Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
Episode 9


__ADS_3

Airin membuka matanya saat mendengar suara adzan subuh.


"Tadi aku ketemu dika. Dia mencium ku. Ternyata cuma mimpi. Tapi kenapa rasanya begitu nyata." gumam airin sambil memegang bibirnya. Dia melihat suaminya masih terlelap di sampingnya.


"Mas, bangun mas!."


"Mmm,, lima menit lagi."


"Keburu habis waktu subuhnya mas." ucap airin menggoyang tubuh suaminya. Ilham membuka matanya menatap airin dari atas sampai bawah.


"Kamu mau ngajak aku mandi berdua?." ucap ilham yang sudah duduk di depan airin.


"Hah, apaan sih. Gak, siapa juga yang mau mandi bareng sama kamu."


"Trus ngapain kamu buru-buru bangunin aku. Harusnya kamu bangunin aku setelah kamu selesai mandi."


"Iya juga ya." gumam airin dalam hati.


"Gimana? Mau mandi bareng?" tanya ilham dengan nada menggoda.


"Gak." airin berlari menuju kamar mandi.


Setelah solat subuh airin turun ke bawah menuju dapur. Dia hendak memasak untuk sarapan tapi dia tidak tau kebiasaan orang rumah itu. Dia juga tidak tau makanan kesukaan suaminya, bahkan dia tidak tau suaminya suka teh apa kopi, benar-benar bukan istri idaman.


Airin masih tampak berpikir di dapur. Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampirinya.


"Nyonya sedang apa disini?. Ada yang bisa saya bantu?"


"Oh, bibi." ucap airin kaget. "Aku mau masak bi, tapi aku gak tau mesti masak apa!".


"Tidak usah nyonya, itu tugas saya. Nyonya istirahat saja, nanti kalau sudah selesai saya akan memanggil nyonya."


"Tidak apa apa bi. Aku udah biasa kok."


"Tapi nyonya nanti saya di marahi nyonya besar."


"Gak kok bi, nanti aku bantu jelasinnya." ucap airin sambil memegang bahu pelayan itu. "Ayo kita mulai. Oh ya jangan panggil saya nyonya, panggil airin aja."


"Gak nyonya saya gak berani. Nyonya sudah menjadi nyonya muda di rumah ini. Saya bisa di pecat kalau hanya menyebut nama anda nyonya."


"Ya udah terserah bibi aja." ucap airin pasrah. Mereka memulai memasak. Pelayan itu menjelaskan semua kebiasan orang di rumah itu. Dia juga menceritakan makanan dan minuman kesukaan ilham.


Tidak terasa sudah hampir satu jam akhirnya selesai juga. Airin sudah menata masakannya di meja makan. Dia tidak tau ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.


"Airin ini semua kamu yang masak?" tanya bunda.


"Iya bunda. Tapi di bantuin sama bibi"


"Maafkan saya nyonya. Tadi saya sudah melarang nyonya muda, tapi dia tidak mau." ucap pelayan yang mendengar suara bu diana dan lansung menghampirinya. Bu diana hanya melotot tidak suka kepada pelayan itu.


"Iya bunda. Airin yang minta kok. Soalnya airin sudah terbiasa membantu ibu memasak di rumah." ucap airin menjelaskan. Dia takut mertuanya akan memarahi pelayan itu karna dirinya. Bu diana menatap pelayan itu dan mengisyaratkan supaya melanjutkan pekerjaannya.


"Bunda salut sama kamu nak. Kamu berusaha menjadi istri yang baik, meskipun kamu tidak mencintai suami mu."


"Bunda jangan bicara seperti itu. Aku jadi tidak enak, ini terlalu cepat bagiku. Tapi aku akan berusa mencoba mencintai suamiku bunda." ucap airin menundukkan kepalanya .


"Kamu jangan merasa tidak enak seperti itu. Bunda yang salah. Bunda yang terlalu memaksamu."


"Maaf kan airin bunda."ucap airin menahan air matanya.


"Hei kenapa kamu minta maaf." bunda menarik airin ke dalam pelukannya. Air mata yang sudah susah payah di tahannya tidak mampu lagi di bendungnya. "Jangan menangis."


"Ada apa ini bunda?." tanya ilham yang tiba-tiba, membuat kedua perempuan yang ada di depannya terkejut dan melepaskan pelukannya.


"Kamu nak. Bikin kaget aja." ucap bunda.


"Airin kamu menangis? Ada apa?" tanya ilham mendekatinya dan mengusap air mata airin.


"Aku gak apa apa. Ayo kita sarapan!." ucap airin mengalihkan perhatian.


"Sebentar ya, bunda panggilin ayah dulu di kamar." ucap bunda meninggalkan mereka berdua.


"Bunda ngomong apa sama kamu?." tanya ilham penasaran.


"Gak ada apa apa kok."


"Trus kenapa kamu nangis?"


"Aku gak papa kok. Ayo kita makan." ucap airin menarik tangan suaminya untuk duduk di meja makan.


Setelah sarapan airin bersiap-siap berangkat ke sekolah. Karna sekarang hari senin airin harus datang lebih awal karna ada upacara bendera di sekolahnya. Ilham mengantar airin ke sekolah karna motor airin masih di rumah ibunya.


Airin duduk di samping suaminya. Tiba-tiba ilham mendekat dan memiringkan wajahnya. Dengan jarak sedekat itu tidak ada debaran di jantung airin seperti yang dia rasakan bersama dika dulu. Yang ada hanya ketakutan karna di sentuh laki-laki lain. Tapi yang ada di depannya saat ini adalah suaminya. Dia harus pasrah kalau suaminya menginginkan dirinya.

__ADS_1


"Ka-kamu mau apa mas?"


"Jangan lupa pasang sabuk pengamannya." ucap ilham sambil menarik sabuk pengaman dan memasangkannya untuk airin.


"Huffh," airin menghembuskan nafas lega. Ilham kembali ke posisinya dan menghidupkan mesin mobilnya.


"Nanti aku jemput motor ku ya mas di rumah ibu." ucap airin saat mobil itu sudah memasuki jalan raya.


"Gak usah, kan bisa di pake ibu."


"Tapi ibu gak bisa bawa motor mas!."


"Kan bisa belajar."


"Trus aku berangkat sekolah pake apa?."


"Kan ada aku. Aku siap antar jemput kamu kapan pun."


"Tapi aku gak mau ngerepotin kamu mas."


"Aku gak papa kok di repotin sama istri sendiri."


"Ih kamu apa sih mas." ucap airin agak risih dengan perkataan ilham. Tidak lama kemudian mereka pun sampai di sekolah.


"Udah sampai nih." ucap ilham.


"Kamu gak usah turun mas."


"Emangnya kenapa? Kamu takut ketauan pacar kamu.?"


" Apaan sih mas. Aku tu gak punya pacar. aku cuma gak mau aja cewek-cewek di sekolahan heboh lagi gara-gara kamu ngantarin aku."


"Kamu cemburu ya.?" goda ilham.


"Ih, makin gak jelas deh ngomongnya."


"Awas aja kalau kamu sampai dekat sama cowok lain."


"Emangnya kenapa?"


"Kok kenapa sih. Jelas lah karna kamu itu istri aku. Aku gak suka kalau kamu dekat sama cowok lain."


"Kalau aku dekat sama cowok lain kenapa?" ucap airin menantang.


"Hah, kamu mau hukum aku apaan." ucap airin dengan nada meledek. Ilham menarik tekuk airin dan melumat bibirnya. Airin mencoba membalas lumatan itu dan membuka mulut, membiarkan ilham memilin dan menghisap lidahnya. Tapi tetap saja tidak ada sensasi yang aneh yang dia rasakan. Semuanya terasa hambar.


"Itu salah satu hukuman untuk kamu." ucap ilham setelah melepas lumatannya.


"Aku turun dulu ya." ucap airin, kemudian dia mencium tangan suaminya, ilham juga mencium kening airin. Airin membuka pintu, tapi ilham menahan tangannya. "Mau apalagi sih." gumam airin dalam hati.


"Nanti pulang sekolah aku jemput ya?."


"Gak usah kalau buat aku nunggu lagi." ucap airin ketus.


"Gak kok sayang. Aku akan tepat waktu."


"Terserahlah." jawab airin kemudian turun dari mobil. Ilham kembali menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah airin.


Tampa dia sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya. Orang itu lansung berlari menghampiri airin.


"Ciee,, pengantin baru. Mesra banget kayaknya." ledek siska.


"Apaan sih lo. Siapa yang bermesraan."


"Gue liat lagi. Tadi lo ciuman di atas mobil. Gila, lama banget, gak sesak tuh napas lo."


"Lo ngintip ya?. Dasar lo"


"Habisnya lo sih. Ngapain ciuman di tempat umum. Untung cuma gue yang liat, kalau anak-anak yang lain gimana."


"Gue nglakuinnya di mobil kali, gak di tempat umum. Lagian kaca mobil suami gue itu gelap banget, gimana lo bisa liat sih."


"He he gue gitu lo. Eh ngomong-ngomong gimana malam pertama lo."


"Gak ada malam pertama. Gue masih virgin kali."


"Serius lo. Kok bisa. Suami lo pasti gak bernafsu liat lo."


"Ngomong apaan sih lo, makin nglantur aja. Ayo cepatan ke kelas bentar lagi kita akan baris." ucap airin berjalan menuju kelasnya.


***


Saat istirahat mereka pergi ke kantin untuk makan.

__ADS_1


"Tumben lo ke kantin." ucap siska.


"Gue gak bawa bekal tadi."


"Ini gue yang traktir lagi nih."


"Tenang aja sekarang gue yang traktir."


"Oh iya gue lupa. Suami lo kan tajir banget ya."


"Apaan sih lo." ucap airin kesal. Dia memang di kasih uang saku sama suaminya, dan itu 3 kali lebih banyak dari yang biasa ibunya kasih. Tapi airin bukan cewek matre yang suka menghabiskan uang suaminya.


Saat pesanan mereka sudah sampai mereka lansung menikmatinya. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada pesan masuk. Airin kaget melihat siapa yang mengirim pesan.


"Kapan aku menyimpan nomornya." ucap airin.


"Nama siapa?" tanya siska.


"Coba deh lo liat." airin menyodorkan ponselnya ke depan siska. Siska malah ketawa melihat nama yang ada di ponselnya.


"Ha ha, IMAM KU, itu bukan lo banget rin. Sejak kapan lo berubah kayak gini?." ledek siska.


"Bukan gue yang ngasih nama itu." ucap airin kesal karna terus di ledek siska. Airin membaca isi pesan di ponselnya.


IMAM KU


Sayang kamu lagi apa?


AIRIN


Lagi istirahat di kantin.


IMAM KU


Kamu lagi makan ya.


AIRIN


Iya. Kamu udah makan?


IMAM KU


Belum sayang nanti aja aku makannya.


AIRIN


Kenapa nanti?


IMAM KU


Soalnya di kantor belum jam istirahat sayang.


AIRIN


Owh.


IMAM KU


Nanti kalau mau pulang kabarin aku ya.


AIRIN


Kalau kamu sibuk aku pulang naik angkot aja.


IMAM KU


Kalau untuk istri ku aku gak kan sibuk sayang.


AIRIN


Ya udah, terserah kamu.


IMAM KU


Ya udah kamu lanjut makannya. Sebentar lagi aku ada meeting dengan klien.


"Dia bilang apa?" tanya siska.


"Katanya mau jemput aku."


"Suami lo itu kayak gimana orangnya?."


"Menurut gue orangnya baik. Dia juga sayang sama gue. Tapi..." airin menggantung katanya. Siska tau apa yang di pikirkan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Lo pelan-pelan aja coba buka hati lo. Gue yakin kok kalau lo mau buka hati lo, lo pasti bisa mencintai suami lo." ucap siska dan airin hanya menganggukkan kepalanya.


__ADS_2