Jatuh Cinta Kepada Gunung Es

Jatuh Cinta Kepada Gunung Es
ML


__ADS_3

"Ehemm…sepertinya ada yang bakal neraktir kita nih!" ucap Erlyn membuyarkan kemesraan Sasha dan Beni.


Sasha tersenyum malu melihat Erlyn yang tiba-tiba datang.


"Oke! Gak masalah! Karena gue baru jadian sama Sasha, malem ini semua biaya gue yang tanggung!" ucap Beni penuh percaya diri.


"Woke!! Gue jamin lo bakal bangkrut!!" seru Erlyn penuh semangat.


"Udah…Jangan terlalu memeras anak muda yang masih nganggur!" ucap Berlyn menggoda Beni.


"Kata siapa Beni masih nganggur! Asal kalian tau aja, karena Beni di kirim keluar negeri sama Universitas. Beni sekarang sudah di percaya buat nerusin usaha ayahnya, jadi gak nganggur lagi!" ucap Sasha membela Beni.


"Denger tuh!! Gue udah gak nganggur lagi!!" cetus Beni menyombongkan diri karena di bela Sasha.


"Iya" cetus Berlyn singkat.


"Ya udah ayok kedalam!! Malem-malem di luar dingin nih!" ucap Erlyn sembari menggosok-gosok tangannya.


"Ya udah ayok kedalam!" ucap Berlyn sembari merangkul Erlyn dan berjalan masuk.


"Mau gue rangkul juga gak?" ucap Beni ke Sasha.


"Ehh!…Enggak usah!" cetus Sasha singkat yang kemudian berjalan mendahului Beni.


"Tungguin!" seru Beni yang kemudian mengejar teman-temanya.


***


"Pak!! Saya baru pulang dari luar negeri, memangnya apa kesalahan saya sampai harus di tahan di sini!!" seru Sella yang sedang berada di kantor polisi.


"Apakah nama kamu Sella Xanderlyn?" tanya polisi ke Sella.


"Iya Pak benar!! Saya Sella Xanderlyn dan sesuai nama saya, anda pasti tahu kalau saya puteri pertama dari keluarga Xander. Sebelum saya telepon papi buat pecat kalian, lebih baik lepasin saya sekarang!" ucap Sella mengancam polisi.


"Kalau begitu, anda harus di tahan di kantor polisi sampai saat sidang penentuan hukuman selesai!" ucap Polisi sembari mendorong Sella masuk ke dalam jeruji besi.


"Apa?! Saya gak salah pak!! Izinin buat saya telepon papi sekarang juga!! Saya yakin setelah ini kalian semua akan di pecat!!" teriak Sella menantang para polisi yang menangkapnya.


"Silahkan!" ucap polisi itu sembari memberikan telepon ke Sella.


Dengan kesal Sella menekan nomer papinya. Tuut…tuut…tuut…Berulang kali Sella menelepon papinya, namun tak mendapat jawaban.


"Apakah sudah selesai?!" tanya polisi yang sedari tadi melihat tidak ada satupun panggilan dari Sella yang terjawab.


"Bentar pak! Saya coba sekali lagi!" ucap Sella yang mulai gugup.


"Sial! Kenapa Papi gak jawab telepon gue sih!" gerutu Sella dalam hati.


Tuut…tuut…tuut…Sella mulai melakukan panggilan lagi, namun kali ini ia menelepon ibunya.

__ADS_1


"Halo!" terdengar suara wanita paruh baya dari balik telepon Sella.


"Halo Mi!! Ini Sella! Mami!…tolongin Sella! Sekarang Sella ada di kantor polisi, dari tadi papi di telepon enggak bisa!" seru Sella merengek pada ibunya.


"Percuma kamu hubungi Xander!! Perusahaan nya udah bangkrut!!" ucap ibunya Sella dengan tegas.


Sontak Sella membulatkan kedua matanya karena terkejut. Sella menggigit bibirnya, dan mulai berkata kembali.


"Te…terus Sella mesti gimana mi" ucap Sella melirihkan suaranya.


"Kamu tenang aja! Mami yang akan ke kantor polisi! Kamu baik-baik aja dulu, sebentar lagi mami bawa pengacara kesana!" ucap Ibunya Sella yang kemudian menutup telepon nya.


Sella mengembalikan ponselnya ke polisi. Ia mulai berjalan ke pojokan lantai dingin di dalam sel tahanan.


"Papi bangkrut! Gue di tahan polisi!! Dalam seminggu semuanya sudah berakhir?! Ini semua pasti perbuatan Erlyn!! Lo lihat aja, gue akan beri kalian semua ganjaran dari perbuatan kalian!!" gerutu Sella dalam hati.


Setelah beberapa saat, akhirnya ibu dari Sella datang menjemput. Karena bantuan pengacara yang di bawa ibunya, Sella mendapat jaminan untuk tinggal di rumah sampai saat keputusan pengadilan selesai. Namun, semua kartu Identitas Sella di sita oleh polisi termasuk visa dan juga Faspor nya.


Selain kesialan Sella, di sisi lain Erlyn dan teman-temannya mulai besenang-senang di malam itu.


"Gila! Seru banget! Udah lama gue gak maen drum!" seru Erlyn merasa sangat puas setelah bermain durm.


"Itu TV buat apa?" tanya Berlyn sembari menunjuk sebuah TV di pojok ruangan.


"Ohh…itu buat karaokean!" ucap Sasha menjawab Berlyn.


Berlyn mengerutkan alisnya kembali dan tidak sengaja terlihat oleh Erlyn.


"Enggak!! Cuma bosen aja nyanyi terus, gue kira itu tadi tv buat maen game!" ucap Berlyn berterus terang.


"Bener!! Gue juga mulai bosen, Makanan juga belum dateng!" ucap Beni yang juga sependapat dengan Berlyn.


"Kenapa gak maen game lewat HP aja!" seru Erlyn memberikan ide.


"Game apa?" tanya Sasha penasaran.


"Benteng-bentengan!" ucap Erlyn singkat yang kemudian membagikan link ke teman-temannya.


"Unduh dulu nih?" tanya Beni yang sudah membuka link yang di kirim Erlyn.


"Ya iya bego!" cetus Sasha sembari melemparkan tisu ke Beni.


"Ya elah! Gue kira apaan benteng-bentengan! Rupanya ML!" cetus Sasha setelah mengunduh game yang dikirim Erlyn.


"ML?!!" seru Berlyn dan Beni bersamaan.


Sasha dan Erlyn mulai menatap ke Berlyn dan Beni yang salah mengartikan kata ML dari Sasha.


"Apa yang kalian fikirin?!" cetus Erlyn sembari mendorong Berlyn yang masih kaget dengan ucapan Sasha.

__ADS_1


"Iya deh!!…Emang ya, semua cowok pikiran nya mesum!!" cetus Sasha yang juga memukul bahu Beni.


"Ya Sorry! Habisnya lo bilang ML…gue kira yang biasa di lakuin tante-tante Jep*ng!hahaha…" ucap Beni yang menatap Berlyn hingga keduanya tertawa.


"Diem!" cetus Erlyn sembari mencubit lengan Berlyn.


"Iya!…iya! Sakit tauk lo cubit kayak gitu!" cetus Berlyn sembari mengusap lengannya.


"Ya udah! ayo main! Kita buktiin di antara kita siapa yang termasuk pasangan solid!" ucap Sasha penuh percaya diri.


"Tapi…gue gak bisa maen ini!" ucap Beni lirih.


"Gue juga gak bisa" ucap Berlyn yang kini menoleh ke Erlyn.


"Ya udah…anggep aja impas! Jadi kita bakal ngelindungin para cowok nih!" ucap Erlyn berkedip ke Sasha untuk menyinggung kedua cowok itu.


"Wokey!" seru Sasha sembari mengacungkan jempol nya dengan dengan semangat.


Berlyn dan Beni menatap tajam ke arah kedua gadis itu.


"Gue gak butuh perlindungan cewek! Cuma main benteng-bentengan kan!! Gampang!!" seru Berlyn yang tak mau di remehin pacarnya.


"Benar!! Kalian para cewek berdiri di belakang kami, Tenang aja!! sebagai cowok! kami yang akan lindungi kalian!!" seru Beni yang kemudian mulai masuk ke dalam game.


Mereka semua mulai login ke dalam game. Pertandingan antar kedua tim berlangsung sangat sengit. Namun, lebih tepatnya pertandingan antara Erlyn dan Sasha. Di menit pertama, Beni terbunuh oleh benteng lawan. Di menit berikut nya, Berlyn juga terbunuh karena benteng lawan.


Dan setelah itu, Berlyn menjadi sasaran Sasha. Sedangkan Beni, sudah menjadi santapan empuk bagi Erlyn. Pertandingan berlangsung selama 15 menit. Selama itu, Berlyn sudah mati sebanyak 59kali dengan 78%nya mati di serang benteng lawan. Sedangkan Berlyn, selama 15 menit Beni mati sebanyak 1001kali. Dan sudah pasti Tim Erlyn yang memenangkan pertandingan.


"Kamu sih!! Kenapa mati banyak banget!! jadi kalah kan!!" cetus Sasha mengeluh pada Beni.


"Ya maaf…kan gue belum bisa maen ini game" ucap Beni menenangkan Sasha.


"Gila!! lo mati sebanyak 1001?! udah kayak ceritanya Sangkuriang aja lo, di suruh bikin 1001 candi!!" cetus Berlyn mentertawakan Beni.


"Yang bener tuh cerita Bandung Bondowoso!" cetus Erlyn sembari mendorong kening Berlyn dengan telunjuknya.


"Heleh!!Masih mending gue mati di bunuh Erlyn! Dari pada lo! Dari kapan taun tuh benteng cuma diem di situ, masih aja kebunuh sama benteng!" ucap Beni yang juga mengejek Berlyn.


"Lo!" cetus Berlyn menunjuk ke arah Beni.


"Apa!" cetus Beni mentertawakan Berlyn.


"Udah…makanan udah dateng. Gue ambil di depan dulu!" ucap Sasha yang kemudian berjalan keluar.


"Gue ikut!" teriak Beni yang kini berlari menyusul Sasha.


"Mau gue ajarin gak!" ucap Erlyn sembari menyenggol pundak Berlyn.


"Enggak!" cetus Berlyn yang kemudian berjalan keluar.

__ADS_1


"Ya elah! Sensian banget tuh cowok!" cetus Erlyn mentertawakan Berlyn yang ngambek.


__ADS_2