
Erlyn mengajak Berlyn menuju ke tempat yang tidak terlalu ramai. Mereka berhenti di bawah pohon rindang di dekat lapangan.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Berlyn kepada Erlyn.
"Gue mau bilang ke lo. Kalau…selama ini gue suka sama lo" ucap Erlyn tanpa basa basi.
Berlyn hanya mengernyitkan dahinya.
"Gue suka sama lo, Lo mau gak jadi pacar gue" ucap Erlyn yang kini menatap kedua mata Berlyn.
"Enggak!" ucap Berlyn ragu-ragu.
Deg…seketika jantung Erlyn seakan di pukul keras.
"Kenapa?" ucap Erlyn mencoba tetap tenang.
"Gue kira lo mau ngomong apa! kalau gak ada yang penting lagi, gue ke kelas dulu ya" seru Berlyn tersenyum canggung lalu hendak berjalan pergi.
"Jadi bener, selama ini lo anggap gue sebagai Sella?" tanya Erlyn dengan senyum pahitnya.
Berlyn seketika menghentikan langkahnya,dan berbalik menghadap Erlyn.
"Apa maksud lo!" Bentak Berlyn karena emosi mendengar Erlyn menyebut nama Sella.
"Gue udah tau…wajah Sella mirip dengan gue. Gue tau Lo benci wajah ini! tapi gue bukan Sella!" ucap Erlyn sembari menahan air matanya.
"Lo tau dari mana?" tanya Berlyn dengan tatapan dinginnya.
"Gak penting gue tau dari mana. Gue cuma pengen tau apa yang lo rasain tentang gue. Selama ini gue simpan perasaan gue, tapi setelah lo bersikap hangat ke gue! gue kira lo juga punya perasaan ke gue! Tapi nyatanya, lo cuma anggap gue sebagai target pelampiasan lo? iyaa kan?" ucap Erlyn tanpa menghiraukan raut wajah Berlyn yang mulai gelap.
"Iya!! gue benci muka lo!! Setiap gue liat lo tertawa, kenangan buruk yang pernah gue alami selalu muncul di otak gue!! Gue juga gak tau gimana muka lo bisa mirip Sella. Yang pasti, setiap gue liat muka lo. Gue selalu ingat penghianatan yang gue terima" Bentak Berlyn yang sudah tak bisa menahan amarahnya.
Erlyn hanya terdiam mendengar perkataan Berlyn. Air mata sudah tak bisa di bendung lagi, sedangkan Berlyn berjalan pergi meninggalkan Erlyn. Di sudut lain, Meli yang sedari tadi mengikuti Berlyn dan Erlyn telah memotret kejadian itu.
"Heh…kasian juga tuh. Punya wajah yang mirip mantan orang yang dia suka! tenang aja, bentar lagi akan ku buat berita ini heboh" gumam Meli sambil tersenyum.
Erlyn kembali ke kelasnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tatapan teman-teman nya tertuju kepada nya. Sasha yang dari luar, berlari menuju Erlyn yang sedang duduk di bangkunya.
"Erlyn!… Lo baik-baik aja kan!" teriak Sasha panik.
"Gak baik. Gue di tolak!" cetus ErlynErlyn singkat.
__ADS_1
"Iyaa gue tau" gumam Sasha dengan suara lirih.
"Maksud lo? dari mana lo tau kalau gue di tolak!" tanya Erlyn lagi.
Sasha hanya diam, ia ragu-ragu untuk menunjukkan berita itu.
"Karena lo jadi topik trending diforum sekolah!" Seru Meli yang berjalan menuju Erlyn.
"apa maksud lo!" teriak Erlyn lalu membuka HP nya.
"Uhh…kasian banget sih. Ratu sekolah menjadi korban penolakan Berlyn yang ke seratus! ahahahaha" seru Meli kemudian tertawa.
"Diem lo!…pasti lo kan yang bikin situs ini!" Teriak Sasha sambil mendorong Meli.
"Kalau iya kenapa?!" cetus Meli tak mau kalah.
"Abella Xanderlyn! Cewek paling top di sekolah sampai di beri julukan Ratu?! sekarang sudah punya gelar baru. Guys!…apa julukannya?!" teriak Meli memprovokasi.
"Ratu Melo!" teriak teman-teman sekelasnya yang kemudian mentertawakan Erlyn.
Erlyn hanya diam menatap ponselnya, sedangkan Sasha masih ribut dengan Meli. Erlyn sudah tidak bisa menahan amarah nya. Ia ambil tas nya lalu berdiri menatap Meli.
"Apa lo liat-liat!" teriak Meli ke Erlyn.
Plaak…Erlyn menampar Meli dan berlalu pergi meninggalkan kelas. Sasha mengikuti di belakang Erlyn, sedangkan Meli menjerit kesakitan.
***
Di kelas lain Beni yang habis dari luar, berlari menuju Berlyn.
"Berlyn!…Lo serius nolak Erlyn?!" tanya Beni dengan nafas tersenggal.
"Dari mana lo tau?" tanya Berlyn mengerutkan alisnya.
"Emang lo gak tau kalau masalah lo nolak Erlyn udah jadi booming di forum sekolah?" tanya Beni lagi.
Berlyn membuka ponselnya, matanya membulat setelah melihat isi dari situs itu.
"Bro…sebaiknya lo samperin Erlyn deh" pinta Beni ke Berlyn.
"Apa peduli gue" cetus Berlyn lalu menyimpan HP nya lagi.
__ADS_1
"Sampai kapan lo kayak gini? Sampai kapan lo mau bohongin perasaan lo sendiri? Lo pikir aja deh, selama ini lo pernah lembut sama siapa aja? Bahkan ke gue aja lo dingin banget! Lo yakin gak ada perasaan ke Erlyn?" ucap Beni menceramahi Berlyn.
Berlyn hanya diam mencerna perkataan Beni, sekilas kenangan nya bersama Erlyn muncul satu persatu di dalam benaknya. Berlyn mulai larut di dalam fikiran nya sendiri.
"Woi! yee…malah bengong"cetus Beni membuyarkan lamunan Berlyn.
"terus gue harus gimana dong. Gue tadi udah ngomong kasar ke Erlyn" ucap Berlyn sambil mengacak acak rambutnya.
"Kok malah tanya gue? ya lo cari dia lah. Terus ungkapin perasaan lo yang sebenarnya!" ucap Beni menasehati.
"Ya udah gue cari dia dulu!" cetus Berlyn lalu berdiri.
Tiba-tiba keributan terjadi di depan pintu kelas Berlyn. Bruaak…seseorang menendang pintu kelas Berlyn.
"Berlyn! Dimana Berlyn?! keluar Lo!!" teriak Doni yang menerobos masuk ke dalam kelas.
"Gue Berlyn! ada perlu apa?" ucap Berlyn santai.
"Ohh…keluar juga lo!…Bugh!" ucap Doni langsung melemparkan tinjunya ke wajah Berlyn.
"Woi!…ngapain lo dateng-dateng langsung maen pukul orang?!" teriak Beni mendorong Doni mundur.
Semua orang hanya berkumpul melihat pertikaian itu. Berlyn yang terjatuh karena kena pukulan, kini mengusap bibirnya yang berdarah dan berjalan menghampiri Doni.
"Apa mau lo?!" ucap Berlyn yang memegang kerah baju Doni. "Jangan kira karena lo kakak kelas gue gak berani mukul lo! Kalau ada perlu ngomong baik-baik!!" Bentak Berlyn yang kemudian mendorong Doni.
"Jangan lo pikir gue gak tau ya! Gue dulu juga satu SMP sama lo! Gue juga tau, wajah Erlyn mirip sama mantan Lo! tapi lo pikir lo siapa ha? Beraninya lo ngelampiasin dendam lo ke Erlyn! Lo pikir lo siapaaa !!" Teriak Doni yang lanjut memukul wajah Berlyn.
"Wah…gue baru inget…dia kan kapten basket yang waktu itu di tolak Erlyn"
"Ehh…iya bener tuh. Sampe segitunya belain Erlyn"
"Iya lho…padahal udah di tolak, masih aja peduliin Erlyn"
Semua orang membicarakan Berlyn dan Doni yang bertengkar. Tetapi Berlyn hanya diam, karena dia tau kalau dia memang bersalah pada Erlyn. Belakangan ini Berlyn sudah terbiasa bersikap lembut terhadap Erlyn. Hingga ketika Erlyn mengungkapkan perasaan nya, entah apa yang ada di pikiran Berlyn sampai menolak perasaan Erlyn. Entah karena trauma akan masa lalunya, atau ragu akan perasaannya sendiri. Tapi kini Berlyn telah memantapkan perasaannya. Berlyn juga punya perasaan kepada Erlyn, dan kali ini Berlyn tidak akan membiarkan Erlyn sedih lagi.
"Iyaa…gue tau kalau gue salah. Gue akan cari Erlyn dan minta maaf. Gue juga akan cari orang yang udah nyebarin berita itu" ucap Berlyn lalu pergi meninggalkan kelas.
*
*
__ADS_1
*