Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku
TERBONGKAR


__ADS_3

Part 64:


Di waktu yang sama, namun ditempat yang berbeda. Cetrin dan Diendra telah sampai di depan pintu villa milik Daniel.


Cetrin mulai mengetuk pintu tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk.


Ia terharu, namun sekaligus gusar. Ibu mana yang akan sanggup bertemu kembali dengan sang anak yang sudah sekian lama tak bertemu, bahkan telah dikatakan meninggal dunia. Tentu rasa haru dan rindu yang mendalam terhadap sang anak begitu sangat kuat, sehingga rasa tak mampu menatap itu muncul.


Cetrin mengetuk pintu tersebut dengan penuh perasaan, disertai air mata yang tak sanggup lagi ia bendung. Sedangkan Diendra mengusap pundak sang istri, berniat menenangkannya.


Daniel yang berada di dalam villa tersebut, mendengar suara ketukan pintu dari luar pun merasa sangat senang.


Dia pikir, itu adalah Nadia. Sebab sebelum pulang tadi pagi, Nadia sempat mengatakan bahwa ia akan berkunjung lagi nanti sore ke villa nya.


Daniel juga sudah tidak sabar ingin memberi tahu Nadia tentang sebuah kabar baik.


" Nadia pasti senang," pikirnya.


Daniel pun segera membuka pintu dengan rasa tak sabarnya.


Namun seketika tubuhnya membeku, bibirnya yang semula tersenyum, tiba-tiba saja memudar saat mengetahui siapa orang yang bertamu ke villa nya tersebut.


" Daniel, anak Mama," ucap Cetrin seraya menghambur ke dalam pelukan Daniel.


Rasa rindu terhadap anak bungsunya tersebut tak dapat lagi ia tahan. Selama bertahun-tahun ia memendamnya, bahkan semua orang telah menganggap Daniel telah meninggal.


Sedangkan Daniel masih membeku di tempatnya. Pikirannya masih mencerna dengan apa yang terjadi didepan matanya.


" Kamu tambah ganteng ya Nak. Pasti hidup kamu sekarang enak." Cetrin lantas tersenyum, begitu pun Diendra yang ikut tersenyum bangga atas kerja keras anaknya itu.


Mereka juga masuk kedalam vila milik Daniel tersebut, serta mengabsen setiap meter ruangan tersebut dengan rasa kagum.


" Wah ini villa kamu, mewah Banget," puji Cetrin.


" Ini hasil kerja kamu sebagai musisi ya Nak?" lanjutnya.


" Iya, ini semua hasil kerja keras aku selama ini. Hasil dari pekerjaan yang pernah Mama benci dulu." Daniel lantas tersenyum miris. Pikirannya menerawang kejadian beberapa tahun silam. Dimana dia sama sekali tidak di anggap karena hobi dan penyakitnya itu.


" Maafkan Mama atas apa yang terjadi dulu sama kamu. Hari itu sebelum kamu berobat ke luar negeri, Mama belum sempat minta maaf secara benar kepada kamu. Kali ini Mama meminta dengan sangat, supaya kamu mau memaafkan Mamamu yang banyak salah ini sama kamu," ucapnya tertunduk sedih. Begitupun Diendra yang juga ikut merasa menyesal karena tak bisa berbuat apa-apa waktu itu.

__ADS_1


Mendengar penyesalan dari orang tuanya, hati Daniel jadi tersentuh. Ada rasa bersalah karena telah kembali mengungkit yang seharusnya sudah menjadi masa lalu yang harus dilupakan, dan hanya akan menjadikan itu semua sebagai pelajaran berharga.


Daniel lantas mendekati Cetrin yang sedang menangis karena penyesalannya.


Dia pun langsung memeluk sang ibu dengan segenap rasa bersalah dan rasa rindunya.


" Seharusnya Daniel yang minta maaf sama Mama karena udah bikin hati Mama terluka. Seharusnya Daniel berterimakasih sama Mama, berkat didikan Mama, Daniel jadi kuat dan tidak manja. Daniel minta maaf ya Ma." Pelukannya semakin erat terhadap sang ibu. Rasanya sudah lama ia merindukan momen tersebut. Meskipun umurnya tak muda lagi untuk merasakan kasih sayang sang ibu, namun perasaan manja itu muncul saat dia sudah beranjak dewasa, seperti sekarang ini.


Cetrin merasa terharu, ia pun membalas pelukan Daniel tak kalah erat. Hingga akhirnya mereka saling menumpahkan rasa rindu satu sama lain.


" Iya sayang, Mama juga minta maaf."


" Hemmm dunia serasa milik berdua, yang lain mah ngontrak," celetuk Diendra. Ia melipat kedua tangannya, berpura-pura merasa cemburu dengan kedekatan ibu dan anak itu.


" Papa mau ikut juga?" tawar Cetrin pada suaminya itu. Dan tentu saja Diendra mengangguk semangat menerima tawaran Cetrin tersebut.


" Bilang aja mau minta di ajak, pake segala ngambek. Kode doang itu mah." Daniel sengaja mengejek sang ayah, hingga membuat Diendra kesal.


Pletak,,,,


" Awsh sakit tau Pa. Liat deh Ma, suami Mama ini lagak nya aja kayak orang berwibawa, cool, tapi nyatanya masih kayak anak kecil aja. Ganti nahkoda aja deh Ma!" Sekali lagi Daniel mengejek sang ayah.


" Heh sudah sudah! Kalian ini, seperti anak kecil saja. Papa juga, ngalah dulu sama anak, Mama masih kangen ini," ucap Cetrin. Daniel tertawa puas melihat Diendra seperti ayam ketelen biji kedondong, sedangkan Daniel bersembunyi dibalik punggung ibunya.


" Hahaha, di salak sama ibu negara nih." Daniel kembali mengejek Diendra, namun kali ini dia hanya bisa pasrah dengan ejekan anaknya itu.


" Oh iya Ma, Nadia kemana, kok gak ikut?" Mendengar nama Nadia disebut, wajah Cetrin berubah masam, Daniel yang tak sengaja menangkap pemandangan itu pun jadi bertanya-tanya.


" Ngapain kamu masih cariin wanita penipu itu?" tanya Cetrin dengan nada marah. Daniel tak mengerti, ia pun menautkan alisnya karena tak mengerti.


" Ya karena dia istri aku Ma, dan dia sekarang tengah mengandung cucu Mama," jelas Daniel masih dengan intonasi normal, meskipun hatinya marah karena tak terima istrinya dihakimi seperti itu.


" Cih cucu, Mama bisa cari kan sepuluh perempuan yang subur, supaya Mama bisa dapat cucu yang banyak dari kamu, tapi bukan dia orangnya," cibir Cetrin.


" Maksud Mama apa sih. Memangnya ada apa sama Nadia sampai tiba-tiba Mama sebenci ini sama dia, dia berbuat salah apa sama Mama?" Daniel mulai tersulut emosi. Bohong jika dia mengatakan tidak akan marah, tapi jika itu semua tantang istrinya, sekuat apapun dia berusaha untuk tidak emosi, maka emosinya akan semakin kuat pula.


" Kamu yang ada apa. Perempuan itu ingin menjauhkan kamu dari Mama sama Papa. Dia sengaja tidak mengatakan bahwa kamu masih hidup, agar dia bisa menguasai kamu seorang diri." Suasana semakin panas, Cetrin saja berbicara sambil berteriak-teriak.


" Apa yang Mama katakan. Nadia tidak seperti itu, aku yang memintanya untuk tidak mengatakannya pada siapapun tentang diriku."

__ADS_1


" Bela terus saja dia, lama-lama dia bisa ngelunjak karma terus-terusan kamu bela." Cetrin pun tak terima dengan pembelaan Daniel terhadap Nadia.


" Gini aja deh ma. Nih Mama dengerin baik-baik!" Daniel lantas menaruh ponselnya di atas meja.


" Apa ini Daniel?" tanya sang ayah.


" Papa buka aja sendiri, nanti juga Papa tahu." Diendra segera meraih ponsel Daniel dan membukanya.


" I_ini apa Daniel?" tanya Diendra merasa terkejut. Cetrin yang penasaran dengan apa yang membuat suaminya itu terkejut itu pun segera mendekati suaminya.


Tak ubahnya Diendra, Cetrin pun sama. Dia sangat syok mengetahui isi dari video yang ia lihat.


" Ja_jadi, Andre dan Mira yang melakukan semua ini?"


" Iya Ma. Kemaren, Bagas memergoki mereka berdua ketemuan di cafe. Mereka membahas suatu rencana licik lagi untuk ku dan Nadia, otomatis saat ini Nadia dalam bahaya jika tidak didampingi," jelas Daniel. Wajah Cetrin dan Diendra berubah pias saat mendengar semua penjelasan Daniel.


Ada rasa sedih, kecewa dan marah pada diri keduanya, namun yang lebih mendominasi ada rasa bersalah terhadap Nadia. Sebenarnya mereka sendirilah yang membuat Nadia dalam bahaya karena telah membiarkan Nadia sendirian di luaran sana, apalagi saat ini Nadia sedang mengandung.


" Sekarang Nadia nya mana. Daniel takut kalau Nadia sendirian di rumah akan bahaya bagi dia," tuturnya.


Degh,,,,,


Cetrin seolah kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Daniel tentang Nadia.


" Na_nadia,,,,,,, Nadia ya?" ucapnya sambil nyengir menutupi rasa gugupnya. Dia juga menatap suaminya yang juga nampak bingung.


" Iya, Nadia kemana? Apa dia ada lembur mendadak sampai gak bisa ikut, atau dia lagi ada di rumah?"


Diendra lantas mendekati putranya itu seraya menepuk pundak sang anak.


" Kalau seandainya kami ceritakan sama kamu dimana Nadia sekarang, apa kamu mau janji tidak akan marah sama kami!"


Bukannya mengangguk, Daniel malah semakin dibuat bingung.


" Ya tergantung. Tapi aku usahain deh," lanjutnya lagi.


" Jadi begini, karena kami mengira Nadia lah dalang di balik ini semua, kami merasa sangat marah, lalu mengusir nya dari rumah."


Degh,,,,,,,

__ADS_1


__ADS_2