
Part 47:
" Nadia!!." Panggil orang yang ada di seberang sana.
" Iya ka Andre, ada apa?. Ya udah cepetan ah kasih heanpone nya sama Daniel, aku mau ngomong. Udah kangen berat ini!." Pinta Nadia.
" Kamu gak bisa ngomong sama Daniel lagi!." Ucap Andre yang membuat Nadia bingung.
" Maksud nya apaan sih kak?, Kenapa coba, larang-larang aku buat ngomong sama suami ku sendiri?. Kakak masih belum move on dari aku?." Tanya Nadia yang sebenarnya hanya bercanda.
" Bu_bukan gitu maksud kakak." Sanggah nya.
" La terus apa?."
" Kamu gak bisa ngomong lagi sama Daniel, karena sekarang Daniel,.....!!!." Andre menggantung ucapan nya, membuat Nadia semakin bingung dan gelisah.
" Iya, Daniel kenapa kak?, Jangan bikin aku khawatir deh. Dan jangan bilang kalau kalian lagi ngeprank aku ya?." Lama-lama Nadia di buat kesal oleh Andre yang bertele-tele mengatakan nya.
" Kakak gak lagi ngeprank kamu kok, ini kenyataan Nadia!."
Iya, terus kenyataan nya apa?. Gak usah lemot ngapa sih!." Nadia benar-benar sudah di buat kesal. Cetrin pun ikut gelisah, dan dia meminta Nadia untuk membesarkan volume panggilan nya.
Terdengar Andre sedang menghela nafasnya dengan gusar. Mendengar itu, hati Nadia merasa resah.
__ADS_1
" Nadia!,,,,,,,, Kamu harus janji sama kakak, kalau kamu harus tegar dan sabar mendengar ini!,,....." Lagi-lagi Andre menggantung ucapan nya, namun kali ini Nadia tetap sabar menunggu apa yang akan di sampaikan oleh Andre. Jantung nya memompa sangat cepat, perasaan nya benar-benar cemas saat ini.
" Daniel sudah pergi untuk selamanya Nadia. Operasi nya gagal, dan Daniel tidak bisa di selamat kan."
Duarrr,.....
Sesaat Nadia terdiam, pandangan nya lurus ke depan tanpa berkedip sedikitpun. Lain halnya dengan Cetrin, dia sudah terduduk lemas di atas tempat tidur Nadia dengan menangis pilu.
Tiba-tiba saja Nadia tertawa gelak, seolah apa yang baru saja ia dengar adalah lelucon semata. Cetrin saja sampai tercengang melihat tingkah anak menantunya itu.
" Tuh kan! Nadia bilang juga apa, pasti kalian mau ngeprank aku kan?!, Gak mempan!!." Ucap nya dengan gaya angkuh nya dan dengan sisa tawa nya.
" Dengerin dulu Nadia, hey ini bukan ngeprank atau lain sebagainya!." Ucap Andre tegas, karena mendengar Nadia masih menertawakan nya.
" Udah ah kak, gak lucu tau bercanda nya!." Dengan suara yang serak. Nadia masih berusaha keras tidak mempercayai berita yang ia dapat.
Sedangkan Cetrin, tak kuasa lagi membendung air matanya karena melihat menantu nya yang masih tidak percaya. Ia menangis sejadi jadinya, membuat perhatian Nadia teralihkan pada mertua nya itu.
" Ma, udah ya ma. Mama jangan nangis, entar kalau kak Andre pulang, kita marahin sama-sama, karena udah berani bercanda kelewatan seperti ini!." Ucap nya memenangkan sang mertua. Bukan nya berhenti menangis dan merasa tenang, tangis Cetrin malah semakin kencang, membuat Diendra yang sedang berada di ruang keluarga mendengar dan bergegas menghampiri mereka di dalam kamar Nadia.
" Ada apa ini ma, apa yang terjadi?." Tanya Diendra yang sedang berada di ambang pintu, dengan raut wajah khawatir nya.
" Pa_papa ngomong sendiri sama Andre." Jawab Cetrin seraya menunjuk ponsel yang di genggam Nadia.
__ADS_1
Diendra tak protes. Tanpa banyak tanya, Diendra langsung merampas ponsel yang di pegang Nadia.
" Hallo Ndre! Ada apa? Kenapa mama kamu sampai nangis kayak gini?." Tanya Diendra panik.
" APA?!!!." Pekik Diendra syok. Sebelumnya ia sudah meng off kan volume suaranya, hingga hanya dia yang mendengar jawaban Andre, meskipun sebenarnya Cetrin dan Nadia sudah tahu lebih dulu.
Tatapan Diendra berpindah pada Nadia yang terlihat biasa-biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak nampak kesedihan di mata nya. Diendra heran, lalu berpindah menatap sang istri yang nampak masih syok, seolah meminta penjelasan pada sang istri.
Respon Cetrin hanya menggeleng dengan tangis nya yang semakin kencang.
" Kenapa pa?, Pasti kak Andre ngeprank papa juga ya?!. Emang dasar anak durhaka ya, awas aja nanti kalau pulang, akan aku bikin sate dia!." Geram Nadia.
" Nak, Andre tidak sedang mengprank kita, ini tadi yang nelpon papa, dokter Budi, dokter penanggungjawab Daniel!"
Degh......
Nadia menelan sliva nya dengan susah payah. Nampak nya, Nadia mulai percaya. Wajah nya tak menunjukkan reaksi apa-apa, namun tubuh nya kini sangat lunglai, ia merasa kakinya tak berpijak pada bumi. Pikiran dan tubuh nya terasa terawang-awang.
Brughh
Nadia jatuh tak sadarkan diri di kamar nya. Diendra dan Cetrin semakin panik dengan situasi seperti ini.
Diendra mengatakan pada Andre untuk segera membawa jenazah Daniel ke Indonesia hari ini juga, setelah itu ia segera menelpon dokter pribadi nya untuk datang ke rumah nya memeriksa keadaan Nadia.
__ADS_1