Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
MANJA NYA NADIA


__ADS_3

Part 60:


Nadia masih sesegukan dengan sisa tangis nya .


Suaranya tercekat, sehingga membuat Nadia agak kesulitan untuk bercerita kepada Sisil tentang mengapa dirinya seperti itu.


Entah mengapa mood nya akhir-akhir ini gampang sekali berubah-ubah dan sulit untuk di kendalikan, mungkin karena efek bawaan hamil.


" Emang nya kenapa sih? Kenapa kamu bisa nangis kayak gini?" Tanya Sisil yang di angguki oleh Jonathan.


" T_tadi A_andre,,,,,,,,,. Huaaaaaa." Nadia masih tak kuasa untuk mengungkapkan nya pada Sisil, ia masih sulit untuk bicara akibat tangis nya yang belum juga reda.


" Kamu kenapa sih Nad? Ini bukan kayak kamu yang biasanya, biasanya juga kalau punya masalah sesulit apapun kamu tidak pernah nangis ampe lebay begini." Ucap Sisil.


" Lo juga, temen nya ada masalah bukannya di hibur, ini malah di ejek." Kata Jonathan membela Nadia.


" Ya maaf, gue kan cuma nanya dong." Elak Sisil.


" Lagian kamu kenapa sih Nad? Cerita pelan-pelan deh!" Kata Sisil.


" Ikuti arahan aku deh! Tarik nafas, tahan, hembuskan!"instruksi Sisil, Nadia pun menuruti apa yang di perintahkan Sisil pada nya. Dan akhirnya arahan yang di berikan Sisil berhasil, tangisnya mulai berangsur-angsur reda.


" A_aku hamil Sil." Tutur Nadia. Sontak keduanya terkejut mendengar pengakuan Nadia, namun sesaat kemudian Sisil pun tersenyum bahagia, kecuali Jonathan yang terlihat biasa saja dan nampak acuh.


" Wah selamat dong kalau gitu, berarti aku bakalan punya ponakan baru." Ucap Sisil girang.


" Terus kalau kamu hamil, kenapa malah nangis sih Nad? Kamu gak suka dengan kehadiran dia di sini?" Tanya Sisil.


" Bukan gitu Sil." Sanggah Nadia.


" Terus kenapa? Atau jangan-jangan,,,,,,, bayi ini bukan anak Daniel, makanya kamu nangis." Tuduh Sisil yang langsung dapat tatapan tajam dari Nadia.


" E maaf, maaf! Canda doang kok, suer."


Menyadari kesalahannya, Sisil cepat-cepat meralat ucapan nya seraya mengacungkan dua jari tangan nya membentuk angka V.


" Iya aku maafin."


" Ini tuh beneran anak Daniel. Pasal kenapa aku nangis tadi, kak Andre bilang kalau ini anak di luar nikah, dan dia akan bertanggung jawab atas anak yang aku kandung ini."

__ADS_1


Nadia lantas menceritakan semua kejadian tadi kepada Sisil dan Jonathan, tanpa terlewat satu pun.


Mereka tak terima dengan apa yang dilakukan Andre pada Nadia, menurut mereka prilaku Andre yang menghina Nadia dan merendahkan nya itu sudah keterlaluan.


Mereka juga memberi usul kepada Nadia untuk mengatakan bahwa Daniel masih hidup, dan bayi yang di kandung oleh Nadia adalah anak dari Daniel dan dirinya.


Namun Nadia menolak keras untuk hal itu. Ia hanya tak ingin semua rencana yang sudah ia dan Daniel susun, akan sia-sia saja.


" Wah ini gak bisa di biarin nih, mesti laporan sama Daniel nih." Ucap Jonathan.


" Bener Nad, mendingan kamu hubungi Daniel sekarang!" Sisil pun membenarkan.


" O iya, kenapa gak dari tadi ya." Nadia pun menyengir karena baru menyadari kesalahannya nya.


Nadia lantas mengambil ponselnya dan segera menghubungi Daniel.


Tak berselang lama, Daniel pun datang dengan setelan Hoodie dan celana jeans serta maskernya.


Nadia langsung memeluk Daniel begitu Daniel sampai. Daniel pun terkejut mendapati istrinya yang tiba-tiba menangis sambil memeluk nya.


" Loh sayang, kamu kenapa?" Tanya Daniel. Nadia tak menjawab, ia semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Daniel.


Jonathan membuang muka nya acuh, namun berbeda dengan Sisil yang nampak cengengesan.


" I_itu kak, tadi Nadia bilang di Andre itu udah terang-terangan merendahkan Nadia." Jelas Sisil.


" APA! Memang nya dia mengatakan apa sampai Nadia seperti ini?" Tanya Daniel lagi.


" Dia,,,,,,,,, dia bilang Nadia hamil tanpa suami." Ucap nya spontan, sontak saja Daniel menoleh pada Nadia yang masih berada di dalam pelukan nya. Matanya membulat sempurna mendengar penuturan Sisil.


" Ka_kamu hamil sayang?" Tanya Daniel yang di angguki oleh Nadia.


Entah perasaan apa yang dapat menggambarkan bahagia nya Daniel saat mendengar bahwa Nadia sedang mengandung.


Ia tak henti-hentinya mengucap syukur seraya mengecup pucuk kepala istrinya berulang kali, meskipun ia tidak tahu nantinya harus bagaimana. Karena jati diri nya yang belum bisa ia bongkar, membuat Daniel harus memikirkan rencana bagaimana cara nya agar keluarga nya tidak tahu bahwa dia masih hidup.


" Udah ya sayang, aku akan cari cara agar dia mendapatkan ganjaran nya. Kamu sabar aja ya dulu!" Kata Daniel pada Nadia.


" Ta,,,,,,Pi dia bilang mau nikahin aku,,,,,, huaaaaaa." Adu Nadia.

__ADS_1


Sontak saja membuat Daniel terkejut dan merasa sangat murka, meskipun sebenarnya ia tak tahu harus berbuat apa. Yang pasti, dia harus mencegah itu terjadi.


" Ya sudah ya, kita pikirkan nanti saja. Sekarang kita jalan-jalan dulu mau?" Daniel berusaha mengembangkan senyumnya agar Nadia tidak semakin syok.


Ia hanya tidak ingin membuat Nadia yang sedang hamil itu menjadi takut karena melihat nya emosi.


Dan hal itu berhasil membuat Nadia berhenti menangis, ia tersenyum lebar mendengar tawaran sang suami. Lantas Nadia pun mengangguk cepat.


" Mau!" Jawab Nadia.


" Ya udah kalau gitu kita berangkat sekarang?" Tanya Daniel.


Nadia semakin melebarkan senyumnya. Kebetulan sekali ia sangat ingin sesuatu, dan dia akan meminta nya nanti pada Daniel.


" Nadia doang, kita gak di ajak?" Celetuk Jonathan dan di angguki oleh Sisil.


" Ayok kalau mau ikut!" Ucap Daniel yang membuat mereka berdua nampak senang dan antusias.


" Tunggu! kita siap-siap dulu." Kata Jonathan. Jonathan dan Sisil pun bergegas menuju kamar masing-masing.


Daniel yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, sementara Nadia masih betah berada di dalam pelukan Daniel.


" Yuk kita ke mobil sekarang!" Ajak Daniel pada Nadia.


" Gendong!" Pinta Nadia. Daniel seperti nya harus ekstra sabar menghadapi bumil yang satu ini.


" Ya udah, mau gendong depan atau belakang?" Kata Daniel memberi pilihan.


" Emmmm belakang aja deh." Jawab nya. Daniel lantas memberikan punggung nya dan berjongkok di depan Nadia.


Daniel pun segera menuju mobil nya sambil menggendong Nadia di punggungnya.


Untung saja saat itu Jonathan dan Sisil belum keluar, jika tidak mereka pasti akan menertawakan nya karena hal ini.


Setelah Jonathan dan Sisil telah siap, mereka pun berangkat menuju pasar yang diinginkan Nadia.


Ya, tadi Nadia mengatakan ingin sekali pergi ke pasar. Ia ingin sekali makan jajanan yang di jual di pasar tersebut.


Dia juga meminta pada Daniel untuk melihat wahana permainan.

__ADS_1


Sungguh ada-ada saja permintaan seorang ibu hamil yang satu ini.


__ADS_2