Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
Episode 21


__ADS_3

Airin duduk seorang diri di cafe depan kampus. Pikiran negatif tentang suaminya dan mita selalu menari-nari di otak nya. Bagaimana tidak suaminya pergi ke luar kota satu minggu dengan wanita cantik, dan hanya mereka berdua?.


Airin tidak tau apakah dengan sekretarisnya yang lama ilham juga sering pergi berdua ke luar kota atau tidak. Tapi yang airin tau akhir-akhir ini suaminya sangat sibuk dan jarang di rumah. Bahkan sering ke luar kota, dan itu artinya bersama dengan mita.


"Boleh aku duduk disini? " airin mendongakkan wajahnya melihat siapa yang berbicara dengan nya.


"Dika. "


"Kamu melamun? " tanya dika sambil menarik kursi dan duduk di depan airin.


"Gak. "


"Aku udah berdiri 15 menit lalu disini, tapi kamu tidak menyadarinya. " ucap dika. Airin hanya diam tanpa suara. "Apa yang kamu pikirkan? "


"Kamu"


"Aku"


"Ya. Kenapa kamu datang di saat yang gak tepat. "


"Maaf airin, aku gak akan maksa kamu lagi. Aku akan terima apapun keputusan mu. Aku bahagia asalkan kamu bahagia. "


"Makasih dika. "


"Tapi kita masih bisa berteman kan? " tanya dika penuh harap dan di jawab anggukan oleh airin sambil tersenyum.


Semenjak saat itu airin dan dika menjadi dekat. Mereka sering ke kantin bareng, sering duduk di taman belakang, airin juga sering menemani dika latihan basket, tapi semua itu hanya sebatas teman. Mereka juga tidak berdua selalu ada siska di antara mereka.


Airin sangat menikmati itu, dia juga tidak tahu apakah dia masih mencintai dika atau tidak, tapi yang jelas dia sangat bahagia bisa dekat dengannya meskipun hanya sebatas teman. Airin bisa melupakan pikiran buruk tentang suaminya kalau bersama dengan dika.


Siska yang melihat perubahan airin ikut bahagia. Airin yang dulu telah kembali, airin yang ceria, airin yang penuh semangat. Bukan airin yang dingin dan pendiam. Ya , , meskipun takdir berkata lain. Airin dan dika tidak bisa bersatu.


*


Sudah lima hari kepergian sang suami. Ya , ,meskipun ilham sering memberinya kabar, tapi airin merindukan suaminya itu. Seperti malam ini ilham menghubungi airin sebelum tidur.


"Sayang aku sangat merindukan mu! "


"Aku juga mas, mangkanya cepat pulang. "


"Iya, kamu do'akan ya biar pekerjaan ku cepat selesai disini. "


"Iya mas aku selalu mendoakan mu. "


"Makasih sayang, ya udah kamu tidur gih, udah malam. "


"Iya mas kamu juga tidur ya. "

__ADS_1


"Iya sayang muachh. "


"Mas aku gak bisa tidur." ucap seorang wanita disana.


"Mas" panggil airin tapi tak ada jawaban dan hubungan telepon itu lansung terputus. Airin kembali di hantui perasaan buruk. Seorang wanita berada di kamar laki-laki di malam selarut ini, apa yang mereka lakukan?


Airin mencoba untuk menghubungi kembali, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya airin tidur dengan perasaannya yang tak karuan.


Ilham melumat bibir mita dengan penuh gairah, tangannya dengan sigap membuka satu persatu pakaian yang di kenakan oleh wanita itu. Ilham menindihnya dan kembali melumat birbir mita.


"Ahhh,,," desah mita tak tertahan saat ilham memasukinya.


"TIDAAAAKKK" teriak airin dan langsung bangun dari tidurnya. "Ternyata cuma mimpi. " ucapnya. Tampa terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Mimpi itu terlihat begitu nyata. Airin merasakan sebuah benda keras menghujam jantung nya. Rasanya sesak dan bahunya bergetar.


Di lihatnya jam menunjuk kan pukul 3 pagi. Airin pergi ke kamar mandi dan mengambil wudu kemudian sholat tahajud.


*


"Airin kamu kenapa?" tanya bunda yang melihat airin hanya mengaduk-aduk bubur nya di meja makan.


"Aku gak papa bunda. "


"Seperti nya ada yang kamu pikirkan. "


"Ada sih bunda. "


"Ayah kenal gak sama sekretaris baru mas ilham. " tanya airin kepada ayah.


"Maksud kamu mita? " ucap ayah dan di angguki oleh airin. "Dia itu dulu satu sekolah dengan ilham. "


"Emang nya dulu mereka sedekat apa ayah? "


"Sebenarnya dulu mereka dulu saling menyukai, tapi mereka tidak sempat pacaran, karna setelah lulus sma ilham melanjutkan kuliah nya di luar negeri. Dan semenjak itu kami tidak pernah bertemu dengan mita dan keluarga nya lagi. " airin terdiam mendengar kan cerita ayahnya. Ternyata dulu mereka saling menyukai "Cinta Lama Belum Kelar dong!" pikir airin.


Airin yang pendiam kembali lagi, hari ini tidak ada senyuman yang terukir di bibir tipis itu. Siska yang melihatnya berdecak kesal.


"Ya elah, baru juga sehari dika gak masuk udah kayak gitu lagi muka lo. Baru aja kemaren gue senang karena airin yang ceria kembali, tapi sekarang ck-. "


"Dika gak masuk, kenapa.?"


"Sakit. "


"Sakit apa?"


"Mana gue tau, Nanti sore gue mau ke rumah dia, lo mau ikut?" ucap siska dan airin mengangguk.


*

__ADS_1


Sorenya siska dan airin sudah berdiri di depan pintu rumah mewah itu. Berkali-kali mereka menekan bel tapi tidak ada yang membuka pintu. Siska mendorong pintu itu ternyata tidak di kunci. Airin mengikuti siska yang sudah masuk ke dalam rumah itu. Airin merasa takut saat memasuki rumah itu.


"Lo tau gak kamar dika dimana? " tanya siska.


"Di lantai dua. " jawab airin yang berdiri di belakang siska, matanya masih menyapu seluruh ruangan tapi tidak ada orang.


"Ya udah tunggu apa lagi, ayo kita kesana." ucap siska menarik tangan airin berlari menaiki tangga.


"Tapi siska kita udah masuk ke rumah orang tampa izin. " ucap airin yang masih berlari mengikuti siska. Tapi tidak di gubris oleh siska.


"Yang mana kamarnya." tanya siska saat sudah berada di lantai dua dan melihat banyak kamar disana, kemudian airin menunjukkan sebuah pintu berwarna coklat. Tampa berpikir panjang siska lansung membuka pintu itu yang ternyata tidak di kunci dan masuk kedalam.


"Dika," teriak siska yang membuat airin masih di luar ikut berlari ke dalam kamar itu. Airin terkejut melihat dika tergeletak di pintu kamar mandi dan tidak sadarkan diri.


Airin dan siska mengangkat dika keatas ranjang dan membaringkan nya disana. Wajah nya begitu pucat dan badannya panas. Airin menyuruh siska mengambil air panas untuk mengompres kelapa dika.


Sudah jam 9 malam tapi dika belum sadar juga, airin berulang kali mengganti kompresan dika. Sedangkan siska tertidur di sofa yang ada di kamar itu.


Airin terus melihat ponselnya, berharap ilham menghubungi nya, tapi sudah seharian ini ilham belum juga menghubungi nya. Mimpi buruk itu kembali terbayang di benaknya.


Tidak lama kemudian akhir nya dika membuka matanya. Airin mengecek suhu tubuh nya dan ternyata panasnya sudah turun.


"Kamu udah bangun? " tanya airin dan dika tersenyum.


"Airin kamu disini. " tanya dika serak dan menggenggam tangan airin.


"Tadi kamu pinsan. Kalau kamu sakit kenapa kamu gak ke dokter. "


"Aku gak papa rin. Makasih udah merawat aku. "


"Sama-sama dika. " ucap airin yang terus memandangi pintu dengan gelisah,dika mengerti apa yang ada di pikiran airin.


"Kamu tenang aja orang tua ku masih di luar negeri. "


"Jadi kamu tinggal disini sendiri? " tanya airin dan dika hanya mengangguk. Airin merasa bersalah, karena dika ingin bertemu dengan nya dika harus pulang ke indonesia dan tinggal sendiri. Apalagi di saat sakit seperti ini tidak ada menjaganya. Membuat airin semakin tidak tega untuk meninggalkan nya.


"Dika tunggu sebentar ya. " ucap airin tampa mendengar jawaban dari dika airin langsung keluar dari kamar itu.


Sekitar 20 menit airin kembali masuk dengan membawa bubur dan segelas air putih di atas napan dan lupa juga ada obat disana.


"Dika kamu makan dulu habis itu minum obat. " dika mengangguk dan mencoba bangkit tapi dia kesusahan dan akhirnya airin memilih untuk menyuapinya.


"Airin kamu gak pulang? Apa suami kamu gak nyariin kamu."


"Suami aku lagi di luar kota. Aku udah ngasih tau orang rumah kalau aku nginap di rumah teman.


"Owh gitu. Maaf ya jadi ngerepotin kamu. " Airin hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2