
"Selamat pagi semuanya!! apakah sudah siap untuk seleksi babak pertama kita?!" Seru MC memeriahkan suasana
"Siap!!" teriak peserta dengan serentak.
"Baiklah kalau sudah siap, ingat ini sebuah kompetensi. Jadi harus jujur, kecuali pena dan selembar kertas kosong semua benda di atas meja harus di kumpulkan ke depan. Termasuk HP juga!" Seru MC mengarahkan.
Semua peserta mengumpulkan barang-barangnya ke depan. Dan panitia telah membagikan lembar soal. Ada 4 tipe soal, Setiap peserta mendapatkan tipe soal yang berbeda.
"Baiklah, kertas ujian sudah ada di tangan kalian masing-masing. Waktu pengerjaanya selama 1 jam, jadi jangan tergesa-gesa. Kerjaan dengan teliti" ucap MC mengingatkan.
"Via! Lihat tuh, Berlyn beneran gak bantuin Erlyn ngerjain soal tuh" bisik Hendra ke Via.
"Udah biarin aja, kalau mereka kalah kan jadi berkurang juga lawan kita" cetus Via fokus mengerjakan soal.
Semua peserta sedang fokus mengerjakan soal. Karena itu suasana juga menjadi tenang. Begitu pula Erlyn, ia mengerjakan soal dengan serius, sampai keringat memenuhi wajahnya.
"Gerah ya Lyn?" tanya Berlyn melihat wajah Erlyn yang berkeringat.
"Iyaa nih. Tisu gue masih di dalem tas pula" keluh Erlyn sambil mengelap wajahnya dengan lengan bajunya.
"Ehh!…Lo ngapain!" teriak Berlyn menghentikan Erlyn mengelap wajahnya. "Lo fokus kerjain soal aja, sini gue yang lap muka lo" ucap Berlyn yang kemudian mengelap wajah Erlyn dengan saputangan nya.
Erlyn hanya membulat kan bola matanya. Berlyn yang nampak fokus mengelap wajah Erlyn, terhenti karena Erlyn terus menatapnya.
"Udah! buruan lo kerjain lagi!" cetus Berlyn yang mendorong hidung Erlyn.
"Aw…! Sakit tahu. Santai aja ngapa, ini kan lagi gue kerjain" ketus Erlyn yang kemudian kembali mengerjakan soal.
Beberapa saat kemudian, Berlyn memasukan tangannya ke dalam saku. Di keluarkan lah sebuah karet gelang. Kemudian Berlyn mulai memegang rambut Erlyn yang terurai.
"Ehh!…Berlyn lo mau ngapain?!" teriak Erlyn menjauhkan kepalanya.
"Mau iket rambut lo" jawab Berlyn santai sambil menunjukkan karet gelang di tangannya.
"Jangan macem-macem ya!" ucap Erlyn sambil menunjuk Berlyn. "Enggak mau! jangan iket rambut gue. Baru kemarin lusa gue smoting, masa mau di iket. Nanti kusut gak cantik lagi dong" cetus Erlyn lalu menunduk mengerjakan soal lagi.
__ADS_1
Mendengar perkataan Erlyn, Setan iseng semakin merasuki Berlyn. Kini ia tersenyum licik dan mulai menarik rambut Erlyn secara paksa untuk mengikatnya.
"Berlyn!!…Lo apa-apaan sih?!!" teriak Erlyn yang membuat semua orang menatapnya.
"Itu yang di meja 5 kenapa ribut-ribut!" tanya salah satu panitia kepada Berlyn dan Erlyn.
"Gak kenapa-kenapa kak!! cuma ada kecoa lewat, jadinya patner saya teriak!" seru Berlyn sembari menahan tawa.
"Ya udah kalau gitu. Jangan ribut!" ucap panitia mensudahi.
"Berlyn!! Lo ngeselin banget sih! Rambut gue jadi kusut nih" gerutu Erlyn yang hendak melepas ikatan rambut nya.
"Lo berani ngelepas iketan gue?!" cetus Berlyn dengan nada mengintimidasi.
"Enggak jadi deh" ucap Erlyn ketakutan melihat ekspresi Berlyn. Ia pun melanjutkan mengerjakan soal.
"Ihh…Berlyn kok mesra-mesraan sama Erlyn sih. Awas aja lo!" gerutu Via dalam hati yang sedari tadi mengawasi Berlyn dan Erlyn.
Waktu berjalan begitu cepat, Erlyn sudah menyelesaikan ujiannya sedari tadi. Tetapi tidak dia kumpulkan terlebih dahulu agar tidak menarik perhatian yang lain.
"Baik adik-adik semua! waktu telah habis. Jadi sekarang kumpulkan tugas kalian ke depan. Jangan lupa di beri nama dan asal sekolah! Setelah ini para juri akan langsung mengoreksi ujian kalian, jadi kalian bisa istirahat terlebih dahulu" ucap MC memberi arahan.
"Berlyn!! gimana tadi ujiannya?" tanya Via menyapa Berlyn.
"Enggak tau" jawab Berlyn sambil menaikan kedua bahunya.
"Lo mau tau? sini gue kasih tau!" cetus Erlyn yang tiba-tiba muncul di belakang telinga Via.
"Aaa!…" Via berteriak karena kaget.
Erlyn hanya tertawa kemudian berjalan kesamping Berlyn. Berlyn dan juga Hendra tertawa kecil melihat tingkah Erlyn yang kekanak-kanakan.
"Dasar cewek br*ngs*k Lo!…Plakk…" teriak Via sambil menampar pipi Erlyn.
"Via!!" Berlyn dan Hendra teriak bersamaan dan langsung menatap tajam ke Via.
__ADS_1
Erlyn yang pipinya memar hanya terdiam dengan posisi kepala masih menghadap samping.ia merasa seperti ada yang berdengung di telinga nya. Sesaat kemudian ia mulai memincingkan senyum sinisnya. Dan kembali mengangkat kepalanya lalu Erlyn menatap dingin ke mata Via.
"Lo nampar gue?" ucap Erlyn dengan nada dingin.
"Iyaa!! Emang kenapa? gue udah muak dengan muka lo yang sok cantik itu!!" teriak Via sambil menunjuk-nunjuk Erlyn.
"Plaak…ini untuk balasan tamparan lo ke gue!…Plaaak…tamparan yang ini sebagai ganti bendera perang gue ke lo! mulai saat ini!! Gue gak bakal biarin lo jadi pemenang di lomba ini!!" teriak Erlyn sambil menampar Via dua kali berturut-turut, lalu berjalan pergi.
Via hanya teriak kesakitan, semua orang berkerumun menyaksikan kejadian itu. Berlyn yang sedari tadi hanya diam karena terkejut dengan kemarahan Erlyn, sekarang mulai berlari mengejar Erlyn. Sedangkan Hendra berusaha menenangkan Via agar tidak mengejar Erlyn.
***
"Erlyn tunggu gue!!" teriak Berlyn yang meraih tangan Erlyn.
Erlyn hanya diam, ia tak berani menoleh ke arah Berlyn.
"Kenapa lo diem aja?! sini gue liat muka lo!" seru Berlyn sambil menarik wajah Erlyn menghadapnya. Berlyn membulat kan kedua matanya, lagi-lagi ia melihat wajah Erlyn yang basah akan air mata.
"Erlyn kenapa lo nangis lagi?" ucap Berlyn sambil mengusap air mata Erlyn dengan lembut.
"Maafin gue Lyn…huu…huu…maafin gue. Gue gak bisa nahan emosi gue…gue tau gue salah… seharusnya gue gak boleh nampar temen lo…maafin gue! Hwa…" ucap Erlyn sambil menangis sejadi-jadinya. Erlyn menangis Hingga kedua kakinya tak sanggup menopang tubuh nya sampai tertunduk di depan kaki Berlyn.
"Erlyn!!" teriak Berlyn langsung duduk menahan tubuh Erlyn. "Lo gak salah Lyn…biarpun dia dulu temen gue, kalau ada yang nampar lo. Emang udah seharusnya lo balas 2 kali lipat" ucap Berlyn yang kini memeluk Erlyn. "udah Lo jangan nangis lagi! Lo itu gak salah" ucap Berlyn sambil mengelap air mata Erlyn.
Erlyn hanya menatap Berlyn yang sedang menenangkan nya.
"Udah…Lo jangan nangis lagi. Katanya lo mau ngalahin Via, kok malah nangis" ledek Berlyn menghibur Erlyn.
"Apaan sih lo" seru Erlyn sambil memukul bahu Erlyn.
Setelah itu Berlyn mengajak Erlyn ke ruang UKS untuk mengobati memar di wajahnya. Tak pernah terpikirkan oleh Erlyn, seorang Berlyn yang biasanya dingin kepada siapa saja. Bisa bersikap hangat untuk menenangkan Erlyn. Erlyn menjadi semakin suka kepada Berlyn.
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa berikan like, komen, and Favorit😍😚😘😆