Jatuh Cinta Kepada Gunung Es

Jatuh Cinta Kepada Gunung Es
Kena Bola


__ADS_3

Hari berikutnya, perlahan Erlyn mulai membuka matanya. Ia merasakan pusing di kepalanya. Erlyn melihat sekelilingnya dan terlihat lah seorang laki-laki yang tertidur duduk di samping nya.


"Emm…Permisi!" ucap Erlyn sembari menggoyangkan tangan laki-laki itu.


Sontak lelaki itu mengangkat kepalanya, dan ternyata itu ialah Berlyn.


"Erlyn!! Kamu udah sadar!" seru Berlyn langsung memegang tangan Erlyn.


"Hmm…Kakak siapa ya?" tanya Erlyn yang langsung menarik tanganya.


"Ehh!…Kakak?" ucap Berlyn sontak membulatkan kedua matanya kaget dengan perkataan Erlyn.


"Erlyn!! Lo udah sadar?!" teriak Sasha yang baru masuk ke ruangan bersama Beni.


"Kalian siapa? Dan kenapa gue bisa berada di rumah sakit?" tanya Erlyn sembari melihat sekeliling.


"Enggak usah bercanda Lyn? Kita dari semalam khawatir sama keadaan lo. Jadi jangan bikin lelucon seakan lupa ingatan deh!" ucap Beni yang lalu duduk di kursi tunggu.


"Gue beneran gak kenal sama kalian! Gue mau pergi dari sini!!" ucap Erlyn yang langsung menarik lepas infus di tangannya.


"Erlyn!!" teriak Berlyn menahan Erlyn yang hendak turun dari ranjang.


"Lo jangan pergi dulu!! Periksa dulu keadaan lo!!" ucap Berlyn yang cemas dan langsung memanggil dokter.


Dokter datang dan memeriksa kondisi Erlyn


Setelah dokter melakukan beberapa pemeriksaan, Dokter menghampiri Erlyn dan teman-temannya.


"Bagaimana dok?" tanya Erlyn ke dokter nya.


"Siapa keluarga dari pasien?" tanya Dokter pada mereka.

__ADS_1


"Saya kekasih nya dok! Gimana keadaannya?" ucap Berlyn ke dokter.


"Enggak dok!! Dia bukan cowok gue!! Bentar biar gue telepon mami dulu!" ucap Erlyn langsung mencari HP nya.


"Erlyn! cukup!! Lo kenapa sih? Masa lo beneran hilang ingatan? ibu lo udah meninggal 2 tahun yang lalu!" seru Sasha sembari memegang Erlyn yang sudah semakin cemas.


"Siapa lo yang berani bicara omong kosong!" seru Erlyn sembari mendorong Sasha menjauh.


"Seperti nya karena benturan di bagian kepalanya, memang membuat ia hilang ingatan sementara" ucap Dokter menenangkan suasana.


"Apa ingatan nya bisa kembali?" tanya Berlyn yang berusaha untuk tetap tenang.


"Tentu saja bisa! Tetapi untuk memulihkan ingatan nya butuh kesabaran yang ekstra. Pasien membutuhkan dorongan dari luar agar terpancing untuk mengingat kembali ingatan nya yang hilang" ucap Dokter menjelaskan.


"Dokter pasti asal ngomong kan? Saya gak kenal mereka, saya masih ingat sewaktu saya di lapangan dan tidak sengaja terkena bola. Masa cuma kena bola sampai hilang ingatan?! Seharusnya tadi di bawa ke UKS sekolah, kenapa bisa di rumah sakit?" ucap Erlyn yang hanya mengingat kenangan nya sewaktu SMP.


"Saya tidak tahu apakah kalian saling kenal. Tapi yang saya tahu, mereka lah yang membawa anda kesini. Saya masih ada pasien lain, kalau ada pertanyaan bisa tanyakan ke suster saja" ucap Dokter itu yang langsung keluar dari ruangan.


"Lo beneran amnesia?" tanya Beni yang mendekat kan wajahnya ke Erlyn.


"Erlyn ini gue Sasha! Kita udah temenan sejak SMA, masa lo gak inget sih?!" ucap Sasha sembari memegang tangan Erlyn.


"SMA?!" cetus Erlyn langsung menarik tangannya. "Bercanda ya lo? Gue aja masih SMP kelas 2!" ucap Erlyn kepada Sasha.


"Hahaha! Asli ngakak banget!" Beni tertawa karena merasa lucu dengan tingkah Erlyn.


"Diem lo!!" Bentak Sasha ke Beni. Beni spontan langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


"Erlyn…dengerin gue baik-baik ya!" ucap Berlyn sembari memegang tangan Erlyn.


"Kalau mau ngomong, ya ngomong aja! gak usah pegang-pegang!" cetus Erlyn langsung menarik tangannya.

__ADS_1


"Ok…" cetus Berlyn menjauhkan kedua tangannya dadi Erlyn. "Kita saling kenal, dan gue ini pacar lo. Kalau lo gak percaya, lo bisa lihat foto-foto kita di HP lo" ucap Berlyn sembari memberikan ponsel Erlyn yang selalu ia bawa di dalam sakunya.


Erlyn mengambil ponselnya, dan langsung membuka isi galeri nya.


"Dan lo sekarang udah jadi mahasiswa, Bahkan di HP lo juga udah ada foto saat lo lulus SMP" ucap Berlyn melanjutkan.


Erlyn melihat foto-foto di ponselnya, sekilas samar-samar muncul gambaran di otaknya yang tidak begitu jelas.


"Aaah!" Erlyn berteriak kesakitan.


"Erlyn!" seru Berlyn langsung memeluk Erlyn untuk menenangkan Erlyn.


"Aduh…jangan di paksain dulu kalo emang susah!!" seru Sasha yang panik melihat Erlyn kesakitan.


"Lepasin gue!" teriak Erlyn langsung mendorong Berlyn.


"Oke…tapi lo harus tenang dulu!" ucap Berlyn yang langsung berjalan mundur.


"Mungkin lo emang pacar gue.Tapi sebelum gue inget sepenuhnya, jangan pegang-pegang gue" ucap Erlyn ke Berlyn. "Jadi…sebenarnya apa yang terjadi sama gue?" tanya Erlyn lagi.


"Sebenarnya kita juga enggak tau pasti nya. Cuma kamu yang tau gimana situasinya saat itu, sayang sekali kamu malah amnesia" ucap Beni menjelaskan.


Tok…tok…tok…seseorang mengetuk pintu, dan masuk lah seorang suster.


"Permisi…ini barang-barang punya pasien. Tadi di lepas sewaktu mau di operasi" ucap suster itu sembari meletakan nampan berisi barang-barang Erlyn dan lalu pergi meninggalkan ruangan.


"Ini jam gue? Keren banget!" ucap Erlyn yang langsung mengambil jam tangannya dari nampan.


"Iya…kamu pernah bilang, jam itu kamu yang rancang sendiri" ucap Berlyn tersenyum karena melihat sedikit raut bahagia di wajah Erlyn.


"Hmm…Ini tombol apa?" ucap Erlyn asal menekan tombol pada jam nya.

__ADS_1


"Lo aja gak tau, apalagi kita" ucap Sasha sembari mengupaskan buah untuk Erlyn.


Seketika seisi ruangan menjadi hening, semua orang menatap ke arah Erlyn. Betapa terkejutnya mereka mendengar suara itu.


__ADS_2