Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
DI SEKAP


__ADS_3

Part 63:


Dengan derai air mata seakan membanjiri ruang hatinya. Nadia terisak sambil mengemasi barang-barangnya untuk di masukkan ke dalam koper miliknya.


Dengan langkah gontai, Nadia meninggalkan kediaman Diendra Gautama dengan berat hati.


Ia menyusuri jalan raya dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang. Suara bising kendaraan, debu dan panas matahari seakan menjadi temannya saat ini.


Nadia berniat akan mencari kontrakan yang sederhana dan murah. Untung uang hasil gajinya ia sisihkan sedikit, jadi dia tak terlalu bingung harus kemana. Hanya saja, jarak kontrakan yang ia tuju letaknya sangat jauh, hingga ia terpaksa berjalan kaki lebih lama lagi.


Sedangkan uangnya tidak cukup jika harus membayar kendaraan lagi.


Kebetulan baterai handphone nya lowbat, karena dia lupa untuk mengecas nya sebelum Cetrin mengusir nya tadi.


Nadia mengusap keringat nya yang mulai bercucuran. Jalan raya yang ia tapaki, kebetulan sudah mulai sepi. Sangat jarang kendaraan yang lalu lalang di sana. Mungkin karena memang jalan itu jarang di lalui pengendara, karena kondisi jalan yang kurang baik.


Nadia bingung. Ingin menghubungi suaminya, baterai handphone nya sedang lowbat. Dia sendiri juga kurang tau daerah itu.


Ciritttt


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Nadia tak menghiraukan keberadaan mobil tersebut. Ia semakin mempercepat langkahnya agar segera menjauh dari mobil itu.


Nadia hanya takut. Di jalanan sepi seperti itu, ia harus selalu waspada dengan siapa saja yang dia temui.


" Nadia!" Seseorang menyerukan namanya. Merasa mengenali suara tersebut, Nadia pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada orang yang memanggilnya tersebut.


" Kak Andre, kenapa kakak ada di sini?"


" Kakak khawatir sama kamu. Kakak mau jemput kamu." Nadia tersenyum miris.


" Gak perlu kak. Nadia gak akan pernah pulang lagi ke rumah itu." Ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Kakak tahu. Tapi kamu sedang hamil. Jalanan tidak baik untuk kehamilan kamu."


" Sejak kapan kakak mengkhawatirkan kehamilan Nadia? Bukannya kakak yang dari awal tidak menyukai kehamilan Nadia ini." Nadia mengusap perutnya sambil tersenyum miris.


" Iya Kakak salah, kakak minta maaf. Kakak cuma tidak mau kamu terjerumus dalam pergaulan bebas, itu saja. Tapi setelah kakak tahu Daniel masih hidup, kakak jadi menyesal karena telah menuduh mu yang bukan-bukan." Kelit Andre.


" Kakak pasti di kasih tau sama papa atau mama ya?"

__ADS_1


" Iya, mereka yang ngasih tau kalau Daniel masih hidup, dan ngasih tau kalau kamu,,,,,,." Andre menggantung ucapannya, karena dia yakin, Nadia pasti sudah mengerti maksud ucapannya.


" Apa mereka juga menugaskan kakak untuk jemput Nadia?" Tanya Nadia dengan penuh harap. Matanya sudah berbinar, menunggu jawaban dari Andre.


" Tidak Nadia. Mereka tidak menugaskan kakak untuk itu. Tapi kakak memang akan menjemput kamu kok."


Seketika raut wajah Nadia yang semula senang, kini kembali murung. Sungguh ia sangat berharap mertuanya itu menarik ucapannya dan menerimanya kembali di rumah itu. Tapi harapannya pupus, ia seolah di hempas kan ke jurang yang curam, sehingga rasa sakitnya begitu amat terasa.


" Gak usah kalau gitu kak. Aku bisa sendiri kok." Tolak Nadia.


" Tapi kamu harus ikut kakak sekarang! Kakak akan mencarikan kamu tempat yang layak Nadia."


" Gak perlu kak. Nadia bisa sendiri." Nadia tetap kekeuh pada pendiriannya.


Karena kesal akibat Nadia tak menurutinya, Andre lantas mendekati Nadia. Awalnya Nadia tak menaruh curiga, namun tiba-tiba Andre menarik paksa tangan Nadia, sehingga membuat Nadia ketakutan.


" Kakak bilang, kamu harus ikut kakak!" Tanpa rasa kasihan, Andre menarik paksa Nadia untuk masuk ke dalam mobilnya.


" argh,,,,, sakit kak. Gak mau,,,,, lepas!" Jerit Nadia.


" Ayo, masuk Nadia!!" Andre semakin kasar menarik tangan Nadia. Dan terjadilah aksi saling tarik-menarik. Dan akhirnya Andre yang berhasil membawa tubuh Nadia masuk ke dalam mobilnya.


Andre hanya menyeringai tanpa mengucapkan apa-apa. Ia segera menancap gas mobil nya, dan segera menuju tempat yang dia maksud.


Tak lupa, Andre juga mengikat tangan Nadia, serta menutup matanya, hingga Nadia tak dapat berkutik lagi.


Tak lama sampai lah mereka di sebuah rumah. Kecil, namun nampak mewah. Tempat itu sangat sepi, jauh dari perkotaan dan tak ada satupun rumah lain di sana.


Andre menarik paksa tubuh Nadia dari dalam mobilnya. Mata dan tangannya tak dapat berkutik, karena telah di ikat oleh Andre. Dia hanya bisa berteriak dan menangis, namun sayangnya tak ada yang mendengarnya.


" Nadia mau di bawa ke mana kak. Aku gak mau." Rintih Nadia dengan terisak pilu.


" Udah kamu diam saja! Aku gak bakalan nyakitin kamu kok."


Hingga akhirnya, Andre membawa Nadia ke sebuah kamar. Ia lantas menghempaskan tubuh Nadia ke atas kasur dengan sangat kencang, hingga Nadia harus menahan perutnya agar tidak kenapa-napa.


" Diam di sini, dan jangan coba-coba untuk kabur!" Gertak Andre.


Nadia terkesiap, ia menundukkan kepalanya karena rasa takut akan Andre.

__ADS_1


Memang bukan hanya sekali Andre menculik dirinya. Dulu dia juga pernah di culik oleh Andre, bahkan hampir di lecehkan olehnya.


Namun yang ia pikirkan saat ini adalah anak yang sedang ia kandung. Jika dirinya kenapa-napa, maka akan terjadi hal yang buruk juga pada janinnya nanti. Dan akhirnya terpaksa dia menurut saja.


Brakkk


Pintu kamar di tutup dengan kasar oleh Andre. Untuk kedua kalinya, Nadia terkesiap oleh perlakuan Andre.


Setelah Andre tak nampak lagi dari pandangannya, Nadia merasa lebih lega. Ia memandang ke arah perutnya, lalu mengusapnya dengan penuh kasih sayang.


" Maafin mama ya nak, mama gak bisa jadi ibu yang baik untuk kamu. Tapi mama janji, mama akan selalu melindungi kamu dari orang-orang yang akan menyakiti kita." Nadia mengajak janin yang ada di dalam kandungannya, untuk berinteraksi.


Tak lama, pintu kamar di buka kembali oleh Andre. Dia membawa nampan berisi air putih dan nasi beserta lauk pauknya.


Dia duduk tepat di samping Nadia, namun Nadia yang sudah terlanjur takut padanya, bergeser menjauh.


" Ini kakak sudah bawakan makan siang untuk kamu. Kamu harus makan sampai habis makanan yang Kakak bawa ini! Kamu gak boleh sampai sakit." Ucap Andre tegas.


Andre yang dulunya selalu lemah lembut terhadap Nadia, kini seakan berubah. Nadia seakan melihat kembali sifat Andre yang dulu. Sifat yang selalu arogan dan tak mau kalah.


" Apa perduli kakak kalau aku sakit?" Nadia memberanikan diri untuk mengatakan itu pada Andre.


" Karena saya tidak mau calon pengantin saya sampai sakit. Kamu paham?!" Bentak Andre.


" Aku gak mau nikah sama kakak." Teriak Nadia dengan lantang.


" Terserah. Kamu mau ataupun tidak, saya tidak perduli lagi. Cukup sekian lama saya mengalah dan membiarkan kalian bahagia di atas penderitaan saya. Kali ini saya tidak akan membiarkan kalian bersatu kembali, kamu dengar?!" Balas Andre dengan intonasi yang sama.


" Kakak jahat!"


Andre tertawa sumbang mendengar hujatan Nadia terhadap dirinya.


" Iya, saya memang jahat dari dulu. Bukankah kamu sudah tahu dari dulu? Tapi kenapa kamu masih percaya dan tinggal bersama saya."


Andre lantas berjongkok di depan Nadia. Nadia hendak menjauh, namun tangannya di cekal oleh Andre, sehingga membuatnya tak dapat pergi.


Andre pun mengusap perut Nadia seraya mengecupnya. Hal itu semakin membuat Nadia ketakutan.


" Sayang, kamu akan menjadi saksi pernikahan ibu dan Om mu ini. Dan sebentar lagi, aku akan menjadi ayah sekaligus Om untuk mu." Ucap nya pada perut Nadia.

__ADS_1


__ADS_2