
Setelah menutup telpon dari Erhan, ayah ibnu mendapatkan tatapan tak mengerti dari semua keluarganya. Ayah ibnu menghembuskan nafas kasar, lalu menjelaskan alasan kenapa dia menerima permintaan ibu Erhan untuk berkunjung.
"Baiklah, akan ayah jelaskan. Ayah tanya, agama kita apa? "
"Islam." jawab Arkan.
"Kita tinggal di negara apa? "
"Tentu saja Indonesia. " jawab Arkan lagi.
"Jadi.... " ayah ibnu menggantung kalimatnya, membuat semua yang ada di sana menjadi penasaran.
"Rosulullah mengajarkan kepada kita, untuk menerima tamu dan menjamu mereka dengan baik. Apalagi tamu itu dari jauh. Walau kita tidak punya apapun untuk di suguhkan, berilah segelas air kepada mereka untuk menghormatinya. Itulah yang di ajarkan Rosulullah kepada umatnya. " Ayah Ibnu mulai menjelaskan.
"Dan, kita ini berada di negara Indonesia. Negara yang terkenal dengan keramahannya. Apa kalian sekarang sudah paham? Ayah yang bukan asli orang Indonesia saja bisa mengerti adat dan budaya bangsa Indonesia. "
Semua orang akhirnya mengangguk.
"Baiklah, sekarang kami mengerti maksud ayah. " lagi-lagi Arkan yang angkat bicara.
"Jadi... besok, siapkan makanan untuk tamu kita. Mereka akan datang di siang hari, mungkin m njelang sore. Kata Erhan, mamanya sudah tidak sabar bertemu dengan Nisa. Dan Nisa besok kamu harus berdandan. "
"Kenapa yah? "
"Besok pagi akan ada paket untukmu dari Erhan, Jadi bersiaplah. Alina besok kamu bantu Nisa untuk bersiap. "
"Baik Ayah. " jawab Alina antusias.
"Untuk ibu, besok tidak usah repot-repot masak. Aku akan menyuruh pegawaiku untuk datang kemari, membawa makanan jadi dari restoran. Jadi kalian tidak perlu sibuk. Ini memang dadakan, tapi ayah harap besok tidak ada yang kurang. Ayah ingin acara besok berjalan sempurna." Ayah Ibnu memberikan penjelasan kepada semua orang .
"Baik, ayah. " jawab mereka semua kompak.
"Kalian sekarang beristirahat lah, ayah ada perlu dengan Arkan. Ingin membicarakan sesuatu. "
Ayah beranjak pergi meninggalkan mereka semua, dan menuju ruang kerjanya diikuti Arkan di belakangnya yang masih belum mengerti apa yang akan ayahnya katakan. Sedangkan semua wanita kembali ke kamar masing-masing.
"Ada apa ayah? " tanya Arkan ketika mereka sudah duduk di kursi ruang kerja.
"Kau hubungi juru masak dan beberapa pelayan restoran untuk membantu acara di sini. Untuk restoran kita akan buka siang hari, setelah mereka memasak untuk kita. Aku tidak ingin ibumu kelelahan besok. "
"Baik ayah. Berapa orang yang akan datang besok? " tanya Arkan lagi.
"Hanya tiga orang inti Erhan, ibunya dan asistennya. Dan beberapa bodyguard, mungkin empat atau lima. Baru saja Erhan mengirim pesan padaku. " kata ayah Ibnu menunjukkan pesan kepada Arkan.
Tanpa banyak tanya Arkan mengubungi juru masak mereka. Dan mengatakan apa yang harus mereka lakukan besok. Setelah menghubungi para karyawan restorannya Arkan kembali berbincang dengan ayahnya.
"Memangnya dalam rangka apa mama nya Erhan datang kemari yah. "
__ADS_1
"Ingin melamar Nisa. "
"Apa? Apa ini tidak terlalu terburu-buru yah? "
"Ayah pikir juga begitu, tapi mama Erhan berpesan sesuatu yang baik seharusnya tidak boleh di tunda-tunda. Ayah rasa, ibunya Erhan itu sangat menyukai Nisa. " kata ayah Ibnu.
"Semua ada benarnya sih yah. Tapi bagaimana persiapannya? "
"Entahlah, kita persiapkan sederhana saja dirumah. Toh yang datang hanya keluarga inti. Erhan sendiri sepertinya juga shock dengan tingkah ibunya itu. Tadi dia berkali-kali meminta maaf kepada ayah. "
"Tentu saja, siapa yang tidak shock jika semua serba dadakan, yah. Memang ya ibunya Erhan itu ada-ada saja. "
Mereka berdua terdiam dengan berbagai pikiran
"Arkan, apa kau tidak punya kenalan orang yang bisa mendekor rumah dalam waktu singkat? " tanya Ayah Ibnu tiba-tiba.
"Ayah ingin acara lamaran besok berkesan untuk Nisa walau dadakan, setidaknya besok ada tempat untuk berfoto. mengabadikan acara lamaran Nisa. "
Arkan memutar otaknya lagi dan menscroll kontak ponselnya mencari nama yang bisa dia hubungi. Akhirnya ketemu satu nama, dan akhirnya Arkan menghubunginya. Mungkin jalan takdir memang milik Nisa dan Erhan, jadi semua di mudahkan. Teman Arkan bersedia membantu, dia akan datang ke rumah mereka setelah subuh. Jadi mereka akan selesai tepat waktu.
Mendengar itu ayah Ibnu mengucapkan syukur dalam hati.
"Mungkin, memang sudah jodoh Nisa, yah. Jadi semuanya di mudahkan oleh Allah. "
"Iya kau benar. Kita tidak akan bisa melawan takdir Allah. Sekarang kau istirahatlah, besok akan jadi hari yang sibuk untuk kita. " Ayah Ibnu, menepuk punggung anak laki-lakinya itu lalu keluar dari ruang kerjanya.
Di Hotel
Setelah menutup panggilan telpon dan mengirim beberapa pesan kepada ayah Nisa. Erhan terduduk lemas, dia jadi tidak enak sendiri karena ulah sang mama.
"Bagimana? " tanya mama Aylin yang masih ada di kamar Erhan.
"Mereka mau menemui kita ma, Mama ini kenapa sih terburu-buru. Yang mau nikah kan aku, biar aku yang memikirkan nya ma. Aku tidak enak kepada keluarga mereka jika terburu-buru seperti ini. "
"Erhan bukannya mama terburu-buru, mama tau perasaanmu karena itu mama melakukan ini semua untukmu. Dan mama juga memikirkan jauhnya jarak yang harus kita tempuh. Indonesia-Turki itu jauh Erhan, apa kau mau bolak-balik untuk mempersiapkan pernikahan mu? " mama Aylin sedikit emosi ketika apa yang dia lakukan tidak dihargai.
"Maksudku bukan begitu ma, hanya saja aku takut mereka berpikir kita ini.... Ah sudahlah, aku bingung. "
"Tapi keluarga Nisa menerima kita besok datang kerumah mereka kan? "
Erhan mengangguk.
"Dan apa kau juga bilang kalau besok kita datang untuk melamar Nisa?"
Lagi-lagi Erhan mengangguk.
"Itu sudah cukup, besok mama sendiri yang akan jelaskan kepada mereka. Kenapa semua serba terburu-buru. "
__ADS_1
Mama Aylin lalu mengambil beberapa kotak, untuk disisihkan.
"Kotak-kotak ini, besok pagi kau antarkan ke rumah Nisa. Ini adalah pakaian yang sudah mama siapkan, begitu juga dengan pakaian couple untuk kalian berdua. " ujar mama Aylin santai.
Lagi-lagi Erhan dibuat tercengang dengan apa yang sudah mama Aylin siapkan. Setelah menyisihkan semua kotak yang diperlukan, mama Aylin akhirnya keluar dari kamar Erhan.
"Tidurlah, mama tidak ingin besok kau kesiangan." ujarnya sebelum menutup pintu kamar.
Erhan bernapas lega setelah kepergian sang mama. Kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Kemal.
"Datanglah ke kamarku, sekarang. " ujarnya kemudian menutup telpon tanpa mendengar jawaban dari Kemal.
Di seberang telpon Kemal merasa geram dengan tingkah atasannya itu yang suka seenaknya sendiri. Tapi dia tidak bisa menolak, dan dengan langkah gontai berjalan menuju kamar Erhan. Pintu di ketuk, dan tak lama pintu pun terbuka. Erhan langsung menyeret sahabatnya itu masuk.
"Apa yang kau lakukan? " tanya Erhan setelah mereka berada di dalam kamar.
"Memangnya apa yang aku lakukan? " Kemal tak mengerti.
"Kenapa mama ada disini dan lihatlah semua ini. "
"Kau pikir aku tau apa yang mamamu pikirkan dan lakukan? Tadi pagi aku diseret mama untuk mengantarkannya ke Indonesia. Dengar Indonesia, bukan Istanbul atau Ankara. Tapi Jakarta Indonesia. Kau pikir aku tau rencana mamamu? Aku sudah sibuk dengan urusan Kantor yang membuatku sakit kepala. " Kata Kemal menggebu-gebu karena tidak mau disalahkan.
Erhan akhirnya mengerti kalau sahabatnya ini pun tidak mengerti rencana mamanya. Akhirnya di terduduk lemas di tempat tidurnya.
"Sudahlah, terima saja. Mama mu itu memang sama keras kepalanya denganmu. Sekarang aku tau, darimana sifat keras kepala mu itu. " sindir Kemal yang masih merasa kesal.
"Sudahlah, kau benar. Kembalilah ke kamarmu dan istirahat lah, besok kau harus menemaniku. "
"Tentu saja, karena aku penasaran dengan wanita yang sudah membuat anak dan ibu ini tergila-gila."
Kemal mendapat tatapan tajam dari Erhan karena sudah mengejeknya dan mamanya.
"Pergilah... dan ini, besok kau suruh orang untuk mengantar kotak-kotak ini ke rumah Nisa. Akan aku kirim lokasinya nanti." kata Erhan menunjuk barang-barang yang sudah disisihkan mama nya
" Oke.. " jawab Kemal singkat, lalu pergi dari kamar Erhan.
Malam ini Erhan tidak bisa memejamkan matanya hingga malam semakin larut. Dia merasa gugup dan takut, akan pendapat keluarga Nisa besok.
Begitu pula dengan Nisa. Dia tidak dapat memejamkan matanya karena memikirkan apa yang akan terjadi besok. Mau menghubungi Erhan pun dia tidak punya nyali. Akhirnya di mengirim pesan kepada Nayra dan Alima sahabatnya.
✉️ "Besok pagi kalian berdua datangkah kerumah. Ada yang ingin aku bicarakan. Ini penting, aku butuh bantuan kalian. "
Setelah mengirim pesan itu Nisa memberi nada Silent di ponselnya, lalu mencoba memejamkan matanya.
"Yang terjadi besok, biarlah terjadi. " pasrah Erhan dan Nisa.
Bersambung,
__ADS_1