
"Maen gak Lyn?" tanya Beni ke Erlyn.
"Enggak ah. Lagi males, gue juga lagi nunggu bang ojol" jawab Erlyn sambil memainkan HP nya.
"Lo pesen apa Lyn?" tanya Sasha yang sembari maen dengan Berlyn.
"Gue pesen gitar sama makanan buat makan malem, lagi males masak gue" jawab Erlyn kembali.
"Oiya Lyn. Gue penasaran nih, kok lo bisa punya DVD edisi terbatas sebanyak ini sih?" tanya Beni menyelidik. "Biarpun Berlyn yang banyak duit aja, masih sering keduluan orang buat beli DVD kayak gini" sambung Beni.
"Lo gak usah bawa-bawa nama gue ya!!" teriak Berlyn yang masih fokus ke game nya.
"Iyaa…iya santai aja sih" ucap Beni kepada Berlyn.
"Sebenarnya, kakak ipar gue tuh. CEO perusahaan yang bikin tu game, jadi tiap kali dia kesini. Dia selalu bawa DVD buat gue, gue juga gak tau kalau DVD itu edisi terbatas" ucap Erlyn menjelaskan.
"Bener tuh. Kalau bukan tadi kalian yang bilang, mungkin sampai nanti Erlyn gak tau kalau DVD ini sangat langka hhh" sambung Sasha menambahkan.
Ting…tong… Suara bell pintu di bunyikan.
"Eh, pesenan gue udah dateng. Gue ambil dulu ya" ucap Erlyn yang kemudian berjalan keluar.
"Sa! Erlyn anaknya orang kaya ya?" tanya Beni ke Sasha.
"Enggak tahu. Yang pasti dia gak pernah kekurangan uang" jawab Sasha yang masih fokus dengan game nya. "Lyn!! lo ngalah dikit dong sama cewek, gue udah mati 10 kali nih" ucap Sasha ke Berlyn.
"Iya…iya" jawab Berlyn singkat.
"Sa!… bantuin gue bawa piring ke sana dong!!" teriak Erlyn dari ruang tamu.
"Bentar Lyn OTW!!" sahut Sasha. "Nah! lo main gantiin gue dulu. Awas kalau kalah!" ucap Sasha Ke Beni lalu pergi menghampiri Erlyn.
"Bisa maen gak lu?" tanya Berlyn ke Beni.
"Lo ngecengin gue?!" tanya Beni mengkerut kan alisnya.
"Enggak" ucap Berlyn dengan tersenyum sinis.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Erlyn dan Sasha kembali dengan tangan yang penuh. Erlyn membawa paketnya, sedangkan Sasha membawa peralatan makanya.
"Kenapa paketnya basah Lyn?" tanya Beni ke Erlyn.
"Ini tadi di luar hujan deres banget Ben, bang ojol nya aja basah kuyup" ucap Erlyn menjelaskan.
"Lah! terus kita pulang nya gimana?" tanya Beni, membuat semua orang menatapnya.
"Kita kan bawa mobil, enggak bakal kehujanan lah" ucap Berlyn singkat.
"Jangan! bahaya mengemudi di tengah hujan!" ucap Erlyn melarang.
"Mending kalian nginep di sini aja deh" ucap Sasha dengan santainya sambil mengelap piring.
Semua mata menatap Sasha, begitu pula Berlyn yang kini mengakhiri permainan nya.
"Kenapa kalian ngeliatin gue kayak gitu?" ucap Sasha yang menghentikan aktivitas nya.
"Lo nyuruh mereka nginep?" tanya Erlyn memperjelas.
"Iya, emangnya kenapa. Lagian lo tau sendiri kan Lyn, bahaya banget mengemudi saat hujan. Apalagi sekarang udah malem, suruh aja mereka tidur di ruang tamu" ucap Sasha melanjutkan mengelap sendok.
"Iya dehh" ucap Berlyn yang kini membantu Erlyn membuka paketnya.
"Pink lagi?!" teriak Berlyn setelah membuka paket Erlyn yang berisi gitar.
"Hehe, biar cocok sama yang laen" ucap Erlyn merasa canggung.
Beni dan Sasha hanya tersenyum melihat ekspresi Berlyn yang seakan muak dengan warna pink.
"Lo sengaja ya Lyn. Bahkan kotak nasi aja lo pilih warna pink!!" teriak Beni yang kini terlihat muak dengan warna pink setelah membuka paket Erlyn yang berisi makanan.
"Enggak kok. Gue gak mesen khusus pakai kotak pink, suer deh!" ucap Erlyn sambil mengangkat kedua jarinya.
"Udah deh. Kalian para cowok kenapa sensi banget sih dengan warna pink. Padahal kan warna pink imut" ucap Sasha terkekeh.
"Jreng…jreng…jreng" Berlyn mencoba gitar baru Erlyn.
__ADS_1
"Makan dulu yok. Nanti aja maen gitar nya" ucap Erlyn sambil menukar gitar yang di pegang Berlyn dengan piring.
"Ehem!" Sasha dan Beni berdehem melihat perlakuan Erlyn kepada Berlyn.
Mereka pun menyelesaikan makanya, sepanjang malam mereka bermain game. Bermain Drum, gitar. Suara tawa menghiasi malam mereka. Mereka tak khawatir mengganggu istirahat tetangga. Karena ruang musik Erlyn telah di desain khusus menjadi ruangan yang kedap suara.
"Ehh! Erlyn sama Beni ketiduran tuh" ucap Sasha yang lagi maen game dengan Berlyn.
"Masa sih?" ucap Berlyn lalu menoleh kebelakang.
"Bantuin buat pindahin dia ke kamar dong" ucap Sasha ke Berlyn.
"Gue?" tanya Berlyn sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya lah, siapa lagi. Kasihan kan kalau dia mesti tidur di sini. Bantuin pindahin ya, gue ambil selimut buat Beni dulu. Biar dia tidur di sini aja" ucap Sasha lalu pergi keluar ruangan.
Kini Berlyn duduk di samping Erlyn. Berlyn hanya menatap wajah Erlyn yang polos ketika tidur. Akhirnya Berlyn mengambil nafas, dan mulai menggendong Erlyn di pelukan nya. Berlyn berjalan dengan hati-hati agar tidak membangun kan Erlyn yang sedang tertidur. Setelah di dalam kamar, Berlyn meletakkan Erlyn ke ranjang nya dan hendak pergi keluar. Tetapi tangan Berlyn tertahan…
"Berlyn gue suka sama lo, tapi kenapa lo dingin ke gue?" ucap Erlyn yang sedang mengiggau sambil menarik tangan Berlyn.
Sontak Berlyn membulatkan bola matanya, mendengar pengakuan Erlyn. Berlyn pun duduk di dekat Erlyn.
"Lyn, dulu gue kaget saat pertama liat kamu. Gue gak tau kenapa wajah kamu bisa mirip dengan dia. Karena itu juga, gue gak pernah mau deket sama lo. Bahkan gue pindah kelas, setelah gue tahu kalau kita sekelas. Gue tau lo bukan dia, tapi gue gak bisa berhenti membenci wajah lo" ucap Berlyn yang hendak mengusap rambut Erlyn namun di urungkan karena kebencian di hatinya.
cklak…(suara knop pintu)
"Lo masih di sini Lyn" ucap Sasha yang baru masuk ke kamar. "Lo mau tidur dimana? Nemenin Beni atau tidur di kamar tamu?" tanya Sasha ke Berlyn.
"Gue tidur di kamar tamu aja" ucap Berlyn yang kemudian pergi keluar kamar.
*
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa memberi like setelah membaca ya 😘