
Airin membuka matanya perlahan dan
meraba-raba sisi ranjang nya, tapi tetap saja dia tidak menemukan suaminya. Airin bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya dan menggosok gigi.
Airin memberanikan diri turun ke bawah, siapa tahu suaminya sedang sarapan bersama orang tua nya, tapi airin hanya melihat ayah dan bunda dimeja makan.
"Ayah, bunda mas ilham semalam gak pulang? " tanya airin berdiri di samping meja makan.
"Bukannya itu yang kamu inginkan, kamu senangkan kalau anak saya gak pulang. " jawab bunda dengan kesal. Airin diam tidak tau apa yang harus dia katakan.
"Bunda, ayah berangkat kerja dulu ya. " ucap ayah sambil berdiri meninggalkan meja makan, padahal makanan nya masih banyak.
Bunda melempar sendok dan garpu ke piring nya yang membuat bunyi yang cukup keras. "Saya sudah bilang kan sama kamu, jangan muncul saat kami sedang makan. "
"Ma-maaf bunda, tadi airin hanya ingin melihat mas ilham. "
__ADS_1
"Memangnya apa peduli mu, dasar wanita murahan. " bunda berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan airin.
Airin menangis mendengar perkataan mertuanya, dia benar-benar tidak sanggup menghadapi cobaan hidupnya. Airin mengusap kepalanya yang terasa pusing, entah karena sering menangis atau banyak pikiran akhir-akhir ini kepalanya sering pusing.
Airin duduk di meja makan, perut nya keroncongan melihat makanan di atas meja. Semenjak hamil airin sering lapar, tampa rasa ragu airin mengambil makanan itu dan memakannya, biarlah dia di bilang tidak tau malu dia hanya memikirkan bayi yang di kandungnya.
Airin makan sambil menangis, suapan demi suapannya berkuah air mata, meskipun dia mencoba untuk bersikap cuek dengan segala hinaan, tetap saja dia adalah manusia yang punya hati. Dia merasa harga diri nya telah di injak-injak. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
**
Usia kandungan airin sudah memasuki bulan ke enam. Perut nya sudah membesar, airin agak kesusahan dalam beraktifitas, tapi dia selalu kuat.
Siang ini airin berencana untuk mengantarkan makan siang ke kantor suaminya, dia ingin memperbaiki hubungan nya dengan suaminya. Dia tidak ingin berlarut-larut seperti ini.
Setelah selesai memasak airin berdandan secantik mungkin. Dia tidak mau membuat suaminya malu karena penampilan nya nanti.
__ADS_1
Airin pergi dengan menaiki taksi, semenjak hamil airin tidak pernah mengendarai mobil nya, dia tidak mau mengambil resiko.
Sampai nya di kantor airin langsung menuju ruangan suaminya, karena airin sudah pernah kesana jadi dia tidak perlu lagi bertanya kepada resepsionis.
Dengan senyum yang mengembang di bibirnya airin membuka pintu ruangan suaminya itu.
Deg, deg.
Rantang yang dia bawanya jatuh ke lantai dan isinya berserakan. Airin menelan susah payah salivanya. Badannya bergetar melihat suaminya sedang berciuman dengan sekretarisnya yang dia bilang sudah menganggap nya sebagai adik kandung itu.
Ilham terkejut saat mendengar bunyi rantang jatuh kelantai dan melihat airin berdiri sambil menangis di depan pintu.
Airin membalik kan badan dan berlari keluar dari kantor itu, perut nya yang besar membuat nya kesusahan untuk berlari.
"Airin tunggu. " ilham memanggil namanya tapi tidak dihiraukan nya. Airin terus berlari sambil menyeka pipinya yang basah air mata, dia tidak peduli dengan tatapan karyawan di kantor itu.
__ADS_1
Ketika airin telah berada di dalam lift dia menangis sejadi-jadi nya sampai kepala nya terasa pusing dan pandangan nya gelap.
**