
Airin membuka matanya perlahan, kepala nya terasa berat dan pusing, pandangannya buram.
"Dimana aku? " gumamnya.
"Syukur lah anda telah sadar, sekarang anda di rumah sakit. " airin melihat ke arah suara, samar-samar dia melihat laki-laki berjas putih berdiri di samping nya.
"Apa suami saya ada disini dok? "
"Dari tadi tidak ada siapa-siapa disini."
"Siapa yang mengantarkan saya kesini?"
"Saya tidak tahu pasti, tapi kata suster anda diantar oleh taksi dalam keadaan pinsan." airin terdiam mendengar nya, suaminya benar-benar tidak peduli lagi dengan nya. "Sebaiknya anda hubungi keluarga anda, ada hal yang sangat penting yang akan saya sampai kan"
"A-ada apa dok, apa bayi saya baik-baik saja. "
"Bayi anda baik-baik saja tidak ada masalah. Cuma! "
"Apa dok, beritahu saya. "
"Anda mempunyai penyakit yang sangat serius."
"A-apa itu dok, akhir-akhir ini kepala saya sering sakit dok. "
"Kanker otak"
__ADS_1
Deg, deg
Airin menangis mendengar perkataan dokter itu, kenapa cobaan seolah-olah tidak pernah ada habisnya menghukumnya. Apakah sebesar itu dosa yang dia lakukan.
"Ini baru stadium awal, kita masih bisa melakukan pengobatan untuk penyembuhan anda, seperti kemoterapi dan operasi, tapi itu akan mempengaruhi bayi dalam kandungan anda. Sebaiknya langkah awal yang harus kita lakukan adalah pengangkatan janin anda. "
"Berapa lama saya bisa bertahan kalau saya tidak melakukan itu. "
"Kemungkinan 1 sampai 2 tahun, tapi penyakit anda masih bisa di sebuhkan kalau kita mengambil tindakan sekarang . "
"Gak dok, saya tidak akan menggugurkan kandungan saya, hanya ini yang saya miliki saat ini. "
"Baik lah, kalau anda berubah pikiran anda bisa menemui saya kapan saja, saya akan memberikan resep obat untuk penghilang sakit pada kepala anda, dan tenang saja obat ini tidak akan mempengaruhi bayi anda, tapi nona kanker ini cepat sekali menyebarnya, dan bisa merenggut nyawa anda kapan saja, kalau menurut saya sebaiknya di lakukan pengobatan sebelum terlambat. "
"Apa saya sudah boleh pulang dok?"
"Makasi dok. "
**
Airin memasuki kamarnya dan lansung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Di lihat nya jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, tapi suaminya belum pulang juga . Banyak sekali pertanyaan yang akan dia tanyakan tapi kepala nya terlalu sakit dan memilih untuk tidur tanpa menunggu suaminya pulang.
Jam menunjuk kan pukul sepuluh malam. Perlahan ilham membuka pintu kamarnya, dia tau istri nya pasti sudah tidur, dia tidak mau airin terbangun dan berdebat tengah malam ini.
Ilham duduk di tepi ranjang dan melihat airin yang sedang terlelap, ilham mengusap pipi airin yang tampak pucat.
__ADS_1
"Maafkan aku airin." hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ilham menitikan air matanya tanpa sadar. Dia sangat sedih melihat orang yang dicintainya seperti ini, tapi penghianatan yang di lakukan airin seolah menutup hatinya membuat nya sangat sulit untuk memaafkan.
Airin terbangun saat jam menunjuk pukul 6 pagi, seperti biasa dia tidak melihat suaminya di dalam kamar, entah jam berapa suaminya itu bangun dan berangkat kerja.
Masih terlalu pagi untuk nya kalau turun ke bawah, tapi kepala nya sangat sakit dan dia harus minum obat tapi perut nya masih kosong, dia harus sarapan terlebih dahulu.
Hampir satu jam airin menunggu dan dia sudah tidak tahan lagi menahan sakit dan memilih untuk turun.
Airin tidak melihat siapa-siapa di meja makan, hanya sisa makanan yang belum di bersihkan oleh pelayanan. Airin duduk di meja makan dan mengambil piring, biarlah dia makan makanan sisa karena kalau masak dulu tidak sempat dia harus segera minum obat.
"Eh, eh, siapa yang ngizinin kamu makan. Enak banget kamu ya udah numpang trus mau makan seenak jidat mu. Masak dulu sana baru makan. " ucap bunda tiba-tiba muncul dari belakang.
"Tapi bunda ini kan makanan sisa. "
"Berani kamu ya menjawab. Lebih baik saya berikan makanan sisa ini ke kucing dari pada kamu." ucap bunda berteriak. "Bi, bi , buang semua makanan ini. "
Airin menangis terisak mendapatkan perlakuan mertuanya itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.
Setelah bunda pergi airin berjalan menuju dapur dan mengambil bahan untuk di masaknya. Pelayan yang melihat nya sangat kasihan dan ingin sekali membantu nya, tapi apalah daya mereka hanya seorang pembantu dan kalau ketahuan mereka akan di pecat.
"Nyonya hidung anda berdarah. " ucap pelayan yang memperhatikan airin tengah memotong sayuran. Refleks airin mengusap hidungnya ternyata benar, pelayan itu memberi kan tisu kepada airin.
"Nyonya biar saya saja yang melakukan nya, seperti nya anda kecapean. "
"Tidak bi, nanti bunda marah lagi. "
__ADS_1
"Tapi non kasihan bayi anda, sebaiknya anda tunggu di kamar, saya akan hati-hati tidak akan ketahuan. "
Airin tersenyum setidaknya masih ada yang peduli dengan nya, ya meskipun hanya pelayan. Airin mengangguk dan pergi ke kamar nya, sebenarnya dia juga sudah tidak tahan kepala nya sangat sakit.