
Hari ini adalah hari ke 7, seharusnya hari ini ilham akan pulang. Pagi-pagi sekali airin menghubungi suaminya. Semenjak malam itu ilham tidak lagi menghubungi nya, saat airin yang mencoba untuk menghubungi nomornya tidak aktif.
Tut, ,tut,, tersambung, airin tidak sabar menanyakan kepulangan suaminya dan tidak sabar untuk memarahinya karena beberapa hari ini tidak menghubungi nya.
"Hallo, mas ilham nya lagi mandi. "
Deg, , ,
Airin menjatuhkan ponselnya dan memegangi dadanya. Saat mendengar suara wanita yang mengangkat nya.
"Kenapa rasanya sakit sekali, " bahunya bergetar nafasnya memburu. Ini masih jam setengah enam pagi, apa yang mereka lakukan, apa mereka tidur bersama?.
Airin mengambil kembali ponselnya dengan tangan bergetar, tapi ternyata sudah mati. Airin menangis terisak dia juga tidak tau kenapa, dadanya sangat sesak.
Airin kembali mencari no di kontak nya dan menghubungi nya.
"Dika kamu dimana? "
"Aku di rumah, "
"Aku segera kesana. "
*
Ting tong airin, menekan bel rumah dika Berkali-kali,
__ADS_1
"Tunggu sebentar. " terdengar sahutan dari dalam. Saat dika membuka pintu airin langsung jatuh kedalam pelukannya. Dia butuh teman untuk menyalurkan rasa sakit nya saat ini. Dia juga tidak tau kenapa dika yang dia hubungi, biasanya dia akan menghubungi siska.
Dika yang mendapatkan perlakuan tiba-tiba airin terkejut dan tidak membalas pelukannya.
"Airin kamu kenapa.? " tanya dika sambil mengusap kepalanya, airin hanya diam dan semakin terisak di pelukannya. "Kamu nangis? " tanya dika lagi melepas pelukan nya dan menatap wajah airin. "Ya udah masuk dulu. " dika membawa airin masuk dan kembali menutup pintu.
"Kamu kenapa rin, lagi ada masalah. " tanya dika saat mereka sudah duduk di sofa. Airin masih terdiam dan kembali menangis, dika yang melihat itu menarik airin ke dalam pelukannya. Cukup lama mereka berpelukan hingga suara ponsel menyadarkan nya. Saat melihat siapa yang menghubungi nya airin kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Kenapa gak di angkat? " tanya dika.
"Gak, malas. "
"Kamu lagi berantem sama suami kamu?" tanya dika dan airin tidak menjawab. Dika mengerti dengan diamnya airin sudah menjadi jawaban untuk nya.
"Aku ke dapur dulu ya. " ucap dika dan airin mengangguk.
"Hallo. " jawab airin malas.
"Sayang Kayaknya aku gak pulang hari ini, pekerjaan ku belum selesai disini. "
"Berapa lama lagi. " tanya airin judes.
"Belum pasti, nanti aku hubungi kamu lagi."
"Ta-tapi --" ilham sudah memutuskan sambungan telepon nya.
__ADS_1
"Aarrghh" teriak airin sambil melempar ponselnya. Airin kembali menangis dengan satu tangan di atas dahinya. Dika yang melihat mendekati airin dan menggenggam tangannya.
"Airin kamu bisa cerita sama aku. " airin yang merasa ada yang menggenggam tangannya membuka mata dan lansung memeluk dika.
"Ini kamu yang masak? " tanya airin saat mereka sedang berada di meja makan. Airin merasa lebih plong setelah bercerita dengan dika beberapa waktu yang lalu.
"Iya siapa lagi, aku kan tinggal sendiri disini."
"Kok bisa, padahal dulu bikin telur ceplok aja kamu gak bisa. " ucap airin yang di selingi tawanya.
"Iya, tapi kan kamu selalu bawain aku bekal ke sekolah. "
"Dan kamu selalu di ketawain teman-teman kamu karena kotak bekalnya warna pink, ha ha. " tawa airin pecah saat mengingat wajah dika di tertawakan teman satu kelasnya saat mengeluarkan kotak bekal dalam tasnya. Dika senang melihat airin kembali tertawa seperti itu.
Setelah selesai makan airin membawa piring kotor dan mencucinya yang dibantu oleh dika. Dika tersenyum jail dia mempunyai ide untuk mengerjai airin. Dika memercikkan air ke wajah airin, airin tidak terima dan membalas dika tapi bedanya air di tangan airin adalah air sabun, saat mengenai mata dika, dia berteriak histeris.
"Mata ku rin, pedih." dengan cepat airin mencuci tangan nya dan meniup mata dika. Saat mata dika sudah terbuka yang pertama dilihat nya ada bibir airin. Jarak mereka begitu dekat membuat dika tidak tahan untuk tidak melumat bibir yang sangat dia rindukan itu.
Tampa meminta persetujuan airin dika mencium bibir tipis itu dan melumatnya. Awalnya airin hanya diam tak bergeming, tapi Lama-lama dia terbawa suasana dan membalasnya. Dika menarik tengkuk airin untuk memperdalam ciuman nya. Airin merasa ciuman dika mulai menuntut dengan cepat airin mendorong tubuh dika.
"Maaf kan aku airin. Aku terbawa suasana."
Airin tak menjawab, dia berlari ke ruang tamu dan mengambil tasnya.
"Airin kamu marah sama aku? " tanya dika lagi yang melihat airin hendak berlari keluar.
__ADS_1
Airin tak menghiraukannya dan terus berlari menuju mobilnya dan meninggalkan rumah dika.