Jatuh Cinta Kepada Gunung Es

Jatuh Cinta Kepada Gunung Es
Terungkap


__ADS_3

"Berhenti!!" teriak Berlyn yang langsung berlari menghampiri Erlyn yang telah tergulai lemah di lantai.


"Siapa yang ganggu kesenangan gue!!" teriak penculik itu yang langsung menatap ke arah Berlyn.


"Dia bukan orang kita" ucap penculik yang satunya.


"Apa aja kerjaannya orang depan?! ngurus bocah ingusan aja gak becus!!" seru penculik itu sembari mengangkat kerah leher Berlyn.


"Gue kasih tau ke lo…lebih baik lo keluar sekarang dalam keadaan bisu, atau mau jadi pahlawan dan mati bersama gadis ini!!" ucap penculik itu mengancam Berlyn.


Pandangan sayu Berlyn hanya tertuju pada Erlyn yang tergeletak di lantai.


"Lo tahan dia, biar gue selesaiin gadis ini" ucap penculik yang satunya.


Penculik itu mendekat kan tangannya ke arah pinggang Erlyn. Berlyn yang melihat itu menjadi semakin termakan oleh amarahnya.


Bruaak!…Berlyn menendang penculik yang menahanya hingga terbanting ke dinding.


"Buang tangan kotor lo!!" Teriak Berlyn penuh amarah. "Dasar B*ngs*t!!" Berlyn menghajar habis-habisan para penculik itu. Hingga akhirnya bala bantuan datang, Berlyn menghentikan perkelahian nya dan berlari menghampiri Erlyn yang penuh darah.


"Erlyn!! Erlyn bangun!!" teriak Berlyn sembari menggoyangkan badan Erlyn.


Tak ada jawaban dari Erlyn, dengan penuh kecemasan Berlyn mengangkat dan berlari membawa Erlyn ke mobilnya. Berlyn membaringkan Erlyn dengan kepala Erlyn berada di pangkuan Berlyn. Dengan kecepatan penuh, Berlyn bergegas membawa Erlyn kerumah sakit.


Suasana menjadi hening ketika suara-suara itu terdengar keluar dari jam tangan Erlyn.


"Jadi gitu kejadian nya? Lo yang udah nyelametin gue?" ucap Erlyn setelah mendengar rekaman yang berasal dari jam tangannya.

__ADS_1


Berlyn tak menjawab pertanyaan Erlyn, begitu pula Beni dan Sasha yang hanya diam mencerna apa yang mereka dengar barusan.


"Jadi ini semua perbuatan Sella?" ucap Berlyn dengan nada dingin.


Erlyn menelan paksa salifa nya, karena ia merasa tertekan dengan hawa dingin yang keluar dari Berlyn.


Tok…tok…tok…seseorang mengetuk pintu ruangan itu. Yang ternyata ialah Dewa, asisten Erlyn.


"Nona…Bagaimana keadaan anda?" tanya Dewa ke Erlyn.


"Kamu siapa?" tanya Erlyn ke Dewa.


"Benar sekali! Kamu siapa? kamu yang udah datang bersama banyak orang untuk bantuin nyelametin Erlyn. Sebenarnya siapa kalian?" tanya Berlyn yang juga penasaran.


"Saya…" Dewa menghentikan ucapannya sejenak. "Saya ketua pengurus rumah di keluarga Tuan Gu. Saya sudah mendengar semuanya dari dokter, untuk saat ini biarkan saya yang mengurus para para penjahat itu. Karena itu saya kemari untuk mengambil jam tangan nona" ucap Dewa menjelaskan tanpa memberi tahu kebenaran identitasnya.


"Bagaimana kamu bisa tahu kalau ada bukti di dalam jam tangan Erlyn!" seru Sasha yang curiga dengan Dewa.


Berlyn sejenak diam untuk berfikir dan mulai mengangkat suaranya.


"Coba buktikan kalau kamu tidak punya niat buruk terhadap Erlyn!" ucap Berlyn memberikan syarat ke Dewa.


"Baiklah…Anda bisa memeriksa ponsel saya, jam tangan nona merupakan jam yang sudah di rancang khusus. Ketika nona dalam keadaan bahaya, nona akan menekan tombol merah di jam tangannya. Dan otomatis jam itu akan mengirimkan sinyal darurat ke saya dan juga merekam keadaan di sekitar nya. Karena itu pula, tadi saya bisa datang dengan cepat ke tempat nona di culik" ucap Dewa menjelaskan dengan detail.


Berlyn memeriksa ponsel Dewa, dan benar sekali di sana Berlyn menemukan GPS yang terkoneksi dngan jam tangan Erlyn.


"Baiklah…masalah ini ku serahkan ke kamu" ucap Berlyn sembari memberikan ponsel dan juga jam tangan Erlyn ke Dewa.

__ADS_1


"Terima kasih. Tuan Gu masih belum pulang dari luar kota, mungkin besok beliau akan mengunjungi nona. Saya permisi" ucap Dewa yang kemudian keluar dari ruangan.


"Dia bener pengurus rumah kamu Lyn?" tanya Sasha ke Erlyn.


"Ya enggak tahu…Setauku, Kak Dewa itu temennya Kak Dewi sewaktu di panti dulu. Mungkin ia udah bekerja buat kakek…aku juga lupa" ucap Erlyn yang kemudian menyandarkan badannya.


"Kamu tenang aja…Gue bakal berikan hukuman yang setimpal buat Sella" ucap Berlyn ke Erlyn dengan serius.


"Sudah lah…terserah kamu aja! Gue gak tau kenapa bisa pacaran sama cowok yang ekspresi nya dingin kayak kamu" ucap Erlyn yang kemudian menutup matanya.


"Puft…hahaha!! Lucu banget! Padahal dulu Erlyn ngejar-ngejar lo, sekarang malah dia yang ilfil sama lo" cetus Beni yang tak sanggup menahan tawanya.


"Diem lo!!" cetus Berlyn menonyor dahi Beni dengan telunjuknya.


"Aw!…iya iya" ucap Beni sembari mengusap dahinya.


"Mending kalian pulang aja deh, lagian…besok kalian mesti berangkat ke luar negeri"ucap Berlyn sembari membenarkan selimut Erlyn.


"Tapi kan…dokter bilang kalau Erlyn perlu bantuan dari luar untuk mengingat ingatanya kembali. Gue gak mau keluar negeri dulu" ucap Sasha menolak perkataan Berlyn.


"Enggak apa-apa. Biar gue yang jagain Erlyn di sini, gue juga mau bantuan kalian untuk mengawasi Sella di sana…Karena gue yakin, Tuan Gu tidak akan menangkap Sella untuk sementara waktu" ucap Berlyn yang mulai serius.


"Kalau emang keadaannya seperti itu, serahin aja semuanya ke kita berdua" ucap Beni penuh keyakinan.


"Ya udah deh…titip Erlyn ya!" ucap Sasha yang kemudian berdiri dan berjalan pergi bersama Beni.


Berlyn kembali duduk menemani Erlyn di dekat ranjang rumah sakit.

__ADS_1


"Lo udah pernah berusaha buat ngelupain gue. Tapi, bahkan setelah 2 tahun gak ketemu, kamu tetap gak bisa lupain gue. Ini cuma amnesia sementara, lo pasti bakal cepet ingat gue" ucap Berlyn sembari memegang tangan Erlyn.


"Biarpun dingin…Berlyn sangat perhatian dan tulus ke gue. Mungkin dulu gue bahagia sama dia. Baiklah, gue akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengingat kembali ingatanku" ucap Erlyn dalam hati yang mendengar perkataan Berlyn. Karena sebenarnya dari tadi Erlyn belum tidur.


__ADS_2