
Part 65:
Sungguh, jika dikatakan emosi, dia sangat emosi saat ini. Namun tadi, dia sendiri telah berjanji pada orang tuanya bahwa dia tidak akan marah jika telah mengetahui bahwa Nadia diusir
Saat ini Daniel sedang mondar-mandir seraya memijit pangkal hidungnya. Setelah puas mondar-mandir seperti setrikaan, ia pun lantas duduk di sebuah kursi seraya memegangi kepalanya.
Saat ini ia sedang sangat pusing. Pikirannya kalut karena ponsel Nadia yang ia hubungi sedari tadi tak kunjung aktif.
Sedangkan kedua orang tuanya hanya bisa tertunduk diam karena merasa sangat bersalah.
Tak lama, sebuah notifikasi pesan dari Bagas pun masuk. Ia segera mengecek ponselnya.
Setelah ia membaca dan mengamati isi pesan dari Bagas tersebut, ia menjadi semangat. Kepalanya yang semula tersandar lesu, kini terangkat sempurna saat membaca isi pesan dari Bagas yang tentunya itu menyangkut Nadia.
Dengan semangat yang berkobar, ia segera meraih Hoodie berwarna hitamnya dan segera pergi tanpa sepatah katapun.
Namun langkah berhenti saat sang ayah, Diendra memanggilnya dan menanyakan keterburu-buruan nya tersebut.
" Mau kemana kamu Nak, kok buru-buru sekali. Memangnya tadi pesan dari siapa?" Daniel sempat memalingkan wajahnya untuk menghadap pada Diendra, lantas tersenyum manis pada mereka.
" Papa sama Mama di rumah aja ya. Aku mau ada urusan sebentar sama temen. Nanti kalau Mama atau Papa mau makan, itu di kulkas banyak bahan yang bisa dimasak kok. Aku pergi dulu ya," ucapnya.
Setelah berkata demikian, Daniel pun segera berangkat menemui Bagas tanpa menghiraukan lagi panggilan dari kedua orang tuanya.
" Gimana, sekarang lokasi mereka dimana?" Tanya Daniel pada Bagas. Saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe tak jauh dari villa nya. Mereka sedang membicarakan suatu hal yang sangat penting.
" Menurut lokasi yang gue lacak sih, itu gak terlalu jauh dari kota ini. Mudah-mudahan itu bener ya." Daniel mengangguk-angguk setuju, sedangkan Bagas kembali menyeruput kopi latte yang ia pesan tadi.
__ADS_1
Saat ini mereka sedang merencanakan pembebasan untuk Nadia. Tadi setelah orang tua Daniel mengatakan bahwa Nadia pergi dalam keadaan seorang diri, perasaan Daniel menjadi tidak nyaman. Pikirannya selalu mengatakan bahwa saat ini Nadia sedang dalam bahaya. Daniel lantas segera mengirim pesan pada Bagas untuk mencari keberadaan Nadia, karena Daniel tahu betul bahwa Bagas pasti bisa menanganinya. Dia tahu bahwa Bagas memang ahli dalam bidang detektif. Jadi, selain menjadi mengejar pribadi sekaligus teman Daniel, Bagas juga sangat ahli dalam bidang lacak-melacak. Karena sebenarnya cita-citanya sejak kecil ialah menjadi seorang detektif swasta, namun karena orang tuanya tidak setuju, terpaksa ia memilih menjadi seorang manajer artis saja, dari pada harus menuruti keinginan orang tuanya agar dia menjadi seorang ustadz yang memang itu bukan keahliannya.
" Nanti, setelah kita berhasil nyelamatin Nadia, gue akan hubungi polisi secepatnya," ucap Bagas, dan lagi-lagi Daniel pun mengangguk.
Beberapa menit kemudian setelah keluar dari kafe, Daniel dan Bagas memutuskan untuk melaksanakan rencana awal mereka, yaitu menemukan lokasi penyekapan Nadia.
Setelah beberapa jam mencari, akhirnya mereka sampai disebuah rumah sederhana namun nampak di hias dengan indah. Namun sayangnya di sana dijaga dengan ketat oleh beberapa pria yang berpakaian serba hitam.
Mereka berdiri dengan tegap, bak patung pajangan.
Daniel dan Bagas berencana untuk mengecoh mereka dan mematikan beberapa sambungan CCTV.
Setelah Bagas berhasil mengecoh dua
penjaga yang ada di pintu utama dengan melempar batu ke arah semak-semak, Daniel pun segera mendekati pintu tersebut yang terdapat CCTV di sana, lalu merusaknya dengan cara di pukul menggunakan sebilah kayu.
Setelah berhasil, Bagas dan Daniel pun dengan sesegera mungkin masuk kedalam rumah tersebut, sebelum dia penjaga tersebut menyadarinya.
Tampang dan tubuhnya lebih sangar dan menyeramkan dari pada yang berjaga di pintu utama tadi.
Daniel dan Bagas dibuat tercengang serta menelan ludah berkali-kali melihat kelima penjaga tersebut. Mereka berpikir, apakah ini hari terakhir untuk mereka? Atau setelah ini, mereka akan dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi yang sangat kritis. Yang jelas saat ini tekat mereka sudah bulat untuk menyelamatkan Nadia, terlepas selamat tidaknya mereka, itu tergantung takdir dan nasib mereka sendiri.
Daniel dan Bagas harus menunggu waktu yang tepat untuk menyerang mereka tanpa harus menggunakan tenaga dalam.
Namun nasib berkata lain. Mereka ketahuan oleh dua orang penjaga yang berada di luar tadi. Mungkin mereka merasa curiga hingga akhirnya menyelidikinya.
Daniel dan Bagas digiring ke sebuah gudang. Setelah sampai di sana, mereka dihadapkan pada Andre dan Mira yang nampaknya sudah sedari tadi di sana. Bukan hanya mereka, di sana juga terlihat Nadia yang sedang di ikat pada sebuah kursi kayu. Mulutnya di dilakban, sehingga dia sama sekali tak dapat berbicara. Tangan dan kaki yang di ikat, membuatnya sulit untuk bergerak, hanya suara samar dibalik lakban tersebut lah yang dapat di dengar oleh Daniel.
__ADS_1
" NADIA!" Seru Daniel.
Ingin rasanya ia menghampiri istrinya itu dan memeluknya, namun apalah daya. Tangannya di pegang oleh dua anak buah Andre sekaligus, sehingga ia pun sulit untuk bergerak.
Nadia tak dapat menjawab. Hanya air mata dan suara samar nya lah yang mampu ia keluarkan.
" Gimana Daniel, masih mau ngelawan gue?" Ucap Andre sambil tertawa puas.
Begitupun dengan Mira, ia tersenyum smirk sambil melangkah mendekati Daniel dengan gaya lenggak-lenggok bak wanita penggoda. Pakaiannya juga cukup seksi, seolah itu semua sudah ia rencanakan untuk memikat Daniel dengan pesonanya.
Dia mendekati Daniel dan duduk tepat dipangkuan nya. Karena posisi Daniel saat ini sedang duduk terikat disebuah kursi.
Membelai serta menciumi wajah serta leher Daniel. Membuat siapa saja yang melihat akan memalingkan wajah mereka.
Mira sengaja melakukan itu untuk membuat Nadia terluka melihatnya. Sedangkan Daniel merasa sangat risih. Ia juga mencoba menghindar dengan cara memaling-malingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, sambil mengumpat tak henti-henti.
" Pergi kau ja*ang. PERGI!" Teriak Daniel.
" Tenang sayang. Nikmati saja!" Ucap Mira dengan suara mendayu-dayu yang di buat-buat.
Sedangkan Nadia, hanya bisa menangis tanpa suara di sudut sana. Matanya ia pejamkan kuat-kuat agar ia tak melihat pemandangan yang menyakitkan itu.
" Wah Mira, kau benar-benar handal dalam hal merayu. Aku yakin, sekarang Daniel pasti sedang berna*su." Semua orang yang berada di sana tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Andre yang terdengar fulgar itu, terkecuali Bagas, Nadia, dan Daniel itu sendiri.
" Ah kak Andre bisa saja. Apa sekarang boleh ku bawa dia ke kamar?" Tanya Mira yang sebenarnya hanya lelucon semata. Sontak semuanya kembali tertawa.
" Boleh sekali Mira. Sudah ku siapkan kamar khusus untuk kalian memadu kasih," lanjut Andre. Tiba-tiba,,,,,,,
__ADS_1
Brakkk
" JANGAN BERGERAK!!!"