Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
CETRIN PINGSAN?


__ADS_3

Part 56:


Sinar matahari pagi menyapa di balik jendela yang masih tertutup tirai.


Nadia masih setia dengan bantal dan selimut nya, sedangkan Daniel telah bangun sejak pagi-pagi sekali.


" Selamat pagi istri ku!." Sapa Daniel pada Nadia yang masih enggan membuka mata nya.


Ia meletakkan makanan yang ia bawa tadi di atas nakas, ia pun membuka tirai kamar tersebut agar Nadia terbangun karena silau oleh sinar matahari yang masuk.


" Ih sayang silau, tutup lagi tirai nya!." Usaha Daniel untuk membangunkan Nadia tak sepenuhnya berhasil, buktinya Nadia semakin merapatkan selimut nya dan menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut.


" Loh kok gitu sih sayang? Masa cewek jam segini belum bangun." Ucap Daniel. Dia juga berusaha menarik selimut yang menutupi tubuh Nadia.


" Ih aku capek sayang, masih ngantuk juga." Rengek Nadia.


" Emmmm capek ya?, Apa masih sakit juga?." Mendengar pertanyaan Daniel, Nadia langsung cepat-cepat bangun.


" Sakit? Enggak!." Elak Nadia, sebenarnya ia sangat malu di tanya begitu.


" Jujur juga gak papa kali yank. Kalau terasa sakit, kamu rebahan aja di tempat tidur, kalau mau apa-apa tinggal bilang sama aku!." Ucap Daniel dengan serius, sedangkan Nadia semakin malu karena nya.


" Sakit sih dikit." Nadia mengatakan nya dengan pelan, namun masih bisa di dengar oleh Daniel..


" Tapi aku masih bisa ngapa-ngapain kok, tenang aja!." Ucap Nadia meyakinkan suaminya.


" Ya udah kamu istirahat aja, aku udah bawain nasi goreng spesial buat kamu." Daniel lantas memberikan sepiring nasi goreng yang ia bawa tadi kepada Nadia.


Nadia pun menerima nya dengan wajah herannya.


" Ini bikinan kamu?." Tanya Nadia ragu, pasalnya setahu Nadia Daniel tidak bisa memasak saat bersama nya dulu.


" Ya iyalah sayang, emang bikinan siapa lagi?." Nadia memicingkan matanya merasa curiga.


" Sejak kapan kamu bisa masuk?, Bukannya terakhir kali kamu masak masakan nya jadi asin!."


" Sejak aku jauh dari kamu. Waktu itu aku memutuskan untuk belajar masak, nanti saat aku ketemu kamu, aku bisa masakin makanan yang enak buat kamu. Dan sekarang kamu harus cobain nasi goreng spesial buatan aku ini!."


" Masa sih sayang?. Lagian nasi goreng spesial dari mana nya, orang cuma pakai telor ceplok begini."


" Itu spesial sayang, spesial pakai cinta!."


" Preeeeeph!!!" Tawa Nadia hampir menyembur karena penuturan Daniel.

__ADS_1


" Kok ketawa?."


" Aku gak tau caranya baper itu gimana. Soalnya kata-kata itu lucu menurut aku!."


" Dasar ya, ledek aja terus!." Daniel mengacak rambut Nadia dengan gemas.


" Nah ini baru aku baper!." Ucap Nadia.


" Baper kok ngomong, baper itu dirasain!." Nadia tertawa puas.


" Kalau ketawa terus kapan nyobain nya?."


" Iya, iya ini aku cobain ya!." Setelah satu suapan, Nadia terdiam dengan wajah yang sulit di artikan.


" Gimana sayang, enak?." Tanya Daniel yang menunggu jawaban dari Nadia.


" Kok asin sih sayang?." Ucap Nadia dengan wajah meringis yang di buat-buat.


" Ah masa sih sayang?."


" Iya, coba deh rasain!." Daniel pun menurut, ia mengambil satu sendok nasi goreng tersebut dan memakannya.


" Gak asin kok sayang. Kamu bohong ya? Ngerjain nih pasti." Terka Daniel curiga.


Nadia tak bisa lagi menahan tawa nya, dan seketika ia pun tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai suaminya.


" Ya udah habisin! Enak kan masakan aku?."


" Iya enak sayang. Udah ada kemajuan sekarang." Puji Nadia, Daniel tersenyum senang karena Nadia menyukai makanan yang ia buat sendiri.


Nadia makan dengan lahapnya nasi goreng yang di buat Daniel sampai-sampai Nadia sendiri tidak sadar bahwa dia sedang di perhatikan oleh Daniel.


" Mau?." Tanya Nadia saat telah sadar diri nya di tatap oleh Daniel.


" Enggak, buat kamu aja. Aku udah makan tadi." Tolak Daniel sambil terus memandangi Nadia, hingga aktivitas nya terganggu karena sebuah nada dering dari ponsel milik Nadia.


Nadia menghentikan makannya yang tinggal sedikit itu, lalu meletakkan piring nya di atas nakas.


Ia pun segera menggeser icon hijau dan mengangkat nya.


" Iya kak kenapa?." Tanya Nadia pada orang yang ada di seberang sana yang tak lain adalah Andre.


" Hah mama pingsan ? Kok bisa?." Tanya Nadia panik serta khawatir. Begitu pun dengan Daniel, ia tahu siapa yang di maksud Nadia meski dia tak mendengar percakapan Nadia dan Andre.

__ADS_1


" Oke oke, aku pulang sekarang." Setelah itu, Nadia pun mengakhiri panggilan telepon nya.


" Mama sakit apa sayang?." Tanya Daniel dengan perasaan khawatir.


" Gak tau juga, katanya mama tadi pingsan, dan sekarang lagi di periksa dokter."


" Dan kayaknya aku hanya pulang sekarang deh." Lanjut Nadia lagi. Daniel mengangguk maklum, tak ada sedikitpun perasaan kecewa karena dia dan Nadia tak bisa melanjutkan honeymoon mereka. Saat ini dia lebih mengkhawatirkan mama nya yang tiba-tiba jatuh pingsan.


" Aku antar ke rumah Sisil sekarang ya?." Ucap Daniel. Nadia hanya mengangguk.


" Kalau gitu aku siap-siap dulu ya?." Setelah mendapat anggukan dari Daniel, Nadia lantas bersiap-siap untuk ke rumah Sisil.


" Maaf ya sayang!." Ucap Nadia mereka sudah berada di dalam mobil.


" Maaf? Buat apa sayang?."


" Maaf karena honeymoon kita gagal." Tutur Nadia dengan wajah sedih nya.


" Gak papa sayang, kan kita masih punya banyak waktu buat ketemuan. Kalau ini masalah darurat yang gak bisa di tunda, kamu harus temuin mama, liat keadaan mama, dan kalau kamu gak keberatan, tolong rawat mama sampai mama sembuh ya!." Mohon Daniel pada Nadia.


" Pasti dong sayang, mama kamu kan mama aku juga, ya pasti lah aku jagain."


" Oh iya, ngomong-ngomong soal mama, gimana kabar ibu sekarang?."


" I_ibu?." Mendengar atau mengucapkan kata ibu saja Nadia merasa tidak tahan. Air mata nya pun mengucur deras tanpa bisa ia cegah. Melihat itu, Daniel dengan sigap memberikan tisu kepada Nadia. Wajah nya pun terlihat khawatir melihat sang istri tiba-tiba saja menangis.


" Kamu kenapa sayang? Kenapa nangis, apa yang terjadi?."


" Ibu sayang,,,,,,ibu!,,,,,,." Nadia masih tak sanggup untuk mengatakan nya, suaranya masih terasa tercekat.


" Iya, ibu kenapa?." Tanya Daniel tak sabar untuk mendekati kabar dari mertua nya tersebut.


" Ibu udah meninggal!!." Tangis Nadia semakin kencang.


Sedangkan Daniel benar-benar di buat terkejut dengan fakta yang baru ia dengar.


" Kapan sayang? Kenapa kamu gak ngomong sama aku?."


" Waktu itu aku udah berusaha nelpon kamu sampai berulang kali, tapi setelah di angkat, yang aku dengar suara cewek. Aku benar-benar kalut waktu itu, cemburu dan sedih menjadi satu. Gak sampai di situ, beberapa Minggu setelah ibu meninggal, aku juga dapet kabar dari kak Andre kalau kamu juga pergi untuk selamanya,,,,,,,,,,!!!." Sungguh Nadia tak sanggup lagi menahan rasa sesak di dada nya, ingatan pahit nya seakan terulang kembali, membuat nya menjerit histeris.


Daniel yang menyadari perubahan pada istri nya pun segera menepikan mobilnya. Dia mencoba meraih tubuh sang istri untuk ia peluk. Daniel juga mencoba menenangkan Nadia, dia hanya takut penyakit mental yang di derita Nadia kambuh kembali.


" Udah ya sayang, udah! Jangan di ingat-ingat lagi. Aku sekarang ada di sini sama kamu, dan soal ibu itu sudah jadi kehendak yang maha kuasa. Allah lebih sayang sama ibu karena ibu itu orang baik. Kita doakan saja semoga ibu bahagia di alam sana, ibu di atas sana pasti sedih kalau lihat anak cantik nya ini sedih!, jadi jangan sedih lagi ya!." Akhirnya usaha Daniel berhasil, tangis Nadia berangsur-angsur berhenti, ia merasa apa yang di katakan Daniel itu benar, dia tidak boleh terlalu berlarut-larut dalam kesedihan yang membuat ibunya di alam sana ikut merasakan nya.

__ADS_1


" kita lanjut lagi perjalanannya?." Tanya Daniel. Nadia pun mengangguk dan mulai menampakkan senyumnya kembali, hal itu membuat Daniel merasa sedikit lega.


Ia lantas melajukan kembali mobilnya untuk menuju ke tempat Sisil.


__ADS_2