Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
VILLA


__ADS_3

Part 54:


Setelah selesai berbicara berdua dengan Bagas, Bagas dan Daniel kembali ke ruang rawat Nadia. Daniel mengulas senyum nya saat tatapan Nadia beradu dengan nya. Ia lantas mendekati Nadia dan duduk di tepi ranjang pasien milik Nadia.


" Gimana keadaan kamu sayang?." Tanya Daniel sambil mengusap rambut Nadia dengan sayang.


" Keadaan aku udah membaik, keadaan hati aku yang lagi kurang sehat." Ucap Nadia dengan suara manja. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.


" Kok bisa gitu?."


" Karena aku lagi kangen sama kamu!." Jawab Nadia.


Sedangkan Bagas dan Sisil hanya bisa menjadi penonton setia, lebih tepatnya penonton yang murka melihat keromantisan mereka.


" Bisa gak kalau mesra-mesraan itu sewa hotel ke gitu, kan gak manas-manasin mata!." Celetuk Bagas. Sisil memberi anggukan atas celetukan Bagas.


" Iri? Bilang bos!." Ucap Daniel menirukan kalimat yang sempat viral beberapa waktu lalu.


Bagas semakin di buat kesal oleh Daniel, ia mengeratkan gigi-giginya, dan ingin sekali rasanya ia memukul Daniel saat itu juga. Sedangkan Nadia merasa tidak enak kepada Sisil dan Bagas.


" Maaf ya, aku jadi lupa kalau di sini juga ada kalian!. Sekali lagi aku minta maaf ya!." Tutur Nadia merasa tidak enak hati.


" Ya ya ya, di maklumi kok." Jawab Sisil dengan gaya acuhnya.


" Hehehe, maaf!." Ucap Nadia sekali lagi pada Sisil. Sisil tak benar-benar marah pada Nadia, dia sangat memaklumi kondisi Nadia sekarang ini, yang butuh kehadiran suaminya untuk mendampingi nya. Namun Nadia juga tidak mengambil hati dengan ucapan Sisil pada nya.


" Gak papa kok cantik, Abang gak marah kok sama kamu." Kini Bagas yang menjawab ucapan Nadia dengan gaya merayu nya yang terdengar lebay.


Daniel langsung melotot tajam ke arah Bagas, namun sama sekali Bagas tak menghiraukan nya. Ia fokus memandang ke arah Nadia dengan senyum semanis mungkin, dan senyuman nya pun di balas oleh Nadia, membuat Daniel semakin menajamkan mata nya, dan kali ini bukan hanya itu, ia juga menginjak kaki Bagas dengan keras, membuat sang empu merasa kesakitan.


" Aaaaa,,, kejam banget Lo jadi laki, posesif!." Ucap Bagas sambil memegang ujung kaki nya yang sakit.


" Terserah!." Balas Daniel dengan tatapan dingin nya.


" Ihhh kamu mah, gak boleh gitu dong sayang!, Entar kalau kaki nya cidera gimana, emang kamu mau tanggung jawab?." Ucap Nadia menyalahkan Daniel.


Daniel hanya tersenyum kepada Nadia seraya mengusap pucuk kepala Nadia dengan gemas.


" Ihhhh jangan iseng deh!." Kesal Nadia saat rambut nya di acak oleh Daniel.


" Iya maaf sayang!. Lagian gak papa kok, kita emang udah biasa begitu, itu cuma bercanda doang kok yank." Ucap Daniel membela diri.


" Iya, udah biasa ngeselin!." Gerutu Bagas, namun dengan suara hampir tak terdengar.


" Gas, gue bisa minta tolong gak sama Lo?." Ujar Daniel.


" Paaan?." Tanya Bagas singkat. Ia masih sangat kesal dengan Daniel, namun ia juga tidak ingin berdebat, karena ujung-ujungnya dia akan selalu mengalah.


" Gue minta tolong beberapa hari ini Lo kosongkan job manggung gue ya, please!!!." Ucap nya sambil tersenyum manis pada Bagas. Bagas sudah tahu tentang sifat asli Daniel yang baik jika ada maunya saja. Tapi memang aslinya baik kok.


" Berapa hari?." Tanya Bagas singkat.


" Seminggu deh."


" Hemmm, oke seminggu." Bagas pun akhirnya menyetujui nya tanpa protes seperti biasa.


" Oke makasih ya!." Daniel lantas menepuk pundak Bagas.

__ADS_1


" Iya." Jawab Bagas ketus. Daniel hanya cengengesan menanggapi Bagas yang seperti nya sedang kesal pada nya.


" Emang kalian mau ke mana seminggu?." Tanya Sisil dengan polosnya. Nadia hanya memandang Daniel untuk meminta penjelasan karena memang ia tidak tahu apa yang di rencanakan suaminya itu.


" Biasalah, kayak gak tau pengantin baru yang baru ketemu aja!." Jawab Daniel santai. Nadia paham. Ia hanya bisa tertunduk malu dengan ucapan yang di maksud Daniel.


" Hah! Ja_jadi maksud nya, kalian terpisah waktu itu masih pengantin baru?." Sisi terkejut dengan fakta yang baru ia dengar, sama halnya dengan Bagas, ia juga ikut terkejut, namun ia memilih menyimak saja.


Daniel dan Nadia mengangguk Bersamaan.


" Baru selesai acara malahan." Tambah Daniel. Lagi-lagi Sisil di buat terperangah, ia pun menutup mulutnya sendiri karena tak habis pikir.


" Jadi maksud nya kalian belum,,,,,,,?." Sisil tak melanjutkan perkataannya, ia kembali menutup mulutnya.


" Wah belum di unboxsing dong bro?." Tambah Bagas dengan gamblang mengatakan nya. Daniel yang tak terima , lantas memukul kepala Bagas.


" Awwwsh sakit n**rr!!." Ucap Bagas tak terima kepalanya di pukul oleh Daniel.


" Gak usah di perjelas juga kali dodol!." Kesal Daniel.


" Mang napa?, Di sini gak ada juga anak di bawah umur yang dengar." Sanggah Bagas.


" Lo bukan anak di bawah umur kan?." Tanya Bagas pada Sisil, Sisil lantas menggeleng cepat.


" Tuh!." Ucap nya pada Daniel.


" Lo gak tau emang, siapa anak di bawah umur di sini?." Tanya Daniel. Bagas menggeleng.


" Ya gak tau, karena emang gak ada!." Jawab nya. Daniel tiba-tiba meraih tangan Bagas dan mengarahkan tunjuk nya pada Bagas sendiri.


" Lah kok gue?. Gue udah dewasa, bahkan umur gue lebih tua dari Lo!." Ucap Bagas tak terima.


" Iya Lo udah tua muka nya doang, tapi ini nya kekanak-kanakan!." Jelas Daniel dengan penuh penekanan. Ia juga menunjuk kepala Bagas.


" Asem!." Ucap Bagas tak terima.


Sisil dan Nadia di buat tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka bak kucing dan tikus saja.


" Ehh udah, udah! Kelakuan kalian ini yang kayak anak-anak." Kata Nadia.


" Kayak kucing dan cicak!." Celetuk Sisil. Ia lantas terkekeh setelah mengatakan itu, begitu pun Nadia.


" Dia cicak nya!." Ucap Daniel dan Bagas Bersamaan, mereka saling menunjuk satu sama lain.


" Enak aja. Gue kucing nya, elo cicak nya!." Ucap Daniel pada Bagas.


" Enggak mau!. Gue kucing nya, elo cicak nya!." Balas Bagas membalikkan ucapan Daniel.


" Serah Lo, kucing bu*ik!!." Ucap Daniel pada akhirnya. Nadia dan Sisil kembali di buat tertawa oleh tingkat mereka yang tak henti-hentinya berdebat masalah cicak. Sedangkan Bagas di buat sangat kesal oleh Daniel yang selalu ingin menang sendiri.


" Hussssst. Kalian ini gak ada habisnya ya berdebat. Gak usah berisik, entar pasien lain terganggu lagi!." Ucap Nadia memperingati mereka. Dan benar saja, tak lama seorang suster masuk, dan hanya berdiri di depan pintu. Mata nya menatap tajam pada mereka, Ia seperti memantau sesuatu, namun karena melihat Daniel, Nadia, Bagas dan Sisil baik-baik saja, ia lantas Pergi tanpa mengucapkan apa-apa.


" Tuh kan, apa aku bilang. Dia pasti dengar suara ribut kita tadi, makanya dia nyamperin kita ke sini." Ucap Nadia.


" Sumpah, aneh banget tuh suster. Masak, datang ke sini cuma plonga-plongo doang mantau kita, abis itu pergi tanpa kata. Kesambet kali dia ya?." Celetuk Bagas. Semua mata tertuju pada Bagas dengan tatapan tak mengerti nya.


Bagas yang di perhatikan sedemikian rupa oleh mereka pun merasa heran.

__ADS_1


" Apa? Ada yang aneh sama ucapan gue?." Tanya Bagas heran. Mereka semua lantas menggeleng secara bersamaan, namun masih dengan tatapan datar nya.


" Aneh kalian!. Gue jadi ngeri sendiri, jangan-jangan kalian lagi yang kesambet setan penghuni rumah sakit ini!." Bagas bergidik ngeri melihat tatapan mereka yang masih setia menatap nya.


" Udah ah! Kalian aneh, gue pergi aja dari sini. Takut ketularan!." Ucap Bagas sambil bergidik, lalu pergi meninggalkan ruang rawat Nadia.


Setelah kepergian Bagas, tiba-tiba tawa mereka akhirnya pecah, namun masih dalam batas wajar.


Mereka tak tahan menahan sakit perut mereka karena menahan tawa. Seperti nya rencana mereka berhasil untuk mengusir Bagas dari kamar inap Nadia.


" Rasain tuh si Mar**nah, emang enak di kerjain!." Kata Daniel.


" Hah, kok Mar**nah sih sayang?." Tanya Nadia heran dengan nama gelar yang di berikan nya pada Bagas.


" Ya abis kelakuan nya kayak cewek, lebay!." Cibir Daniel. Nadia memicingkan matanya mendengar kata lebay yang di ucapkan Daniel.


" Oh, maksudnya aku lebay gitu?, Kan aku cewek!." Ucap Nadia tak terima.


" Eh bukan sayang. Bukan gitu maksud aku!. Kan aku bilang Bagas yang lebay, kalau kamu mah enggak." Bujuk Daniel pada Nadia karena takut Nadia akan marah pada nya.


" Kamu tuh imut, cantik, manja. Gak lebay, malah lucu!." Rayu Daniel agar Nadia luluh dengan rayuan nya. Dan benar saja, Nadia jadi tersipu mendengar rayuan Daniel untuk dirinya itu.


" Beneran?." Tanya Nadia sambil tersenyum malu-malu. Daniel mengangguk lalu tersenyum manis pada Nadia.


" Makasih sayang!." Ucap Nadia manja, ia pun menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.


Sisil membuang nafas panjang nya melihat tingkah pasangan suami istri itu.


" Lama-lama di sini, mata ku bisa rusak karena tercemar sama kelebayan kalian!." Ucap Sisil kesal. Nadia yang menyadari itu, lantas menjadikan diri dari Daniel.


" Maaf Sil, aku kebawa suasana. Maafin aku ya!." Ucap Nadia tak enak hati.


" Iya gak papa. Santai aja, aku cuma bercanda." Jawab Sisil. Nadia lantas tersenyum kepada Sisil


" Sil, saya bisa minta tolong gak sama kamu?." Kini Daniel lah yang bertanya.


" Boleh, apa emang kak?." Tanya Sisil. Di satu sisi, ia sangat senang karena bisa bertemu dan berbicara langsung dengan idola favorit nya. Namun di sisi lain dia juga sangat sedih sekaligus pasrah karena mengetahui fakta bahwa idola nya itu sudah menikah, bahkan dengan teman nya sendiri.


" Kamu bilang sama papa saya, kalau Nadia menginap di rumah kamu selama satu Minggu. Bilang saja karena menemani kamu karena kamu sedang sendirian di rumah!. Bagaimana, kamu mau kan nolongin kami?." Harap Daniel.


" Emmmm, boleh deh. Tapi nomor telpon nya mana?." Tanya Sisil sambil menyodorkan tangan nya pada Daniel.


" Loh, bukannya kamu punya nomor papa ya sil?." Kata Nadia menambahi.


" Belum. Kan aku gak kenal sama papa nya kak Daniel!." Jawab nya.


" Sil, papa nya Daniel itu ya papa Diendra, gak ada papa yang lain!." Jelas Nadia.


Sisil kembali di buat terperangah sekaligus bingung dengan jalan cerita rumah tangga teman nya itu, namun ia tak ingin ikut campur terlalu jauh dengan urusan mereka. Sisil lantas mengangguk setuju.


Ia pun segera mengambil ponselnya dan menelpon Diendra.


Akhirnya setelah sekian banyak berbicara dan dengan berbagai alasan, tentu nya juga di bantu oleh Nadia, akhirnya Diendra memberi izin Nadia untuk bermalam di rumah Sisil, lebih tepatnya, bermalam di villa bersama suaminya.


Tak lama setelah itu, Sisil pun berpamitan kepada Nadia dan Daniel untuk segera pulang ke rumah nya.


Begitu pun Nadia dan Daniel. Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, mereka juga pergi ke villa pribadi yang di beli Daniel. Mereka akan beristirahat di sana selama satu Minggu.

__ADS_1


__ADS_2