
"Yah…makan ini lagi? Keripik lo kemarin masih ada gak Lyn?" tanya Erlyn ke Berlyn.
"Ada!" ucap Berlyn langsung membuka tas nya.
"Tapi yang rasa balado udah abis" ucap Berlyn sambil mengulurkan keripik ke Erlyn.
"Iya gak masalah!" cetus Erlyn langsung menaburkan keripik ke nasinya.
"Lo mau semangka gak?" ucap Doni yang cemburu melihat Erlyn sangat menyukai keripik pemberian Berlyn.
Erlyn dan Berlyn menatap ke arah Doni yang sudah mengeluarkan semangka nya.
"Yang bener aja! Masa makan nasi lauk semangka" ucap Berlyn terkekeh melihat kelakuan konyol Doni.
"Udah-udah! Nanti gue makan kalau udah selesai makan nasi. Tapi…itu tas lo kok muat banyak semangka sih?" ucap Erlyn sambil tertawa.
"Ya iya lah. Kan ini tas nya Doraemon!" ucap Doni mengada-ngada.
"Ahahaha! Udah umur berapa lo masih percaya Doraemon!" cetus Berlyn yang tak kuasa menahan tawa.
"Huss!Gak boleh gitu!" tegur Erlyn sambil mencubit perut Berlyn.
"Aw! Iya iya…santai aja ngapa" ucap Berlyn sembari mengelus perutnya yang sakit karena di cubit Erlyn.
"Kok mereka makin akrab ya…Apa gue udah gak ada harapan buat deketin Erlyn" gumam Doni dalam hati, yang merasa minder melihat kedekatan Erlyn dengan Berlyn.
"Hmm…Ya udah. Sini biar gue yang buang sampah nya" ucap Doni karena semua telah selesai makan.
"Ohh iya. Tadi katanya suruh ngambil perlengkapan buat miniatur di tenda sekretariat. Sekalian lo ambil ya, gue gak kuat" ucap Erlyn ke Doni.
"Siap Bos!" ucap Doni antusias dan langsung keluar tenda.
"Erlyn! Gimana keputusan lo?" tanya Berlyn ke Erlyn ketika Doni sudah keluar tenda.
"Apanya yang gimana?" ucap Erlyn pura-pura tak tahu.
"Ya…tentang jadi pacar gue. Lo udah ambil keputusan apa belom?" tanya Berlyn penuh harap.
"Haduh…gimana ya Lyn. Cuma gue mau ngasih tau ke lo, untuk sekarang ini gue lagi sibuk sama kerjaan dan lagi fokus kuliah. Gue cuma takut, gue gak ada waktu buat pacaran! Gue masih susah ngebagi waktu, Soal pacaran nanti-nanti aja" ucap Erlyn ke Berlyn dengan hati-hati karena takut membuat Berlyn tersinggung.
"Gimana kalau nanti gue yang biayain kebutuhan lo, Jadi lo gak perlu mikirin pekerjaan. Lo bisa fokus belajar, dan bisa pacaran sama gue!" ucap Berlyn yang kini mendekat ke Erlyn.
"Maksud lo apaan!! Lo kira gue cewek matre, yang pacaran cuma karena duit!!" bentak Erlyn yang lalu keluar tenda karena sakit hati merasa di rendahkan.
"Haduhh…Kok gue lupa sih kalau si Erlyn gengsian" ucap Berlyn sambil menggaruk leher nya yang tidak gatal.
"Erlyn!! Bukan gitu maksud gue!" seru Berlyn yang juga keluar mengejar Erlyn.
"Berlyn, Erlyn! Kalian ngapain? Lagi berantem ya?" tanya Sasha yang melihat Erlyn kesal sedangkan Berlyn mengejar Erlyn.
"Enggak kenapa-kenapa" cetus Erlyn singkat.
"Bagus deh kalau baik-baik aja. Oiya, Beni sama Kak Doni udah nunggu di bawah pohon deket danau. Bahan miniatur udah di bawa kesana semua, katanya kalau kalian nyusul kesana suruh sekalian bawa pisau di dalam tas Doni" ucap Sasha menjelaskan.
"Ya udah tunggu bentar gue ambilin!" seru Berlyn yang kemudian masuk ke dalam tenda.
__ADS_1
"Kita duluan aja yok!" ucap Erlyn ke Sasha.
"Lah!…Berlyn gak di tungguin?" tanya Sasha bingung karena Erlyn langsung menarik tanganya.
"Dia cowok! Gak bakalan nyasar juga!" ucap Erlyn ke Sasha. "Berlyn!! sekalian bawa sketsa sama pena gue ya!" teriak Erlyn ke Berlyn dan langsung menarik Sasha ke pinggir danau.
"Udah Lyn…Ini pena nya…" ucapan Berlyn terhenti karena tak mendapati keberadaan Erlyn dan Sasha.
"Kok gue di tinggalin!" gerutu Berlyn yang baru keluar dari tenda.Dan kemudian berjalan mencari teman-temanya.
"Wah…Di sini udaranya sejuk banget" ucap Erlyn menghirup udara di tepi danau.
"Beni sama Doni ada di sana! Ayo kesana!" seru Sasha sambil menarik Erlyn yang bermain air danau.
"Iya iya! Santai aja dong" gerutu Erlyn melepaskan tanganya dan berjalan mengikuti Sasha.
"Mana pisaunya?" tanya Doni ke Erlyn.
"Ada di Berlyn" ucap Erlyn singkat.
"Gimana Ben? udah sampai mana?" tanya Sasha ke Beni yang lagi sibuk mengetik.
"Pembahasan nya udah. Tinggal perincian dana" jawab Beni tetap fokus pada Laptop nya.
"Sini gue bantuin! Lo sama Sasha buat Miniatur nya aja!" ucap Erlyn yang lalu mengambil alih Laptop Beni.
"Gak masalah nih?" tanya Beni ke Erlyn.
"Udah…Lo santai aja, ini ada yang salah gue benerin gak masalah kan?" ucap Erlyn yang sudah fokus mengetik keyboard.
"Oke!" ucap Erlyn sambil tersenyum.
"Lah! terus siapa yang bantuin gue?" tanya Doni ke Erlyn.
"Lo minta bantuan Berlyn aja!" ucap Erlyn yang tetap fokus ke keyboard nya.
"Apa nyebut-nyebut nama gue?" tanya Berlyn yang baru tiba di tempat.
"Ehh!…Lo udah dateng. Sana bantuin Doni" ucap Erlyn ke Berlyn.
"Lah!…kan bagian miniatur jatah lo" ucap Berlyn tidak terima dengan keputusan Erlyn.
"Gue baru pakai cat kuku, nanti bisa rusak kalau di pakai ngerakit miniatur" ucap Erlyn sambil tertawa menatap Berlyn.
"Huuh…dasar cewek!" cetus Berlyn yang kemudian duduk membantu Doni.
Mereka bersama-sama mengerjakan tugas mereka, di sisi lain Sella sibuk sendirian membuat miniatur nya. Sudah pasti karena bukan Sella sendiri yang membuat sketsa, ia jadi kesusahan dalam membuat miniatur nya.
Waktu berputar dengan cepat, mereka telah menyelesaikan tugas mereka. Dan kini saatnya mereka mengumpulkan pekerjaan mereka.
Semua siswa berbaris di depan tenda sekretariat. Satu persatu nama kelompok di panggil maju untuk mengumpulkan proyeknya.
"Lyn…kamu lihat deh. Itu Sella buat miniatur lahan pertanian atau kuburan ya?hahaha" bisik Sella ke Erlyn sambil menunjuk Sella dengan pandangan.
"Huss…diem! Gak boleh gitu…masa lo gak tau sih! Sella tuh ngambil proyek area olahraga!hahaha" ucap Erlyn semakin mentertawakan Sella.
__ADS_1
"Apa maksud lo!" cetus Sella yang tak sengaja mendengar ucapan Erlyn.
"Apaan sih lo! ikut campur aja!" ucap Sasha ke Sella dengan sewot.
"Huuh…lihat aja nanti! Proyek gue bakal dapet nilai lebih besar dari pada lo!" cetus Sella dengan sombongnya.
"Iya…gue percaya kalau punya kelompok gue bakal dapat nilai lebih kecil dari punya lo. Tapi lo lihat aja, punya Sasha akan ngalahin proyek lo!" ucap Erlyn dengan tatapan dinginnya.
"Heh!…Punya lo aja gak yakin bisa lebih bagus dari punyaku. Bagaimana mungkin punya Sasha bisa ngalahin punya gue!" ucap Sella semakin sombong.
"Coba lo pikirin lagi…Proyek yang tidak jadi di kembangkan karena ada resiko yang tersembunyi. Rencana proyek NO. 254 tahun 2015! Lo yakin bisa ngalahin proyek yang enggak ada resiko gagalnya?" ucap Erlyn berbisik di telinga Sella.
"Bagaimana mungkin dia tahu? Apa Erlyn ngelihat gue pas lagi telponan sama pegawai papa?" suara hati Sella yang panik karena Erlyn mengetahui sisi gelap proyeknya.
"Heh!…Miniatur itu gak mungkin bisa ku lupakan. Dulu papi marah besar karena kesalahan proyek itu" gumam Erlyn dalam hati dan kemudian berjalan melewati Sella.
Semua tugas telah di kumpul, dan kini saatnya mengumumkan nilai dari setiap proyek. Hampir semua nama kelompok sudah di umumkan nilainya. Kelompok Erlyn berada di terbesar ke empat. Sedangkan masih tersisa 5 kelompok lagi. Yaitu, peraih nilai tertinggi 3 besar dan sisa 2 kelompok yang memiliki nilai terkecil.
"Baiklah semuanya! sekarang hanya tersisa 5 kelompok. Bagi yang nama ketuanya di panggil, berarti kelompok itu yang mendapat nilai tertinggi. Yang tidak di panggil, itu yang mendapat nilai paling kecil" ucap Panitia menjelaskan.
"Untuk peserta dengan nilai tertinggi ke 3 di raih oleh kelompok Zia!" seru panitia dari balik speaker.
Gemuruh tepuk tangan meramaikan suasana.
"Untuk nilai tertinggi ke 2 di raih oleh Sella!" seru panitia makin meriah.
"Heh!…Lo liat sendiri kan. Gue ada di posisi teratas ke 2. Lo kira Sasha sama Beni bisa sepintar apa sampai bisa jadi teratas pertama!" ucap Sella menyombongkan diri di hadapan Erlyn.
Erlyn hanya diam menunjukkan senyum sinisnya ke Sella.
"Untuk peserta yang memiliki nilai tertinggi! Di raih oleh kelompok…Beni!" seru panitia semakin meriuhkan suara tepuk tangan.
"Enggak mungkin! Kenapa bisa mereka!" cetus Sella yang terkejut dengan kemenangan Sasha.
"Kakaku sayang…Lo kira cuma lo yang bisa minjem otak orang buat ngerjain tugas. Lo jangan lupa, sebelum kedatangan lo yang ngancurin keluarga gue. Gue udah terjun ke dunia bisnis sejak kecil…Jadi lo gak usah terkejut melihat kemenangan Sasha…" ucap Erlyn membisikkan ke telinga Sella dengan sombongnya.
Sella menggertakan giginya dan berbalik menghadap ke Erlyn.
"Jadi Lo yang ngerjain tugas nya Sasha! Gue gak terima! Gue bakal laporin ke Panitia!" seru Sella membentak Erlyn.
"Silahkan saja kalau mereka percaya…Kelompok gue gak masuk 3 besar. Bagaimana mungkin gue bisa bantuin Sasha" ucap Erlyn dengan senyum sinisnya lalu berjalan meninggalkan Sella.
"Lo…Sialan!" teriak Sella sambil memukul udara.
Erlyn menghampiri Sasha untuk mengucapkan selamat. Mereka sangat senang atas keberhasilan Sasha dan Beni. Sedangkan Sella hanya berdiam sendiri, karena memang dia tak memiliki kelompok untuk merayakan kemenangan nya.
*
*
*
Makasih atas dukunganya 😅
Semoga setia menemani novel ini sampai tamat ya😘
__ADS_1