
Keesokan harinya semua persiapan yang akan dibawa ke panti sudah selesai. Nisa dan Mama Aylin hanya tinggal menunggu Erhan pulang kerja. Walau sudah ditetapkan akan ada acara santunan anak yatim hari ini, tapi Erhan tetap bekerja walau setengah hari. Karena ada rapat direksi pagi ini, dan Erhan tidak boleh bolos kerja.
Nisa sangat mengerti akan hal itu, dan sangat memaklumi kesibukan suaminya. Nisa sendiri juga tidak merencanakan semua ini dengan matang. Jadi karena semua sudan siap, ya sudah berangkat gitu aja. Bukankah sesuatu yang baik itu tidak boleh di tunda-tunda?
Tepat pukul satu siang Erhan pulang, dia segera masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian yang sudah di siapkan istrinya, Nisa yang masih berada di kamar pun menyambut suaminya dengan senyuman yang sangat manis.
"Maaf terlambat sayang, rapatnya ternyata berjalan alot tadi. " kata Erhan sedikit menyesal.
"Nggak apa-apa mas, Asal kamu pulang dengan selamat aku sudah bahagia. Kita bisa ke panti jam berapapun. Sekarang segeralah mandi bersihkan tubuhmu dulu. " ujar Nisa dengan sabarnya.
Erhan menurut, tidak memakan waktu lama Erhan sudah keluar dari kamar mandi dan segera berganti pakaian. Setelah semua siap, Erhan dan Nisa turun ke bawah menemui mama Aylin yang sudah siap dari tadi.
"Ayo, ma." ajak Erhan setelah mencium pipi mamanya itu.
Semua persiapan sudah lengkap. Kali ini Erhan tidak mengendarai mobil sendiri. Dia menggunakan sopir untuk mengantar mereka, dengan mama Aylin yang duduk di depan, dan Nisa di belakang bersama Erhan. Sedangkan mobil satunya di kendarai Lisa dan Ana yang membawa barang bawaan yang akan di bagikan kepada anak-anak disana.
Sesampainya di panti asuhan, kedatangan mama Aylin dan keluarga sudah di tunggu-tunggu sejak tadi. Para anak yatim pun berdiri berjajar mengambut mereka untuk bersalaman.
Baik Nisa maupun Erhan merasakan bahagia dalam keadaan seperti ini. Mereka pun berkumpul di sebuah aula. Erhan mewakili keluarganya berbicara kepada pengasuh panti asuhan untuk memberikan doa kepada calon ibu dan calon anak mereka agar selalu diberi kesehatan dan diberi kelancaran saat persalinan nanti. Pengasuh pun mengerti dengan maksud kedatangan Erhan. Dan merekapun memanjatkan doa bersama para anak-anak yatim agar Nisa dan bayinya selalu diberi kesehatan dan dilancarkan persalinannya.
Setelah acara doa selesai Mama Aylin pun meminta kepada para pengasuh panti asuhan untuk membagikan makanan kepada semua anak yatim dan semua orang yang berada disana. Semua menyambut gembira makanan yang dibagikan, dan mulai memakan dengan lahap. Nisa dan Erhan sangat terharu melihat semua yang ada di depan mereka.
Hingga dua kotak makanan berhenti di hadapan mereka. Nisa dan Erhan yang melihat itu pun tertawa bersamaan.
"Ayo makan, aku suapi ya? " kata Erhan dengan langsung memasukkan makanan ke dalam mulut istrinya.
Nisa menerimanya dengan senang hati, jarang-jarang dia disuapi suaminya itu.
"Kamu makan juga mas, kamu pasti belum makan siang kan? " Nisa ganti menyuapi Erhan bergantian.
Begitulah seterusnya hingga dua kotak nasi habis. Erhan yang memang lapar karena belum makan siang, dan Nisa yang perlu mengisi amunisi untuk anaknya. Mama Aylin yang melihat keromantisan mereka pun jadi terharu dan terbawa suasana. Begitu pula para jomblo yang ada di sana seperti Ana dan Lisa dan beberapa orang di sana, jadi baper melihat kebucinan sepasang suami istri itu.
Setelah acara makan selesai, Diteruskan dengan acara membagi mainan dan memberikan santunan kepada anak yatim satu persatu. Sungguh kebahagiaan itu dirasakan Erhan kali ini, karena saat ini dia sendirilah yang berbagi dengan anak-anak yatim. Biasanya hanya mama yang datang memberi santunan, walau dananya dari Erhan.
__ADS_1
Semua acara sudah selesai dan waktu masih menunjukan pukul empat sore. Mama Aylin yang ingat sesuatu pun langsung menanyakannya kepada anak dan menantunya.
"Nisa, bagaimana kalau kita mampir ke baby shop? Mumpung ini masih sore. Sekalian kita mampir aja, beli beberapa barang aja dulu. Kalau kurang akhir pekan kita jalan ke mall. " ujar mama Aylin dengan semangat.
Nisa dan Erhan saling berpandangan dan mereka pun menganggukan kepala.
"Iya ma, Kita mampir ke baby shop dulu sebentar. Beli beberapa barang aja ma. " Nisa yang menyahut.
Sebenarnya Nisa sudaj lelah, Erhan tau itu. Tapi mereka berdua tidak ingin mengecawakan mamanya itu untuk segera berbelanja kebutuhan Junior.
Setelah mobil teparkir, mama Aylin langsung keluar dari mobil, dan masuk ke dalam toko perlengkapan bayi itu, tanpa memperhatikan anak dan menantunya lagi.
"Lihatlah, yang hamil siapa, ya heboh beli baju siapa. " celetuk Erhan yang menuntun istrinya keluar.
Nisa terkekeh mendengar celetukan suaminya itu.
"Kita harus bersyukur mas, itu artinya anak kita sangat di sayangi neneknya dan sangat di tunggu kelahirannya. " kata Nisa memberi pengertian kepada suaminya itu.
Tak lama mama Aylin keluar lagi untuk menanyakan sesuatu kepada Erhan.
"Erhan, anakmu laki-laki apa perempuan? " tanya Mama Aylin sedikit keras. Karena Erhan dan Nisa tidak segera masuk ke dalam toko.
"Insya'Allah Baby boy, ma. " kata Erhan pada akhirnya.
Wajah mama Aylin berubah cerah saat tau anak pertama mereka adalah laki-laki.
"Kenapa mama senang sekali? " tanya Erhan kepada Nisa.
"Entahlah mana aku tau. " Nisa hanya menggedik kan bahunya sebagai jawaban
Mereka berdua sudah masuk ke dalam toko bayi itu. Dan mata Nisa dan Erhan terbelalak melihat tumpukan baju bayi di sana. Ulah siapa lagi kalau bukan ulah mamanya.
Erhan mendudukkan istrinya itu di kursi tunggu, lalu mendekati mamanya. Nisa menurut. Biarlah mama Aylin menjadi urusan Erhan. Nisa sudah sangat lelah hari ini dan ia ingin segera berbaring di atas ranjangnya yang empuk.
__ADS_1
"Ma, apa ini tidak terlalu banyak? Bukankah perkembangan bayi itu cukup cepat ya ma? Kalau dibelikan banyak pakaian bayi, nanti umur tiga bulan ke atas pakaian bayi ini nggak terpakai kan mubadzir ma?" Erhan mencoba menjelaskan kepada mamanya itu, agar tidak tersinggung.
"Beberapa baju aja ma, terus kita cari yang agak besar sesuai umur dan aktivitas junior nanti. " lagi-lagi Erhan memberi pengertian untuk mamanya itu.
"Mana istrimu, biar dia yang pilih. " Mama Aylin celingukan mencari Nisa.
"Dia aku suruh duduk di sana ma, kasihan sepertinya dia sudah lelah. "
Mam Aylin lalu mengedarkan pandangan ke arah yang di tunjuk Erhan, dan benar saja. Dia melihat Nisa menyandarkan dirinya di kursi sambil menguap. Ah, betapa egoisnya dia. Tidak memikirkan keadaan menantunya yang mungkin sangat kelelahan hari ini.
Akhirnya mama Aylin menyetujui permintaan Erhan. Dia mengambil beberapa baju dulu. Nanti kalau di rasa kurang dia akan membelinya sendiri atau bersama dengan Nisa sesuai rencana mereka di akhir pekan nanti.
Setelah melakukan pembayaran mama dan Erhan segera mendekati Nisa yang hampir tertidur.
"Kasihan menantu mama. Ayo kita segera pulang kasihan istrimu. " kata Mama Aylin yang merasa bersalah karena tidak memikirkan keadaan menantunya itu.
Mereka pun kembali ke dalam mobil, dan segera pulang.
"Maafkan mama, ya Nis. Mama tidak memikirkan keadaan mu. " Kata mama Aylin penuh penyesalan.
"Nggak apa-apa ma. " kata Nisa lirih dan sudah tidak bisa menahan kantuknya lagi. Akhirnya dia tidur di bahu kekar suaminya.
Mama Aylin yang melihat itulu semakin merasa bersalah.
"Nggak apa-apa ma. Nisa cuma kecapean aja mungkin. Maklumlah, wanita hamil yang membawa junior di perutnya kemana-mana. Akhir pekan, kita agendakan untuk membeli perlengkapan junior, okey.! " kata Erhan yang menghibur mamanya yang masih merasa bersalah.
Mobil mereka akhirnya masuk ke dalam Mansion. Erhan yang tidak tega membangunkan istrinya pun, langsung menggendong istrinya itu masuk ke dalam rumah. Dengan di bantu mama Aylin membukakan pintu lift untuk anak dan menantunya itu. Sesampainya di kamar Erhan langsung merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang lalu menyelimuti nya dan mengecup kening istrinya sekilas. Lalu dia beranjak membersihkan dirinya.
"Sesuatu yang membahagiakan bagi seorang istri dan menantu adalah bisa disayangi mertuanya dengan sepenuh hati, tidak hanya sayang di mulut dan dari pandangan luarnya saja tapi di dalam hatinya penuh dengan umpatan kebencian atau apalah. "
Bersambung
Terimakasih sudah membaca.
__ADS_1