
Part 59:
Nadia menatap takut pada Andre yang juga menatap nya dengan tatapan tajam.
Ya, setelah mengantarkan dokter tadi, Andre kembali menginterogasi Nadia dengan pertanyaan yang sama, dan dengan mata elang nya yang seolah mematikan.
" Sekali lagi katakan Nadia! Siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?"
Tak bosan-bosannya Andre terus menanyakan hal itu kepada Nadia. Jujur Nadia sangat bingung menjawabnya, alasan apa yang akan Ia katakan pada semuanya, karena saat ini belum waktunya ia jujur tentang Daniel.
" A_aku gak tau kak." Jawab Nadia dengan takut, sedari tadi ia hanya menunduk karena tak berani bertatap muka dengan Andre.
" Sudahlah Ndre! Jangan paksa Nadia terus untuk mengakui nya, beri dia waktu untuk menenangkan diri. Mama yakin, dia juga sangat syok."
Saran Cetrin terdengar bijak, sedangkan Diendra tak mampu bersuara lagi, yang ia lakukan hanya memijat kepalanya yang terasa pusing memikirkan masalah ini.
" Ma, aku cuma mau ngasih pelajaran sama cowok yang sudah berani menyentuh Nadia." Ucap nya dengan lantang karena di penuhi emosi.
" Tapi setidaknya biarkan dia tenang dulu!" Ucap Cetrin menengahi.
" Gak bisa ma, dia harus katakan sekarang juga, siapa laki-laki yang sudah berani menodainya! Aku tidak akan segan-segan untuk memberi pelajaran kepada laki-laki bere**sek itu."
Cetrin hanya bisa menghela nafasnya karena tak sanggup lagi mengendalikan kekeras kepalaan anak sulung nya itu.
" Katakan sekarang sama kakak, biar kakak hajar dia!" Ancam Andre.
Selama lima menit Andre menunggu jawaban dari Nadia, namun Nadia tetap saja bungkam. Hingga akhirnya semakin membuat Andre merasa geram.
" O,,,,,,, apa pria yang mengantarkan mu pulang tempo hari?" Tebak Andre.
" S_siapa maksud kakak?" Tanya Nadia masih dengan ketergugupan nya.
" Pria blasteran yang mengantarkan mu tempo hari, pria yang bersikap sangat manis pada mu. APA DIA YANG TELAH MELAKUKAN NYA?" Tanya Andre dengan suara lantang, tepat di depan wajah Nadia, membuat Nadia terkesiap.
Diendra dan Cetrin terkejut mengetahui fakta itu, mereka sama sekali tidak tahu bahwa Nadia sedang dekat dengan seorang pria hingga mengantarkan nya pulang.
Mereka pun menatap curiga pada Nadia.
__ADS_1
" Apa benar yang dikatakan Andre nak?" Tanya Diendra.
" Bu_bukan pa, dia cuma teman. Dan lagi pun Nadia baru saja mengenal nya." Elak Nadia yang memang benar adanya.
" Ya ampun Nadia! Lalu jika bukan dia, siapa laki-laki yang akan bertanggung jawab atas kehamilan mu itu?"
Diendra merasa frustasi, ia duduk pada sofa yang ada di dekat nya dan menyisir rambut nya ke belakang dengan kasar.
Sedangkan Nadia hanya bisa menunduk dengan wajah polos yang ketakutan, persis seperti anak kecil yang ketahuan maling jambu tetangga nya.😁
" Biar Andre saja pa." Ucap Andre tiba-tiba.
Tentu hal itu membuat kedua orang tua nya terkejut, terutama Nadia yang sangat terkejut dengan usul Andre yang akan menikahi nya.
" A_apa maksud kakak?" Tanya Nadia.
" Iya nak, maksud mu, kamu yang akan bertanggung jawab dengan bayi yang di kandung Nadia?" Timpal Diendra.
" Yah begitulah, apa kurang jelas maksud ku tadi?" Jawab Andre dengan wajah tanpa dosa.
" Tidak kak! Nadia gak setuju, Nadia gak mau nikah sama kakak." Tolak Nadia.
Andre tertawa sumbang mendengar penolakan dari Nadia.
" Nadia, Nadia! Jangan sok-sokan deh kamu, sudah hamil di luar nikah begitu, kamu masih sempat-sempatnya menolak aku." Ucap Andre meremehkan.
Nadia merasa, sifat Andre yang dulu kembali lagi.
Tentu saja begitu, selama bertahun-tahun Andre memerankan sandiwaranya dengan handal, dan akhirnya kini sifatnya yang arogan dan angkuh itu, telah ia bangkitkan kembali.
" Ta_tapi kak, ini bukan anak di luar nikah." Ucap Nadia menyangkal nya.
" Kalau bukan anak di luar nikah, lalu anak apa nama nya yang hadir tanpa ayah? Anak jin?" Ucap Andre dengan lantang. Ia lantas tertawa puas bak seorang penja*at.
Nadia tak menyangka Andre setega itu menghina dirinya, meskipun apa yang di katakan Andre tidak benar adanya, namun tak sepantasnya dia berkata kasar pada Nadia yang selama ini sudah ia anggap seperti adik kandung nya sendiri.
Nadia hanya bisa menangis menerima hinaan dari Andre.
__ADS_1
" Ndre sudah! Tidak sepantasnya kamu mengatakan itu pada adik kamu sendiri!" Ucap Diendra menengahi.
" Lalu aku harus mengatakan bagaimana pa? Apa aku harus mengatakan bahwa itu adalah anak Daniel yang sudah mati?!"
Andre sengaja menekankan kata 'mati', dan melirik pada Nadia yang menangis tersedu-sedu.
" ANDRE CUKUP!!" Bentak Diendra.
Namun tetap saja Andre tidak mengindahkan perintah Diendra, ia malah tersenyum miring dan kembali melanjutkan perkataannya.
" TIDAK PA! Aku tidak akan berhenti sebelum dia tahu, betapa tersiksanya aku selama ini karena berpura-pura tegar agar dia bisa bahagia bersama Daniel!" Tunjuk Andre pada Nadia.
" Sedangkan aku! Aku harus menjadi penonton dalam kisah cinta kalian yang tidak berguna itu! Sungguh miris!" Andre pun tersenyum miris.
" Dan saat seperti ini pun kamu masih menolak ku? PEREMPUAN TIDAK PUNYA HATI!!" Hardik Andre tepat di depan wajah Nadia.
Nadia ketakutan, tangis nya semakin kencang. Tanpa menghiraukan kedua mertuanya dan Andre, Nadia langsung berlari meninggalkan kediaman Diendra.
Sampai-sampai seruan Diendra dan Cetrin tak ia pedulikan lagi.
Cetrin dan Diendra akan mengejar, namun di larang oleh Andre.
" Biarkan dia sendiri dulu!" Ucap Andre tanpa melihat pada lawan bicaranya.
Nadia melajukan mobilnya menuju ke rumah Sisil, ia ingin bercerita kepada temannya itu tentang perlakuan Andre pada dirinya.
Sejam lamanya ia berkendara, akhirnya Nadia sampai juga ke rumah Sisil, Nadia lantas memencet bel pintu rumah Sisil. Dan tak lama setelah itu, Sisil pun membukakan pintu. Nadia langsung memeluk Sisil dengan tiba-tiba, membuat Sisil jadi terheran-heran dengan perlakuan Nadia tersebut.
" Woy, kamu kenapa Nad, kok datang-datang nangis sih?"
Tangis Nadia semakin kencang saat di tanya begitu oleh Sisil, hingga Jonathan yang sedang berada di dalam pun mendengar tangisannya dan langsung menghampiri sumber suara, yaitu Nadia.
" Ada apaan sih Sil? Kok Nadia bisa nangis begitu?" Tanya Jonathan yang baru datang.
Sisil mengangkat bahu nya acuh.
" Mendingan kita cerita di dalam yuk Nad!" Ajak Sisil, dan mereka pun membawa Nadia masuk dan mendudukkan nya pada sofa, serta tak lupa memberikan minum pada Nadia, agar ia lebih rileks.
__ADS_1