Jatuh Cinta Kepada Gunung Es

Jatuh Cinta Kepada Gunung Es
Babak ke2


__ADS_3

Malam telah tiba, para peserta yang berhasil lolos berkumpul kembali di dalam aula.


" Selamat malam adik-adik!" seru salah satu panitia membuka acara.


"Malam kak!" sahut peserta serempak.


"Baiklah adik-adik. Malam ini kalian akan mengikuti bimbingan untuk seleksi selanjutnya. Walaupun kalian telah lolos di seleksi pertama, jangan terlalu senang. Karena perjalanan kalian masih panjang" lanjut Panitia menjelaskan.


"Baiklah, untuk seleksi selanjutnya kita akan melakukan peragaan busana. Tetapi, Kalian harus mendesain pakaian itu sendiri!!" teriak Panitia menghebohkan.


"Ha?…bikin sendiri? Kita di suruh jahit baju gitu?"


"Wah…bakal seru nih…"


"Bisa gak ya?"


"Semuanya harap tenang!" seru panitia menenangkan keriuhan para peserta.


"Jadi dengar kan dahulu, Karena waktu sebelum seleksi kedua hanya 1 hari. Kalian hanya perlu membuat 1 set pakaian untuk di pamerkan. Salah satu dari kalian akan menjadi modelnya, sedangkan satunya lagi menjelaskan filosofi dari pakaian nya itu. Apa kalian faham?" seru Panitia menjelaskan.


"Paham kak!"


"Semua kebutuhan untuk pembuatan pakaian sudah ada di gudang penyimpanan. Jadi kalian rundingkan terlebih dahulu mau membuat pakaian seperti apa. Malam ini kalian harus mengumpulkan list bahan-bahan yang kalian butuhkan. Usahakan seminimal mungkin untuk menghemat bahan-bahan. Maksudnya gunakan secukupnya saja, kalau bisa jangan sampai ada sisa bahan setelah kalian selesai membuat pakaiannya. Apa ada pertanyaan lagi?" ucap Panitia menjelaskan detail nya.


"Saya kak!" Teriak Via dari pojokan.


"Iya silahkan!" seru Panitia kepada Via.


"Untuk waktu dan tempat pengerjaan nya kak?!" seru Via lagi.


"Wah…! pertanyaan yang bagus. Baiklah, acara seleksi akan di adakan pukul 14.00 sampai selesai. Kalau untuk tempat pengerjaan nya, kalian bisa lakukan di mana saja dan kapan saja. Tapi ingat! jangan sampai lupa istirahat. Baiklah saya rasa cukup itu saja, dari sekarang kalian sudah boleh mulai bekerja!" ucap Panitia mengakhiri bimbingan malam itu.


"Erlyn! Lo aja yang jadi modelnya!" ucap Berlyn kepada Erlyn.


"Enggak mau ah…Mending lo aja. Lo kan cowok, nanti malah hemat bahan!" cetus Erlyn sambil mengeluarkan memo.


"Gue gak minta pendapat lo. Tapi gue perintahin lo!" ucap Berlyn mendekat ke telinga Erlyn.


Erlyn tercengang karena kaget, bulu kuduknya seketika berdiri.


"Sini biar gue bikin sket!" seru Berlyn sambil merebut memo dari tangan Erlyn.


"Ihh…Lo nyebelin banget ya!" Teriak Erlyn sambil memukul Berlyn dengan Tas nya.


Berlyn hanya tertawa sambil menahan pukulan dari Erlyn. Sedangkan di sudut lain, Via sedang mengamati Berlyn dan Erlyn dari kejauhan.


Klak…Via mematahkan pensil di tanganya. "Sial!…kenapa mereka makin deket aja sih!" gerutu Via karena geram melihat Berlyn tertawa lepas saat bersama Erlyn.


"Via!…Apa-Apaan sih lo! kalau lo gak mau buat sketsa sini biar gue aja yang gambar!" bentak Hendra sambil merebut kertas dari tangan Via.


"Lo juga!! Kita tuh satu tim, tapi lo malah marahin gue terus!" gerutu Via lalu pergi keluar ruangan.


***


"Beni kira-kira sekarang Erlyn lagi ngapain ya?" Ucap Sasha kepada Beni yang menemaninya makan di kantin.


"Ya enggak tau lah. Kan gue di sini sama e lo" cetus Beni sambil melahap burger di tangannya.


"Iya ya…bener juga lo" ucap Sasha lesu.


"Beni!!" teriak Meli mengkagetkan Beni.


"Uhuuk…!" Beni tersedak Toge.


"Beni!! cepet minum dulu!" teriak Sasha memberikan minum kepada Beni dengan panik.


Beni pun meminum air yang di berikan Sasha, lalu menetralkan nafasnya.


"Meli!! apa-apaan sih lo! ngagetin orang lagi makan aja" teriak Beni ke Meli.


"Iyaa maaf,lagian cuma keselek aja kok" cetus Meli santai.


"Cuma keselek?! Kalau keselek sampai gak bisa nafas gimana? Bisa mati tuh anak orang!" Gerutu Sasha tanpa henti.


"Udah deh! kan gue juga udah minta maaf! Gue mau tanya hal penting nih!" seru Meli mendesak.


"Tanya apaan?" seru Beni sambil melanjutkan makan.

__ADS_1


"Berlyn kapan sih pulangnya? Terus kenapa telpon gue gak di angkat?" gerutu Meli dengan nada manjanya.


"Ya elah…gue kira sepenting apa! Gue gak tau! dah sana lo pergi!" cetus Beni tak mau tahu.


"Ihh…kok gitu sih!" teriak Meli sambil memukul bahu Beni.


"Uhuuk!…Lo beneran mau bikin gue mati ya?! Udah pergi sana lo!" Bentak Beni karena geram.


"Aish!…nyebelin banget sih lo!" teriak Meli yang lalu beranjak pergi.


"Nah minum lagi!" ucap Sasha menenangkan Benj.


"Iya, makasih" ucap Beni lalu meneguk airnya.


***


"Berlyn! udah dong. Gue ngantuk nih, sekarang udah Jam 11 malem tau gak sih. Sampai kapan lo suruh gue berdiri kayak gini" ucap Erlyn kepada Berlyn.


"Lo diem dulu! Ini Besok siang udah mau di kumpul, mending selesaikan sekarang dulu" ucap Berlyn yang fokus mencocokkan kain ke badan Erlyn.


"Tuh kan! Lo aja tahu, besok udah harus di kumpul. Besok kan gue yang jadi model, kalau penampilan gue jelek gara-gara kurang tidur gimana" gerutu Erlyn tak henti-henti.


"Udah! jangan tidur dulu. Bantuin gue jahit renda ini dulu!" pinta Berlyn sambil mengulurkan kain ke Erlyn.


"Iyaa…iyaa!" cetus Erlyn pasrah.


Mereka fokus menjahit pakaian mereka hingga tengah malam. Erlyn yang sudah tak kuat menahan kantuk, tertidur dalam keadaan duduk di kursi.


"Ya elah…malah tidur nih bocah" cetus Berlyn yang melihat Erlyn tertidur. Berlyn hendak mengusap kepala Erlyn, tapi tangannya terhenti dan di tarik kembali ketika sekilas kenangan terlintas di benaknya.


"Kenapa mesti Lo…?" gumam Berlyn dengan ekspresi dingin.


Lalu Berlyn berdiri dan memindahkan Erlyn kembali ke kamar. Sedangkan Berlyn, melanjutkan sisa pekerjaan mereka hingga pagi dan tertidur di ruang tamu.


Pagi hari berikutnya…


Cklak…suara knop pintu terbuka.


"Wah!…Keren banget bajunya!" Gumam Erlyn yang melihat baju karya mereka sudah tergantung rapi.


"Gila!…ini semalem gue ketiduran kan. Terus Berlyn yang ngerjain sendiri? Lalu sekarang dimana tuh orang?" ucap Erlyn sambil melihat sekeliling.


"Bangunin gak ya? hmm…biarin dulu deh" Gumam Erlyn sembari memasangkan selimut untuk Berlyn.


Erlyn pergi ke dapur untuk memasak sarapan, setelah itu ia pergi mandi. Dan ketika Erlyn keluar dari kamarnya, ia mendengar suara Berlyn merintih.


"Sella…kenapa lo sakitin gue…" rintihan Berlyn yang lalu tertidur lagi.


Erlyn hanya bingung mendengar rintihan Berlyn.


"Siapa Sella?" Gumam Erlyn. "Bangunin aja deh! Lyn…!Berlyn bangun udah siang!…" seru Erlyn sambil mengguncang tangan Berlyn.


"Hmm…Jam berapa sekarang…Hoa…!" ucap Berlyn dengan nada khas orang bangun tidur.


"Udah jam 9! sana lo mandi…bauk lo udah kayak makanan basi tau gak" cetus Erlyn meledek.


"Yee…malah ngeledek gue" ucap Berlyn yang kemudian beranjak ke kamar nya.


***


Hari sudah siang, waktu untuk seleksi kedua juga sudah dekat. Berlyn sudah berada di dalam ruangan, sedangkan Erlyn masih berdandan di ruang ganti. Tiba-tiba seseorang menghampiri Erlyn.


"Lo Erlyn kan?" tanya seorang gadis kepada Erlyn.


"Iyaa…gue Erlyn. Kenapa ya?" tanya Erlyn karena tak kenal dengan gadis itu.


"Tadi ada cewek yang ngasih tau gue, katanya dia di suruh bilang ke Lo kalau Berlyn butuh beberapa kain renda dari gudang. Dia bilang, suruh lo ambilin di gudang terus bawa ke Berlyn buat di pasang" jelas gadis itu kepada Erlyn.


"Ohh gitu ya. Ya udah makasih ya" ucap Erlyn yang tersenyum, lalu pergi menuju gudang.


***


"Ini Erlyn kemana sih kok lama banget. Padahal yang lain udah pada kesini, kenapa dia lama banget" gumam Berlyn cemaskan Erlyn.


"Haloo…halo…halo…! selamat siang semuanya!" teriak MC meriuhkan suasana.


"Hai adik-adik…kita bertemu lagi…! Dan tentunya hari ini akan menjadi hari yang menggemparkan! apakah kalian sudah siap untuk seleksi kedua kita!" teriak MC dengan semangat.

__ADS_1


"Siap!…"


"Bagus sekali! Baiklah kita akan memulai seleksi nya. Sesuai keputusan para juri, kita akan memulai dari urutan terakhir dari ujian kemarin! Apakah sudah siap?!…" seru MC semakin gempar.


"Siap!…"


Acara pun di mulai, satu persatu peserta telah maju ke panggung. Namun, Erlyn tak kunjung datang.


"Haduh…kemana sih tuh anak!" Gumam Berlyn yang kemudian berjalan keluar ruangan.


***


"Ya elah…dimana sih letak kainnya" gumam Erlyn sambil membuka kotak-kotak di dalam gudang.


"Nah…ini!! Hmm…tapi butuh seberapa ya? ya udah deh, bawa aja segulung" ucap Erlyn yang kemudian mengemas kembali kotak yang ia buka.


Cklak…suara pintu terkunci. Sontak Erlyn menoleh ke arah pintu.


"Lho…kok di tutup sih kan gue masih di dalem! Halo…apa ada orang di luar!" teriak Erlyn sambil menggedor pintu.


"Siapa pun yang di luar! tolong buka pintu nya!" teriak Erlyn sambil memutar mutar knop pintu.


"Heh…teriak aja sampai tenggorokan kering! gak akan ada yang denger lo di sini. Via mau di lawan…" Gumam Via dari balik pintu gudang. Lalu Via pergi dari sana, dan membuang kunci gudangnya ke selokan.


"Haduh…gimana nih, HP gue masih di ruang ganti pula. Sebentar lagi acara mau di mulai, gue gak boleh telat! Gue harus mkirin ide biar bisa keluar dari sini" ucap Erlyn yang sudah panik.


***


Di sisi lain Berlyn berjalan menuju ruang ganti, namun di sana sudah sepi tak ada siapa pun.


"Dimana sih tuh anak! acara udah mulai, malah ilang-ilangan kayak gini!" cetus Berlyn kesal.


"Gue telpon aja deh" ucap Berlyn lalu menelpon nomer Erlyn.


Tuut…tuut…(nada tersambung)


Kring…kring…kring …terdengar suara HP Erlyn berdering di atas meja, Berlyn pun mengambil nya.


"Sial…! kemana sih tuh anak! Ini gak bisa di biarin, gue harus segera cari Erlyn sekarang juga!"


Berlyn semakin cemas, ia berlari mencari Erlyn di sekitar sana. Satu persatu ruangan ia datangi namun tetap tidak menemukan Erlyn.


***


Di dalam gudang Erlyn tetap berusaha untuk membuka pintu. Hingga ia melihat ada satu jendela yang tertutup lembaran kain.


"Hah!…itu ada jendela. Coba gue buka dulu aja!" gumam Erlyn yang kemudian membereskan kain yang menutupi jendela. Namun, setelah Erlyn menyingkirkan kain-kain itu. Ia hanya membulatkan kedua matanya, lantaran jendela yang ia temukan merupakan jendela tanam.


"Sial banget sih!!…Kenapa di buat jendela kalau kacanya di tanem ke semen kayak gini!" teriak Erlyn karena kesal. "Gue udah gak ada pilihan lain…" Gumam Erlyn yang kemudian mengambil sebuah penggaris kayu.


Bruaak... Erlyn memecahkan kaca jendela dengan Penggaris itu. Dan mulai memanjat kursi untuk melewati jendela.


"Aw... hssst... sakit banget... " rintih Erlyn menahan sakit karena lenganya tergores pecahan kaca setelah melompat dari jendela.


Dari ujung lorong, Erlyn mendengar suara kaki berlari kearah nya. Ia pun menoleh ke sumber suara itu.


"Erlyn!…" teriak Berlyn yang berlari menghampiri Erlyn.


"Lo kenapa nekat banget sih!! Kenapa sembarangan lompat dari jendela!" bentak Berlyn yang sedang cemas.


"Gue baik-baik aja kok. Sekarang ayo buruan kita ke aula. Pasti seleksi nya udah lama di mulai" ucap Erlyn yang kemudian berdiri.


"Baik-baik aja gimana? kamu gak lihat lengan kamu ke gores" cetus Berlyn sambil mengelap lengan Erlyn lalu menempelkan plester.


"Yah…lengan bajunya robek. Gimana dong" ucap Erlyn mengerutkan dahinya.


"Udah…robek kecil aja kok. Kita ke aula aja dulu, nanti gue benerin" ucap Berlyn yang kemudian menarik Erlyn menuju Aula.


Erlyn hanya berjalan sambil menatap Berlyn yang menggandeng tangannya. Sesekali Erlyn tersenyum mengingat raut wajah Berlyn yang tadi mencemaskanya.


*


*


*


Terima kasih untuk para pembaca yang sudah mampir ke novel ini😁

__ADS_1


Jangan lupa beri dukungan, dengan memberikan Like ya😘


__ADS_2