Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
EMOSI ANDRE


__ADS_3

Part 58:


" Duh kamu kenapa nak? Kamu sakit?" Tanya Cetrin pada menantu nya itu, namun karena masih belum selesai dengan mual nya, Nadia pun tak bisa menjawab, Cetrin hanya terus memijit tengkuk leher Nadia hingga Nadia berhenti mual.


" Gimana sayang, masih mual?" Tanya Cetrin saat mereka sudah kembali duduk di kursi meja makan.


" Udah agak mendingan ma." Jawab Nadia.


Tak berselang lama, Diendra yang baru keluar dari kamar nya pun ikut bergabung bersama mereka.


" Wih, udah berkumpul aja nih." Seru Diendra, nampak ia lantas memandang ke arah Nadia dan nampak heran dengan wajah gadis itu yang terlihat agak pucat tak seperti biasanya.


" Nadia, kamu sakit nak? Kok pucat?" Tanya Diendra.


" Enggak pa, cuma masuk angin sedikit." Jawab nya, Diendra nampak mengangguk mengerti, ia kembali melanjutkan mengambil makanannya dan menyantap nya.


" Nadia, kamu harus makan dulu, abis itu baru deh minum obat dan istirahat!" Cetrin menyodorkan makanan di depan Nadia, namun entah mengapa perut nya semakin terasa mual dan penciuman nya pun terasa aneh, ia lantas menutup hidung nya saat aroma makanan itu seakan mengobrak-abrik Indra penciuman nya.


" Ma please, makanan nya jauhin! Bau banget, Nadia gak suka." Keluh nya, dia juga mendorong makanan itu agar menjauh dari nya.


" Loh Nad, ini makanan nya enak banget loh." Cetrin pun juga mencium aroma makanan tersebut.


" Tuh wangi lagi aroma nya, cobain deh!" Cetrin menyodorkan kembali makanan tersebut di dapan Nadia, namun Nadia semakin tak tahan di buat nya, dia kembali mual dan berlari ke Westlife.


" Hueeeeek,,,,,,,,. Hueeeeek!!"


" Loh ma, Nadia kenapa?" Tanya Diendra khawatir.


" Gak tau pa, aneh banget tuh anak." Keluh Cetrin.


" Apa perlu kita ke rumah sakit Nad?" Tanya Andre Setelah Nadia kembali ke meja makan.

__ADS_1


" Gak perlu kak! Nadia gak papa kok, palingan cuma masuk angin biasa, minum obat sama istirahat aja udah cukup kok." Tolak Nadia.


" Yakin kamu gak mau ke rumah sakit? Atau kalau enggak kita telpon dokter pribadi aja suruh ke sini, gimana?" Kata Cetrin memberi saran.


" Terserah mama aja deh, Nadia mau ke kamar dulu, mau istirahat." Ucap Nadia pasrah. Ia lantas melenggang ke kamar nya dengan berjalan gontai. Diendra, Cetrin dan Andre pun hanya bisa menggeleng melihat tingkah Nadia.


Dan benar saja, tak berapa lama Diendra, Andre dan Cetrin pun masuk ke dalam kamar Nadia dengan membawa seorang dokter wanita yang masih nampak muda.


Nadia yang semula tertidur pulas pun terkejut dengan kedatangan mereka ke kamar nya, ia lantas duduk dan mengucek matanya yang masih terasa berat.


" Pa, ma, ka Andre, kalian ngapain di sini?" Tanya Nadia yang masih setengah sadar.


" Mau periksa kamu lah Nadia, emang mau apa lagi kita ke sini bawa Dokter kalau gak buat periksa kamu?" Jelas Andre. Nadia hanya mengangguk, karena efek pusing nya ia hanya bisa pasrah apapun yang terbaik untuk nya.


" Bisa saya minta semua nya untuk keluar! Karena saya akan segera memeriksa nona Nadia." Pinta sang dokter.


Semua nya lalu keluar agar dokter tersebut lebih leluasa untuk memeriksa Nadia.


" Selamat ya nona Nadia, saat ini anda sedang mengandung, usia kandungan nya sudah memasuki trimester pertama yaitu tiga Minggu." Jelas dokter tersebut. Entah sekarang Nadia harus senang atau malah khawatir dengan kehamilannya saat ini, mengingat keadaan rumah tangga nya yang tidak memungkinkan untuk kehamilan nya saat ini.


Tanpa di sangka-sangka, keluarga nya yang sedari tadi sedang berada di luar, mendengar semua yang di katakan dokter tersebut. Sungguh mereka terkejut serta syok bukan main mendengar nya, mereka tak habis pikir Nadia serendah itu. Apa lagi Andre yang sedari tadi sedang menahan emosi nya, tangan nya mengepal erat hingga terlihat dengan jelas urat-urat tangan nya.


Brakkk


Bunyi pintu di dobrak dengan keras.


Andre yang kalap dan terlampau emosi, mendobrak pintu kamar Nadia dengan kuat, hingga membuat Nadia dan dokter itu terkesiap.


"Dre!" Ucap Cetrin berniat mencegah anak nya itu agar tidak meluapkan emosi nya pada Nadia, ia juga memegang tangan Andre, berharap anaknya itu menghentikan niatnya.


" Kak Andre! Kenapa kenceng banget sih kak? Kaget tau." Keluh Nadia. Andre lantas mendekati Nadia dan tiba-tiba langsung mencengkeram dagu Nadia dengan erat, hingga membuat Nadia kesakitan, dan tentunya semua orang pun ikut panik dan berteriak histeris dengan aksi yang dilakukan Andre tersebut.

__ADS_1


"Argh,,,,,, s_akit kak, le_pas!" Rintih Nadia. Diendra dan Cetrin juga berusaha untuk mencegah Andre agar tidak bertindak lebih jauh dan membuat Nadia terluka.


" Dre jangan nak! ingat, Nadia itu adik kamu." Ucap Cetrin histeris.


" Iya nak, kasian dia sedang hamil." Timpal Diendra yang juga ikut menengahi.


" Maaf pak, nona Nadia saat ini sedang hamil, jika bapak begitu akan membuat janin serta ibunya terluka!" Tambah sang dokter.


" Saya tidak perduli! Yang saya inginkan saat ini, perempuan ini jujur, siapa ayah dari bayi yang ia kandung?" Ucap Andre dengan penuh penekanan. Andre juga semakin mempererat cengkraman nya pada leher Nadia hingga membuat nya kesulitan bernapas.


" Ka_ka sa_kit,,,,,,, argh!!" Rintih Nadia dengan Isak tangis yang tertahan.


" Bilang sama kakak, siapa pria yang telah menodai kamu?" Tanya Andre sekali lagi, kali ini dengan penuh emosi.


Nadia hanya bisa menggeleng karena suaranya tercekat karena cengkraman dari Andre.


" Andre sudah!!"


Plakkkk


Diendra yang kehabisan akal untuk mencegah aksi Andre, pun terpaksa menamparnya, dan perlahan cengkraman nya pun terlepas dari leher Nadia.


" Uhuk,,,,,,uhuk,,,,,,, uhuk!" Nadia mulai mengatur nafasnya yang tersengal.


" Katakan sekarang Nadia, siapa pria itu?" Tanya Andre seakan tak bosan menanyakan hal yang sama berulang kali. Nadia masih enggan menjawab, ia masih merasa trauma dengan perlakuan Andre terhadap nya.


" Jika tidak ada keperluan lagi, kalau begitu saya permisi dulu pak, Bu nona." Ucap dokter tadi menyela percakapan satu keluarga itu.


" Iya dokter, silahkan! Dan terima kasih karena sudah berkenan datang ke sini." Jawab Diendra.


" Sama-sama pak, kalau begitu saya permisi dulu." Setelah berpamitan, dokter tersebut pun pulang, dan Diendra serta Andre mengantarkan nya sampai di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2