
"Lapor tuan! Berdasarkan rekaman dari jam tangan nona, sudah bisa untuk membuktikan bahwa Sella merencanakan penculikan nona" ucap Dewa melapor kepada tuan Gu.
"Simpan saja bukti itu! Dan untuk orang-orang suruhan Sella, kurung mereka di ruang bawah tanah. Kita harus mempercepat rencana kita untuk mengambil alih Perusahaan Xander!" ucap Tuan Gu ke Dewa. "Kamu hubungi Ibunya Berlyn! Sudah waktunya kita bekerja sama dengan calon besan!!" ucap Tuan Gu memerintah Dewa.
"Siap Tuan!" seru Dewa yang kemudian berjalan keluar ruangan.
***
"Sialan!! Ngurus satu cewek aja gak berhasil! Sekarang yang paling penting, gue harus segera meninggalkan tempat ini!" ucap Sella sembari memasukan barang-barangnya ke koper.
"Besok pagi jadwal gue ke luar negeri!! Gue bisa gunakan ini sebagai pelarian!" ucap Sella dengan raut wajah cemas.
Keesokan harinya, semua mahasiswa yang akan di kirim keluar negeri sudah berkumpul di Bandara.
"Erlyn masih sakit…Gak mungkin Sasha sama Beni ikut ke luar negeri!" ucap Sella mencoba menenangkan hatinya.
Tak…tak…tak…terdengar suara langkah kaki yang menghampiri mereka di saat mereka hendak masuk ke pesawat.
"Sorry kita terlambat!" ucap Sasha sembari membuka kacamata hitam nya.
"ayo masuk!" ucap Beni menarik tangan Sasha.
"Sial!! kenapa mesti ikut juga sih!. Padahal kan gue pengen kabur dari pengawasan mereka di sini! Tapi, gue mesti tenang. Mereka pasti enggak tau kalau gue yang nyelakain Erlyn. Kalaupun para preman bodoh itu berani bawa nama gue, mereka gak ada bukti buat nuduh gue" gerutu Sella dalam hati.
Beberapa menit kemudian pesawat telah lepas landas. Sedangkan di rumah sakit, Berlyn sedang mengajak Erlyn untuk Jalan-jalan.
"Gue semalam cari info kamu di internet, katanya kamu CEO dari QT group. Kenapa masih di sini buat nemenin aku, emang kamu gak kerja?" tanya Erlyn ke Berlyn yang sedang mendorongnya dengan kursi roda.
"Kerjaan itu urusan gampang, masa cewek aku lagi sakit malah di tinggalin" ucap Berlyn yang kini jongkok di depan Erlyn.
"Ihh…apaan sih lo! Sana dorong lagi!" cetus Erlyn yang salah tingkah karena di tatap Berlyn dengan intens.
"Iya…" ucap Berlyn yang kini kembali mendorong kursi roda.
"Oiya…kata dokter, besok kamu udah boleh pulang" ucap Berlyn ke Erlyn.
"Bagus deh…Gue juga udah bosen di rumah sakit terus" ucap Erlyn sembari memainkan ponselnya.
"Ehh!…Liat! di sana ada penjual Milk Tea. Kamu haus gak? Pas SMA dulu biasanya kamu paling suka minum milk tea" ucap Berlyn sembari menunjuk ke sebuah kedai di dekat sana.
"Iya kah? Gue suka Milk tea?" tanya Erlyn yang bingung.
"Gak cuma itu, biasanya kamu juga suka minum soda kaleng. Tapi kamu masih sakit,minum milk tea aja ya!" ucap Berlyn menawarkan ke Erlyn.
__ADS_1
"Ya udah deh…terserah kamu" ucap Erlyn pasrah.
"Nah…kamu tunggu di sini dulu. Aku beliin buat kamu ya!" ucap Berlyn sembari menarik kursi roda ke tempat yang tanahnya stabil.
"Jangan Lama-lama ya!" seru Erlyn ke Berlyn yang sudah berjalan menjauh.
"Hmm…kenapa aku masih belum bisa ingat apa-apa ya" gumam Erlyn sembari melihat foto-foto dirinya bersama Berlyn.
Di sisi lain, kebetulan sekali ketika Meli sedang di rumah sakit ia melihat Erlyn yang masih duduk di kursi roda.
"Itu…bukanya itu Erlyn! Kenapa dia kok di perban kayak gitu?" gumam Meli dalam hati.
"Sus!! Boleh tanya gak?!" seru Meli memanggil salah seorang suster yang sedang lewat.
"Iya mbak ada apa?" tanya Suster itu ke Meli.
"Itu…yang di kursi roda. Dia itu temen saya, kenapa ya kok sampai kayak gitu. Parah gak penyakit nya?" tanya Meli ke suster sembari menunjuk ke arah Erlyn.
"Ohh…pasien itu di bawa kerumah sakit sejak 2 hari yang lalu. Pas di bawa kesini, kepalanya sudah luka gara-gara terbentur. Dan sekarang, pasien itu masih amnesia. Pacarnya kasian banget loh, dia nemenin ceweknya terus padahal ceweknya gak ingat sama dia" ucap Suster itu menjelaskan.
"Ohh…gitu ya. Ya udah makasih ya!" ucap Meli yang kemudian berjalan menghampiri Erlyn.
"Erlyn!!" seru Meli memanggil Erlyn.
"Wah…bener amnesia nih" gumam Meli dalam hati.
"Ya ampun Erlyn! Masa lo gak kenal gue?! Gue Meli, temen SMA lo!" seru Meli sembari memeluk Erlyn.
"Ehm…mungkin iya" ucap Erlyn sembari menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Kamu di sini sama siapa? Kalau sakit kenapa gak istirahat di kamar aja?!" ucap Meli berpura-pura perhatian.
"Gue di sini sama pacar Gue Berlyn!" ucap Erlyn berterus terang.
"Heh!…padahal gak ingat apapun, tapi Berlyn selalu nemenin dia. Liat aja, apa dari sekarang lo masih mau di temenin Berlyn" gerutu Meli dalam hati.
"Apa?! Gue gak salah denger nih! Lo pacaran sama Berlyn?! Lo pikun apa amnesia sih Lyn!" cetus Meli pura-pura panik.
"Emangnya kenapa?" tanya Erlyn yang makin bingung dengan ucapan Meli.
"Ya ampun Lyn…Masa lo lupa, kalau lo sewaktu SMA dulu di tolak mentah-mentah sama Berlyn! Bahkan sangking terpuruknya, lo sampai pindah keluar negeri! Berlyn itu bukan pacar lo!" ucap Meli sengaja menyesatkan ingatan Erlyn.
"Tapi…foto-foto di HP ini" ucap Erlyn sembari menunjukkan foto-foto nya bersama Berlyn.
__ADS_1
"Sial!…Foto-foto mereka mesra banget!" gerutu Meli dalam hati.
"Lo sakit apa sih?!" tanya Meli sembari duduk di samping Erlyn.
"Sebenarnya gue amnesia! Tapi, lo tau banyak tentang gue. Bisa lo cerita in apa aja yang lo tau gak?!" ucap Erlyn ke Meli.
"Lo amnesia?! Pantesan aja lo sampai di bohongin Berlyn" ucap Meli semakin menyesatkan.
"Maksud lo gimana?" tanya Erlyn ke Meli.
"Nih…gue kasih tau! cewek yang ada di dalam foto itu bukan lo. Tapi Sella, mantan pacarnya Berlyn! Kalau lo gak percaya, nih liat sendiri gue juga punya fotonya!" ucap Meli sembari menunjukkan foto Sella dan Berlyn.
Erlyn melihat foto yang ada di ponsel Meli, memang dia terlihat mirip dengan Erlyn. Tetapi ketika Erlyn hendak melihat lebih detail, Meli segera menarik ponselnya kembali.
"Udah!…Terus ya, ini nih! Dulu tuh ada yang ngerekam saat lo di tolak sama Berlyn! Bahkan sampai viral di seluruh sekolah!" ucap Meli sembari menunjukkan video yang ia rekam 2 tahun lalu.
"Heh!…rupanya berguna juga nih video gue simpan selama ini" ucap Meli dalam hati.
Erlyn terkejut melihat video itu, Gambaran tentang kejadian itu mulai teringat jelas. Erlyn mulai mengingat kejadian itu, namun…hanya kejadian di saat Berlyn menolaknya karena parasnya yang mirip Sella. Erlyn merasa kesakitan, dan terus memegang kepalanya.
"Ahh!…kepalaku sakit banget!" seru Erlyn sembari memegang kepalanya.
"Erlyn! lo kenapa?!" seru Meli yang panik melihat Erlyn kesakitan.
"Erlyn!!" teriak Berlyn yang baru datang setelah membeli minuman.
"Minggir lo!!" cetus Berlyn sembari mendorong Meli dari hadapan Erlyn.
"Erlyn! Tenang Lyn!! Lo kenapa?!" seru Berlyn sembari memeluk kepala Erlyn.
"Pergi Lo!!" teriak Erlyn sembari mendorong Berlyn sekuat tenaga.
"Erlyn!" seru Berlyn kaget dengan perlakuan Erlyn kepada nya.
"Pergi lo dari sini!! Gue gak mau liat…" ucapan Erlyn terpotong. Pandangannya mulai buram, dan akhirnya Erlyn pingsan.
"Erlyn!!" Seru Berlyn yang kemudian mendekati Erlyn.
"Apa yang udah lo lakuin?!" teriak Berlyn memarahi Meli.
"Apa?!! Emang apa yang bisa gue lakuin ke Erlyn selama dia lo lindungi?!" teriak Meli ke Berlyn supaya Berlyn tak curiga padanya.
"Liat aja!! Kalau terjadi sesuatu ke Erlyn, gue gak akan ngelepasin lo!!" cetus Berlyn yang kemudian menggendong Erlyn masuk ke kamar pasien.
__ADS_1