
Hari ini Nisa akan mengajak suaminya untuk memeriksakan kandungan. Mungkin tepatnya minggu ini memasuki minggu ke-36 usia kehamilan. Nisa tidak sabar untuk segera mengetahui perkembangan janin di dalam perutnya. Erhan juga sudah mengambil libur kerja hari ini karena harus mengantarkan istrinya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Nisa yang sudah membuat janji dengan dokter Flo, langsung masuk ke dalam ruangan tanpa antri terlebih dahulu. Dia dengan antusias melihat perkembangan bayi di dalam perutnya.
"Bayinya sehat sekali nona, posisi bayi juga sudah bagus. Jadi kita bisa melakukan kelahiran normal jikan posisi nya bagus seperti ini." kata dokter Flo yang memberikan kabar gembira kepada kedua calon orang tua tersebut.
Setelah Jel di perutnya di bersihkan, Nisa di temani suaminya kembali duduk berhadapan dengan dokter Florence.
"Apa ada keluhan selama ini, nona. " tanya Dokter Flo sambil mencatat yang perlu di catat.
"Sampai saat ini, aman dokter. "
"Bagus lah kalau begitu. Usia kandungan sudah menginjak 36 minggu. Kemungkinan HPL nya paling cepat satu minggu dan paling lama empat minggu lagi. Jadi, selama satu bulan ini nona harus periksa kandungan seminggu sekali untuk melihat posisi janin. " Dokter Flo menjelaskan.
" Untuk HPL ini hanya perkiraan ya, tuan dan nona kita tidak bisa memprediksi tepatnya bisa maju atau mundur. Untuk itu, di sarankan kepada calon daddy, agar menjadi suami siaga. Jadi, saat istri merasakan sakit karena kontraksi, suami sudah siap membawanya ke rumah sakit. " kata dokter Flo lagi.
"Bagaimana dengan hubungan suami istri, apakah saya masih boleh melakukannya? " tanya Erhan tanpa tau malu.
dokter Flo dan asisten perawatnya tersenyum mendengar pertanyaan calon hot daddy di depannya ini. Sedangkan Nisa, entah seperti apa wajahnya saat ini.
"Tentu saja boleh tuan, malah di anjurkan melakukannya lebih sering. Agar mempermudan jalan kelahiran nanti. " kata dokter Flo dengan tersenyum.
"Benarkah? "wajah Erhan langsung berbinar.
Dokter Flo mengangguk pasti. "Anda bisa melakukannya sesering mungkin saat ini bersama istri anda, sebelum anda nanti berpuasa selama empat puluh hari, karena masa nifas istri anda setelah melahirkan. "
Mendengar hal itu, sontak membuat Erhan lemas. Puasa selama empat puluh hari, atau bahkan bisa lebih. Ah, sudahlah itu dipikirkan nanti, sekarang yang penting anak dan istrinya sehat dan selamat sampai proses melahirkan nanti.
"Terimakasih dokter, atas penjelasannya. " Nisa langsung memecah kegalauan suaminya, yang belum tentu terjadi. Karena suaminya itu, punya berbagai cara untuk memuaskan dirinya sendiri dengan bantuan Nisa tentunya.
Mereka berdua akhirnya keluar dari ruangan dokter Flo, lalu menuju apotik untuk menebus vitamin yang harus di konsumsi Nisa. Setelah semua urusan di rumah sakit selesai, Merekapun kembali ke rumah. Erhan tidak mau mengajak istrinya itu jalan-jalan, melihat perut istrinya yang sudah besar itu.
"Mas, bolehkah aku mampir ke butik sebentar. "
"Kenapa? "
"Aku ingin menyerahkan butik untuk dijaga Julia selama aku hamil besar ini. "
__ADS_1
"Tidak perlu, Aku sudah membicarakan nya dengan Julia kemarin. Aku menitipkan butik kepadanya sampai kamu siap masuk kerja lagi. Kalau untuk disain atau apa yang diperlukan, Julia bisa langsung datang ke rumah meminta disain yang di minta. "
Akhirnya Nisa pun menurut kata-kata suaminya tanpa membantah. Mereka pun langsung pulang ke mansion.
Mama Aylin yang dari tadi menunggu hasil pemeriksaan Nisa pun tidak sabaran. Dia langsung memberondong Nisa dan Erhan dengan banyak pertanyaan.
"Bagaimana keadaan janinnya? kapan perkiraan lahir?bagaimana posisi nya, apa tidak masalah?"
"Satu-satu ma tanyanya. " kata Erhan menimpali pertanyaan mamanya itu.
"Memasuki minggu ke-36 ma. Alhamdulillah semua sehat, posisi baby juga sangat bagus kata dokter. HPLnya kurang lebih satu sampai empat minggu, Dokter tidak bisa memastikan soalnya. " kata Nisa menjawab semua pertanyaan mama mertuanya itu agar tidak kecewa.
"Ah, syukurlah kalau semua sehat. Erhan, mulai sekarang kamu harus jadi suami siaga. Agar kapanpun istrimu merasakan kontraksi, kamu sudah siap disisi nya. " pesan mama, kepada anak nakalnya ini.
"Iya, ma. Aku akan siap menjaga istri dan anakku. Tadi dokter juga bilang seperti itu. "
"Aku ke kamar dulu, ma. ngantuk banget soalnya. " kata Nisa yang sudah tidak kuat menahan kantuknya.
"Ya sudah kalau begitu, istirahat lah. Mama akan bantu menyiapkaniap, pakaian junior. Takutnya kalau tiba-tiba kamu kontraksi, kita sudah siap dengan barang bawaan untuk Junior. " Kata mama Aylin.
"Makasih ma, mama memang yang terbaik." kata Nisa sambil memeluk mama mertuanya itu.
Di dalam kamar.
"Kamu nggak bersih-bersih dulu, yang. Dari rumah sakit lho. takut ada kuman atau virus yang nempel. " Sekarang Erhan lah, yang cerewet tentang masalah kebersihan istrinya itu.
Nisa yang mendengar itu, mengurung kan niatnya menuju ranjang, dan langsung berbelok menuju kamar mandi. Erhan yang melihat itupun terkekeh geli sendiri. Biasanya, Nisa lah yang langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih diri setelah keluar rumah. Tapi, sejak hamil tua entah dia malas atau lupa melakukannya. Jadi sebagai suami yang baik, Erhan selalu mengingatkannya.
Malam ini, Erhan akan melakukan tugas sucinya, membuat jalan lahir untuk sang baby. Sesuai arahan dokter, dia akan melakukan sesering mungkin. Dengan catatan tidak sampai membuat istrinya itu kelelahan. Cukup sehari dua kali, pagi dan malam.
Sebagai istri yang baik dan penurut Nisa pun akan melayani suami nya dengan sepenuh hati. Karena kegiatan itu memang sangat menyenangkan dan berpahala. Entahlah, selama kehamilan terkadang Nisa yang pemalu jadi tak tau malu kalau sedang menginginkannya lebih dulu. Dia bisa menggoda suaminya yang sedang fokus bekerja bahkan langsung mendatanginya ke perusahaan. Asalkan keinginannya tersalurkan. Bagaimana dengan Erhan, yang mendapati istrinya seperti itu? Tentu saja dia sangat senang, karena kebutuan se*ualnya dapat terpenuhi dengan baik, walau istrinya sedang hamil.
Disinilah mereka berada saat ini, di atas ranjang sedang memadu kasih, mencari kepuasan masing-masing. Hingga suara lenguhan panjang keluar dari bibir keduanya, tanda pertempuran telah berakhir.
Setelah mengeluarkan semua mayonaise nya, Erhan segera beranjak, untuk membersihkan diri. Nisa yang masih mengatur nafas nya yang tersengal, berubah meringis kesakitan. Erhan yang hendak masuk ke kamar mandi pun segera berbalik kearah istrinya, menanyakan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi, sayang? mana yang sakit? " Erhan di landa kepanikan saat itu juga.
__ADS_1
Namun tiba-tiba Nisa berubah jadi tenang kembali.
"Sudah tidak apa-apa mas. kamu segera bersihkan dirimu, takut ini kontraksi palsu. " kata Nisa yang masih mengatur napasnya.
Tanpa pikir panjang Erhan langsung menggendong istrinya itu ke dalam kamar mandi bersama nya.
"Mas, " pekik Nisa yang terkejut karena ulah Erhan, dan langsung memeluk leher suaminya itu.
"Kita mandi bareng, biar kita sama-sama bersih. Dan aku nggak kepikiran kalau kamu tiba-tiba sakit kayak gitu. " Erhan lalu menurunkan Nisa dan mengambil kursi yang ada disana. Dia lalu membersihkan tubuh Nisa lebih dulu, kemudian membersihkan tubuhnya sendiri.
Setelah sama-sam bersih, Erhan lagi-lagi menggendong istrinya itu dengan sama-sma menggunakan bathrobe, lalu mendudukkan nya di atas ranjang. Erhan lalu berganti baju, dan menyiapkan baju ganti yang nyaman untuk istrinya. Walau sedikit cemas, tapi Erhan masih bisa berfikir jernih. Jika dia ikut cemas, maka semua akan fatal akibatnya.
Saat akan menggantikan baju Nisa, Nisa merasakan sakit itu datang lagi. Dia mendesis sambil mencengkram seprei. Erhan menunggu sampai rasa sakit istrinya itu mereda fengan mengusap perut istrinya. Lalu segera memakai kan baju untuk istrinya. Saat semua sudan normal lagi, Erhan langsung memapah istrinya untuk segera turun kebawah, dan membangunkan mamanya. Tak lupa, ponsel dan dompet sudah ia siapkan.
Sesampainya di ruang keluarga, Erhan mendudukkan istrinya di kursi dan menyuruhnya berbaring. Dia juga segera menghubungi Ana untuk bersiap, karena Lisa tidak ikut menginap di mansion dia sudah memiliki keluarga, jadi jam kerjanya hanya pagi sampai sore. Erhan menuju kamar mamanya, dan mengetuk kamar mamanya dengan tenang agar mamanya itu tidak panik.
"Ada apa, nak? " tanya mama Aylin saat melihat Erhan berada di depan kamarnya.
"Mama, buruan ganti baju. Kita akan ke rumah sakit. Sepertinya Nisa akan segera melahirkan. " kata Erhan dengan tenang.
"Apa? " pekik mama Aylin yang langsung berubah panik.
"Sudah,mama ganti baju dulu aku akan menemani Nisa. Ingat, jangan panik. " Erhan memberi peringatan kepada mamanya itu. Karena jika semua orang panik maka Nisa akan ikut panik.
Setelah mengatakan itu, Erhan kembali menemani istrinya. Dilihatnya Nisa yang sedang mendesis menahan sakit.
"Mana yang sakit? " tanyanya dengan sabar.
"Perut sama punggungku terasa sakit dan panas sekali. " Kata Nisa sambil menahan sakitnya.
Erhan kemudian mengelus perut dan punggung Nisa dengan kedua tangannya.
"Baby pengen segera keluar ya? pengen ketemu mommy dan daddy? " Erhan berbisik di perut Nisa seolah berbicara dengan anaknya, sambil terus mengelus punggung istrinya.
"Sakit banget, mas. " keluh Nisa pada akhirnya, yang sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya. Bertepatan dengan kedatangan mama Aylin dengan membawa perlengkapan bayi yang sudah disiapkan tadi Siang.
"Tuan, mobil sudah siap." ujar Ana yang juga sudah siap mengantar mereka ke rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih sudah membaca