup Nadia, membuat nya seakan kehilangan arah.


Hari-hari nya ia habiskan hanya mengurang diri di kamar nya. Wajah cantik nya terlihat sangat pucat dan tak terawat, lingkar mata nya terlihat cekung karena seringnya menangis. Terkadang Nadia juga bisa tiba-tiba histeris, tiba-tiba juga bisa berbicara sendiri seolah ia sedang berbicara kepada Daniel atau ibunya.

__ADS_1


Diendra, Cetrin dan Andre sudah mengupayakan pengobatan pada banyak pisikolog. Namun Nadia tak kunjung sembuh.


Hingga pada akhirnya, Diendra memilih pindah rumah dan bermaksud agar kenangan-kenangan yang ada di rumah tersebut bisa mereka lupakan, terlebih Nadia. Dia harus menjalani kehidupan baru di tempat yang baru pula.


Dan akhirnya usaha Diendra tidak sia-sia. Setelah mereka pindah, Nadia pun berangsur-angsur pulih seperti sedia kala. Dia juga mulai beraktivitas seperti biasanya. Mulai dari melanjutkan kuliah dan setelah itu dia berencana untuk mencari pekerjaan sendiri.


Nadia hanya berpikir, dia tidak boleh terlalu berlarut-larut dalam kesedihan nya, dia juga harus tetap tegar agar bisa membuat Daniel tersenyum melihat nya di atas sana. Meskipun dia sendiri masih berharap bahwa semua yang dia alami hanya sebuah mimpi, dan dia berharap akan terbangun suatu hari nanti.


Diendra dan Andre juga sudah menyuruh nya agar bekerja di kantor Diendra saja, namun dengan tegas Nadia menolak. Bukan tanpa alasan, Nadia hanya ingin bisa belajar mandiri dan bisa menikmati hasil jerih payah sendiri meski hanya sedikit.


" Gimana Gas, Lo udah dapet alamat rumah barunya?." Tanya seorang musisi yang baru-baru ini namanya melejit lewat suara emasnya. Dia bertanya kepada manajer sekaligus sahabat nya, karena dia sedang mencari alamat rumah seseorang.


" Menurut berita yang gue dapet dari anak buah gue sih, mereka belum dapat petunjuk apa-apa!." Ujar Bagas. Dia pun menggeram tertahan.


Selama satu tahun ini dia sudah mencari wanita itu, namun takdir seolah belum mau mempertemukan mereka.


" Kalau gitu gue akan turun tangan sendiri. Dan gue mau selama seminggu ini Lo kosongkan jadwal manggung gue. Gue mau fokus cari dia!." Ucap nya talak. Dia lantas melenggang pergi. Bagus hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Emang dia percaya kalau Lo masih hidup?." Ucap Bagas dengan lantang, karena jarak mereka yang sudah agak jauh. Dia pun menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Bagas. Dia menyeringai dan tersenyum smirk kepada Bagas.


" Lo pikir cinta nya secetek otak Lo, yang mudah lupa sama sesuatu yang paling berharga?!." Katanya, tanpa menoleh pada lawan bicaranya. Ia lantas melanjutkan langkahnya lagi.


" **Jirr Lo ngatain otak gue cetek. Dasar bucin tingkat kabupaten, woyy!!." Teriak Bagas, namun tak di terdengar lagi oleh lawan bicaranya yang tak nampak lagi keberadaan nya.

__ADS_1


__ADS_2