
Mereka berempat akhirnya masuk ke dalam rumah, ketika waktu sudah beranjak malam. Erhan bermaksud hendak berpamitan akan kembali ke hotel tempatnya menginap. Namun dilarang oleh ibu Aisyah.
"Jangan pulang dulu, Erhan. Kita makan malam dulu." Kata ibu Aisyah.
"Ah, baiklah bu." Dengan senang hati Erhan akan makan malam di rumah calon mertuanya.
"Tapi makanannya masih sama seperti tadi siang ya. Karena masih banyak, mubadzir kalau tidak dihabiskan. "
"Iya, bu tidak apa-apa. "
Mereka akhirnya makan malam dengan tenang. hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar, ada juga yang sedang makan dengan tangan.
"Erhan sebaiknya kau segera mengurus dokumen untuk melegakkan pernikahan kalian. " Ayah Ibnu angkat bicara setelah mereka semua selesai makan.
"Mama sudah menyiapkan semuanya ayah. Hanya tinggal dokumen dari Nisa. Saya sudah menyuruh Kemal untuk mengurus dokumen pernikahan kami. Karena kami harus melakukan acara... acara apa tadi, Nis?" lagi-lagi Erhan lupa.
"Pingitan."
"Ah ya, karena kami harus melakukan pingitan. Jadi Kemal yang akan mengurus semuanya. Dia bisa diandalkan ayah. " kata Erhan sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya.
"Lalu bagaiman jika Kemal dan pihak administrasi nanti kesulitan berkomunikasi, karena tak semua pegawai negeri di Indonesia yang pandai berbahasa Inggris. "
"Oh, itu juga sudah saya pikirkan ayah. Kemal akan di bantu Alima nanti. Benarkan Alima? " tanya Erhan kepada Alima.
Alima yang sedang minum pun jadi tersedak karena ulah Erhan. Ingin rasanya Kemal memukul Erhan yang sudah membuat Alima tersedak, tapi keinginannya itu hanya bisa diteriakkan dalam hati.
"Ah, iya paman. Aku akan membantu Kemal mengurus dokumen pernikahan Nisa. "
"Baguslah ternyata menantuku ini bergerak cepat tanpa harus di perintah. " kata ayah Ibnu bangga.
"Tentu saja ayah, kami sudah biasa bergerak cepat dalam bisnis. Agar peluang tidak hilang begitu saja. " Erhan membalasnya dengan membanggakan dirinya.
"Pantas saja mamamu juga bergerak cepat untuk menikahan kalian. " Ejek Arkan yang ikut dalam obrolan.
Semua orang jadi tertawa mendengar celetukan Arkan. Karena ada benarnya. Mungkin keluarga Erhan adalah orang yang suka bergerak cepat dalam segala hal.
"Tapi, Nis. Ibu kok malah kepikiran soal Kemal yang mengurus pernikahan kalian ya. " ujar ibu Aisyah tiba-tiba.
"Memang kenapa bu, ada yang salah ya? " Nisa mengernyit tak mengerti.
"Ga ada yang salah sih, tapi kalau Kemal yang datang ke KUA bersama Alima, bisa-bisa yang dikira menikah nanti Kemal dengan Alima donk. " Kata Ibu Aisya tertawa garing
Krik... 🦗krik.. 🦗krik..🦗 krikk...🦗
Semua saling berpandangan mendengarkan ocehan ibu Aisyah. Sedangkan Kemal, hanya bisa melongo karena tidak mengerti apa yang dibicarakan ibu Aisyah. Mungkin kalau dia mengerti apa yang dibicarakan, dialah orang pertama yang paling bahagia.
"Semoga saja bu, jika Alima bisa jadian sama Kemal kan Nisa jadi punya teman di Turki. "
Uhuk... uhuk... Lagi-lagi Alima tersedak mendengar celotahan sahabatnya itu.
"Erhan katakan padaku, apa yang sedang mereka bicarakan. " bisik Kemal dengan menggunakan bahasa Turki, karena penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
Erhan akhirnya menjelaskan apa yang diucapkan ibu Aisyah tadi. Sesuai prediksi, Kemal langsung tersenyum lebar mendengarnya.
"Sudah-sudah... kasihan Alima jika kalian terus menggodanya. " Kata Ayah Ibnu. "Nisa, cepat siapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk mengurusi pernikahan mu, dan berikan kepada Erhan. "
__ADS_1
Nisa yang mendengar perintah ayahnya pun langsung beranjak dari sana menuju kamarnya diikuti Alima.
"Aku ikut. "
Sesampainya di kamar, Alima langsung merebahkna tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Nisa mulai menyiapkan surat-surat yang dibutuhkan.
"Nis, apakah setelah menikah kau akan ikut dengan Erhan ke Turki? " tanya Alima
Nisa berhenti menyiapkan dokumennya, setelah mendengar pertanyaan Alima.
"Bukankah kewajiban kita sebagai seorang wanita yang sudah menikah, kita harus mengikuti suami kemanapun dia pergi. Mematuhinya dan melakukan semua perintahnya selama tidak menyimpang dari agama. "
"Kau benar, lalu bagaimana dengan butik? bukankah butik itu adalah impianmu. "
"Iya, aku akan membicarakan nya nanti dengan keluargaku dan Erhan. Setelah pernikahan kami nanti. "
"Ciehhh.... yang sudah mau nikah. "
"Alimaaa.... "
"Ya sudah kalau begitu, aku pamit pulang dulu Nis. udah malem juga. "
"Ga nginep, Ma? "
"Enggak ah, nanti kalau mendekati hari H aja aku akan menemanimu. Besok aku akan ke butik dulu."
"Ya udah kalo begitu, kita turun bareng. Ini sudah siap. "
Nisa dan Alima menemui semua orang yang sedang duduk santai di ruang tamu sambil mengobrol akrab. Hingga kedatangan Nisa dan Alima mengalihkan atensi mereka.
Ayah Ibnu memeriksa, setelah melihat tidak ada yang kurang, ayah Ibnu memberikannya kepada Erhan.
"Coba kamu periksa Erhan. Menurut ayah sudah lengkap kamu bisa segera mengurusnya. "
"Baik ayah. " Erhan memeriksanya, lalu memberikannya kepada Kemal.
" Ayah, ibu, aku pamit pulang dulu. Sudah malam. " Alima meminta izin.
"Naik apa, Ma? "
"Mau pesen ojol aja, bu. " kata Alima.
"Pulang , bareng kita aja Alima. Kami akan mengantarmu pulang. " Erhan ikut bicara, dia juga akan segera pulang karena sudah malam.
"Nah, itu Alima. pulang bareng Erhan aja, biar kita ga kepikiran. Lagi pula Erhan cm pulang berdua sama Kemal. " kata Ibu Aisyah
" Tapi.. "
"Sudahlah tidak apa-apa Alima. " Nisa juga memberi ijin. Karena dia sudah mendapat sinyal dari Erhan.
"Baiklah." akhirnya Alima pasrah.
Erhan, Kemal dan Alima akhirnya berpamitan dan naik dalam satu mobil. Erhan dan Kemal duduk di depan, sedangkan Alima duduk di belakang.
"Alima aku minta nomer ponselmu, agar besok saat Kemal menjemputmu dia bisa menghubungi mu. "
__ADS_1
Akhirnya Alima memberitahu kan nomer ponselnya kepada Erhan. Erhan tidak menyimpan nomer ponsel Alima di ponselnya, tapi di ponsel Kemal. Erhan sangat mengerti perasaan sahabatnya itu. Dia akan mendekatkan mereka berdua, sama seperti saat Kemal selalu memberikan nasehat saat dia melakukan pendekatan dengan Nisa.
Dirumah Nisa, mereka masih berkumpul di ruang keluarga. Mereka akan membuka seserahan yang dibawa mama Aylin.Satu persatu mereka membukanya dengan penasaran.
"Ya ampunn ini gaun terbaru keluaran brand terkenal. " pekik Alina heboh.
Tidak hanya gaun, sepatu, tas pakaian dalam, alat make up. Semua adalah brand terkenal dunia. Belum lagi satu kotak yang belum dibuka. Kotak terakhir yang terlihat sangat cantik. Semua orang penasaran dengan isi di dalamnya.
Setelah Nisa membukanya, semua mata yang ada disana terbelalak melihat isinya.
Seperangkat perhiasan, bukan perhiasan biasa. Tapi perhiasan yang bertahtakan berlian yang sangat indah dan menyilaukan mata. Mereka jadi berpikir sekaya apa keluarga Erhan. Hanya untuk seserahan saja mereka menghambur-hamburkan uang sebanyak ini.
"Apa kita tidak sedang mimpi yah? " tanya ibu Aisyah kepada suaminya.
"Kita hanya bisa bersyukur bu, Nisa mendapatkan jodoh orang berada. Walaupuk kita juga hidup berkecukupan. Semoga keluarga Erhan bisa menyayangi Nisa seperti kita menyayanginya selama ini. Kita hanya bisa mendoakan kebaikan untuk anak kita bu. " ujar ayah Ibnu.
"Benar yah, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Nisa. "
Semua yang mendengar ucapan ayah dan ibu jadi terharu.
Hotel.
Erhan dan Kemal akhirnya sampai di hotel dan menuju kamar masing-masing. Sesaat Erhan masuk ke dalam kamar nya, lagi-lagi telinganya dijewer oleh mama Aylin.
"Kenapa jam segini baru pulang, hah. "
"Mama... " kata Erhan mengusap-usap telinganya.
"Kamu itu, harusnya bantuin mama mempersiapkan acara pernikahan mu. jAngan mau enaknya aja. Dasar anak nakal. "
"Maaf ma, setelah ini. Aku akan membantu mama menyiapkan acara pernikahan ku. Karena selama satu minggu ini aku tidak boleh bertemu dengan Nisa, ma. "
"Kenapa? "
"Katanya ini adat di sini ma, calon pengantin ga boleh ketemu sampai hari H acara. katanya agar kita bisa merasakan rindu. "
"Benarkah? " kata mama Aylin antusias.
Erhan menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Baguslah kalau begitu, besok kamu bantu mama menyiapkan semuanya. "
"Baik ma... " jawab Erhan singkat.
"Ma... " Erhan mendekat ke arah mama Aylin dan memeluknya erat.
"Ada apa? "
"Terimakasih ma, mama sudah melakukan semua ini untukku. Aku tidak tau harus berkata apa lagi selain terimakasih, aku tidak tau harus berbuat apa tanpa mama. Mama memang paling mengerti aku, mama memang yang terbaik. " Erhan mengungkapkan perasaannya kepada mamanya.
"Iya, sayang. Mama melakukan semua ini, demi kebaikanmu, nak. Mama akan melakukan apapun untukmu, karena kamu yang mama miliki. "
Ibu dan anak itu saling berpelukan dan saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca